MAKALAH KHILAFAH

  • Published on
    01-Oct-2015

  • View
    447

  • Download
    85

Embed Size (px)

DESCRIPTION

makalah khilafah

Transcript

<ul><li><p>KHILAFAH DAN KESATUAN UMAT DALAM ISLAM </p><p>MAKALAH Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Seminar Pendidikan Agama </p><p>Oleh : </p><p>Kelompok 12 </p><p>Zenal Muh Ramdan 14510129 </p><p>Angga Permana Satria 14510204 Fery Leramasani 14510128 </p><p>B2-MTK 2014 </p><p>PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA </p><p>SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN </p><p>(STKIP) SILIWANGI BANDUNG </p><p>2014 </p></li><li><p>i </p><p>KATA PENGANTAR </p><p>Puji dan Syukur Penyusun Panjatkan ke Hadirat Allah SWT karena berkat </p><p>limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah </p><p>yang berjudul KHILAFAH DAN KESATUAN UMAT DALAM ISLAM tepat </p><p>pada waktunya </p><p>Dalam penyusunan makalah ini, penyusun banyak mendapat tantangan dan </p><p>hambatan akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa </p><p>teratasi. Oleh karena itu, penyusun mengucapkan terima kasih yang sebesar-</p><p>besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah </p><p>ini. </p><p>Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik </p><p>dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik konstruktif dari pembaca </p><p>sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya. </p><p>Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat khususnya bagi </p><p>penyusun dan umumnya bagi pembaca. </p><p>Cimahi, 28 Maret 2015 </p><p>Penyusun </p><p>Kelompok 12 </p></li><li><p>ii </p><p>DAFTAR ISI </p><p>KATA PENGANTAR ..................................................................................... i </p><p>DAFTAR ISI .................................................................................................... ii </p><p>BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1 </p><p>1.1 Latar belakang .................................................................................. 1 </p><p>1.3 Tujuan penulisan ............................................................................... 3 </p><p>1.4 Rumusan Masalah ............................................................................. 3 </p><p>BAB II PEMBAHASAN ................................................................................. 4 </p><p>2.1 Pengertian Khilafah .......................................................................... 4 </p><p>2.2 Tugas Khilafah.................................................................................. 6 </p><p>2.3 Dasar Kewajiban Menegakan Khilafah ............................................ 7 </p><p>2.4 Kriteria Memilih Khilafah ................................................................ 10 </p><p>2.4.1 Syarat iniqad ................................................................................. 12 </p><p>2.4.2 Syarat afdhaliyah ........................................................................... 13 </p><p>BAB III PENUTUP.......................................................................................... 14 </p><p>3.1 Kesimpulan ...................................................................................... 14 </p><p>DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 16 </p></li><li><p>1 </p><p>BAB I </p><p>PENDAHULUAN </p><p>1.1 Latar belakang </p><p>Untuk mengetahui definisi yang benar, maka harus diambil definisi menurut </p><p>syara. Kata khilafah banyak dinyatakan dalam hadis, misalnya: </p><p>Sesungguhnya (urusan) agama kalian berawal dengan kenabian dan </p><p>rahmat, lalu akan ada khilafah dan rahmat, kemudian akan ada kekuasaan </p><p>yang tiranik.