KONDISI OBJEKTIF PROV RIAU

  • Published on
    19-Jun-2015

  • View
    746

  • Download
    2

Embed Size (px)

Transcript

K2i DI PROVINSI RIAU TPK2-GUBRI 2003-2008

BAB IV

KONDISI OBJEKTIF PROVINSI RIAU

A. Geografis

Dengan dikeluarkannya Undang-undang No. 25 Tahun 2002

tentang

pembentukan Provinsi Kepulauan Riau, maka Provinsi Riau telah menjadi dua Provinsi yaitu Provinsi Riau dan Provinsi Kepulauan Riau. Dengan demikian dari 16 Daerah Kabupaten dan Kota, untuk Provinsi Riau tinggal 11 Kabupaten/Kota yang terdiri dari Kabupaten: Indragiri Hilir, Indragiri Hulu, Kuantan Singingi, Pelalawan, Siak, Kampar, Rokan Hulu, Rokan Hilir serta Kota Pekanbaru dan Kota Dumai. Sebagai konsekuensi Riau terbagi menjadi dua Propinsi, membawa perubahan dalam luas wilayah yang dimiliki oleh Propinsi Riau maupun Propinsi Kepulauan Riau. Untuk Provinsi Riau terdiri dari daerah daratan dan lautan/perairan, dengan luas lebih kurang 104.957.24 Km2 (data sementara). Sedangkan seluas 29.991,04 Km2 atau 19,99 % merupakan daerah lautan. Pulau-pulau yang berada di sepanjang perairan bagian timur yaitu Pulau Rupat Pulau Bengkalis Pulau Mendul Pulau Serapung Pulau Muda Pulau Burung dan Pulau lainnya sangat potensial bagi

pengembangan pertanian. Umumnya pulau pulau tersebut kaya akan hutan bakau, perkebunan sagu rakyat dan kelapa, serta potensial untuk pengembangan budi daya perikanan. Sementara itu di daerah daratan terdapat 4 sungai yang mempunyai arti penting sebagai prasarana perhubungan seperti Sungai Siak (300 km), Sungai Rokan (400 km), Sungai Kampar (400 km) dan Sungai Indragiri (500 km). Keempat sungai yang membelah dari daratan tinggi Bukit Barisan bermuara di Selat Malaka dan Laut Cina Selatan itu dipengaruhi pasang laut.

K2i DI PROVINSI RIAU TPK2-GUBRI 2003-2008

Adapun batas-batas daerah Riau, adalah : Sebelah Utara dengan Selat Singapura dan Selat Malaka. Sebelah Selatan dengan Provinsi Jambi dan Selat Berhala. Sebelah Timur dengan Laut Cina Selatan Sebelah Barat dengan Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi Sumatera Utara Sungai mempunyai arti penting bagi sebagian besar penduduk yang berdomisili di sekitar daerah aliran sungai sebagai prasarana perhubungan, sumber air bersih, sumber irigasi dan sumber air baku. Sejumlah sungai pada saat sekarang sudah mengalami penurunan kualitas airnya, sebagai akibat pencemaran dari pembuangan limbah industri. Provinsi Riau beriklim tropis basah, yang di pengaruhi oleh musim kemarau dan musin hujan. Rata-rata hujan pertahun 160 hari dengan ratarata suhu udara 23,4-33,4 derajat Celcius.

B. Penduduk dan Ketenagakerjaan Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 2000, jumlah penduduk Riau setelah pemekaran adalah sebesar 3.755.485 jiwa, dengan jumlah penduduk usia kerja sebanyak 2.669.209 orang, dan jumlah angkatan kerja 1.590.902 orang. Dengan membandingkan hasil Sensus Penduduk tahun 1990, maka dapat dihitung pertumbuhan penduduk rata-rata pada periode tersebut sebesar 3,28 %, penduduk usia kerja kerja 2,80 % dan angkatan kerja 4,50 %. Berdasarkan asumsi di atas, maka jumlah penduduk Provinsi Riau di tahun 2004 sebanyak 4.272.981 jiwa, jumlah penduduk usia kerja sebanyak 2.943.334 orang dan jumlah angkatan kerja sebesar 1.908.752 jiwa, sehingga perbandingan antara jumlah penduduk dengan penduduk usia kerja 68,88 % dan antara penduduk usia kerja dengan angkatan kerja 64,85 %. Pada tahun 2008 jumlah penduduk Provinsi Riau diperkirakan akan mencapai 4.861.786

