LAPORAN PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN DI Bulan Februari 2014.pdf · diikuti dengan keracunan makanan…

  • Published on
    07-Jun-2019

  • View
    217

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

<p>LAPORAN PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN DI INDONESIA </p> <p>FEBRUARI 2014 </p> <p>PUSAT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA </p> <p>KALBAR: </p> <p> Kebakaran Hutan </p> <p>SUMUT : </p> <p> Erupsi G. Api </p> <p> Kebakaran Pemukiman </p> <p>BALI : </p> <p> Keracunan Makanan </p> <p>BANTEN : </p> <p> Banjir </p> <p> Kecelakaan </p> <p>Transportasi </p> <p>DKI JAKARTA : </p> <p> Banjir </p> <p>JABAR : </p> <p> Banjir </p> <p> Tanah Longsor </p> <p> Keracunan Makanan </p> <p> Keracunan Gas </p> <p>JATENG: </p> <p> Banjir dan Tanah Longsor </p> <p> Banjir JATIM : </p> <p> Erupsi G.Api </p> <p> Ledakan </p> <p> Angin Puting Beliung </p> <p> Banjir Bandang </p> <p> Tanah Longsor </p> <p>PAPUA: </p> <p> Konflik Sosial </p> <p> Banjir dan Tanah </p> <p>Longsor </p> <p>PAPUA BARAT: </p> <p> Banjir </p> <p>MALUKU : </p> <p> Konflik Sosial </p> <p>RIAU : </p> <p> Kebakaran Hutan </p> <p> Kebakaran Pemukiman </p> <p> BAB I </p> <p>GAMBARAN KEJADIAN UMUM KRISIS KESEHATAN Indonesia memiliki kondisi geografis, geologis, hidrologis dan demografis yang memungkinkan terjadinya bencana baik yang disebabkan oleh faktor alam, non alam maupun faktor manusia. Kejadian bencana seringkali menimbulkan terjadinya krisis kesehatanakibat jatuhnya korban jiwa manusia, korban luka, pengungsi, kerusakan fasilitas kesehatan, kehilangan harta benda, dampak psikologis dan kerusakan lingkungan yang dapat menghambat pembangunan nasional. Pada Bulan Februari 2014 krisis kesehatan yang terjadi sebagian besar disebabkan bencana yang terjadi pada bulan Januari 2014.Sebagaimana diketahui bahwa pada bulan Desember, Januari dan Februari adalah masa bertiupnya angin barat di sebagian besar Kepulauan Indonesia.Bersamaan dengan itu juga terjadi curah hujan yang tinggi.Konsekuensi dari keadaan tersebut adalah terjadinya gelombang tinggi di perairan Kepulauan Indonesia.Sementara itu di darat terjadi banjir, tanah longsor dan angin ribut. Selain bencana banjir kejadian krisis kesehatan di Bulan Februari 2014 juga disebabkan masiholeh erupsi 2 Gunung Api yaitu erupsi Gunung Api Sinabung di Kab. Karo, Provinsi Sumatera Utara yang masih berstatus AWAS (level IV) sejak tanggal 24 Novenber 2014 serta erupsi Gunung Api Kelud di Provinsi Jawa Timur yang terjadi pada tanggal 13 Februari 2014 yang berdampak di beberapa kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Barat. Rendahnya curah hujan di Provinsi Kalimantan barat dan Provinsi Riau memicu timbunya titik-titik api di 2 wilayah tersebut serta adanya pembakaran hutan/lahan illegal menyebabkan terjadinya kabut asap yang menyelimuti beberapa wilayah provinsi di Pulau Sumatera dan Provinsi Kalimantan Barat. Dalam rangka pelaksanaan tugas dan fungsi Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan menyediakan informasi penanggulangan krisis kesehatan maka dilakukan pemantauan selama 24 jam setiap hari. Dari hasil pemantauan selama bulan Februari 2014 di peroleh gambaran sebagai berikut: 1. Frekuensi Kejadian Krisis kesehatan </p> <p>Kejadian krisis kesehatan pada bulan Februari 2014 sebanyak 31kejadian jika dibandingkan </p> <p>dengan kejadian krisis kesehatan pada bulan Januari 2014 terjadi 54kejadian. Terjadi </p> <p>penurunan sebesar 23 kejadian (42,5%). