LAPORAN PHT

  • Published on
    04-Oct-2015

  • View
    243

  • Download
    3

Embed Size (px)

DESCRIPTION

jhjbnb

Transcript

LAPORAN PRAKTIKUMEVALUASI PHT PADA BUDIDAYA BAWANG MERAH OLEH IBU TARMADI DI DESA KOTAKAN, RT 02 RW 06, KELURAHAN BAKALAN, KECAMATAN POLOKARTO, KABUPATEN SUKOHARJO

Oleh:

KELOMPOK 241. Nadia BrilliantiH 0812125Anggota2. Nia Fitriani

H 0812126Anggota

3. Noer A Hasni

H 0812129Anggota4. Novitasari DikaH 0812131Anggota

5. Nur Alitasari

H 0812132Anggota6. Nur Hanifah

H 0812134Anggota7. Nur Shabrina Giesta H 0812136Ketua8. Paramita Setya DH 0812143Anggota

9. Rafiah

H 0812146Anggota10. Ratih Dwi K

H 0812149Anggota11. Rina Sekarrini

H 0812153Anggota12. Riska AmbarwatiH 0812157Anggota13. Rizka OctavianiH 0812159AnggotaAGROTEKNOLOGIFAKULTAS PERTANIANUNIVERSITAS SEBELAS MARETSURAKARTA2014

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pengendalian hamaterpadu (PHT)adalah sebuah pendekatan dalam pengendalianhama dan penyakit tanaman dengan mempertimbangkan semua aspek manajemen budidaya untuk mempertahankan serangan hama dan penyakit dibawah ambang batas kerugian ekonomis. PHT dan Pertanian Berkelanjutan merupakan suatu kebijakan pemerintah yang disahkan dalam Undang-Undang. ProgramPHTmenggunakaninformasi yang ekstensif, yang dikumpulkan dalam sistempenanaman dan memerlukanpengelolaan yang cermat.Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu (PHT) atau Integrated Pest Management (IPM) merupakan komponen integral dari Sistem Pertanian Berkelanjutan. PHT bertujuan tidak hanya mengendalikan populasi hama tetapi juga meningkatkan produksi dan kualitas produksi serta meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan petani. Cara dan metode yang digunakan adalah dengan memadukan teknik-teknik pengendalian hama secara kompatibel serta tidak membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan hidup.

