Laporan Herbal

  • Published on
    27-Nov-2015

  • View
    753

  • Download
    7

Embed Size (px)

Transcript

<p>Laporan Praktikum Herbal Blok Kedokteran Komplementer</p> <p>TANAMAN OBAT DAN OBAT TRADISIONAL</p> <p>Oleh:Kelompok 14 Angkatan 2010</p> <p>Arum Alfiyah Fahmi(G0010028)Candra Aji S.(G0010040)Coraega Gena E.(G0010046)Erma Malindha(G0010074)Gunung Mahameru(G0010088)Namira Qisthina(G0010134)Paksi Suryo B.(G0010148)Puji Rahmawati(G0010154)Satria Adi P.(G0010172)Yunita Asri P.(G0010202)</p> <p>Pembimbing : Setyo Sri Rahardjo, dr.,M.Kes.</p> <p>FAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS SEBELAS MARETSurakarta2013BAB IPENDAHULUAN</p> <p>A. Latar BelakangIndonesia adalah negara yang kaya akan flora dan fauna (Butarbutar dan Soemarno, 2013). Diantara kekayaan floratersebut, banyak diantaranya yang masuk kategori tanaman obat (Haneef et al., 2013).Tanaman-tanaman obatini sudah dimanfaatkan oleh nenek moyang kita sejak berabad-abad lalu. Potensi obat herbal tradisional Indonesia tidak kalah dengan obat-obatan tradisional China yang telah banyak dikenal di dunia. Indonesia memiliki kekayaan alam luar biasa yang berpotensi sebagai obat, bahkan Indonesia dikenal sebagai mega center keanekaragaman hayati yang terbesar di dunia, bahkan lebih besar daripada Brazil (Mahani et al., 2013). Indonesia memiliki 30.000 jenis dari 40.000 jenis tanaman obat yang tersebar di seluruh Indonesia. Apalagi, tanaman obat pun tak kalah efektif untuk mengobati beragam penyakit. Terbukti, saat ini banyak produksi obat-obatan yang menggunakan material tanaman obat (Torri, 2013). Potensi tersebut merupakan lahan yang bisa dimanfaatkan untuk menjaga kesehatan atau mengobati beragam penyakit di masyarakat. Pemanfaatan tanaman untuk mengobati suatu penyakit sudah bukan menjadi rahasia lagi. Kombinasi antara pengobatan modern yang memanfaatkan bahan alami ialah terobosan inovasi yang perkembangannya harus didukung oleh berbagai lapisan masyarakat (Torri, 2013).Di Indonesia, pengembangan obat herbal lebih diprioritaskan pada pengobatan penyakit degeneratif, immunomodulator, dan untuk pemeliharaan kesehatan. Pengembangan obat herbal Indonesia dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka. Tak terhitung berapa jumlah ramuan tradisional yang sudah dihasilkan di Indonesia (Ratnawati et al., 2013).Menurut WHO, ada empat sistem yang dianut oleh negara-negara di dunia dalam pemanfaatan obat herbal sebagai bagian dari obat tradisional, yaitu integratif, insklusif, toleran, dan ekslusif. WHO merekomendasikan penggunaan obat tradisional termasuk herbal dalam pemeliharaan kesehatan masyarakat, pencegahan dan pengobatan penyakit terutama penyakit kronis, penyakit degeneratif, dan kanker. Hal ini menunjukkan bahwa WHO mendukung untukback to nature (Pathak dan Das, 2013). Pengobatan dengan menggunakan bahan alam oleh masyarakat sangat tinggi dan sangat beragam sehingga dibutuhkan penjelasan yang memadai di kalangan praktisi medis . Saat ini, dibeberapa media informasi sedang gencar-gencarnya dalam mempromosikan produk herbal mereka secara bebas dan luas. Sayangnya fakta di atas tidak diikuti dengan pengetahuan yang memadai tentang pemanfaatan herbal medicine dalam dunia kesehatan, baik dari masyarakat umum maupun kalangan medis. Begitu pula dengan sarana pembelajaran herbal dirasa masih kurang, terutama yang ditujukan praktisi medis. Sehingga memunculkan kesenjangan pengetahuan antara masyarakat umum dan kalangan medis (Davidson et al., 2013). Oleh karena itu dibutuhkan eventyang tidak hanyadapatmembantu masyarakat untuk memahami herbal dengan baik namun juga dapat menjadi jembatan pengetahuan antara masyarakat dan praktisi medis. Selain itu, praktisi medis dapat meng-update dan menyikapi dengan bijak perkembangan