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1 berikut </p> <p>ini. </p> <p>Tabel 1 Jenis Kejadian Krisis kesehatanpada Bulan Januari 2014 dan Februari 2014 di Indonesia </p> <p>Bulan Jenis Krisis Kesehatan </p> <p>Februari 2014 Banjir,Banjir Bandang, Tanah Longsor, Keracunan, Kecelakaan Transportasi, Banjir dan Tanah Longsor, Ledakan, Kebakaran Hutan, Kebakaran Pemukiman, KonflikSosial, Ledakan dan Erupsi Gunung Api </p> <p>Januari 2014 Angin Puting Beliung, Banjir, Banjir Bandang, Banjir dan Tanah Longsor, Erupsi Gunung Api, Gempa Bumi, Kecelakaan Tambang, Kecelakaan Transportasi, Keracunan, Konflik Sosial dan Tanah Longsor </p> <p> Frekuensi kejadian krisis kesehatanberdasarkan jenis bencana pada Bulan Februari2014, yang tertinggi adalahbanjir serta banjir dan tanah longsor masing-masing sebanyak 6 kali, kemudian diikuti dengan keracunan makanan sebanyak 4 kali, tanah longsor 3 kali kejadian, kebakaran hutan, kebakaran pemukiman, erupsi gunung api dan konflik sosial masing-masing sebanyak 2 kali kejadian serta ledakan, angin puting beliung banjir, kecelakaan transportasi dan banjir bandangmasing-masing sebanyak 1 kali kejadian. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik 1 berikut : </p> <p> Grafik 1 </p> <p>Frekuensi Kejadian Krisis kesehatanBerdasarkan Jenis bencana di Indonesia Bulan Februari 2014 </p> <p>Series1; Banjir; 6 </p> <p>Series1; Banjir dan </p> <p>Tanah Longsor ; 6 </p> <p>Series1; Keracunan Makanan; 4 Series1; </p> <p>Tanah Longsor; 3 Series1; </p> <p>Kebakaran Hutan; 2 </p> <p>Series1; Kebakaran </p> <p>Pemukiman; 2 </p> <p>Series1; Erupsi </p> <p>Gunung Api; 2 </p> <p>Series1; Konflik </p> <p>Sosial; 2 Series1; </p> <p>Ledakan; 1 </p> <p>Series1; Angin Puting </p> <p>Beliung; 1 </p> <p>Series1; Banjir </p> <p>Bandang; 1 </p> <p>Series1; Kecelakaan </p> <p>Transportasi; 1 </p> <p>Jenis kejadian krisis kesehatan pada bulan Januari dan Februari tahun 2014 paling banyak disebabkan oleh bencana banjir, banjir bandang dan tanah longsor.Hal ini sesuai dengan karakteristik cuaca di bulan Januari dan Februari yang memiliki curah hujan dengan intensitas tinggi dan berlangsung lama di beberapa daerah, sehingga menyebabkan terjadinya banjir, banjir bandang dan tanah longsor. Tidak meratanya curah hujan di wilayah Indonesia, di mana masih terdapat wilayah dengan intensitas hujan yang rendah seperti di Provinsi Kalimantan Barat dan Provinsi Riau menyebabkan banyak timbulnya titik api di area dan perkebunan, ditambah dengan pembakaran lahan yang dilakukan warga menyebabkan terjadinya kebakaran hutan yang luas di 2 provinsi tersebut. Kebakaran hutan yang luas ini menyebabkan terjadinya kabut asap yang menyelimuti udara di Provinsi Riau, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kalimantan bahkan sampai ke Singapura. Kabut asap ini menimbulkan krisis kesehatan diakibatkan buruknya kualitas udara sehingga menyebabkan banyaknya penyakit ISPA dan Konjungtivitis. 