K2i DI PROVINSI RIAU TPK2-GUBRI 2003-2008

jiwa, jumlah penduduk usia kerja sebanyak 3.328.296 orang dan angkatan kerja sebanyak 2.276.222 orang. Perbandingan antara jumlah penduduk dengan jumlah tenaga kerja pada tahun 2008 adalah sebesar 68,46 %. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2004 yang besarnya 68,88 %. Keadaan ini menunjukkan bahwa pertambahan jumlah tenaga kerja akan lebih kecil dibandingkan dengan pertambahan penduduk, kurun waktu tahun 2004 2008 pertambahan angkatan kerja sebagai akibat tingginya angka migrasi. Perbandingan antara jumlah tenaga kerja dengan jumlah

angkatan kerja tahun 2008 adalah 68,39 %. Angka ini lebih tinggi dari tahun 2004 sebesar 64,85 %, artinya pertambahan angkatan kerja lebih besar dari pertambahan tenaga kerja, sehingga akan menambah jumlah pencari kerja

di Provinsi Riau selama periode tahun 2004 sampai tahun 2008.

C. Kesempatan Kerja dan Pengangguran Kesempatan kerja dan peluang lapangan pekerjaan menurut lapangan usaha dapat diketahui dari jumlah penduduk 15 tahun ke atas yang bekerja menurut lapangan usaha (sektor). Berdasarkan BPS Provinsi Riau tahun 2003, kesempatan kerja sebesar 1.599.004 orang. Jika data di atas dijadikan sebagai pedoman, maka kesempatan kerja di tahun 2004 menjadi 1.678.993 orang dan pada tahun 2008 akan naik menjadi 2.039.727 orang, dengan ratarata pertambahan 4,90 %. Angka pertambahan ini dihitung dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2008. Dengan peningkatan kesempatan kerja rata-rata 4,90 % pertahun, dan pertambahan angkatan kerja 4,50 %, maka dapat diperkirakan tingkat pengangguran di Provinsi Riau. Tingkat pengangguran terbuka tahun 2003 sebesar 14,23 %, angka ini diharapkan menurun secara bertahap sehingga pada tahun 2008 menjadi 11,59 %. Tabel : Jumlah Penduduk 15 Tahun Ke Atas Menurut Lapangan Usaha Tahun 2003 2008N Sektor o 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Pert. (%)

K2i DI PROVINSI RIAU TPK2-GUBRI 2003-2008

1 Pertanian 2 Industri

891.259 87.144

935.822 93.680 267.914 153.506 228.071

983.613 100.306 278.631 158.879 242.071

1.031.744 1.083.331 1.134.497 5,00 108.259 289.776 164.439 257.422 116.378 301.367 170.195 273.485 125.106 313.421 176.152 290.551 7,50 4,00 3,50 6,24

3 Perdaganga 257.610 n 4 Jasa Jumlah Penduduk (jiwa) Pddk Usia Kerja (jiwa) 148.315 5 Sektor Lain 214.675

1.599.004 1.678.993 1.762.731 1.851.640 1.944.756 2.039.727 4,90 4.137.278 4.272.981 4.413.135 4.557.885 4.707.384 4.861.786 3,28 2.903.900 2.943.334 3.024.941 3.126.709 3.231.755 3.328.296 2,77

Angkatan Kerja 1.826.557 1.908.752 1.994.646 2.084.405 2.178.203 2.276.222 4,50 (jiwa) Pengangguran 14,23 Terbuka (%) 13,68 13,16 12,57 12,00 11,59 -

Sumber : Tahun 2003 BPS Provinsi Riau, Tahun 2004 2008 Data Olahan Adapun persentase penduduk menurut lapangan usaha (sektor) berdasarkan BPS Provinsi Riau tahun 2003 adalah di sektor pertanian 891.259 orang, tahun 2008 sebanyak 1.134.497 orang. Keadaan ini masih menunjukkan bahwa lapangan pekerjaan penduduk masih terkonsentrasi pada sektor pertanian yaitu tahun 2003 sebanyak 55,74 %, dan akhirnya pada tahun 2008 menjadi 55,62 %, dan akan terjadi peningkatan

produktifitas setiap tenaga kerja dari tahun 2004 ke tahun 2008 yaitu dari Rp 10.769.075,37 menjadi Rp 11.223.681,17. Keadaan ini lebih memerlukan kebijaksanaan yang tepat dan terpadu sehingga pada tahun 2008, produktifitas tenaga kerja di sektor pertanian dan sektor lain akan meningkat.

