Laporan Pendengaran

  • View
    2.276

  • Download
    68

Embed Size (px)

Transcript

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGIMata kuliah : Anatomi fisiologi Manusia

Tes Ketajaman Pendengaran

OLEH : KELOMPOK IV

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENEGTAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI MEDAN MEDAN

I. JUDUL PERCOBAAN

: TES KETAJAMAN PENDENGARAN

II. TUJUAN PERCOBAAN : Mengetahui anatomi dari telinga. Mengetahui fungsi dari telinga sebagai alat pendengaran. Mengetahui metode untuk menguji ketajaman pendengaran. Mengetahui fungsi telinga sebagai alat keseimbangan. Mengetahui proses dari mendengar.

III. TINJAUAN TEORITIS : TELINGA (INDERA PENDENGARAN)Indra pendengar (auditory aparatus) merupakan salah satu alat panca indra yang terdiri dari tiga bagian yaitu telinga bagian luar, telinga bagian tengah dan telinga bagian dalam. Telinga bagian luar teridiri dari; pinna(daun telinga) dan meatus auditory eksterna. Telinga bagian tengah merupakan rongga timpani yang berisi tiga tulang pendengaran yaitu malleus, inkus dan stapes. Sementara telinga bagian dalam terdapat labirin oseus yang didalamnya terdapat cairan endolimf dan labirin membran yang diidalamnya terdapat cairan perilimf.

Kedua cairan tersebut berperan sebagai media penghantar agar terjadi proses mendengar dan untuk keseimbangan. Aktivitas mendengar terjadi karena adanya potensial aksi yang diterima oleh pusat pendengaran pada otak. Potensial aksi ini di awali pada sel rambut dan kemudian akan menjalar ke serabut saraf pada saraf kranial ke VIII. Aktivitas sensori sel rambut bergantung pada kekuatan getaran cairan koklea dan struktur membran basilaris. Berdasarkan sumber penyebabnya, gangguan pendengaran atau tuli dapat dibagi menjaid dua kategori yaitu tuli saraf dan tuli hantar(konduksi). Tuli saraf terjadi karena adanya kerusakan saraf yang terdapat pada koklea dan tidak dapat dipulihkan. Sementara itu tuli hantar terjadi karena adanya kerusakan pada gendang telinga ataupun tulang-tulang pendengaran dan dapat dipulihkan melalui proses-proses pembedahan ataupun dengan menggunakan alat bantu dengar. (Tim Dosen. 2010) Telinga adalah organ penginderaan dengan fungsi ganda dan kompleks (pendengaran dan keseimbanga Anatominya juga sangat rumit . Indera pendengaran berperan penting pada partisipasi seseorang dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Sangat penting untuk perkembangan normal dan pemeliharaan bicara, dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain melalui bicara tergantung pada kemampuan mendengar. Deteksi awal dan diagnosis akurat gangguan otologik sangat penting. Di antara mereka yang dapat membantu diagnosis dan atau menangani kelainan otologik adalah ahli otolaringologi, pediatrisian, internis, perawat, ahli audiologi, ahli patologi wicara dan pendidik. Perawat yang terlibat dalam spesialisasi otolaringologi, saat ini dapat raemperoleh sertifikat di bidang keperawatan otorinolaringologi leher dan kepala (CORLN= cerificate in otorhinolaringology-head and neck nursing). (Nursecerdas.2010) ANATOMI TELINGA Secara Umum Telinga Manusia menjadi tiga bagian yaitu: 1) Telinga bagian luar (Auris eksterna) Telinga luar, yang terdiri dari aurikula (atau pinna) dan kanalis auditorius eksternus, dipisahkan dari telinga tengan oleh struktur seperti cakram yang dinamakan membrana timpani (gendang telinga). Telinga terletak pada kedua sisi kepala kurang lebih setinggi mata. Aurikulus melekat ke sisi kepala oleh kulit dan tersusun terutama oleh kartilago, kecuali lemak dan jaringan bawah kulit pada lobus telinga. Aurikulus membantu pengumpulan gelombang suara dan perjalanannya sepanjang kanalis auditorius eksternus. Tepat di depan meatus auditorius eksternus adalah sendi temporal mandibular. Kaput mandibula dapat dirasakan dengan meletakkan ujung jari di meatus auditorius eksternus ketika membuka dan