2. Kejadian Krisis kesehatan Menurut Provinsi </p> <p> Pada Bulan Februari 2014 jumlah provinsi yang mengalami kejadian krisis kesehatan adalah sebanyak 12 provinsi. Bila dibandingkan dengan jumlah provinsi yang terkena krisis kesehatan pada bulan Januari tahun 2014 sebanyak 18 provinsi, terdapat penurunan jumlah provinsi yang terkena krisis kesehatan sebesar 6 provinsi (33%).Untuk bulan Februari tahun 2014, provinsi yang terkena yang terkena krisis kesehatan yaitu ProvinsiSumatera Utara, Riau, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Kalimantan Barat, Bali, Maluku, Papua Barat dan Papua.Kejadian krisis kesehatan terbanyak pada bulan Februari 2014 terjadi di Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat masing-masing sebanyak 6 kejadian. Untuk lebih jelasnya, gambaran frekuensi kejadian krisis kesehatan menurut provinsi di Indonesia pada bulanFebruari 2014 dapat dilihat pada Tabel2 berikut: </p> <p>Grafik 2 Frekuensi KejadianKrisis KesehatanBerdasarkan Provinsi </p> <p>Bulan Februari 2014 </p> <p>Tabel 2 Frekuensi Kejadian dan Jenis Krisis kesehatanBerdasarkan Provinsi di Indonesia </p> <p>BulanFebruari 2014 </p> <p>NO JENIS KRISIS KESEHATAN </p> <p>PROVINSI </p> <p>Sum</p> <p>atera </p> <p>Utara</p> <p>Riau</p> <p>Ban</p> <p>ten</p> <p>DK</p> <p>I Jakarta</p> <p>Jawa B</p> <p>arat </p> <p>Jawa Te</p> <p>ngah</p> <p>Jawa Tim</p> <p>ur </p> <p>Kalim</p> <p>antan</p> <p> B</p> <p>arat </p> <p>Bali </p> <p>Malu</p> <p>ku </p> <p>Pap</p> <p>ua B</p> <p>arat </p> <p>Pap</p> <p>ua </p> <p>JUM</p> <p>LAH</p> <p>1 Angin Puting Beliung </p> <p>1 </p> <p>1 </p> <p>2 Banjir </p> <p>2 1 1 1 </p> <p>1 </p> <p>6 </p> <p>3 Banjir Bandang </p> <p>1 </p> <p>1 </p> <p>4 Banjir dan Tanah Longsor </p> <p> 5 </p> <p> 1 </p> <p>6 </p> <p>5 Erupsi Gunung Api </p> <p>1 </p> <p>1 </p> <p>2 </p> <p>6 Kecelakaan Transportasi </p> <p>1 </p> <p>1 </p> <p> 7 Kebakaran Hutan </p> <p>2 </p> <p>1 </p> <p>3 </p> <p>8 Keracunan </p> <p>3 </p> <p>1 </p> <p>4 </p> <p>9 Konflik Sosial </p> <p>1 </p> <p>1 2 </p> <p>Series1; Jawa Tengah; 6 </p> <p>Series1; Jawa Barat; 6 Series1; Jawa </p> <p>Timur; 5 </p> <p>Series1; Banten; 3 </p> <p>Series1; Sumatera Utara; 2 Series1; Riau; 2 Series1; Papua ; 2 </p> <p>Series1; Papua Barat; 1 Series1; Bali; 1 </p> <p>Series1; DKI Jakarta; 1 </p> <p>Series1; Kalimantan Barat </p> <p>; 1 Series1; Maluku; 1 </p> <p>10 Tanah Longsor </p> <p>2 </p> <p>1 </p> <p>3 </p> <p>11 Ledakan </p> <p>1 </p> <p>1 </p> <p>12 Kebakaran Pemukiman </p> <p>1 </p> <p>1 </p> <p>JUMLAH 2 2 3 1 6 6 5 1 1 1 1 2 </p> <p>31 </p> <p>3. Kejadian Krisis Kesehatan Menurut Regional </p> <p>Krisis kesehatan pada bulan Februari 2014terjadi di 6 regional dan 1 Sub Regional, sedangkan pada bulan Januari 2014 kejadian krisis kesehatan terjadi di 9 Regional dan 1 Sub Regional. Regional yang paling sering mengalami krisis kesehatanpada bulan Februari 2014 adalah Regional DKI Jakarta 11 kejadian, Regional Jawa Tengah 6 kejadian, Regional Jawa Timur 5 kejadian, Regional Sumatera Utara 4 kejadian, Sub. Regional Papua 3 kejadan, Regional Sulawesi Selatan 1 kejadian, Regional Bali 1 kejadian. Untuk lebih jelasnya, gambaran frekuensi kejadian