Sementara persentase penduduk di sektor industri tahun 2003 sebanyak 87.544 orang atau 5,45 %, tahun 2008 diperkirakan akan mencapai 175.106 orang atau 6,13 %. Bertambahnya jumlah penduduk yang hidup di sektor industri ternyata tidak meningkatkan produktifitas tenaga kerja di sektor ini, yaitu pada tahun 2003 produktifitas tenaga kerja sebesar Rp 32.775.635,73 dan di tahun 2008 diprediksi produktifitas tenaga kerja di sektor industri menjadi Rp 29.327.770,05, tetapi dengan kebijakan

K2i DI PROVINSI RIAU TPK2-GUBRI 2003-2008

pembangunan ekonomi yang berlandaskan pada ekonomi kerakyatan, angka ini mungkin saja dapat meningkat. Penduduk yang bekerja di sektor perdagangan pada tahun 2003

sebanyak 257.610 orang dan pada tahun 2008 diperkirakan sebanyak 313.421 orang atau dalam persentase sedangkan sebanyak 16,11 % tahun 2003,

tahun 2008 adalah 15,36 %. Produktifitas setiap tenaga kerja

tahun 2003 adalah Rp 14.211.482,47, untuk tahun 2008 diharapkan produktifitas tenaga kerja akan meningkat menjadi Rp 15.732.289,80. Untuk lebih jelasnya jumlah penduduk yang bekerja pada setiap sektor dapat dilihat pada table berikut ini.

Tabel

4.6 : persentase Penduduk 15 Tahun Ke Atas Menurut Lapangan Usaha Tahun 2003 - 2008

No Sektor 1 2 3 4 5 Pertanian Industri Perdagangan Jasa Lainnya

2003 55,74 5,45 16,11 9,28 13,42 100,00

2008 55,62 6,13 15,37 8,64 14,24 100,00

Jumlah Sumber : Data Olahan

D. Distribusi Pendapatan Pola distribusi pendapatan di Provinsi Riau untuk tahun 2004 tergolong distribusi yang relatif merata yaitu :

a. 40% penduduk yang berpenghasilan rendah telah menerima 23,04 %. b. 40% penduduk yang berpenghasilan menengah telah menerima 40,42%. c. 20% penduduk yang berpenghasilan tinggi telah menerima 36,54 %.

K2i DI PROVINSI RIAU TPK2-GUBRI 2003-2008

Walaupun pola distribusi pendapatan di Provinsi Riau tergolong merata dengan Indeks Gini sebesar 0,327, namun untuk tahun 2008 pola distribusi pendapatan di dalam masyarakat perlu diikuti secara cermat, karena ada beberapa hal yang memerlukan perhatian dalam menentukan kebijakan khususnya menyangkut dengan pola distribusi pendapatan dalam masyarakat untuk tahun 2008, yaitu : Penguasaan aset produktif yang tidak seimbang antara BUMN dan perusahaan besar swasta dengan koperasi, usaha kecil menengah; terdapat sekitar 684.328 unit usaha koperasi usaha kecil menengah yang hanya menguasai aset produktif senilai Rp 10,29 triliun atau 97,33 % dari jumlah unit usaha hanya menguasai aset produktif sebesar 36,62 %. Sedangkan sebanyak 47.762 perusahaan besar yang berbentuk BUMN dan perusahaan swasta telah menguasai aset sebagai berikut : a. Aset produktif sebanyak Rp 17,72 triliun atau 6,27 % unit usaha telah menguasai aset produktif sebesar 63,38 %. b. Terjadinya perbedaan yang sangat besar tingkat produktifitas tenaga kerja di antara berbagai sektor. Pada tahun 2004 produktivitas tenaga kerja di sektor industri yang tertinggi dengan rata-rata sebesar Rp 30.488.898,38, di sekto