Komunikasi Dan Gender

  • Published on
    26-Jun-2015

  • View
    1.256

  • Download
    14

Embed Size (px)

Transcript

<p>Pendahuluan Televisi dan Budaya Saat ini, menonton televisi sudah menjadi gaya hidup masyarakat modern. Bahkan media televisi menjadi media komunikasi massa yang memiliki jangkauan terluas saat ini. Bahkan George Gerbner menyebut televisi sebagai sebuah agama baru dalam keluarga. Televisi katanya telah menggeser nilai-nilai yang telah ada sebelumnya .Televisi dalam hal ini tidak hanya menjadi media komunikasi massa yang memiliki fungsi-fungsi sebagai sarana informasi, hiburan , persuasi, pengawasan namun juga sebagai transmisi budaya. Sebagai transmisi budaya, televisi menjadi sarana bergesernya nilai, norma budaya masyarakat. Karena sifatnya yang massif maka secara langsung maupun tidak, televisi akan selalu memiliki pengaruh terhadap pembentukan pola pikir masyarakatnya, serta media yang kuat dalam penetrasi kebudayaan, bahkan tidak jarang seringkali televisi dianggap sebagai sarang polusi bagi kebudayaan, sarang penciptaan nilai-nilai konsumerisme, hedonism, romantisme yang berlebihan, dan sebagainya. Program televisi juga dapat dilihat sebagai representasi, pembentukan identitas dan cerminan realitas sosial atau bahkan menciptakan cerminan itu di dalam masyarakat (mitos kebenaran). Seperti yang diungkapkan Dr. Philip Kitley bahwa, "belakangan ini televisi menyebarkan secara luas sajian gaya hidup, gaya perilaku, dan representasi diri lebih daripada yang sudah-sudah." Identitas di sini adalah apa yang menurut Stuart Hall sebagai points of temporary attachment to the subject positions which discursive practices construct for us. Identitas menjadi sebuah konstruk sosial yang tidak permanen. Identitas adalah sebuah posisi subyektivitas. Selanjutnya, posisi di mana kita mengidentifikasikan diri dan diidentifikasi orang lain tidak netral atau setara. Artinya, kekuasaan bermain dalam menentukan identitas seseorang; masyarakat kontemporer sering mencari identitas budaya mereka sendiri lewat apa yang disebut Gordon Matthews sebagai cultural supermarket. Siaran radio, homepage di internet, film, musik, slogan di t-shirt, makanan, pakaian, karya seni, dan lain-lain dapat memberikan bahan bagi pembentukan identitas budaya seseorang. Hal ini menunjukkan bahwa identitas beroperasi lewat kondisi sosial dan material.Begitupun televise</p> <p>menjadi pasar budaya yang menjual berbagai macam bahan untuk pembentukan identitas seseorang. Gender dan Penguatannya. Perbedaan antara wanita dan laki-laki bukan hanya perbedaan biologis, melainkan juga perbedaan peran gender yang dibentuk dan disosialisasikan oleh masyarakatnya. Gender adalah suatu istilah konsep yang tidak sama dengan seks atau jenis kelamin. Gender merupakan seperangkat peran yang diperuntuk untuk laki-laki dan perempuan yang disosialisikan melalui proses sosial budaya. Gender adalah atribut yang dilekatkan, dikodifikasi dan dilembagakan secara sosial maupun kultural kepada perempuan dan laki-laki. Gender adalah suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural. Misalnya, perempuan itu lemah lembut, cantik, emosional atau keibuan. Sementara laki-laki dianggap kasar, kuat, perkasa, dan jantan (Fakih, 1999). Gender adalah seperangkat peran yang menyampaikan pesan kepada orang lain bahwa kita adalah feminim atau maskulin (Mosse, 1996). Gender berbeda dengan seks. Seks atau jenis kelamin adalah pensifatan atau pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu. Misalnya manusia laki-laki adalah manusia yang memiliki penis dan memproduksi sperma. Perempuan adalah manusia yang memiliki alat reproduksi seperti rahim alat saluran untuk melahirkan, memproduksi telur, memiliki payudara, dan memiliki vagina. Perbedaan anatomi