krisis kesehatan menurut Regional di Indonesia pada bulan Februari 2014 dapat dilihat pada Grafik2 berikut: </p> <p>Grafik2 Frekuensi Kejadian dan Jenis Krisis kesehatanBerdasarkanRegional </p> <p>Bulan Februari 2014 </p> <p>Series1; DKI Jakarta; 11 </p> <p>Series1; Jawa Tengah; 6 </p> <p>Series1; Jawa Timur; 5 </p> <p>Series1; Sumatera Utara; </p> <p>4 </p> <p>Series1; Papua; 3 </p> <p>Series1; Sulawesi Selatan; 1 Series1; Bali; 1 </p> <p>Series1; Sumatera Barat; </p> <p>0 </p> <p>Series1; Sumatera Selatan; 0 </p> <p>Series1; Kalimantan Selatan; 0 Series1; Sulawesi </p> <p>Utara; 0 </p> <p>BAB II GAMBARAN KORBAN DAN PENGUNGSI AKIBAT KRISIS KESEHATAN </p> <p> Salah satu dampak akibat terjadinya krisis kesehatan adalah jatuhnya korban manusia baik meninggal, hilang dan luka-luka serta mengakibatkan pula adanya sejumlah penduduk yang mengungsi ke daerah yang relatif lebih aman. Jumlah korban akibat krisis kesehatan pada bulan Februari 2014 sebesar 336.446 orang , bertambah sebanyak 118.883 orang (35%)dari bulan Januari 2014 sebanyak 217.563 orang. Jumlah pengungsi akibat kejadian krisis kesehatan pada bulan Februari 2014 sebanyak 316.956 jiwa, menurun sebanyak 157.605 jiwa (33%) dibandingkan dengan jumlah pengungsi pada bulan Januari 2014. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 3 berikut ini. </p> <p>Tabel 3 Jumlah Korban dan Pengungsi Akibat Krisis kesehatan di Indonesia </p> <p>Bulan Januari dan Februari 2014 </p> <p>No Korban dan Pengungsi Januari 2014 Februari 2014 </p> <p>1 Korban 217.563 336.446 </p> <p> Meninggal 182 120 Luka berat/ Rawat inap 362 246 Luka ringan/Rawat jalan </p> <p>Hilang 216.977 </p> <p>42 336.059 </p> <p>2 </p> <p>2 Pengungsi 474.561 316.956 </p> <p> 1. Korban Meninggal </p> <p> Dari tabel 3di atas tampak bahwa angka korban meninggal pada bulanFebruari 2014 sebanyak 120orang. Jika dibandingkan dengan jumlah korban meninggal pada bulan Januari 2014 sebesar 182 orang, maka pada bulan Februari 2014 terdapat penurunan jumlah korban meninggal sebanyak 62 orang (34%). Pada bulan Februari 2014, korban meninggal terbanyak diakibatkan oleherupsi gunung api sebanyak 73 orang. Untuk lebih jelasnya, jumlah dan proporsi korban meninggal berdasarkan jenis krisis kesehatan dapat dilihat pada grafik 3 berikut. </p> <p>Grafik 3 Jumlah dan Proporsi Korban Meninggal Berdasarkan Jenis Krisis Kesehatan </p> <p>Bulan Februari 2014 </p> <p>Dari Grafik 4 terlihat bahwa korban meninggal pada bulan Februari tahun 2014 paling banyak terdapat di Provinsi Sumatera Utara sebanyak 57 orang (47%) yang disebabkan oleh erupsi Gunung Api Sinabung di Kabupaten Karo.Untuk lebih jelasnya, jumlah dan proporsi korban meninggal berdasarkan jenis provinsi dapat dilihat pada grafik 4 berikut. </p> <p>Grafik 4 Jumlah dan Proporsi Korban Meninggal Berdasarkan Provinsi </p> <p>Bulan Februari 2014 </p> <p>73 (61%) </p> <p>22 (18%) </p> <p>7 (6%) 6 (5%) 5 (4%) 2 (1%) 2 (2%) 1 (1%) 1 (1%) 1 (1%) 0 (0%) 0 (0%) </p> <p>57 (47%) </p> <p>19 (16%) </p> <p>14 (11%) </p> <p>8 (7%) 7 (6%) 6 (5%) 6 (5%) </p> <p>2 (2%) 1 (1%) 0 (0%) 0 (0%) </p> <p>Dari Grafik 5 terlihat bahwa korban meninggal pada bulan Februari tahun 2014 paling banyak terdapat di Regional Sumatera