literatur jawaban

  • Published on
    17-Jul-2015

  • View
    55

  • Download
    4

Embed Size (px)

Transcript

<p>Di akses pada tanggal 02 maret 2012Fly ash atau abu terbang adalah bahan tambahan adukan (mortar) beton semen untuk mendapatkan kualitas beton yang tinggi dan ekonomis. Penggunaan Fly Ash Sebagai Bahan Bangunan 1. Baik untuk campuran agregat beton (Ready Mix) 2. Bahan campuran pembuatan genteng beton, paving block, batako dan sebagainya 3. Untuk campuran mortar (adukan luluh), pasangan batu pondasi, bata merah atau batako 4. Untuk campuran mortar pasangan keramik dan benangan 5. Untuk campuran mortar plesteran, perataan lantai dan acian. Petunjuk Penggunaan Fly Ash Perkiraan komposisi penggunaan fly ash (berat semen 40kg/zak): 1. Untuk campuran mortar beton cor (lantai dak, sloof, kolom) Komposisi : Perbandingan adonan adalah 70% semen (28kg) : 30% fly ash (12kg). 2. Untuk pasangan keramik, benangan dan acian Komposisi : Perbandingan adalah 50% semen (20kg) : 50% fly ash (20kg). 3. Untuk pasangan batu pondasi Komposisi : Perbandingan adalah 40% semen (16kg) : 60% fly ash (24kg). 4. Untuk pasangan bata merah atau batako Komposisi : satu zak fly ash (30kg) dicampur dengan 10-12 keranjang pasir ditambah dengan semen secukupnya yang disesuaikan dengan kondisi bangunan yang diinginkan. Hasil Dari Penggunaan Fly Ash 1. Mengurangi biaya material semen sehingga pembiayaan lebih hemat dan ekonomis 2. Mudah dalam pengerjaan, cepat kering dan mengeras 3. Permukaan beton lebih rata dan halus serta kekuatan (kualitas) beton meningkat 4. Tahan lama dan tidak mudah rusak oleh pengaruh cuaca 5. Tahan terhadap rembasan air (kedap air) 6. Melekat dengan baik pada pasangan batu pondasi, bata merah atau batako 7. Tidak timbul retak-retak halus pada permukaan beton dan plesteran. Penggunaan fly ash ini tidak bisa dikerjakan secara sembarangan. Sebab jika penambahan fly ash terlalu banyak maka mutu dari beton tersebut justru akan turun. Maka dari itu diperlukan takaran yang pas untuk penambahan fly ash kedalam racikan beton yang disesuaikan dengan kondisi bangunan yang diinginkan. Harga per zak kemasan 30kg Rp 10.000,Harga per zak kemasan 25kg Rp 9.000,http://malang.olx.co.id/fly-ash-bahan-tambahan-untuk-mortar-iid-87365826</p> <p>Di akses pada tanggal 02 maret 2012</p> <p>Di akses pada tanggal 02 maret 2012Pemanfaatan Fly Ash (Abu Terbang) Dari Pembakaran Batubara Pada PLTU Suralaya Sebagai Bahan Baku Pembuatan Refraktori CorPosted by Dafi Acosta on 15:54</p> <p>1. Judul</p> <p>Pemanfaatan Fly Ash (Abu Terbang) Dari Pembakaran Batubara Pada PLTU Suralaya Sebagai Bahan Baku Pembuatan Refraktori Cor 2. Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata pencemaran. Pencemaran sendiri terdiri dari beberapa macam, antara lain pencemaran tanah, pencemaran air, pencemaran udara, serta pencemaran suara. Pencemaran tersebut memberikan dampak yang sangat berbahaya terhadap kehidupan makhluk hidup. Bagi manusia bahaya dari pencemaran ini bukan hanya mengarah kepada bahaya kesehatan tetapi juga bahaya kematian. Salah satu pencemaran yang paling berbahaya dan memberikan dampak yang cukup besar adalah pencemaran udara. Pencemaran udara sendiri mengandung pengertian masuk atau dimasukkannya masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, atau komponen lain ke dalam udara dari kegiatan manusia atau proses alam sehingga menurunkan kualitas udara tersebut ke titik tertentu yang menyebabkan udara menjadi kurang/tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya. Pada dasarnya semua pencemaran itu berbahaya bagi kehidupan, tetapi pencemaran udara menjadi salah satu pencemaran yang dikategorikan sebagai pencemaran yang sangat berbahaya. Hal ini dikarenakan partikel polutan dari pencemaran ini berukuran sangat kecil sehingga tidak disadari