biologis antara laki-laki dan perempuan cukup jelas, akan tetapi efek yang timbul akibat perbedaan jenis kelamin inilah menimbulkan perdebatan, karena perbedaan jenis kelamin secara bilogis (Sex) melahirkan seperangkat konsep budaya. Interpretasi budaya terhadap jenis kelamin inilah yang dinamakan dengan gender. Laki - laki identik dengan rasionalitas yang mengontrol tubuh bagian kanan, sedang perempuan identik dengan intuitip dan reseptip yang mengontrol bagian kiri. Oposisi antara rasionalitas melawan intuitip dan reseptip diterjemahkan menjadi cepat melawan lamban, rasio melawan intuisi, kanan melawan kiri, gagah melawan cengeng, lemah melawan kuat dan kategorisasi </p> <p>kategorisasi lain yang tidak sekedar merendahkan kedudukan perempuan, tetapi juga mensubordinasi perempuan. Isu gender selalu ingin menyetarakan perempuan dalam konteks global maupun lokal. Semua pengetahuan mengenai bagaimana perempuan mengalami penindasan ini dapat kita amati melalui fenomena kekerasan dalam rumah tangga, pembentukan stereotip akan peran perempuan dan laki-laki, serta diskriminasi salah satu gender dalam lingkungan . Gender merupakan produk budaya, di mana konstruksi sosial dan budaya akan peran laki-laki dan perempuan dibentuk dan diwacananakan. Gender terbentuk dalam jaringan-jaringan pengetahuan yang pada akhirnya akan merugikan salah satu pihak, sehingga muncullah ketidaksetaraan gender. Lingkungan yang paling kecil, seperti keluarga pun menjadi media pembentukan gender.</p> <p>Seringkali kasus ketidakadilan gender bermula dari keluarga. Seperti pendidikan pada anak, perlakuan terhadap anak sampai pada peran istri dan suami di dalam keluarga. Membahas mengenai peran sangat terkait dengan isu gender. Bagaimana peran istri bisa dikonstruksikan hingga menjadi pengetahuan yang sepertinya alamiah bahwa peran istri adalah dapur,sumur,kasur, menurut istilahnya yang secara tidak langsung menempatkan peran istri hanya dalam sektor domestik saja. Semua peran ini pun terus diproduksi dan diperkuat melalui media, seperti televisi dan radio maupun majalah. Televisi (TV) sebagai media komunikasi massa merupakan media yang strategis dalam sosialisasi nilai dan gagasan. TV pun mempunyai pengaruh dalam pembentukan karakter individu dan mampu mendorong individu untuk meyakini suatu standar kebenaran. "Kebenaran" yang disosialisasikan TV dapat menjadi frame of references pemirsa. Manifestasi ketidakadilan gender</p> <p>1. Marginalisasi Proses terjadinya Marginalisasi bisa berasal dari kebijakan pemerintah, keyakinan, tafsir agama,</p> <p>tradisi dan budaya, dan bahakan asumsi ilmu pengetahuan. 2. Gender Dan Subordinasi Anggapan bahwa Perempuan itu lemah, irrasional, emosional, dll. Mengakibatkan perempuan itu tidak bisa tampil dalam ruang publik ataupun menjadi memimpin. Perempuan selalu tersubordinasi atau nomor dua. 3. Gender Dan Stereotipe Pelabelan negati dalam masyarakat. Manja, lemah, wanita penghibur, penggoda, perempuan malam dsb. 4. Gender Dan Kekerasan Kekerasan (violence) adalah serangan atau invansi terhadap integritas mental, psikologi seseorang. Kekerasan ini biasanya terjadi karena adanya bias gender. 5. Gender Dan Beban Kerja (double burden) Karena perempuan di stereotipe-kan berada pada wilayah domestik, maka perempuan lebih banyak menanggung beban untuk pemeliharaan rumah dan krapaihannny. Terlebih beban kerja tersebut bisa mendaji dua kalilipat kalau mereka bekerja di luar rumah.