kebudayaan rote ndao

  • Published on
    13-Oct-2015

  • View
    1.751

  • Download
    68

Embed Size (px)

DESCRIPTION

makalah

Transcript

BAB IPENDAHULUANAsal Usul Suku di Pulau Rote

Sebagian besar penduduk yang mendiami Pulau Rote dan Mado menurut tradisi tertua adalah suku-suku kecil, seperti: Rote Nes, Bara Nes, Keo Nes, Poli Nes, dan Fole Nes. Suku-suku tersebut mendiami wilayah kesatuan adat yang disebut Nusak.

Menurut para tookh adat di Rote, mereka selalu menyebut Pulau Seram dan Tidore sebagai tempat asal nenek moyang orang Rote. Para leluhur tersebut datang secara bergelombang dengan menyingahi Kabupaten Belu. Sebagian dari rombongan tersebut menetap di Rote, sebagian lainnya meneruskan perjalanan ke Pulau Sabu dan menetap di sana.

Kisah para leluhur orang Rote ini tidak terlepas dari kisah tiga bersaudara, yaitu Belu Mau, Sabu Mau, dan Ti Mau. Ketiga bersaudara ini datang dari Malaka melalui Seram dan Tidore. Belu Mau menetap di Belu dan keturunannya merupakan sebagian besar orang Belu, terutama Belu Selatan. Si bungsu, Ti Mau berlayar ke barat dan menetap di Rote, terutama di Nusak Thie, Kecamatan Rote Barat Daya. Sedangkan Sabu Mau meneruskanperjalanannya dan menetap di Pulau Sawu.

Menurut cerita yang lain, dikisahkan bahwa untuk pertama kalinya nenek moyang orang Rote menetap di suatu tempat di Rote Timur yang kini bernama Nusal Bilba. Kata Bilba berasal dari bahasa Belu, yaitu Belu-ba, artinya sahabat datang. Pada waktu itu, para leluhur menyebut Pulau Rote sebagai Pulau Kale, dengan julukan Nusa Ne do Lino, artinya negeri tenang dan damai.

Para tua-tua adat menyatakan bahwa nama Rote sebenarnya berasal dari suatu keluarga di Rote Timur. Nama ini kemudian menjadi nama pulau, sesuai cacatan dalam peta orang Portugis yang pernah singgah di salah satu pantai di Rote Timur, yaitu Pantai Rote.

Menurut cerita adat, di pantai ini pernah disinggahi sebuah misi pelayaran Portugis. Orang-orang Portugis itu bertemu dengan seorang nelayan dan bertanya kepada nelayan yang tersebut tentang apa nama pulai ini. Nelayan itu mengira namanya yang ditanya sehingga ia menjawab Rote. Nama Rote inilah yang dicatat dalam peta yang di bawa oleh misi Portugis itu. Dan peta ini pula yang dipakai oleh Belanda ketika datang ke Rote. Demikianlah, nama pulau Rote terus dipergunakan dalam administrasi pemerintahan Belanda hingga sekarang.

Dewasa ini orang-orang Rote banyak menghuni daerah-daerah pantai di PulauTimor, termasuk kota Kupang. Orang-orang Rote ini diusingkan oleh Pemerintah Belanda. Para pengungsi ditempatkan mulai dari Tanjung Noesinas di Kupang Barat, sampai Pampaun di Amfoang Utara. Maksud dan tujuan dari pengungsian tersebut adalah seperti berikut.1.1 Latar Belakang

Kabupaten Rote Ndao adalah salah satu pulau paling selatan dalam jajaran kepulauan Nusantara Indonesia. Pulau-pulau kecil yang mengelilingi pulau Rote antara lain Pulau Ndao,Ndana, Naso, Usu, Manuk, Doo, Helina, Landu.

gambar satelit Pulau Rote

Konon menurut lagenda seorang Portugis diabad ke 15 mendaratkan perahunya, dan bertanya kepada seorang nelayan setempat apa nama pulau ini, sang nelayan menyebut namanya sendiri, Rote. Sang pelaut Portugis mengira nama pulau itu yang dimaksudkan. Sebagian besar penduduk yang mendiami pulau/kabupaten Rote Ndao menurut tradisi tertua adalah suku-suku kecil Rote Nes, Bara Nes, Keo Nes, Pilo Nes, dan Fole Nes. Suku-suku tersebut mendiami wilayah kestuan adat yang disebut Nusak. Semua Nusak yang ada dipulau Rote Ndao tersebut kemudian disatukan dalam wilayah kecamatan.