menutup mulut. Kanalis auditorius eksternus panjangnya sekitar 2,5 sentimeter. Sepertiga lateral mempunyai kerangka kartilago dan fibrosa padat di mana kulit terlekat. Dua pertiga medial tersusun atas tulang yang dilapisi kulit tipis. Kanalis auditorius eksternus berakhir pada membrana timpani. Kulit dalam kanal mengandung kelenjar khusus, glandula seruminosa, yang mensekresi substansi seperti lilin yang disebut serumen. Mekanisme pembersihan diri telinga mendorong sel kulit tua dan serumen ke bagian luar tetinga. Serumen nampaknya mempunyai sifat antibakteri dan memberikan perlindungan bagi kulit. (Helmut Leohard.1998) 2) Telinga Bagian Tengah (Auris Media) Telinga tengah tersusun atas membran timpani (gendang telinga) di sebelah lateral dan kapsul otik di sebelah medial celah telinga tengah terletak di antara kedua Membrana timpani terletak pada akhiran kanalis aurius eksternus dan menandai batas lateral telinga, Membran ini sekitar 1 cm dan selaput tipis normalnya berwarna kelabu mutiara dan translulen.Telinga tengah merupakan rongga berisi udara merupakan rumah bagi osikuli (tulang telinga tengah) dihubungkan dengan tuba eustachii ke nasofaring berhubungan dengan beberapa sel berisi udara di bagian mastoid tulang temporal. Telinga tengah mengandung tulang terkecil (osikuli) yaitu malleus, inkus stapes. Osikuli dipertahankan pada tempatnya oleh sendian, otot, dan ligamen, yang membantu hantaran suara. Ada dua jendela kecil (jendela oval dan dinding medial telinga tengah, yang memisahkan telinga tengah dengan telinga dalam. Bagian dataran kaki menjejak pada jendela oval, di mana suara dihantar telinga tengah. Jendela bulat memberikan jalan ke getaran suara. Jendela bulat ditutupi oleh membrana sangat tipis, dan dataran kaki stapes ditahan oleh yang agak tipis, atau struktur berbentuk cincin. anulus jendela bulat maupun jendela oval mudah mengalami robekan. Bila ini terjadi, cairan dari dalam dapat mengalami kebocoran ke telinga tengah kondisi ini dinamakan fistula perilimfe. Tuba eustachii yang lebarnya sekitar 1mm panjangnya sekitar 35 mm, menghubngkan telingah ke nasofaring. Normalnya, tuba eustachii tertutup, namun dapat terbuka akibat kontraksi otot palatum ketika melakukan manuver Valsalva atau menguap atau menelan. Tuba berfungsi sebagai drainase untuk sekresi dan menyeimbangkan tekanan dalam telinga tengah dengan tekanan atmosfer. (H. syaifuddin. 1997) 3) Telinga Bagian dalam (Auris Interna) Telinga dalam tertanam jauh di dalam bagian tulang temporal. Organ untuk pendengaran (koklea) dan keseimbangan (kanalis semisirkularis), begitu juga kranial VII

