Laporan Kegiatan Workshop : Advokasi dan Berjejaring ...arc- Kegiatan...Laporan Kegiatan Workshop :…

  • Published on
    18-Mar-2019

  • View
    222

  • Download
    5

Embed Size (px)

Transcript

<p>Laporan Kegiatan Workshop : Advokasi dan Berjejaring sebagai Bagian penting dalam Pengembangan </p> <p>Program Penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia </p> <p> Latar Belakang </p> <p>Sejak pertama kali kasus HIV ditemukan di Indonesia tahun 1987, berbagai program penanggulangan HIV/AIDS sudah dilakukan untuk menanggulangi epidemi ini, baik oleh Lembaga Swadaya Masyarakat Lokal dan Internasional, serta lembaga pemerintahan terkait. Perubahan demi perubahan terjadi sebagai respon atas situasi yang terus berkembang dalam pelaksanaan program, dan memonitor semua perubahan tentunya menjadi hal penting sebagai salah satu cara untuk mengukur keberhasilan yang tujuannya adalah untuk peningkatan cakupan program baik secara kualitas maupun kuantitas. Beberapa tahun terakhir terjadi berbagai gerakan dan perubahan situasi di isu penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia. Upaya peningkatan peran dan penglibatan masyarakat sipil sebagai salah satu tulang punggung pelaksanaan upaya penanggulangan HIV dan AIDS di tingkat lokal dan nasional saat ini gencar dilakukan. Penguatan kapasitas dan kualitas masyarakat sipil sebagai institusi dan program diyakini akan berpengaruh kuat pada kualitas dan pencapaian program. Mengapa?karena kontribusi masyarakat sipil juga diyakini berhubungan erat dengan tingkat pemahaman masyarakat sipil terhadap program yang dikembangkan dan diimplementasikan yang akan sangat mempengaruhi hasil dari implementasi program. Untuk tujuan penguatan kapasitas dan kualitas masyarakat sipil inilah, Pusat Penelitian HIV/AIDS Atma Jaya ingin mengadakan rangkaian workshop dengan beberapa topik bahasan yang dirasa penting untuk membekali para staff di LSM, terutama LSM lokal dalam melaksanakan tugas mereka dalam program penanggulangan HIV dan AIDS. Rangkaian workshop akan membawa 3 tema besar, yang semuanya akan dikaitkan dengan konteks program penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia, yaitu : 1. Transparansi dan Akuntabilitas (telah dilaksanakan pada tanggal 22-23 Desember 2010, bekerjasama dengan FITRA) 2. Metodologi Penelitian Mendasar (direncanakan untuk diadakan tanggal 14,16 dan 17 Febuari 2011) 3. Advokasi dan Berjejaring (direncanakan untuk diadakan tanggal 2-4 Maret 2011) Setelah selesai dengan pelaksanaan workshop Transparansi Anggaran dan Akuntabilitas serta Metodologi Penelitian Mendasar nantinya, Pusat Penelitian HIV/AIDS Atma Jaya merencanakan workshop lanjutan dengan tema Advokasi dan Berjejaring. Kegiatan advokasi dan berjejaring sendiri di masing-masing lembaga diyakini memiliki peranan yang sangat penting dalam implementasi program, dimana tujuan dari advokasi dan kegiatan berjejaring akan sangat diarahkan oleh visi dan misi dari lembaga itu sendiri dalam pengimplementasian program-program lembaga. Penentuan tujuan dan arah advokasi juga sangat berhubungan dengan hasil temuan dan analisa lembaga terhadap situasi yang ada di lapangan, baik situasi </p> <p>dan kondisi target dampingan, juga situasi politik dan kebijakan terkait. Identifikasi yang akurat terhadap situasi dan kondisi serta kebutuhan advokasi dan membentuk jaringan akan sangat membantu lembaga dalam merencanakan program yang tepat, juga mengimplementasikan program-program sesuai dengan kebutuhan, juga visi dan misi lembaga. Oleh sebab itu, peningkatan kapasitas staf lembaga dalam melakukan penelitian, analisa serta melakukan advokasi dan membentuk jaringan dirasa sebagai sebuah paket ketrampilan yang akan sangat berhubungan untuk menunjang staf di divisi terkait dalam melaksanakan pekerjaan mereka. Diharapkan workshop ini dapat membekali peserta dengan pemahaman mendasar mengenai apa dan manfaat dari kegiatan advokasi dan berjejaring, termasuk di dalamnya mencari dan memanfaatkan informasi yang penting dan relevan untuk kepentingan advokasi dan berjejaring dalam pengelolaan program penanggulangan HIV dan AIDS. </p> <p>Tujuan </p> <p>1. Memberikan pemahaman mendasar mengenai advokasi dan berjejaring dalam kaitannya dengan pengelolaan program penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia </p> <p>2. Mendorong lembaga-lembaga yang bergerak dalam penanggulangan HIV dan AIDS untuk dapat memanfaatkan pengetahuan dan jaringan yang mereka miliki secara maksimal untuk kepentingan