PHT memiliki tujuan mengendalikan populasi hama agar tetap berada dibawah ambang yang tidak merugikan secara ekonomi. Strategi PHT bukanlah eradikasi melainkan pembatasan. Pengendalian hama dengan PHT disebut pengendalian secara multilateral, yaitu menggunakan semua metode atau teknik yang dikenal dan penerapannya tidak menimbulkan kerusakan lingkungan yang merugikan bagi hewan, manusia, dan makhluk hidup laninya baik sekarang maupun pada masa yang akan datang.Konsep PHT tidak tergantung pada teknik pengendalian hama dan pengelolaan eksosistem tertentu tetapi PHT tergantung pada keberdayaan atau kemandirian petani dalam mengambil keputusan. Dalam mengembangkan sistem PHT didasarkan pada keadaan agroekosistem setempat. Sehingga pengembangan PHT pada suatu daerah boleh jadi berbeda dengan pengembangan di daerah lain. Hama adalah binatang yang dianggap dapat mengganggu atau merusak tanaman dengan memakan bagian tanaman yang disukainya. Misalnya, Serangga (insecta), cacing (nematode), binatang menyusui, dan lain-lain. Penyakit yang menyerang tanaman bukan disebabkan oleh binatang, melainkan oleh makhluk mikrokospis, misalnya bakteri, virus, cendawan (jamur), dan lain-lain.Pada pengendalian hama dan penyakit secra biologi, kimiawi, mekanis, dan varietas tahan dapat dilakukan secara terpadu, yaitu memadukan cara biologis, kimiawi, mekanis, dan varietas tahan seacar berimbang. Pengendalian secara terpadu ini dikenal dengan naman Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Pengendalian Hama Terpadu sangat baik dilakukan karena dapat memberikan dampak positif, baik pengendalian hama dan pathogen maupun terhadap lingkungan. Pengendalian hama dan penyakit secara kimiawi memeang lebih efektif dibandingkan dengan pengendalian secar biologis, mekanis, serta varietas tahan. Tetapi ternyata menimbulkan residu efek terhadap lingkungan, yakni pencemaran lingkungan. Pencemaran lingkungan akibat penggunaan bahan kimia tersebut dapat berdampak terhadap unsure-unsur biologis, yaitu musnahnya organism lain yang bukan sasaran, misalnya hewan-hewan predator, hewan-hewan yang dapat membantu penyerbukan. Konsep pengendalian hama terpadu lebih efektif dan efisien, serta memberikan dampak negatif yang sekecil mungkin terhadap lingkungan hidup. Keuntungan lain dari penerapan konsep pengendalian hama terpadu adalah menghemat biaya. Oleh karena itu dilakukan praktikum pengendalian hama terpadu di Polokarto Sukoharjo agar lebih dapat mengimplementasikan ilmu yang didapat di tatap muka dikelas.Tanaman bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan salah satu komoditas sayuran dataran rendah. Kegunaan utama bawang merah adalah sebagai bumbu masak. Meskipun bukan merupakan kebutuhan pokok, bawang merah cenderung selalu dibutuhkan sebagai pelengkap bumbu masak sehari-hari. Kegunaan lainnya adalah sebagai obat tradisional (sebagai kompres penurun panas, diabetes, penurun kadar gula dan kolesterol darah, mencegah penebalan dan pengerasan pembuluh darah dan maag) karena kandungan senyawa allin dan allisin yang bersifat bakterisida. Bawang Merah merupakan salah satu tanaman dan tumbuhan berjenis umbi lapis. Bawang merah banyak digunakan sebagai bumbu berbagai macam masakan di Asia Tenggara maupun di dunia.Pada zaman dahulu sampai sekarang, bawang merah merupakan hal yang wajib hadir sebagai bumbu penyedap masakan. Namun, disamping kegunaannya yang banyak sekali. Bawang merah juga mempunyai kekurangan yaitu, membuat manusia yang memakannya berlebihan mempunyai bau badan yang berlebihan pula. B. Tujuan Praktikum

Praktikum Pengelolaan Hama Terpadu di Polokarto Sukoharjo dilaksanakan dengan tujuan untuk:

1. Memberikan pengalaman lapang kepada mahasiswa dalam mengembangkan

kemampuan teknik pengumpulan informasi, khususnya wawancara dan observasi tentang kondisi lingkungan lahan, keberadaan OPT, cara budidaya tanaman,pertumbuhan dan perkembangan tanaman, serta kondisi sosial ekonomi petani

2. Mengevaluasi cara budidaya tanaman bawang merah dengan pengendalian OPT sesuai prinsip PHT. Selain itu juga ditujukan untuk menilai risiko OPT sebagai dasar budidaya pada musim tanam berikutnya

3. Melatih mahasiswa bekerja dalam kelompok

4. Melatih mahasiswa presentasiC. Tempat/Lokasi Praktikum

Praktikum Pengelolaan Hama Terpadu ini dilaksanakan di Desa Kotakan, RT 02 RW 06, Kelurahan Bakalan, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo. Dengan denah lahan pada gambar :