herbal medicine dikalangan masyarakat umum.Saintifikasi Jamu adalah salah satu program terobosan Kementerian Kesehatan untuk pemanfaatan jamu yang berbasis bukti dalam pelayanan kesehatan, utamanya dalam upaya preventif dan promotif (Herman et al., 2013). Klinik Saintifikasi Jamu Hortus Medicus adalah Klinik Tipe A, merupakan implementasi Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 002/Menkes/Per/I/2010 tentang Saintifikasi Jamu dalam penelitian Berbasis Pelayanan Kesehatan untuk menjamin jamu aman, bermutu dan berkhasiat. Bahan yang digunakan berupa simplisia yang telah terbukti khasiat dan keamanannya melalui uji praklinik.Jamu yang digunakan berupa racikan simplisia, serbuk dan juga ekstrak tanaman obat yang telah diteliti khasiat dan keamanannya melalui uji praklinik dan atau observasi klinik. Untuk menjamin keamanan dan mutu maka cara pembuatannya mengacu pada cara pembuatan simplisia yang baik, dimulai dari proses standarisasi benih/bibit, budidaya, pasca panen maupun analisis mutu di laboratorium (Herman et al., 2013).Berdasarkan permasalahan tersebut maka diperlukan kajian holistik untuk membahas herbal medicine. Oleh karena itu, kunjungan mahasiswa Fakultas Kedokteran UNS ke Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) di Tawangmangu merupakan salah satu upaya blok kedokteran komplementer subtopik herbal dalam mencapai standar kompetensi sehingga mahasiswa mampu menjelaskan bahan alam, obat herbal menjadi bagian dari Complementer Alternative Medicine (CAM). B2P2TOOT berada dibawah Badan Litbang Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Dengan demikian, dokter lulusan Fakultas Kedokteran UNS mampu memenuhi kompetensi dasar sebagai berikut: (1) mampu menjelaskan pengembangan bahan obat alam, tumbuhan sampai menjadi obat, (2) mampu menjelaskan dasar ilmiah bahan alam, tumnuhan sebagai bahan obat, (3) mampu menjelaskan proses pembuatan sediaan ekstrak, dan (4) mampu menerapkan bahan alam, tumbuhan menjadi bagian dari CAM, obat komplementer alternatif. </p> <p>B. Sasaran Pembelajaran (Learning Objectives)1. Menjelaskan tentang terapi komplementer herbal.2. Menjelaskan berbagai bahan herbal.3. Menjelaskan proses pembuatan sediaan herbal.4. Menjelaskan cara penggunaan herbal: mengenai indikasi, kontraindikasi, dosis, aturan pemakaian, efek samping, intoksikasi, dan penanganannya.5. Menjelaskan pengembangan herbal sampai bisa menjadi obat.6. Menjelaskan penerapan herbal untuk terapi komplementer-alternatif.BAB IITINJAUAN PUSTAKA</p> <p>Indonesia merupakan negara yang memiliki kakayaan hayati terkaya kedua di dunia setelah Brazil. Namun, bila kekayaan biota laut ikut diperhitungkan, maka Indonesia menempati urutan terkaya di dunia untuk kekayaan hayati yang dimilikinya. Di Indonesia diperkirakan hidup sekitar 40.000 spesies tanaman, di mana 30.000 spesies tumbuh di kepulauan Indonesia dan 9.600 spesies tanaman tersebut merupakan tanaman yang memiliki khasiat sebagai obat dengan kurang lebih 300 spesies tanaman telah digunakan sebagai bahan baku obat tradisional oleh industri obat tradisional di Indonesia (DepKes RI, 2007). Potensi kekayaan hayati ini merupakan asset berharga yang harus dikembangkan sehingga dapat menjadi salah satu unggulan Indonesia untuk meningkatkan daya saing bangsa. Obat herbal termasuk dalam pengobatan komplementer-alternatif berdasarkan Permenkes RI, Nomor : 1109/Menkes/Per/2007. Di Indonesia, obat tradisional yang dikenal sebagai Jamu, telah digunakan secara luas oleh masyarakat Indonesia untuk menjaga kesehatan dan mengatasi berbagai penyakit sejak berabad-abad yang lalu jauh sebelum era Majapahit. Ke depan pengembangan dan pemanfaatan obat bahan alam/obat herbal Indonesia ini perlu mendapatkan substansi ilmiah yang lebih kuat, terutama melalui penelitian dan standarisasi sehingga obat herbal Indonesia dapat diintegrasikan dalam sistem pelayanan kesehatan nasional (WHO, 2002). Obat tradisional menurut Undang-Undang No 36 Tahun 2009 adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.