</p> <p>Masalah yang ingin dibahas Dilatarbelakangi oleh isu gender ini, maka makalah ini disusun dengan semangat emansipatoris dari penulis untuk memandang kritis wacana gender dalam dunia pertelevisian saat ini. Masalah yang ditemui adalah Bagaimana isu gender dimasukkan dalam sebuah program televisi?, terutama dalam hal ini mengenai isu peran suami istri dalam keluarga melalui sebuah Komedi Situasi Suami-Suami Takut Istri, yang beberapa bulan ini hadir di layar kaca kita. Komedi Situasi yang selalu mengambil tema mengenai permasalahan rumah tangga ini menggambarkon kondisi suami yang didominasi oleh istri. Tentu saja tema memiliki banyak interpretasi. Oleh karena itu penulis ingin menunjukkan adanya isu ketidaksetaraan gender di dalam Komedi Situasi ini dan bagaimana pembentukan stereotip lahir di dalam tayangan ini. Sekilas mengenai Komedi Situasi Suami-Suami Takut Istri</p> <p>Sitkom yang ditayangkan oleh TRANS TV ini berjudul Suami-suami Takut Istri, digarap oleh Rumah Produksi Multivision Plus di bawah arahan sutradara Sofyan De Surza. Program ini tayang setiap Senin hingga Jumat, pukul 18.00 WIB, sejak 15 Oktober 2007. Sitkom yang tujuannya ingin memberikan hiburan yang bermutu dan merakyat ini diperankan oleh Otis Pamutih sebagai Sarmili (Pak RT), Aty Fathiyah sebagai Sarmila (Bu RT), Marissa sebagai Sarmilila, Irvan Penyok sebagai Karyo, Putty Noor sebagai Sheila, Yanda Djaitov sebagai Tigor, Asri Pramawati sebagai Welas, Ramdan Setia sebagai Faisal, Melvy Noviza sebagai Deswita, Epy Kusnandar sebagai Mang Dadang, Desi Novitasari sebagai Pretty, Ady Irwandi sebagai Garry. Suami-suami Takut Istri mengangkat fenomena suami-suami yang tinggal di suatu area perumahan. Mereka semua memiliki kesamaan yaitu berada di bawah dominasi istri-istri mereka. Perasaan senasib sepenanggungan ini tumbuh makin kuat,sehingga mereka membentuk aliansi tidak resmi bagi suami-suami yang takut istri ini. Mereka saling mendukung dan mencela. Saling menguatkan agar tidak lagi mau ditindas, walaupun seringkali sang pemberi nasihat justru masih takut istri juga. Para istri di komplek perumahan tersebut juga membentuk perkumpulan yang sama. Mereka saling memberi dukungan agar tidak kehilangan kendali atas suami-suami mereka. Kedatangan Garry dan Cynthia, calon suami istri, yang juga akan tinggal di komplek perumahan tersebut membawa harapan baru. Bagi para suami, Garry adalah harapan untuk melepaskan diri dari belenggu istri. Karena mereka sendiri sudah terlanjur berada dalam belenggu itu. Kubu istri juga tidak mau kalah. Mereka sering bertemu untuk bertukar pikiran mengenai trik terbaik menaklukkan suami-suami. Pertemuan-pertemuan ini seringkali mengharuskan para suami terusir dari rumah mereka sendiri. Mengalah demi sang istri. Adapula Pretty, seorang janda kembang yang menjadi bulan-bulanan ibu-ibu perumahan. Stigma sosial atas statusnya sebagai janda, membuatnya dijauhi ibu-ibu, dan didekati suami-suami.</p> <p>Pembahasan Pernikahan dan Gender dalam Realita Sosial Pernikahanan adalah bersatunya seorang laki-laki dengan seorang perempuan sebagai suami isteri untuk membentuk keluarga. Pada umumnya masing-masing pihak telah mempunyai pribadi sendiri yang telah terbentuk. Karena itu untuk dapat menyatukan satu dengan yang lain perlu adanya saling penyesuaian, saling pengertian dan hal tersebut harus disadari benar-benar oleh kedua pihak yaitu oleh suami-isteri (Walgito, 1984). Selanjutnya diungkapkan bahwa salah satu syarat yang penting dalam suatu perkawinan adalah faktor psikologis, yang meliputi kematangan emosi, pikiran, sikap toleran, sikap saling pengertian antara suami dan isteri, sikap saling percaya-mempercayai dan sikap saling bantu-membantu dalam meringankan tugas antara suami dan isteri. Pentingnya peranan suami dalam kegiatan rumah tangga akan membantu menyelamatkan isteri dari kelebihan peran yaitu peran dalam keluarga dan peran dalam masyarakat, sehingga dengan demikian isteri merasa dihargai dan suasana keluarga akan lebih baik. Seperti yang diungkapkan oleh Sobur dan Septiawan (1999) bahwa bila suami ikut terlibat dalam kegiatan rumah tangga, minimal isteri akan merasa terbantu karena perhatian suami. Apalagi jika isteri adalah seorang pekerja, ada nilai kemandirian yang harus diterima oleh suami dalam kehidupan rumah tangga tersebut. Pada kenyataannya, dewasa ini masih banyak suami yang melimpahkan tugas-tugas rumah tangga hanya pada isteri. Selama generasi yang ada perempuanlah yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci, dan mengasuh anak. Pria bertugas melakukan pekerjaan di luar seperti mencari nafkah, melindungi keluarga, memeriksa dan mengawasi ternak, dan sebagainya.