advokasi dengan tujuan akhir untuk mengembangkan program penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia </p> <p> Materi dan Pelaksanaan </p> <p> A. Materi </p> <p> Topik-Topik yang dibawakan dalam workshop ini adalah : </p> <p> 1. Pengantar : Mengenal dan Mendalami Advokasi </p> <p> Materi ini membahas mengenai apa itu advokasi, elemen-elemen penting dalam advokasi, menyusun skala prioritas, pembaruan hukum/kebijakan yang ingin dicapai, identifikasi kawan dan lawan) </p> <p> 2. Dokumentasi Hak Asasi Manusia </p> <p> Materi ini membahas mengenai pentingnya dan manfaat dari kegiatan dokumentasi dalam advokasi, hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memulai dokumentasi, pengantar singkat mengenai analisis dan publikasi dalam konteks advokasi. </p> <p> 3. Menulis Efektif </p> <p> Materi ini membahas mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat tulisan untuk kepentingan advokasi. Dalam pembahasan materi diberikan tips-tips praktis mengenai menulis secara efektif, juga kesalahan yang umum dilakukan dalam menulis. </p> <p> * terlampir slide presentasi untuk setiap materi pelatihan </p> <p>4. Networking </p> <p>Materi ini membahas peran kegiatan berjejaring, terutama untuk kepentingan advokasi. Selain itu juga dibahas mengenai syarat-syarat untuk berjejaring secara efektif. </p> <p> Workshop diselenggarakan atas kerjasama antara Pusat Penelitian HIV/AIDS Atma Jaya dengan LBH Masyarakat. Semua materi disusun dan dibawakan oleh tim dari LBH Masyarakat, kecuali pada sesi mengenai Networking yang dibawakan oleh Octavery Kamil dari Pusat Penelitian HIV/AIDS Atma Jaya </p> <p>B. Pelaksanaan </p> <p>B.1. Persiapan </p> <p> Pelatihan Advokasi dan Berjejaring merupakan bagian dari serial pelatihan (Transparansi dan Akuntabilitas Publik, Metodologi Penelitian) yang diadakan Pusat Penelitian HIV/AIDS Atma Jaya dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas organisasi masyarakat sipil, terutama mereka yang bergerak di isu penanggulangan HIV/AIDS. Perencanaan materi dan pelaksanaan Pelatihan Advokasi &amp; Berjejaring dilakukan dengan meminta pendapat dari beberapa orang perwakilan organisasi masyarakat sipil, juga melalui insight yang diperoleh melalui diskusi-diskusi yang berlangsung dalam pelaksanaan dua pelatihan sebelumnya. Setelah menentukan materi dan perkiraan waktu pelaksanaan, Pusat Penelitian HIV/AIDS mulai melakukan penjajakan terhadap beberapa lembaga yang diketahui memiliki pengetahuan serta pengalaman yang cukup dalam melakukan advokasi, juga memahami isu penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia. Penjajakan ini dilakukan mulai dengan mencari informasi dari teman-teman yang berasal dari organisasi masyarakat sipil sendiri, mencari informasi melalui internet (website lembaga dsb), sampai dengan menghubungi lembaga tersebut secara langsung. Akhirnya Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Masyarakat yang dirasa paling tepat untuk membawakan materi advokasi yang direncanakan, selain karena pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki lembaga ini dalam melakukan advokasi dan pendampingan terhadap ODHA, juga karena kesesuaian jadwal LBH Masyarakat dengan rencana pelaksanaan pelatihan. Pusat Penelitian HIV/AIDS sebagai pelaksana mengusulkan materi-materi yang akan diberikan dengan tetap memperhatikan masukan dari LBH Masyarakat yang juga memiliki pengalaman dalam memberikan pelatihan mengenai advokasi bagi organisasi masyarakat sipil. Topik penelitian (yang lebih merujuk pada dokumentasi kegiatan dan kejadian) untuk kepentingan advokasi diakui menjadi topik yang cukup baru untuk dibawakan dalam pelatihan seperti ini. Pada hari terakhir pelatihan metodologi penelitian, rencana mengenai akan diadakannya pelatihan dengan tema advokasi &amp; berjejaring sudah diumumkan. </p> <p> Setelah jadwal dan materi pelatihan dipastikan, undangan kemudian mulai disebarkan ke organisasi-organisasi masyarakat sipil yang telah mengikuti dua pelatihan sebelumnya. Setiap calon peserta diminta untuk memberikan konfirmasi kehadiran melalui telepon atau </p> <p>email, dan karena keterbatasan tempat setiap lembaga hanya dapat mengirimkan 1 orang perwakilan saja. </p> <p>B.2. Pelaksanaan Pelatihan 2-4 Maret 2011 </p> <p> Secara keseluruhan pelatihan berjalan dengan cukup lancar, walaupun masih terdapat beberapa kekurangan yang ditemukan. Pelatihan dilakukan selama 2,5 hari, dari tanggal 2 sampai dengan 4 Maret 2011. Tanggal 2-3 Maret 2011 pelatihan dimulai Pk 10.00 