</p> <p> Menurut BPOM, ada 3 macam obat tradisional: 1. Jamu adalah bahan atau ramuan bahan, berupa bahan nabati, hewani, mineral, sediaan galenik atau campuran dari bahan tersebut, yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. 2. Obat herbal terstandar adalah jamu yang telah diuji khasiat dan keamanannya pada hewan uji. Sudah digunakan untuk indikasi medis dengan dasar khasiat dan keamanan dan regulasinya sudah jelas aman dan memiliki efek terapi. 3. Fitofarmaka adalah jamu yang telah diuji klinik pada manusia (Sampurno, 2003). Di dunia, berdasarkan penggunaan dan pengakuan obat tradisional pada sistem pelayanan kesehatan, menurut WHO ada 3 sistem yang dianut oleh negara-negara di dunia, yaitu: 1. Sistem integratif. Secara resmi obat tradisional diakui dan telah diintegrasikan dalam sistem pelayanan kesehatan nasional. Ini berarti obat tradisional telah menjadi komponen dari kebijakan obat nasional, ada sistem registrasi produk dan regulasi, obat tradisional digunakan di rumah sakit dan sistem asuransi kesehatan, ada penelitian dan pengembangan serta pendidikan tentang obat tradisional. Negara yang menganut sistem integratif ini antara lain ialah RRC, Korea Utara dan Viet Nam.2. Sistem inklusive.Mengakui obat tradisional tetapi belum mengintegrasikan pada sistem pelayanan kesehatan. Sistem inclusive ini dianut oleh negara sedang berkembang seperti Nigeria dan Mali maupun negara maju seperti Kanada dan Inggris. Dewasa ini Indonesia juga tergolong negara yang menganut sistem inclusive karena penggunaan obat tradisional belum diintegrasikan dalam sistem pelayanan kesehatan nasional. Demikian pula sistem asuransi kesehatan di Indonesia menolak klaim penggunaan obat tradisional.3. Sistem toleran. Sistem pelayanan kesehatan berbasis kedokteran modern tetapi penggunaan beberapa obat tradisional tidak dilarang oleh undang-undang. RRC adalah satu negara yang telah sejak lama mengintegrasikan obat tradisional dalam mainstream sistem pelayanan kesehatannya. Selain TCM yang telah menyatu dalam budaya Cina. WHO sebagai organisasi kesehatan dunia membuat strategi dalam pengembangan obat tradisional mencakup empat tujuan utama yaitu:1. Mengintegrasikan secara tepat obat tradisional dalam sistem pelayanan kesehatan nasional dengan mengembangkan dan melaksanakan kebijakan nasional obat tradisional dengan berbagai programnya.2. Meningkatkan keamanan (safety), khasiat dan mutu dengan memperkuat knowledge-base obat tradisional dan regulasi dan standar jaminan mutu (quality assurance standard).3. Meningkatkan ketersediaan dan keterjangkauan obat tradisional terutama untuk masyarakat yang tidak mampu. 4. Mempromosikan penggunaan obat tradisional secara tepat oleh tenaga profesional medik maupun oleh konsumen (WHO, 2002). Indonesia sebagai negara anggota, perlu menjabarkan strategi global WHO tersebut dalam suatu kebijakan nasional yang komprehensif dengan program-program yang memiliki arah dan sasaran ke depan yang jelas dengan melibatkan partisipasi aktif seluruh sektor terkait. Berikut ini Peraturan Pemerintah Indonesia yang berhubungan dengan obat tradisional/herbal, diantaranya: 1. Undang-Undang No 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan. 2. Undang-Undang No 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan.3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 007 Tahun 2012 Tentang Registrasi Obat Tradisional. 4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 003/MENKES/PER/I/2010 Tentang Saintifikasi Jamu Dalam Penelitian Berbasis Pelayanan Kesehatan.5. