Kehadiran Yang Transformatif Dengan Pengantar.PDF

  • View
    60

  • Download
    4

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Bahan Persiapan Kapitel Umum MTB 2014 dengan surat pengantar oleh Bruder Pimpinan Kongregasi MTB

Transcript

  • kehadiran yang transformatif..kapitel2014..halaman 1 // 20

    Jadikan hidup kita

    sebagai

    kehadiran yang transformatif

    (Bahan persiapan Kapitel Umum 2014)

  • kehadiran yang transformatif..kapitel2014..halaman 2 // 20

    Pengantar:

    Huijbergen: 21-10-2013

    Sesama bruder yang baik,

    Untuk kapittel umumtahun 2014 kita mengambil alih tema

    Konferensi Fransiskan International di Asisi awal tahun 2013:

    "Transforming Presence", dan dengan demikian menyambung

    tema kapitel tahun 2011 "Disturbing Presence", yakni kehadiran

    yang mengusik. Dengan tema "KehadiranTransformatif"

    perhatian akan diarahkan pada pemekaran diri sebagai bruder

    dan pengaruhnya pada sesama kita. Menurut kesan sepintas

    kiranya tema ini cukup tepat untuk suatu kongregasi yang sejak

    semula mengabdikan diri demi perkembangan orang lain,

    khususnya anak-anak dan pemuda. Namun pendalaman lebih

    saksama akan menunjukkan bahwa dampak kehadiran yang

    dimaksud tidak pertama-tama menunjuk pada jabatan, keahlian

    atau karya kita, malainkan pada pengaruh penghayatan

    panggilan kita sebagai religius dan bruder.

    Baik panggilan kongregasi maupun pangilan pribadi setiap

    bruder menemukan wujudnya dalam konteks spiritual, sosial

    dan budaya tertentu. Buah hasil para pendahulu kita berelasi

    dengan lingkungan spiritual, sosial dan budaya mereka menjadi

    khasanah warisan kita. Warisan itu pertama-tama tidak

    berkaitan dengan arsip dan objek yang pantas dimuseumkan,

    tetapi dengan inspirasi iman yang memberi mereka motivasi,

    serta energi yang mengajak mereka untuk suatu pengabdian

    kreatif yang mengesankan. Sebagai ahliwaris kita, sadar atau

  • kehadiran yang transformatif..kapitel2014..halaman 3 // 20

    tidak, telah membiarkan kepribadian kita dibentuk oleh warisan

    tersebut. Namun selain ahliwaris kita pun berperan sebagai

    pewaris yang harus bertanggungjawab kepada mereka yang

    menyusul sesudah kita. Bagaimana meneruskan panggilan

    seorang bruder sebagai sumber iman yang inspiratif dan energi

    yang kreatif kepada mereka yang berusaha memekarkan diri

    sebagai manusia yang utuh dalam konteks spiritual, sosial dan

    budaya sekarang? Jembatan antara inspirasi iman para

    pendahulu dan kebutuhan masa kini tidak terletak dalam

    keterampilan dan keahlian kita, malainkan dalam kepribadian

    kita, dalam manusia yang terwujud dalam diri kita dan yang

    terus diusahakan perwujudannya.

    Perhatian kita diminta untuk proses pemekaran seorang bruder

    MTB sebagai pribadi yang beriman, penuh kasih dan

    pengharapan. Proses pertumbuhan kepribadian yang utuh dan

    bermakna tetap menjadi tantangan untuk kita masing-masing,

    tua atau muda, dimanapun kita berada dan tugas apapun yang

    diusahakan.Sebab itu kami tawarkan bukukecil ini dengan

    senang hati.

    br. bram

  • kehadiran yang transformatif..kapitel2014..halaman 4 // 20

  • kehadiran yang transformatif..kapitel2014..halaman 5 // 20

    Jadikan hidup kita sebagai kehadiran yang transformatif *)

    Manusia beradab dibentuk dan sekaligus dibatasi oleh kebudayaan

    Dalam kebudayaan kita belajar melakukan apa, bagaimana dan

    mengapa melakukannya. Kebudayaan membentuk orang jadi suatu

    kelompok tertentu dalam masyarakat: suku atau bangsa, kelompok

    profesional (budaya petani, budaya pedagang), religius atau pun

    narapidana (terbentuk oleh budaya penjara), dan lainnya. Tentu saja

    sebagai manusia, kita semua adalah satu dan sama di dalam

    kemanusiaan, sebagai umat manusia. Dalam peradaban manapun, kita

    hidup dalam transformasi, dalam proses perubahan; dari bayi tak

    berdaya tumbuh menjadi manusia dewasa mandiri. Peradaban itu

    sendiri tumbuh dan berkembang.

    Segala aspek kehidupan manusia diungkapkan dalam dan melalui

    budaya. Demikian juga ungkapan iman serta hidup religius kita. Di luar

    peradaban, ungkapan iman dan hidup religius menjadi abstrak dan tak-

    dapat dikenal, hampa makna. Mengingat adanya berbagai macam

    budaya, sadarlah kita bahwa ekspresi hidup beriman dan hidup religius

    kita terbatas dan sebagian saja atau tak-genap (parsial).