oleh masyarakat. Sumber pencemar dalam pencemaran udara tidak hanya berasal dari aktivitas manusia (karena tangan manusia), tetapi juga oleh sumbersumber pencemar yang datangnya akibat peristiwa alamiah seperti gunung meletus, bencana alam, dan lain-lain. Berdasarkan wujud fisiknya, pencemar-pencemar yang terdapat di udara tidak hanya berupa gas atau uap, melainkan kontaminan itu dapat juga sebagai benda-benda padat sebagai partikel, yaitu berupa debu, asap, kabut, dan lain-lain, bahkan panas dan bau juga. Partikulat termasuk dalam salah satu polutan pencemaran udara. Secara umum partikel yang mencemari udara dapat merusak lingkungan, tanaman, hewan dan manusia. Partikelpartikel tersebut sangat merugikan kesehatan manusia. Pada umumnya udara yang telah tercemar oleh partikel dapat menimbulkan berbagai macam penyakit saluran pernapasan atau pneumoconiosis. Fly Ash merupakan salah satu jenis partikulat yang dapat diklasifikasikan dalam debu. Hal ini karena biasanya Fly Ash dipengaruhi oleh gaya gravitasi bumi. Abu terbang (fly ash) sebagai limbah PLTU berbahan bakar batu bara dikategorikan oleh Bapedal sebagai limbah</p> <p>Di akses pada tanggal 02 maret 2012</p> <p>Di akses pada tanggal 02 maret 2012berbahaya (B3). Sehubungan dengan meningkatnya jumlah pembangunan PLTU berbahan bakar batubara di Indonesia, maka jumlah limbah abu terbang juga akan meningkat yaitu jumlah limbah PLTU pada tahun 2000 sebanyak 1,66 juta ton, sedangkan pada tahun 2006 diperkirakan akan mencapai sekitar 2 juta ton. Khusus untuk limbah abu dari PLTU Suralaya, sejak tahun 2000 hingga tahun 2006, diperkirakan ada akumulasi jumlah abu sebanyak 219.000 ton/tahun. Jika limbah abu ini tidak dimanfaatkan akan menjadi masalah pencemaran lingkungan, yang mana dampak dari pencemaran akibat abu terbang (fly ash) sangat berbahaya baik bagi lingkungan maupun kesehatan. Oleh karena itu, penelitian tentang studi kasus pencemaran udara yang disebabkan oleh partikulat khususnya abu terbang (Fly Ash) perlu dilaksanakan untuk mengetahui sejauh mana dampak serta pemanfaatannya terhadap lingkungan. 3. Perumusan Masalah Dalam penelitian ini kami membahas tentang sumber, dampak, penanggulangan dan kendala yang disebabakan oleh partikulat di udara terhadap lingkungan. 4. Tujuan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui serta menginformasikan tentang sumber, dampak, penanggulangan dan kendala yang disebabakan oleh partikulat di udara terhadap lingkungan. 5. Manfaat Manfaat dari penelitian ini antara lain masyarakat menjadi tahu bahwa abu terbang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan refraktori cor sehingga di samping menjaga lingkungan dapat digunakan sebagai mata pencaharian. 6. Tinjauan Pustaka a. Karakteristik Fly Ash (Abu Terbang) Abu terbang merupakan limbah padat hasil dari proses pembakaran di dalam furnace pada PLTU yang kemudian terbawa keluar oleh sisa-sisa pembakaran serta di tangkap dengan mengunakan elektrostatic precipitator. Fly ash merupakan residu mineral dalam butir halus yang dihasilkan dari pembakaran batu bara yang dihaluskan pada suatu pusat pembangkit listrik. Fly ash terdiri dari bahan inorganik yang terdapat di dalam batu bara yang telah mengalami fusi selama pembakarannya. Bahan ini memadat selama berada di dalam gas-gas buangan dan dikumpulkan menggunakan presipitator elektrostatik. Karena partikel-partikel ini memadat selama tersuspensi di dalam gasgas buangan, partikel-partikel fly ashumumnya berbentuk bulat. Partikel-partikel fly ash yang terkumpul pada presipitator elektrostatik biasanya berukuran silt (0.074 0.005 mm). Bahan ini terutama terdiri dari silikon dioksida (SiO2), aluminium oksida (Al2O3) dan besi oksida (Fe2O3). Menurut laporan teknik PT PLN (Persero) (1997), di Indonesia produksi limbah abu terbang dan abu