(nervus fasialis) dan VIII (nervus koklea vestibularis) semuanya merupakan bagian dari komplek anatomi. Koklea dan kanalis semisirkularis bersama menyusun tulang labirint. Ketiga kanalis semisi posterior, superior dan lateral erletak membentuk sudut 90 derajat satu sama lain dan mengandung organ yang berhubungan dengan keseimbangan. Organ ahir reseptor ini distimulasi oleh perubahan kecepatan dan arah gerakan seseorang. Koklea berbentuk seperti rumah siput dengan panjang sekitar 3,5 cm dengan dua setengah lingkaran spiral dan mengandung organ akhir untuk pendengaran, dinamakan organ Corti. Di dalam lulang labirin, namun tidak sem-purna mengisinya,Labirin membranosa terendam dalam cairan yang dinamakan perilimfe, yang berhubungan langsung dengan cairan serebrospinal dalam otak melalui aquaduktus koklearis. Labirin membranosa tersusun atas utrikulus, akulus, dan kanalis semisirkularis, duktus koklearis, dan organan Corti. Labirin membranosa memegang cairan yang dinamakan endolimfe. Terdapat keseimbangan yang sangat tepat antara perilimfe dan endolimfe dalam telinga dalam; banyak kelainan telinga dalam terjadi bila keseimbangan ini terganggu. (Setiadi.2008)

IV. ALAT DAN BAHAN a. ALAT :No 1. 2. 3.

:Jumlah 1 buah 1 buah 1 buah

Nama Alat Garputala Penggaris Jam Tangan

b. BAHAN :No 1. Nama Bahan Probandus Jumlah 1 orang

V. PROSEDUR KERJA1. 2.

:

Tes ketajaman pendengaran menggunakan arloji/jam tangan Meminta probandus duduk diatas kursi dan menyumbat telinga kiri dengan Dengan posisi kepala tegak dan mata terpejam, pegang jam tangan pada sisi kapas/headset. telinga kiri. Kemudian menggerakkan secara perlahan jam tangan menjahui telinga sampai suara tidak terdengar lagi. 3. Mengukur dan mencatat jarak antara telinga dan jam tangan.

4.

Secara perlahan menggerakkan jam tangan mendekati telinga sampai terdengar

kembali suara. Megukur dan mencatat jarak antara telinga dan jam tangan. Mengulangi percobaan sampai tiga kali dan menghitung nilai rata-ratanya. 5. 6. Melakukan hak yang sama untuk telinga kanan (disumbat kapas atau headset). Membandingkan percobaan antara telinga kiri dan kanan.

Tes ketajaman pendengaran menggunakan garpu tala 1. a. b. Menurut Rinne Memukul ujung garpu tala dengan pangkal telapak tangan dan meletakkan Ketika suara tidak terdengar lagi (memberi isyarat), meletakkan ujung garpu

gagang garpu tala pada tonjolan mastoid probandus. tala dekat lubang telinga probandus. Kemudian menanyakan apakah getaran suara garpu tala terdengar kembali. Jika suara terdengar kembali maka probandus tidak mengalami gangguan pendengaran (+). c. Melakukan percobaan dengan cara berbeda yaitu dengan meletakkan ujung garpu tala di dekat lubang telinga probandus. Ketikas suara tidak terdengar lagi, kemudian meletakkan gagang garpu tala ke tonjolan mastoid. Jika suara tidak terdengar maka probandus mengalami gangguan pendengaran (-). d. Ulangi prosedur diatas dengan mengunakan telinga yang berbeda.

2. Menurut webber a. Memukul ujung garpu tala dengan pangkal telapak tangan dan meletakkan gagang garpu tala di tengah kening probandus. b. Penguji menanyakan apakah suara terdengar sama keras antara telinga kana dengan telinga kiri, tidak terdengar sama sekali ataupun salah satu telinga terdengar lebih keras dari telinga lainnya. c. Mencatat hasil percobaan.

VI. HASIL PERCOBAAN / REAKSITelinga Kanan Mendekati Menjahui 2,0 cm 3,0 cm 2,1 cm 1,7 cm 2,5 cm 3,5 cm

:Telinga Kiri Mendekati 3,0 cm 3,2 cm 2,7 cm

Data hasil percobaan menggunakan ar