    Mesti kita akui bahwa selama berabad-abad, (barangkali masih sampai sekarang), pembinaan hidup religius lebih mengacu pada budaya pendiri atau daerah asal kongregasi atau zaman tertentu. Hal ini kiranya menghambat kehidupan religius untuk berakar dan berkembang di dalam kebhinekaan budaya. Karenanya hidup religius menjadi kurang subur, sebab orang harus menjalani hidup berimannya dengan cara asing atau tidak berakar pada budaya sendiri. Padahal Sang Immanuel, Tuhan menyertai kita, mendatangi kita di dunia ini; Dia berjalan beserta umatNya yang hidup dalam berbagai budaya atau peradaban. Karena

  • kehadiran yang transformatif..kapitel2014..halaman 6 // 20

    itu hendaknya kita terbuka kepada kemajemukan atau aneka-ragamam bentuk ekspresi hidup religius kita. Sebenarnya dengan kebhinekaan ekspresi iman dan hidup religius ini,

    kita bisa saling melengkapi, saling memberi kesaksian, yang saling

    meneguhkan dan memperkaya pemahaman, yang mengarahkan kita

    kepada masyarakat persaudaraan yang adil, yakni yang saling

    menghormati hak pihak lain.

    Yang kita inginkan adalah masyarakat hidup interkultural bukan sekedar multikultural. Bayangkan dalam suatu pameran lukisan, terpasang banyak lukisan yang biarpun disusun serasi dengan suatu tema tertentu, masing-masing lukisan bisa saling bersaing keindahan. Begitulah gambaran multikultural. Sedangkan interkultural, bagaikan satu lukisan mozaik, terdiri banyak unsur yang bersinergi menampilkan keindahan menyeluruh, yang mungkin saja dengan keindahan multidimensi. Dalam kehidupan interkultural demikian, setiap unsur (bagian atau anggota) dihormati hak keunikannya. Setiap unsur bertekad diri atau berkomitmen untuk mendukung keharmonisan keseluruhan; bila perlu dengan mengabaikan kenyamanan relatif pribadi.

    Ingatlah dalam InkarnasiNya, Yesus tidak mau berpegang teguh pada

    kemuliaanNya, Dia turun meninggalkan surga dan masuk ke kerapuhan

    dunia munusia. Ingatlah pula pesan Fransiskus Assisi, ... hendaklah

    engkau memandang rendah apa yang selama ini kau sukai; dan

    hendaklah kau menyukai apa yang selama ini kau benci. Hanya kalau

    kita berakar dalam semangat pengosongan diri Kristus seperti itu dan

    dipupuk oleh pesan hidup Fransiskus itu, kita dapat optimis untuk terus

    melanjutkan perutusan kita dalam dunia kontemporer ini; kita optimis

    untuk melukis mozaik Kerajaan Kasih Allah; untuk menjadi penyebar

    cinta-kasihNya; menjadi pembawa keselamatanNya. (lihat Konst. Art. 8).

    Berakar dalam budaya, berakar dalam Kristus, pada Allah

  • kehadiran yang transformatif..kapitel2014..halaman 7 // 20

    Dalam masyarakat, orang tumbuh dengan sehat dengan melewati masa

    kanak-kanak, remaja dan menjadi dewasa. Dalam proses sosialisasi

    begitu orang belajar hidup; dia menyerap dan berakar dalam peradaban

    masyarakatnya. (Zaman sekarang boleh dipertimbangkan adanya masyarakat

    globalisasi, masyarakat cyber). Segenap pengenalan, pengetahuan dan

    ketrampilan yang diserapnya diwarnai oleh peradaban masyarakatnya.

    Seorang dewasa yang mantap ditandai oleh proses pertumbuhan

    sosialisasi yang sehat, berakar dalam peradabannya, dan oleh karenanya

    dia mampu mengambil peran sosial masyarakat bahkan dalam

    masyarakat yang lebih luas. Bagaikan cabang pohon besar berakar

    dalam, orang berakar kuat dalam peradabannya mampu mengulurkan

    dirinya jauh-jauh, menjangkau dan berinteraksi dengan peradaban lain

    tanpa harus tercabut dari peradaban asalnya.

    Demikian juga kita harus berakar kuat pada Kristus, pada Allah yang

    memanusia. Dengan demikian kita bisa dengan mantap hidup

    interkultural bersama unsur-unsur lain masyarakat; untuk melibatkan

    diri dengan mereka secara eksistensial dan penuh makna tanpa harus

    tercabut dari penghayatan hidup religius kita; untuk ikut menyumbang

    warna pada mozaik Kerajaan Allah di dunia. Dengan kata lain, untuk

    menjadi pewarta dan penyebar cinta kasih, dan pembawa keselamatan; untuk

    berada di tengah-tengah dunia seraya mendengarkan dan melayani, untuk

    melihat Roh Allah giat dalam orang lain, untuk memajukan berkatNya yang

    menyelamatan, dan bersedia membawa pembaharuan dan pendalaman.

    (Konst. Art. 8).

    Berakar pada Kristus mengandaikan pengenalan akan Dia sebagai Guru

    Kehidupan. Mengenal pribadi guru lebih dari sekedar mengetahui

    tentangnya. Orang yang banyak pengetahuan belum tentu bisa

    mengenal lebih mendalam. Pengenalan akan guru mengandaikan

    keterlibatan pengalaman personal secara fisik dan terutama secara

    mental spiritual. Bukan sebagai siswa yang tiap hari ke sekolah atau

    kursus, melainkan menjadi murid yang magang hidup bersama sang

  • kehadiran yang transformatif..kapitel2014..halaman 8 // 20

    guru. Yesus mengundang muridNya untuk hidup bersama dan belajar

    dari pribadinya. Marilah dan kamu akan melihatnya. Merekapun datang

    dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama

    dengan Dia. (Yoh. 1:39). Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan

    berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang

    Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena .... (Mat. 11.28-29).

    Dalam interaksi yang seperti itu orang saling memberikan diri, saling

    mengomunikasikan diri. K