</p> <p>Peran Gender Berdasarkan paparan di atas dapat dilihat bahwa keterlibatan suami sangat dipengaruhi oleh pandangan normatif yang berlaku dalam masyarakat yang sesuai dengan peran jenisnya. Menurut</p> <p>peran jenis yang stereotip bagi laki-laki, mandiri adalah wajar bagi anak laki-laki, sedangkan sikap tergantung adalah tepat untuk anak perempuan. Hal seperti ini secara tradisional sudah ditanamkan dalam benak individu tentang kekhasan perilaku seorang perempuan (feminin) dan kekhasan perilaku seorang laki-laki (maskulin), yang oleh Hurlock disebut dengan peran gender dan yang akhirnya akan membentuk suatu pendapat yang dapat menjadi suatu norma dalam masyarakat. Masyarakat berpendapat bahwa perempuan secara badaniah berbeda dengan laki-laki, misalnya perempuan melahirkan anak, suaranya lebih halus, buah dadanya lebih besar dan sebagainya. Karena keadaan fisik ini,Budiman (1981) menyatakan bahwa perempuan berbeda secara psikologis dengan laki-laki, dimana perempuan lebih emosional, lebih pasif dan lebih submisif sedangkan laki-laki lebih rasional, lebih aktif dan lebih agresif. Pendapat yang ada dalam masyarakat mengenai peran gender tercermin dalam sikap orang tua dan orang dewasa lainnya yang muncul dalam lingkup rumah tangga. Pendapat mengenai peran gender yang menjadi norma dalam suatu masyarakat akan membentuk pandangan yang bersifat normatif. Pandangan normatif mengenai bagaimana seharusnya hubungan peran antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang dikaitkan dengan kultur budaya yang disebut sebagai gender role ideology (William &amp; Best, 1990). Selanjutnya dijelaskan bahwa pandangan mengenai peran gender ini bervariasi sepanjang suatu kontinum, dimulai dari pandangan tradisional sampai dengan pandangan modern yang menolak norma-norma yang berlaku secara tradisional dan menerima prinsip-prinsip egalitarian atau kesetaraan. Berdasarkan pandangan tradisional, peran utama laki-laki adalah sebagai penguasa utama rumah tangga yang memiliki hak-hak istimewa dan otoritas terbesar dalam keluarga. Dengan demikian anggota keluarga lain termasuk isteri harus tunduk kepada penguasa utama tersebut. Laki-laki dalam posisinya sebagai suami dan ayah merupakan figur sentral dalam keluarga. Kewibawaan, harga diri,dan status ayah atau suami harus dijaga oleh anggota keluarga karena atributatribut tersebut sangat menentukan status dan kedudukan keluarga dalam masyarakat ( Kusujiarti, dalam Abdullah, 1997 ).</p> <p>Keterlibatan Suami dalam Kegiatan Rumah Tangga Teori yang membahas keterlibatan suami dalam kehidupan rumah tangga menurut Strong &amp; De Vault ( 1989 ) adalah : a. Structural Functionalism Teori ini memandang masyarakat sebagai sistem yang terdiri atas bagian yang saling berkaitan (Fakih, 1996). Masing-masing struktur dalam masyarakat seperti agama, pendidikan, struktur politik dan rumah tangga, secara terus menerus mencari keseimbangan (equilibrium) dan harmoni. Adapun interrelasi terjadi karena adanya konsensus. Pola yang non normatif dianggap akan melahirkan gejolak. Jika hal itu terjadi maka masing-masing bagian akan cepat menyesuaikan diri untuk mencapai keseimbangan kembali. Jika suami terlibat dalam urusan rumah...</p>