Masyarakat Rote Ndao mengenal suatu lagenda yang menuturkan bahwa awal mula orang Rote datang dari Utara, dari atas, lain do ata, yang konon kini Ceylon. Kedatangan mereka menggunakan perahu lete-lete.

Strata sosial terdapat pada setiap leo. Lapisan paling atas yaitu mane leo (leo mane). Yang menjadi pemimpin suatu klein didampingi leo fetor (wakil raja) yang merupakan jabatan kehormatan untuk keluarga istri mane leo. Fungsi mane leo untuk urusan yang sifatnya spiritual, sedangkan fetor untuk urusan duniawi.

Filosofi kehidupan orang Rote yakni mao tua do lefe bafi yang artinya kehidupan dapat bersumber cukup dari mengiris tuak dan memelihara babi. Dan memang secara tradisonal orang-orang Rote memulai perkampungan melalui pengelompokan keluarga dari pekerjaan mengiris tuak. Dengan demikian pada mulanya ketika ada sekelompok tanaman lontar yang berada pada suatu kawasan tertentu, maka tempat itu jugalah menjadi pusat pemukiman pertama orang-orang Rote.

Secara tradisional pekerjaan menyadap nira lontar tugas kaum dewasa samapi tua. Tetapi perkerjaan itu hanya sampai diatas pohon, setelah nira sampai ke bawah seluruh pekerjaan dibebankan kepada wanita. Kaum pria bangun pagi hari kira-kira jam 03.30, suatu suasana yang dalam bahasa Rote diungkap sebagai; Fua Fanu Tapa Deik Malelo afe take tuk (bangun hampir siang dan berdiri tegak,sadar dan cepat duduk).

Pulau Rote selain dikenal sebagai wilayah paling selatan Indonesia juga memiliki kekhasan budidaya lontar, alat musik sasando, topi adat tii langga, juga wisata bahari terutama olahraga selancar. Pulau Rote telah dikenal peselancar dunia sebagai lokasi sempurna dan menantang untuk menjajal gulungan ombaknya yang spektakuler. Pantai Boa adalah salah satu tempat para peselancar dunia biasa mengikuti lomba tingkat internasional. Rote adalah kecantikan yang sulit dicari padanannya, jika saja Rote ini letaknya di dekat Bali pasti turis asing akan berebut mengunjunginya.

Pulau Rote yang tegak berdiri di batas paling selatan Nusantara terbentang di garis 11 derajat Lintang Selatan. Suhu udaranya panas tropis, cocok untuk mereka yang menggilai wisata pantai. Sebagian besar daratan di kepulauan Rote ini berupa tanah dengan berbatu karang menawan. Tidak banyak tanaman yang dapat tumbuh subur di pulau ini terutama di bagian utara dan selatannya yang berupa pantai dengan dataran rendah kecuali itu di bagian tengahnya terdapat lembah dan perbukitan.

Pulau Rote sendiri memiliki populasi sekitar 120.000 orang. Pulau ini dikawal oleh dua pulau yang lebih besar, yakni Timor di sebelah timur laut dan Sumba di sebelah barat. Pulau Rote begitu jauh dalam peta petualangan namun terasa sangat dekat ketika kaki telah berpijak di pelabuhan laut Kota Baa.

Kapal feri dari Kupang, Nusa Tenggara Timur melaju setiap hari ke Baa yaitu kota terbesar di Pulau Rote. Pulau ini memiliki pasir seperti tepung putih bersih. Keindahan pulau ini terus diperbincangkan petualang dan peselancar karena memiliki permukaan pulau yang berbukit yang diseimbangkan oleh padang sabana serta beberapa danau kecil layaknya laut mati.