(HR al-Bazzar). </p><p>Kata khilafah dalam hadis ini memiliki pengertian sistem pemerintahan, </p><p>pewaris pemerintahan kenabian. Ini dikuatkan oleh sabda Rasul saw.: </p><p>Dulu Bani Israel dipimpin dan diurus oleh para nabi. Jika para nabi itu </p><p>telah wafat, mereka digantikan oleh nabi yang baru. Akan tetapi, setelahku </p><p>tidak ada lagi seorang nabi, dan akan ada khalifah yang banyak. (HR al-</p><p>Bukhari dan Muslim). </p><p>Pernyataan Rasul, "Akan tetapi, setelahku tidak ada lagi seorang nabi," </p><p>mengisyaratkan bahwa tugas dan jabatan kenabian tidak akan ada yang </p><p>menggantikan beliau. Khalifah hanya menggantikan beliau dalam tugas dan </p><p>jabatan politik, yaitu memimpin dan mengurusi umat. </p><p>Dari kedua hadis di atas dapat kita pahami bahwa bentuk pemerintahan yang </p><p>diwariskan Nabi saw. adalah Khilafah. Orang yang mengepalai pemerintahan atau </p><p>yang memimpin dan mengurusi kaum Muslim itu disebut Khalifah. </p><p>Sistem pemerintahan Khilafah ini yang diwajibkan Rasul saw. sebagai </p><p>sistem pemerintahan bagi kaum Muslim. Sebab, dalam hadis riwayat al-Bazzar di </p></li><li><p>2 </p><p>atas, Khilafah dikaitkan dengan rahmat sebagaimana kenabian. Hal itu menjadi </p><p>indikasi yang tegas (qarnah jzimah). Di samping itu, Rasul saw. juga bersabda: </p><p>Siapa saja yang mati dalam keadaan tidak ada baiat (kepada Khalifah) di </p><p>atas pundaknya, maka matinya mati Jahiliah. (HR Muslim). </p><p>Hadis ini mengandung perintah untuk mewujudkan Khalifah yang dibaiat </p><p>oleh kaum Muslim. Sebab, hanya dengan adanya Khalifah, akan terdapat baiat di </p><p>atas pundak kaum Muslim. Adanya sifat jahiliah menunjukkan bahwa tuntutan </p><p>perintah itu sifatnya tegas. Dengan demikian, mewujudkan Khalifah yang </p><p>menduduki Khilafah hukumnya wajib. </p><p>Ijma Sahabat juga menegaskan kewajiban tersebut. Para sahabat (termasuk </p><p>keluarga Rasul: Ali, Ibn Abbas, Salman. dll) semuanya sepakat untuk menunda </p><p>pelaksanaan kewajiban memakamkan jenazah Rasul saw. Mereka lebih </p><p>menyibukkan diri untuk mengangkat pengganti Rasul dalam urusan kekuasaan </p><p>dan pemerintahan. Lalu Abu Bakar terpilih dan dibaiat oleh kaum Muslim. </p><p>Secara syari, pelaksanaan kewajiban hanya boleh ditunda jika berbenturan </p><p>dengan pelaksanaan kewajiban yang menurut syariat lebih utama. Ini artinya para </p><p>sahabat telah berijma bahwa mengangkat Khalifah adalah wajib dan lebih utama </p><p>daripada memakamkan jenazah Rasul saw. </p><p>Selanjutnya, mereka juga telah berijma untuk menyebut pengganti Rasul </p><p>itu, yakni Abu Bakar, sebagai khalifah. Begitu juga para pengganti beliau setelah </p><p>Abu Bakar ra. Dari semua itu dapat kita pahami bahwa Khilafah adalah bentuk </p><p>sistem pemerintahan yang ditetapkan syariat sekaligus bentuk Daulah Islamiyah. </p><p> Dengan demikian, Khilafah dapat kita definisikan sebagai kepemimpinan </p><p>umum atas seluruh kaum Muslim di dunia untuk menerapkan hukum-hukum </p><p>syariat dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Khilafah dalam </p><p>terminology politik Islam ialah sistem pemerintahan Islam yang meneruskan </p><p>sistem pemerintahan Rasul Saw. dengan segala aspeknya yang berdasarkan Al-</p><p>Quran dan Sunnah Rasul Saw. Sedangkan Khalifah ialah Pemimpin tertinggi </p><p>umat Islam sedunia, atau disebut juga dengan Imam Azhom yang sekaligus </p></li><li><p>3 </p><p>menjadi pemimpin Negara Islam sedunia atau lazim juga disebut dengan </p><p>Khalifatul Muslimin. </p><p>1.3 Tujuan penulisan </p><p>Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut : </p><p>1) Mengetahui pengertian khilafah ? </p><p>2) Mengetahui Tugas khilafah ? </p><p>3) Mengetahui dasar kewajiban menegakan khilafah ? </p><p>4) Mengetahui Kriteria memilih khilafah ? </p><p>1.4 Rumusan Masalah </p><p>Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalahnya adalah sebagai </p><p>berikut: </p><p>1) Apa yang dimaksud dengan khilafah ? </p><p>2) Apa saja tugas khilafah ? </p><p>3) Apa yang menjadi dasar kewajiban menegakan khilafah ? </p><p>4) Kriteria memilih khilafah ? </p></li><li><p>4 </p><p>BAB II </p><p>PEMBAHASAN </p><p>2.1 Pengertian Khilafah </p><p>Khilafah menurut makna bahasa merupakan mashdar dari madhi khalafa, </p><p>berarti : menggantikan atau menempati tempatnya (Munawwir, 1984:390). Makna </p><p>khilafah menurut Ibrahim Anis (1972) adalah orang yang datang setelah