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 0584/MENKES/SK/VI/1995 Tentang Sentra Pengembangan Dan Penerapan Pengobatan Tradisional. 6. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1076/MENKES/SK/VII/2003 Tentang Penyelenggaraan Pengobatan Tradisional. 7. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 381/MENKES/SK/III/2007 Tentang Kebijakan Obat Tradisional Nasional. 8. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1109/MENKES/PER/IX/2007 Tentang Penyelenggaraan Pengobatan Komplementer Alternatif Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. 9. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 121/MENKES/SK/II/2008 Tentang Standar Pelayanan Medik Herbal.</p> <p>A. EkstraksiProses ekstraksi adalah proses pemisahan dari bahan padat maupun bahan cair dengan bantuan pelarut. Pelarut yang digunakan harus dapat mengekstrak substansi yang diinginkan tanpa melarutkan material lainnya. Ekstraksi merupakan proses pemisahan suatu bahan dari campurannya, ekstraksi dapat dilakukan dengan berbagai cara. Ekstraksi menggunakan pelarut didasarkan pada kelarutan komponen terhadap komponen lain dalam campuran (Suyitno, 1989).Tujuan ekstraksi bahan alam adalah untuk menarik komponen kimia yang terdapat pada bahan alam. Ekstraksi ini didasarkan pada prinsip perpindahan massa komponen zat ke dalam pelarut, dimana perpindahan mulai terjadi pada lapisan antar muka kemudian berdifusi masuk ke dalam pelarut (Harborne, 1987).Secara umum, terdapat empat situasi dalam menentukan tujuan ekstraksi:1. Senyawa kimia telah diketahui identitasnya untuk diekstraksi dari organisme 2. Bahan diperiksa untuk menemukan kelompok senyawa kimia tertentu, misalnya alkaloid, flavanoid atau saponin, meskipun struktur kimia sebetulnya dari senyawa ini bahkan keberadaannya belum diketahui 3. Organisme (tanaman atau hewan) digunakan dalam pengobatan tradisional, 4. Sifat senyawa yang akan diisolasi belum ditentukan sebelumnya dengan cara apapun </p> <p>Dalam proses ekstraksi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:1. Jumlah simplisia yang akan diesktrak2. Derajat kehalusan simplisiaSemakin halus, luas kontak permukaan akan semakin besar sehingga proses ekstraksi akan lebih optimal.3. Jenis pelarut yang digunakanJenis pelarut berkaitan dengan polaritas dari pelarut tersebut. Hal yang perlu diperhatikan dalam proses ekstraksi adalah senyawa yang memiliki kepolaran yang sama akan lebih mudah tertarik/ terlarut dengan pelarut yang memiliki tingkat kepolaran yang sama. Berkaitan dengan polaritas dari pelarut, terdapat tiga golongan pelarut yaitu: Pelarut polarMemiliki tingkat kepolaran yang tinggi, cocok untuk mengekstrak senyawa-senyawa yang polar dari tanaman. Pelarut polar cenderung universal digunakan karena biasanya walaupun polar, tetap dapat menyari senyawa-senyawa dengan tingkat kepolaran lebih rendah. Salah satu contoh pelarut polar adalah: air, metanol, etanol, asam asetat. Pelarut semipolarPelarut semipolar memiliki tingkat kepolaran yang lebih rendah dibandingkan dengan pelarut polar. Pelarut ini baik untuk mendapatkan senyawa-senyawa semipolar dari tumbuhan. Contoh pelarut ini adalah: aseton, etil asetat, kloroform Pelarut nonpolarPelarut nonpolar, hampir sama sekali tidak polar. Pelarut ini baik untuk mengekstrak senyawa-senyawa yang sama sekali tidak larut dalam pelarut polar. Senyawa ini baik untuk mengekstrak berbagai jenis minyak. Contoh: heksana, eterDalam pemilihan pelarut harus memperhatikan beberapa faktor diantaranya adalahpemilihan pelarut pada umumnya dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut ini : Selektifitas Pelarut hanya boleh melarutkan ekstrak yang diinginkan, bukankomponen-komponen lain dari bahan ekstraksi. Kelarutan Pelarut sedapat mu...</p>