Kelapa Sawit Indonesia

  • Published on
    11-Aug-2015

  • View
    133

  • Download
    2

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Mengenai Kelapa Sawit di Indonesia

Transcript

BAB I PENDAHULUANA. Latar Belakang Indonesia adalah negara penghasil minyak kelapa sawit mentah atau CPO (crude palm oil) terbesar di dunia. Indonesia sukses menghasilkan 24 juta ton CPO dan mengalahkan Malaysia yang berada di urutan kedua dengan produksi 17 juta ton. Produksi 24 juta ton tersebut juga menempatkan industri kelapa sawit sebagai salah satu penyumbang devisa ekspor non migas terbesar dengan kontribusi yang mencapai USD 14 miliar. Selain sumbangan terhadap devisa, sektor kelapa sawit juga merupakan salah satu sektor yang menyerap tenaga kerja sangat besar, mencapai 4 juta jiwa sebagai tenaga kerja langsung. Jika dihitung dengan anggota keluarga maka ada sekitar 12 juta jiwa yang menggantungkan hidup kepada industri kelapa sawit. Perkebunan kelapa sawit di Indonesia berkembang dengan pesat sejak awal tahun 80-an dan sampai akhir tahun 2011 lalu, dimana luas lahan perkebunan kelapa sawit mencapai sekitar 7,5 juta hektar. Didukung dengan program pemerintah yang memberikan akses mudah dalam investasi agribisnis ini, maka tidak heran perkembangannya menjadi sangat pesat. Jutaan ton CPO yang dihasilkan dari perkebunan di Indonesia mengalir ke berbagai negara. Prospek industri kelapa sawit sangat cerah. Permintaan CPO di pasar dunia akan terus meningkat. Selain sebagai bahan pangan, CPO juga bisa diolah menjadi berbagai produk turunan mulai kosmetik, hingga biodiesel. Saat ini, di pasar minyak nabati dunia, pangsa pasar minyak sawit sudah menjadi yang terbesar mencapai 35%, jauh mengungguli pesaingnya seperti minyak kedelai dan bunga matahari. Pangsa pasar besar seperti inilah yang harus

dimanfaatkan sebagai salah satu peluang usaha di negara kita. Sampai saat ini, minyak sawit Indonesia sebagian besar masih di ekspor dalam bentuk CPO, sedangkan di dalam negeri sekitar 80% minyak sawit diolah menjadi produk pangan terutama minyak goreng. Kelapa sawit dan

1

produk turunannya juga memiliki nilai kompetitif yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan sumber minyak nabati lainnya. Kelapa sawit memiliki produktivitas yang lebih tinggi dengan menghasilkan minyak sebesar 7 ton/ha, dibandingkan dengan kedelai yang menghasilkan minyak sebesar 3 ton/ha. Disamping itu kelapa sawit juga memiliki biaya produksi yang lebih rendah, nilai gizi yang baik dan ramah lingkungan. Ketersediaan minyak sawit mentah yang melimpah, dimana

produksinya terus meningkat, dan harga yang relatif murah, memberikan nilai tambah kepada minyak sawit. Penggunaannya perlu ditingkatkan sebagai

bahan baku produk olahan untuk keperluan pangan maupun non pangan dengan nilai ekonomi yang tinggi. Penganekaragaman produk olahan dari minyak kelapa sawit merupakan sebuah langkah strategi unuk memacu laju konsumsi sawit domestik dan laju ekspor produk sawit ke pasaran internasional. Untuk meningkatkan peran kelapa sawit, berbagai usaha perlu dilakukan dalam memecahkan berbagai masalah terutama dalam

pendayagunaan minyak kelapa sawit sebagai bahan baku produk pangan maupun non pangan. Pada makalah ini akan diuraikan secara singkat

mengenai gizi dan kesehatan yang terkandung dalam minyak sawit serta pengolahan produk pangan dari olahan minyak sawit yang berupa minyak goreng, margarin, dan shortening.

B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana aspek gizi dan kesehatan yang terkandung dalam minyak sawit ? 2. Bagaimana cara pengolahan produk pangan dari olahan minyak sawit yang berupa minyak goreng, margarin, dan shortening ?

C. Tujuan 1. Memberikan informasi mengenai aspek gizi dan kesehatan yang terkandung dalam minyak sawit.

2

2. Menambah pengetahuan mengenai pengolahan produk pangan dari olahan minyak sawit yang berupa minyak goreng, margarin, dan shortening.

D. Manfaat Memberikan gambaran mengenai kandungan gizi dan kesehatan yang terkandung dalam minyak sawit serta pengolahan produk pangannya, sehingga diharapkan dapat menstimulus pembaca dalam konsumsi produk pangan berbahan minyak sawit serta memberikan pengetahuan mengenai pengolahan produk pangan dari olahan minyak sawit tersebut secara umum.

3

BAB II PEMBAHASANA. Aspek Gizi Dan Kesehatan Yang Terkandung Dalam Minyak Sawit Kelapa sawit (Elaeis) adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel).