orang </p><p>lain lalu menggantikan. </p><p>Dalam pengertian syariah, Khilafah digunakan untuk menyebut orang yang </p><p>menggantikan Nabi SAW dalam kepemimpinan Negara Islam (ad-dawlah al-</p><p>islamiyah) (Al-Baghdadi, 1995:20). Inilah pengertiannya pada masa awal Islam. </p><p>Kemudian, dalam perkembangan selanjutnya, istilah Khilafah digunakan untuk </p><p>menyebut Negara Islam itu sendiri (Al-Khalidi, 1980:226). </p><p>Para ulama mempunyai sudut pandang yang berbeda-beda ketika </p><p>memandang kedudukan Khilafah (manshib Al-Khilafah). Sebagian ulama </p><p>memandang Khilafah sebagai penampakan politik (al-mazh-har as-siyasi), yakni </p><p>sebagai institusi yang menjalankan urusan politik atau yang berkaitan dengan </p><p>kekuasaan (as-sulthan) dan sistem pemerintahan (nizham al-hukm). Sementara </p><p>sebagian lainnya memandang Khilafah sebagai penampakan agama (almazh-har </p><p>ad-dini), yakni institusi yang menjalankan urusan agama. Maksudnya, </p><p>menjalankan urusan di luar bidang kekuasaan atau sistem pemerintahan, misalnya </p><p>pelaksanaan amalah (seperti perdagangan), al-ahwal asysyakhshiyyah (hukum </p><p>keluarga, seperti nikah), dan ibadah-ibadah mahdhah. Ada pula yang berusaha </p><p>menghimpun dua penampakan ini. Adanya perbedaan sudut pandang inilah yang </p><p>menyebabkan mengapa para ulama tidak menyepakati satu definisi untuk Khilafah </p><p>(Al-Khalidi, 1980:227). </p><p>Khilafah dalam terminologi politik Islam ialah sistem pemerintahan Islam </p><p>yang meneruskan sistem pemerintahan Rasul Saw. Dengan segala aspeknya yang </p><p>berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Rasul Saw. Sedangkan Khalifah ialah </p><p>Pemimpin tertinggi umat Islam sedunia, atau disebut juga dengan Imam Azhom </p></li><li><p>5 </p><p>yang sekaligus menjadi pemimpin Negara Islam sedunia atau lazim juga disebut </p><p>dengan Khalifatul Muslimin. </p><p>Khalifah dan khilafah itu hanya terwujud bila : </p><p>1. Adanya seorang Khalifah saja dalam satu masa yang diangkat oleh umat </p><p>Islam sedunia. Khalifah tersebut harus diangkat dengan sistem Syura bukan </p><p>dengan jalan kudeta, sistem demokrasi atau kerajaan (warisan). </p><p>2. Adanya wilayah yang menjadi tanah air (wathan) yang dikuasai penuh oleh </p><p>umat Islam. </p><p>3. Diterapkannya sistem Islam secara menyeluruh. Atau dengan kata lain, </p><p>semua undang-undang dan sistem nilai hanya bersumber dari Syariat Islam </p><p>yang bersumberkan dan berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Rasul Saw. </p><p>seperti undang-undang pidana, perdata, ekonomi, keuangan, hubungan </p><p>internasional dan seterusnya. </p><p>4. Adanya masyarakat Muslim yang mayoritasnya mendukung, berbaiah dan </p><p>tunduk pada Khalifah (pemimpin tertinggi) dan Khilafah (sistem </p><p>pemerintahan Islam). </p><p>5. Sistem Khilafah yang dibangun bukan berdasarkan kepentingan sekeping </p><p>bumi atau tanah air tertentu, sekelompok kecil umat Islam tertentu dan tidak </p><p>pula berdasarkan kepentingan pribadi Khalifah atau kelompoknya, </p><p>melainkan untuk kepentingan Islam dan umat Islam secara keseluruhan serta </p><p>tegaknya kalimat Allah (Islam) di atas bumi. Oleh sebab itu, Imam Al-</p><p>Mawardi menyebutkan dalam bukunya Al-Ahkam As-Sulthaniyyah </p><p>bahwa objek Imamah (kepemimpinan umat Islam) itu ialah untuk </p><p>meneruskan Khilafah Nubuwwah (kepemimpinan Nabi Saw.) dalam </p><p>menjaga agama (Islam) dan mengatur semua urusan duniawi umat Islam. </p></li><li><p>6 </p><p>2.2 Tugas Khilafah </p><p>Sesungguhnya tugas dan kewajiban khalifah itu sangat berat. Wilayah </p><p>kepemimpinannya bukan untuk sekelompok umat Islam tertentu, akan tetapi </p><p>mecakup seluruh umat Islam sedunia. Cakupan kepemimpinannya bukan hanya </p><p>pada urusan tertentu, seperti ibadah atau muamalah saja, akan tetapi mencakup </p><p>penegakan semua sistem agama atau syariah dan managemen urusan duniawi </p><p>umat. Tanggung jawabnya bukan hanya terhadap urusan dunia, akan tetpi </p><p>mencakup urusan akhirat. Tugasnya bukan