dan selesai kuran lebih Pk. 16.00 WIB ( dari yang dijadwalkan Pk. 15.00 WIB), sedangkan pada tanggal 4 Maret pelatihan dimulai Pk. 10.00 dan selesai Pk. 12.00 WIB. Pelatihan selesai lebih lama dari yang diperkirakan karena cukup banyak pertanyaan juga diskusi-diskusi yang muncul selama pelatihan berlangsung. Pelatihan diikuti oleh staf LSM yang bergerak di isu penanggulangan HIV/AIDS Jakarta dan sekitarnya, baik di isu penanggulangan pada komunitas pengguna napza suntik, wanita penjaja seks, waria, lelaki seks dengan lelaki (LSL), wanita dan anak terdampak HIV. </p> <p>Beberapa hal yang dapat disimpulkan dari pelaksanaan pelatihan Advokasi dan Berjejaring tanggal 2-4 Maret 2011 adalah : </p> <p>1. Dari sesi pengantar mengenai advokasi terlihat bahwa hampir semua peserta sudah memiliki pemahaman yang sama mengenai advokasi. Beberapa kata kunci mengenai apa itu advokasi (co. bertujuan untuk membuat keadaan menjadi lebih baik) sudah dapat disebutkan dan dijelaskan oleh peserta. Pertanyaan yang muncul pada sesi ini berkisar pada pemahaman mengenai jenis-jenis advokasi, terutama yang berdasarkan jalur legal dan non legal, juga apakah beberapa kasus nyata di lapangan dapat digolongkan sebagai kegiatan advokasi. Pembahasan mengenai advokasi kebijakan juga sedikit disinggung untuk menjawab pertanyaan yang menyinggung mengenai bagaimana kebijakan yang ada melindungi masyarakat umum agar tidak tertular HIV. </p> <p>2. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam diskusi juga memperlihatkan bahwa para peserta tidak terlalu memahami langkah-langkah hukum yang dapat dan harus dilakukan saat menemukan pelanggaran HAM di lapangan, terutama yang dilakukan oleh aparat pemerintahan kepada komunitas dampingan mereka. </p> <p>3. Dari sesi diskusi kasus terlihat peserta cukup familiar dengan penyusunan langkah-langkah advokasi, namun yang secara seragam muncul adalah tidak adanya langkah untuk berjejaring dengan lembaga terkait lainnya, lembaga-lembaga yang tidak bekerja di isu penanggulangan HIV. Fasilitator kemudian menekankan pentingnya lembaga untuk berjejaring dengan lembaga lain yang memiliki kepentingan yang sama, tidak hanya terbatas pada lembaga yang bekerja di isu penanggulangan HIV saja. </p> <p>4. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul pada sesi materi mengenai dokumentasi dan menulis efektif adalah seputar tips-tips praktis yang dapat dipraktekkan. Peserta mencoba mencari tahu langkah-langkah yang bisa dilakukan dengan kondisi yang terbatas saat ini (kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam mendokumentasikan kejadian untuk dapat digunakan sebagai data, kondisi lapangan yang menuntut fleksibilitas petugas/staf </p> <p>dalam melakukan pencatatan, dsb). Fasilitator kemudian memberikan panduan mengenai detail informasi yang penting untuk dicatat agar hasil pencatatan dapat digunakan sebagai data. </p> <p>5. Waktu yang tersedia dirasa masih sangat kurang, terutama waktu untuk latihan dalam merumuskan langkah-langkah strategis bagi para peserta. Identifikasi terhadap masalah-masalah riil yang mungkin dihadapi dalam merumuskan langkah strategis tidak terlalu tergali dalam latihan. </p> <p>6. Pada sesi terakhir yang meminta peserta untuk menyusun rencana tindak lanjut (peserta dibagi berdasarkan komunitas yang ditangani : IDU, ODHA dewasa, ODHA anak, pekerja seks), terlihat juga bahwa sebagian peserta tidak memasukkan KPAN sebagai salah satu instansi yang perlu diajak bekerjasama dalam rencana mereka. Dinas dan departemen kesehatan serta PKM adalah instansi yang biasanya dilibatkan dalam strategi yang disusun. Fasilitator kemudian mengingatkan bahwa KPAN dapat diminta untuk berperan lebih dalam kegiatan sosialisasi dan audiensi mengingat mereka memiliki otoritas untuk meminta pihak-pihak terkait agar lebih memperhatikan isu-isu tertentu (distribusi kondom,perda, dsb) </p> <p>C. Waktu dan Tempat </p> <p> Workshop diadakan selama 3 hari </p> <p> Hari/ Tanggal : 2-4 Maret 2011 </p> <p> Waktu : Pk. 10.00 15.00 WIB (hari ketiga s/d Pk. 12.00) </p> <p> Tempat : Kampus Unika Atma Jaya, Gd. C lt.8, Ruang C801-802 </p> <p>D. Peserta </p> <p> Pelatihan ini dihadiri oleh para staf LSM yang bekerja di isu penanggulangan HIV/AIDS di Jakarta dan sekitarnya. Dari 26 undangan yang disebarkan, peserta yang menghadiri pelatihan di hari pertama,...peserta di hari kedua, dan ...peserta di hari ketiga. Terlampir daftar peserta yang hadir dalam pelatihan tanggal 2-4 Maret 2011 </p>

Recommended

View more >