Perkebunannya menghasilkan keuntungan besar sehingga banyak hutan dan perkebunan lama dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. adalah penghasil minyak kelapa sawit terbesar didunia. Indonesia

Di Indonesia

penyebarannya di daerah Aceh, pantai timur Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. Minyak sawit digunakan sebagai bahan baku minyak makan, margarin, sabun, kosmetika, industri baja, kawat, radio, kulit, dan industri farmasi. Minyak sawit dapat digunakan untuk begitu beragam peruntukannya karena keunggulan sifat yang dimilikinya yaiut tahan oksidasi dengan tekanan tinggi, mampu melarutkan bahan kimia yang tidak larut oleh bahan pelarut lainnya, mempunyai daya melapis yang tinggi, dan tidak menimbulkan iritasi pada tubuh dalam bidang kosmetik. Bagian yang paling populer untuk diolah dari kelapa sawit adalah buah. Bagian daging buah menghasilkan minyak kelapa sawit mentah yang diolah menjadi bahan baku minyak goreng dan berbagai jenis turunannya. Kelebihan minyak nabati dari sawit adalah harga yang murah,

rendah kolesterol, dan memiliki kandungan karoten tinggi. Minyak sawit juga diolah menjadi bahan baku margarin. Minyak inti menjadi bahan baku minyak alkohol dan

industri kosmetika. Bunga dan buahnya berupa tandan, bercabang banyak. Buahnya kecil, bila masak berwarna merah kehitaman. Daging buahnya

padat, daging dan kulit buahnya mengandung minyak. Minyaknya itu digunakan sebagai bahan minyak goreng, sabun, dan lilin. Ampasnya

dimanfaatkan untuk makanan ternak. Ampas yang disebut bungkil inti sawit itu digunakan sebagai salah satu bahan pembuatan makanan ayam.

4

Tempurungnya digunakan sebagai bahan bakar dan arang (Anonim, http://id.wikipedia.org/wiki/kelapa_sawit : 2012) Dalam penelitian teknologi pengolahan kelapa sawit dan produk turunannya yang dikeluarkan oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit Indonesia, menyebutkan bahwa hasil penelitian dari para pakar gizi dan tenaga medis di Eropa dan Amerika Serikat menunjukkan minyak kelapa sawit dan minyak inti sawit mengandung asam lemak jenuh tinggi. Namun, asam lemak

jenuhnya merupakan jenis asam lemak rantai sedang (jumlah atom karbon 612). Jenis asam lemak ini ternyata tidak disimpan pada jaringan adiposa atau lemak tubuh, karena asam lemak rantai sedang memiliki rantai transpor yang lebih sederhana dan dapat langsung dirombak menjadi energi dalam tubuh. Penelitian di Srilanka menunjukkan bahwa meskipun tingkat konsumsi lemak per kapita tinggi, tetapi dengan minyak kelapa sebagai sumber diet lemak utama maka tingkat kematian akibat penyakit kardiovaskuler adalah 1 : 100.000 dibandingkan dengan 1 : 18 hingga 1 : 187 di negara-negara industri maju. Di sisi lain, dengan kandungan asam lemak tak jenuh tunggal (monounsaturated fatty acid/MUFA) sekitar 39% minyak sawit tidaklah bersifat hiperkolesterolemia atau penyebab penyakit jantung koroner. Telah dibuktikan bahwa minyak atau lemak yang tinggi kadar MUFAnya mampu menurunkan total kolesterol dan LDL (low density lipoprotein) kolesterol dalam darah. Bahkan minyak sawit juga memiliki keunggulan lain, yakni mengandung karoten (pro vitamin A) dan vitamin E yang tinggi, sehingga dapat bermanfaat bagi peningkatan status gizi masyarakat. Minyak sawit memiliki karakteristik yang unik dibandingkan minyak nabati lainnya. Komposisi asam lemaknya terdiri dari asam lemak jenuh 50%, MUFA 40%, serta asam lemak tidak jenuh ganda (polyunsaturated fatty acid/PUFA) yang relatif sedikit (10%). Dengan komposisi asam lemak yang demikian sebenarnya minyak sawit tidak tepat diklasifikasikan sebagai lemak jenuh (saturated fat), seperti halnya lemak hewani, minyak kelapa, atau PKO, tetapi dapat diklasifikasikan sebagai lemak tidak jenuh (unsaturated fat).

5

Lebih lanjut, dengan kandungan asam oleat yang relatif tinggi dan kandungan PUFA yang rendah, minyak sawit sangat cocok digunakan sebagai medium penggoreng. Minyak kaya asam oleat juga diketahui relatif stabil terhadap suhu penggorengan yang tinggi serta relatif tahan terhadap kerusakan oksidatif penyebab ketengikan minyak selama penyimpanan. Minyak sawit juga dapat difraksinasi menjadi 2 bagian, yakni fraksi padat (stearin) dan fraksi cair (olein). Karakter yang berbeda pada fraksi-fraksi tersebut

menyebabkan aplikasinya sangat luas untuk produk-produk pangan ataupun non pangan. Selain komposisi asam lemaknya yang unik, CPO juga mengandung komponen-komponen miror yang konsentrasinya mencapai 2%. Komponenkomponen minor didalam CPO adalah karotenoid, vitamin E (yakni tokoferol dan tokotrienol), sterol, fosfatida, triterpenic, dan alkohol alifatik.

Konsentrasi karotenoid dan vitamin E yang tinggi membuat minyak sawit memiliki nilai nutrisi yang baik, selain juga memiliki sifat antioksidan yang dapat meningkatkan stabilitas minyak sawit itu sendiri. CPO mengandung karotenoid sebesar 500-700 ppm, dimana komponen utamanya adalah - dan -karoten (90%). Karoten diketahui memiliki aktifitas provitamin A yang tinggi, dimana nilai ekuivalen vitamin A dari - dan -karoten masing-masing adalah 0,90 dan 1,67. Telah lama diketahui bahwa -karoten merupakan antioksidan yang efektif. Studi epidemiologi menunjukkan adanya hubungan yang erat antara -karoten dengan pencegahan beberapa jenis penyakit kanker seperti kanker mulut, tenggorokan, paru-paru, kolon, dan lambung, sehingga -karoten dapat dikategorikan sebagai salah satu dari 10 senyawa anti kanker utama. -

karoten bahkan dilaporkan memiliki potensi sebagai senyawa anti kanker 10 kali lebih besar dibandingkan dengan -karoten. Disamping itu -karoten juga memiliki sifat anti aterosklerot