sebatas menjaga keamanan dalam </p><p>negeri, akan tetapi juga mencakup hubungan luar negeri yang dapat melindungi </p><p>umat Islam minoritas yang tinggal di negeri-negeri kafir. Kewajibannya bukan </p><p>hanya sebatas memakmurkan dan membangun bumi negeri-negeri Islam, akan </p><p>tetapi juga harus mampu meberikan rahmat bagi negeri-negeri non Muslim </p><p>(rahmatan lil alamin). </p><p> Secara umum, tugas Khalifah itu ialah : </p><p>1. Tamkin Dinillah (menegakkan agama Allah) yang telah diridhai-Nya </p><p>dengan menjadikannya sistem hidup dan perundangan-undangan dalam </p><p>semua aspek kehidupan. </p><p>2. Menciptakan keamanan bagi umat Islam dalam menjalankan agama Islam </p><p>dari ancaman orang-orang kafir, baik yang berada dalam negeri Islam </p><p>maupun yang di luar negeri Islam. </p><p>3. Menegakkan sistem ibadah dan menjauhi sistem dan perbuatan syirik </p><p>(QS.Annur : 55). </p><p>4. Menerapkan undang-undang yang ada dalam Al-Quran, termasuk Sunnah </p><p>Rasul Saw. dengan Haq dan adil, kendati terhadap diri, keluarga dan orang-</p><p>orang terdekat sekalipun. (QS. Annisa : 135, Al-Maidah : 8 &amp; 48, Shad : 22 </p><p>&amp; 26) </p><p>5. Berjihad di jalan Allah </p></li><li><p>7 </p><p>2.3 Dasar Kewajiban Menegakan Khilafah </p><p>Sebagai struktur pemerintahan yang pelaksanannya diatur berdasar syariat </p><p>Islam, khilafah dibangun berdasarkan prinsip yang kokoh untuk menegakkan </p><p>ajaran agama Allah. Karena itu, khilafah ditegakkan atas dasar-dasar sebagai </p><p>berikut : </p><p>1. Tauhid, yaitu menegaskan ke-Maha Esa-an Allah SWT. </p><p>111. dan Katakanlah: "Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai </p><p>sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan </p><p>agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya. </p><p>2. Persamaan derajat antara sesama manusia, karena yang membedakan satu </p><p>dengan lainnya hanyalah ketaqwaannya kepada Allah : </p><p>13. Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang </p><p>perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling </p><p>kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang </p><p>yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. </p></li><li><p>8 </p><p>3. Persatuan Islam, yaitu prinsip untuk menggalang persaudaraan dan kesatuan </p><p>dalam Islam. </p><p>103. dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai </p><p>berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-</p><p>musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-</p><p>orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan </p><p>kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu </p><p>mendapat petunjuk. </p><p>4. Permusyawaratan atau kedaulatan rakyat. Firman Allah ; </p><p>38. dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, </p><p>sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan </p><p>sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. </p><p>5. Keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh umat. Firman Allah : </p></li><li><p>9 </p><p>90. Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada </p><p>kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia </p><p>memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. </p><p>Jika diperhatikan, Dalam masa Khulafur Rasyidin sistem Khilafah (pemerintahan) </p><p>berjalan berdasarkan atas: </p><p> Kejujuran dan keikhlasan serta tanggung jawab dalam menyampaikan </p><p>Amanah kepada Ahlinya (rakyat), dengan tidak membeda-bedakan bangsa </p><p>Agama dan warna kulit. </p><p> Mempunyai rasa keadilan Mutlak terhadap seluruh umat manusia </p><p>dalam segala sesuatunya </p><p> Tauhid(mengesakan Allah), sebagaimana diperintahkan dalam ayat AlQur </p><p>an agar menaati ketentuan-ketentuan Allah dan Rasul-Nya. </p><p> Kedaulatan rakyat dipahami dari perintah Allah mewajibkan </p><p>taat kepada ulil amri(wakil-wakil rakyat). Seperti firman Allah : </p><p>58. Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak </p><p>menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya...</p></li></ul>