Gambar 1. Denah Lahan Praktikum

Gambar 1. Denah Lahan PraktikumII. TINJAUAN PUSTAKAA. Persiapan LahanPengolahan tanah ditingkat petani umumnya dilakukan dengan mengolah tanah secara intensif sampai gembur pada seluruh permukaan tanah setiap akan menanam dan biasanya dilakukan dua sampai tiga kali pembajakan baik dengan bajak mesin maupun ternak. Cara pengolahan tanah tersebut disebut pengolahan konvensional (conventional fillage). Cara pengolahan tanah secara konvensional seperti demikian dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan tanaman secara optimal, tetapi dampak positif tersebut hanya sementara, karena untuk jangka panjang akan berdampak negatif terhadap produktivitas lahan dan tanaman (Rosliani et al, 2010).Pemberian pupuk saat pengolahan tanah perlu diperhatikan.Hal ini untuk menjaga agar tanah tidak mengalami kekahatan hara, karena hara sangat diperlukan bagi pertumbuhan perkembangan tanaman yang baik agar hasil yang diperoleh dapat menjadi maksimum. Pemupukan yang diberikan sebelum bibit ditanam diharapkan dapat merangsang pertumbuhan awal bibit yang nantinya akan ditanam (Pudjogunarto,2011). Pengolahan tanah pada dasarnya dimaksudkan untuk menciptakan lapisan olah yang gembur dan cocok untuk budidaya bawang merah.Pengolahn tanah umumnya dilakukan untuk menggemburkan tanah, memperbaiki drainase dan aerasi tanah, meratakan permukaan tanah, dan mengendalikan gulma. Pada lahan kering, tanah dibajak atau dicangkul sedalam 20 cm, kemudian dibuat bedengan-bedengan dengan lebar 1,2 m, tinggi 25 cm, sedangkan panjangnya tergantung pada kondisi lahan. Pada lahan bekas padi sawah atau tebu, bedengan-bedengan dibuat terlebih dahulu dengan ukuran lebar 1,75 cm, kedalaman parit 50-60 cm, dengan lebar parit 40-50 cm dan panjanganya disesuaikan dengan kondisi lahan. Kondisi bedengan mengikuti arah timur barat.Tanah yang telah diolah dibiarkan sampai kering kemudian diolah lagi dua sampai tiga kali sampai gembur sebelum dilakukan perbaikan bedengan-bedengan dengan rapi.Waktu yang diperlukan mulai dari pembuatan parit, pencangkulan tanah (ungkap 1, ungkap 2, cocrok) sampai tanah menjadi gembur dan siap untuk ditanami sekitar 3 samapi 4 minggu.Lahan harus bersih dari sisa tanaman padi atau tebu dapat menjadi media pathogen penyakit seperti fussarium sp (Hidayat, 2004).B. Penanaman

Dalam bidang pertanian kegiatan penanaman merupakan salah satu kegiatan yang cukup penting.Penanaman adalah usaha penempatan biji atau benih di dalam tanah pada kedalaman tertentu atau menyebarkan biji diatas permukaan tanah atau menanamkan tanah didalam tanah.Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan perkecambahan serta pertumbuhan biji yang baik (Jurnalasia, 2014).Salah satu jenis komoditas hortikultura yang sangat kita butuhkan adalah Bawang merah yang memiliki nama latin Allium cepa. Tanaman ini bisa tumbuh di berbagai tempat, namun lebih menyukai daerah dataran rendah dengan ketinggian 0 400 di atas permukaan laut, serta akan tumbuh dengan sempurna pada ketinggian 0 30 meter di atas permukaan laut. Tanaman bawang merah sangat suka daerah yang memiliki iklim kering dengan sinar matahari yang cukup dan suhu udara agak panas, yakni antara 250-320 C. Jika ditanam pada suhu kurang dari 220 C, meski dapat tumbuh dengan baik namun sulit untuk dapat membentuk umbi (Rosliani, et. al. 2005).Bawang merah (Allium ascalonicumL.) termasuk ke dalam sukuLiliaceae.Tanaman ini berasal dari Asia Selatan, yaitu daerah sekitar India, Pakistan sampai Palestina.Bawang merah sangat banyak manfaatnya, baik digunakan sebagai sayuran rempah, juga dimanfaatkan sebagai obat tradisional karena mengandung asam aminoAlliinyang berfungsi sebagai antibiotic.Bawang merah merupakan sayuran unggulan nasional yang