Utara sebanyak 64 orang (64,5%). Untuk lebih jelasnya, jumlah dan proporsi korban meninggal berdasarkan regional dapat dilihat pada grafik 5 berikut. </p> <p>Grafik 5 Jumlah dan Proporsi Korban Meninggal Berdasarkan Regional </p> <p>Bulan Februari 2014 </p> <p> 2. Korban LukaBerat/Rawat Inap </p> <p> Korban Luka Berat/Rawat Inap pada bulan Februari 2014 sebanyak 246 orang. Jika dibandingkan dengan jumlah korban luka berat/rawat inap bulan Januari 2014 sebanyak 362 orang terdapat penurunan sebanyak 116 orang (32%). Korban luka berat/rawat inap terbanyak disebabkan oleh kejadian krisis kesehatan akibat keracunan makanan sebanyak 103 orang (42%), diikuti oleh krisis kesehatan akibat erupsi gunung api sebanyak 87 orang (35%), konflik sosial 43 orang (18%), Banjir dan Tanah Longsor 11 orang (5%) dan ledakan serta tanah longsor masing-masing 1 orang (1%). Untuk lebih jelasnya, gambaran korban luka berat/rawat inap berdasarkan jenis krisis kesehatan dapat dilihat pada Grafik 6 berikut ini. </p> <p>64 (64,5%) </p> <p>19 (16%) </p> <p>14 (11%) 14 (12%) </p> <p>8 (7%) </p> <p>1 (1%) 0 (0%) 0 (0%) 0 (0%) 0 (0%) 0 (0%) </p> <p>Grafik 6 Jumlah dan Proporsi Korban Luka Berat/Rawat Inap Berdasarkan Jenis Krisis Kesehatan </p> <p>Bulan Februari2014 </p> <p> Korban luka berat/rawat inap terbanyak terdapat di Provinsi Jawa Timur sebanyak 76 orang (31%), diikuti oleh Provinsi Bali sebanyak 68 orang (28%), Provinsi Papua 52 orang (21%), Provinsi Jawa Barat 36 orang (14%), Provinsi Sumatera Utara 12 orang (5%) dan Provinsi Maluku 2 orang (1%). Untuk lebih jelasnya, gambaran korban luka berat/rawat inap berdasarkan provinsi dapat dilihat pada Grafik 7 berikut ini. </p> <p>Grafik 7 Jumlah dan Proporsi Korban Luka Berat/Rawat Inap Berdasarkan Provinsi </p> <p>Bulan Februari2014 </p> <p>103 (42%) </p> <p>87 (35%) </p> <p>43 (18%) </p> <p>11 (5%) </p> <p>1 (1%) 1 (1%) 0 (0%) 0 (0%) 0 (0%) 0 (0%) 0 (0%) 0 (0%) </p> <p>76 (31%) </p> <p>68 (28%) </p> <p>52 (21%) </p> <p>36 (14%) </p> <p>12 (5%) </p> <p>2 (1%) 0 (0%) 0 (0%) 0 (0%) 0 (0%) 0 (0%) </p> <p> Korban luka berat/rawat inap terbanyak terdapat di Regional Jawa Timur sebanyak 76 orang (31%), diikuti oleh Regional Bali sebanyak 68 orang (28%), Sub Regional Papua 52 orang (21%), Regional DKI Jakarta 36 orang (14%), Regional Sumatera Utara 12 orang (5%) dan Regional Sulawesi Selatan 2 orang (1%). Untuk lebih jelasnya, gambaran korban luka berat/rawat inap berdasarkan regional dapat dilihat pada Grafik 8 berikut ini. </p> <p>Grafik 8 Jumlah dan Proporsi Korban Luka Berat/Rawat Inap Berdasarkan Regional </p> <p>Bulan Februari2014 </p> <p> 3. Korban LukaRingan/Rawat Jalan </p> <p> Korban Luka Ringan/Rawat Jalan pada bulan Februari 2014 sebanyak 336.059 orang. Jika dibandingkan dengan bulan Januari 2014 sebanyak 216.997 orang, terjadi penurunan sebesar 119.082 orang (64,5%).Korban luka ringan/rawat jalan terbanyak disebabkan oleh kejadian krisis kesehatan yang akibat kebakaran hutan sebanyak 161.330 orang diikuti oleh krisis kesehatan akibat erupsi gunung api sebanyak 156.861, banjir dan tanah longsor 9.363 orang (3%), banjir 7988 orang (2%), tanah longsor 429 .Untuk lebih jelasnya, gambaran korban luka ringan/rawat...</p>