dasar dari PLTU diperkirakan akan mencapai 2 juta ton pada tahun</p> <p>Di akses pada tanggal 02 maret 2012</p> <p>Di akses pada tanggal 02 maret 20122006, dan meningkat menjadi hampir 3,3 juta ton pada tahun 2009. Khusus untuk PLTU Suralaya, sejak tahun 2000 hingga 2006 diperkirakan ada akumulasi jumlah abu sebanyak 219.000 ton per tahun. Produksi abu terbang batubara (fly ash) didunia pada tahun 2000 diperkirakan berjumlah 349 milyar ton.Produksi abu terbang dari pembangkit listrik di Indonesia ini terus meningkat, pada tahun 2000 yang jumlahnya mencapai 1,66 milyar ton dan diperkirakan mencapai 2 milyar ton pada tahun 2006. Jika limbah abu ini tidak ditangani akan menimbulkan masalah pencemaran lingkungan. Salah satu kemungkinan penanganannya adalah dengan memanfaatkan abu terbang ini untuk bahan baku pembuatan refraktori..Penyumbang terbesar produksi abu terbang batubara adalah sektor pembangkit listrik. Tabel 1. Jumlah dan perkiraan produksi abu terbang dan abu dasar oleh PLTU di Indonesia</p> <p>meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt; Tabel 2. Jumlah dan perkiraan produksi abu terbang dan abu dasar oleh PLTU Suralaya</p> <p>Faktor-faktor utama yang mempengaruhi dalam kandungan mineral fly ash (abu terbang) dari batu bara adalah: Komposisi kimia batu bara Proses pembakaran batu bara Bahan tambahan yang digunakan termasuk bahan tambahan minyak untuk stabilisasi nyala api dan bahan tambahan untuk pengendalian korosi. Senyawa-senyawa penyusun abu terbang sebenarnya sangat ditentukan oleh mineral-mineral pengotor bawaan yang terdapat pada batu bara itu sendiri yang disebut dengan inherent mineral matter. Mineral pengotor yang terdapat dalam batu bara dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu : 1. Syngenetic atau disebut dengan mineral matter : pada dasarnya mineral-mineral ini terendapkan di tempat tersebut bersamaan dengan saat prosespembentukan paet. 2. Epigenetica juga disebut dengan extraneous mineral matter: pada prinsipnya mineralmineral pengotor ini terakumulasi pada cekungan setelah proses pembentukan lapisan peat tersebut selesai. Dari sejumlah abu yang dihasilkan dalam proses pembakaran batubara, maka sebanyak 55% - 85 % berupa abu terbang (fly Ash) dan sisanya berupa abu dasar (Bottom Ash). Sedangkan dari PLTU Suralaya dari sejumlah abu yang dihasilkan hampir 90 % berupa abu terbang (Fly Ash). Kedua janis abu ini memiliki perbedaan karakteristik serta</p> <p>Di akses pada tanggal 02 maret 2012</p> <p>Di akses pada tanggal 02 maret 2012pemanfaatannya. Biasanya untuk fly ash (abu terbang) banyak dimanfaatkan dalam perrusahaan industri karena abu terbang ini mempunyai sifat pozolanik, sedangkan unutk abu dasar sangat sedikit pemanfaatannya dan biasanya digunakan sebagai material pengisi (Aziz1, 2006). a. Proses Pembentukan Fly Ash (Abu Terbang) Sistem pembakaran batubara umumnya terbagi 2 yakni sistem unggun terfluidakan (fluidized bed system) dan unggun tetap (fixed bed system atau grate system). Disamping itu terdapat system ke-3 yakni spouted bed system atau yang dikenal dengan unggun pancar. Fluidized bed system adalah sistem dimana udara ditiup dari bawah menggunakan blower sehingga benda padat di atasnya berkelakuan mirip fluida. Teknik fluidisasi dalam pembakaran batubara adalah teknik yang paling efisien dalam menghasilkan energi. Pasir atau corundum yang berlaku sebagai medium pemanas dipanaskan terlebih dahulu. Pemanasan biasanya dilakukan dengan minyak bakar. Setelah temperatur pasir mencapai temperature bakar batubara (300oC) maka diumpankanlah batubara. Sistem ini menghasilkan abu terbang dan abu yang turun di bawah alat. Abu-abu tersebut disebut dengan fly ash dan bottom ash. Teknologi fluidized bed biasanya digunakan di PLTU (Pembangkit Listruk Tenaga Uap). Komposisi fly ash dan