Kawasan pantai ternama, yaitu Nemberala yang menjadi titik pencar para peselancar ke berbagai titik-titik selancar yang menantang lainnya. Berkiblat ke Laut Sawu di bagian baratnya, ia bagaikan alun-alun berpasir yang berhias pohon lontar subur berdiri walau saat musim kering panjang. Meski tidak berselancar seperti para tamunya, masyarakat setempat tetap bersahaja dan penuh suka cita menerima dan memberi sapa dan salam kepada wisatawan dan petualang asing.

Pulau Rote atau disebut juga Pulau Roti, namanya kini kian mencuat di dalam halaman buku dan majalah petualangan serta perjalanan wisata. T-Land yang berada di sebelah barat merupakan pulau seluas 1.200 km persegi dan dikenal sebagai salah satu penyedia ombak terpanjang di Indonesia yang menggulung ke arah kiri.

Kecantikannya semakin sempurna dengan perpaduan antara lanskap alam dengan masyarakat petani dan nelayannya yang murah senyum. Warna-warni kedalaman air yang bervariasi telah melingkari kelopak-kelopak hutan hijaunya yang sulit dicari padanan keelokannya.

Walau jauh dari gegap gempita kota besar di berbagai penjuru tanah air tetapi Pulau Rote tidak terlalu jauh tertinggal untuk ketersediaan fasilitas wisata eksklusifnya. Namun demikian, kesederhanaan dan tradisi yang ditumbuh kembangkan dalam bentuk rumah adat tetap nampak dari bibir pantai hingga dataran tinggi di perbukitan. Kesamaan antara eksklusifitas dan kesahajaan ini bertumpu pada bahan bangunan yang sedianya berawal dari satu anugrah alam, yaitu pohon lontar untuk bahan tiang bangunan hingga atap yang melindunginya.

Restoran atau kafe di resort-resort lokasi peselancar dan petualang sengaja dihadapkan ke lautan lepas. Seraya bentangan alam yang hijau mengawali ketakjuban pengunjung saat melepaskan pandangannya ke arah persenyawaan warna biru dan hijau yang transparan. Hal itu karena lokasinya yang tak terhalang, suasana megah saat matahari meninggalkan cakrawala di atas lautan Sawu menjadi begitu spektakuler dan mengundang decak kagum.

Walau agak besar ukurannya, berbagai cenderamata yang berasal dari pohon lontar banyak disediakan di pulau ini. Ember pembuat sopi, yaitu arak Rote dari pohon lontar, terbuat dari bahan daun lontar kering yang luar biasa kedap air. Gula pohon lontar diperjualbelikan hingga kini dari zaman dahulu oleh penduduk setempat. Konon, pelaut Bajo sering singgah untuk membeli gula lontar Rote.

Alat musik tradisional Rote seperti daerah-daerah Nusa Tenggara Timur pada umumnya ialah sasando. Alat musik ini terbuat dari pohon lontar, terutama daunnya dan sering memainkan di festival tahunan HUS. Pemain sasando selalunya mengenakan topi tradisional yang juga dari daun lontar. Sebagai bagian dari kepulauan di Nusa Tenggara, Pulau Rote menjadi salah satu penghasil kain ikat dengan kualitas baik. Lihatlah berbagai motif dan desainnya yang memukau.

Untuk mengunjungi Pulau Rote, terbanglah ke Kupang di Pulau Timor. Anda akan mendarat di Bandara El Tari dimana selanjutnya menuju Pelabuhan Laut Tenau. Bila waktu terlanjur petang maka ada baiknya Anda menginap di Kupang. Dari Tenau, Anda akan menyebrangi lautan ke Baa di Pulau Rote. Perjalanan akan ditempuh selama 2 jam dengan menggunakan feri cepat atau sekitar 4,5 jam dengan feri biasa.

Setiba di pelabuhan Baa Rote, Anda dapat melihat pantai berair jernih dan pohon

Recommended

View more >