bottom ash yang terbentuk dalam perbandingan berat adalah : (80-90%) berbanding (1020%).Fixed bed system atau Grate system adalah teknik pembakaran dimana batubara berada di atas conveyor yang berjalan atau grate. Sistem ini kurang efisien karena batubara yang terbakar kurang sempurna atau dengan perkataan lain masih ada karbon yang tersisa. Ash yang terbentuk terutama bottom ash masih memiliki kandungan kalori sekitar 3000 kkal/kg. Di China, bottom ash digunakan sebagai bahan bakar untuk kerajinan besi (pandai besi). Teknologi Fixed bed systembanyak digunakan pada industri tekstil sebagai pembangkit uap (steam generator). Komposisi fly ash dan bottom ash yang terbentuk dalam perbandingan berat adalah : (15-25%) berbanding (75-25%) (Koesnadi, 2008). b. Sifat-sifat Fly Ash (Abu Terbang) Abu terbang mempunyai sifat-sifat yang sangan menguntungkan di dalam menunjang pemanfaatannya yaitu : 1.Sifat Fisik Abu terbang merupakan material yang di hasilkan dari proses pembakaran batubara pada alat pembangkit listrik, sehingga semua sifat-sifatnya juga ditentukan oleh komposisi dan sifat-sifat mineral-mineral pengotor dalam batubara serta proses pembakarannya. Dalamproses pembakaran batubara ini titik leleh abu batu bara lebih tinggi dari temperatur pembakarannya. Dan kondisi ini menghasilkan abu yang memiliki tekstur butiran yang sangat halus. Abu terbang batubara terdiri dari butiran halus yang umumnya berbentuk bola padat atau berongga. Ukuran partikel abu terbang hasil</p> <p>Di akses pada tanggal 02 maret 2012</p> <p>Di akses pada tanggal 02 maret 2012pembakaran batubara bituminous lebih kecil dari 0,075mm. Kerapatan abu terbang berkisar antara 2100 sampai 3000 kg/m3 dan luas area spesifiknya (diukur berdasarkan metode permeabilitas udara Blaine) antara 170 sampai 1000 m2/kg. Adapun sifat-sifat fisiknya antara lain : a) Warna : abu-abu keputihan b) Ukuran butir : sangat halus yaitu sekitar 88 % 2. Sifat Kimia Komponen utama dari abu terbang batubara yag berasal dari pembangkit listrik adalah silikat (SiO2), alumina(Al2O3), dan besi oksida(Fe2O3), sisanya adalah karbon, kalsium, magnesium, dan belerang. Sifat kimia dari abu terbang batubara dipengaruhi oleh jenis batubara yan dibakar dan teknik penyimpanan serta penanganannya. Pembakaran batubara lignit dan sub/bituminous menghasilkan abu terbang dengan kalsium dan magnesium oksida lebih banyak daripada bituminus. Namun, memiliki kandungan silika, alumina, dan karbon yang lebih sedikit daripada bituminous. Abu terbang batubara terdiri dari butiran halus yang umumnya berbentuk bola padat atau berongga. Ukuran partikel abu terbang hasil pembakaran batubara bituminous lebih kecil dari 0,075 mm. Kerapatan abu terbang berkisar antara 2100-3000 kg/m3 dan luas area spesifiknya antara 170-1000 m2/kg. Tabel 3. Komposisi kimia abu terbang batubara Komponen Bituminous Subbituminous SiO2 Al2O3 Fe2O3 CaO MgO SO3 Na2O K2O LOI 20-60% 5-35% 10-40% 1-12% 0-5% 0-4% 0-4% 0-3% 0-15% 40-60% 20-30% 4-10% 5-30% 1-6% 0-2% 0-2% 0-4% 0-3% Lignite 15-45% 10-25% 4-15% 15-40% 3-10% 0-10% 0-6% 0-4% 0-5%</p> <p>c. Pemanfaatan Fly Ash (Abu Terbang) Berbagai penelitian mengenai pemanfaatan abu terbang batubara sedang dilakukan untuk meningkatkan nilai ekonomisnya serta mengurangi dampak buruknya terhadap lingkungan. Saat ini umumnya abu terbang batubara digunakan dalam pabrik semen sebagai salah satu bahan campuran pembuat beton selain itu, sebenarnya abu terbang batubara memiliki berbagai kegunaan yang amat beragam: 1. penyusun beton untuk jalan dan bendungan</p> <p>Di akses pada tanggal 02 maret 2012</p> <p>Di akses pada tanggal 02 maret 20122. penimbun lahan bekas pertambangan recovery magnetik, cenosphere dan karbon bahan baku keramik, gelas, batubata, dan refraktori bahan penggosok (polisher) filler aspal, plast...</p>