Makalah PHT Kel. 22 (FIX)

  • Published on
    17-Nov-2015

  • View
    24

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

bhv hvjhjkjnh

Transcript

LAPORAN PRAKTIKUMEVALUASI PHT PADA BUDIDAYA BAWANG MERAH OLEH BAPAK KASIMIN DI KOTAKAN, RT 03 RW 06, KELURAHAN BAKALAN, KECAMATAN POLOKARTO, KABUPATEN SUKOHARJO

Oleh:Kelompok 22

1. Akbar Fauzi W.H 0812009Ketua2. Ade Septiana N.H 0812002Anggota3. Dana MarsheliaH 0812031Anggota4. Dimas PratamaH 0812042Anggota5. Dyah Ayu SawitriH 0812051Anggota6. Eni Apriyanti H 0812054Anggota7. Evans NoorH 0812058Anggota8. Fahrisa SuryaH 0812060Anggota9. Yuni HerawatiH 0812196Anggota10. Yunike Ega W.H 0812197Anggota11. Yuyun MaritaH 0812198Anggota12. Zakiah Rifqi H.H 0812199Anggota

AGROTEKNOLOGIFAKULTAS PERTANIANUNIVERSITAS SEBELAS MARETSURAKARTA2014I. PENDAHULUANA. Latar BelakangPengendalian hamaterpadu (PHT)merupakan sebuah upaya dalam memanajemen budidaya untuk mempertahankan serangan hama dan penyakit dibawah ambang batas kerugian ekonomis yang terbentuk pada sebuah pendekatan dalam pengendalianhama dan penyakit tanaman. PHT dan Pertanian Berkelanjutan merupakan suatu kebijakan pemerintah yang disahkan dalam Undang-Undang. ProgramPHTmenggunakaninformasi yang ekstensif, yang dikumpulkan dalam sistempenanaman dan memerlukanpengelolaan yang cermat.Untuk meningkatkan hasil pertanian yang lebih banyak, banyak cara yang dapat dilakukan diantaranyadengan cara ekstensifikasi pertanian dan intensifikasi pertanian. Tapi dalam hal hal berbudidaya tanaman pertanianbanyak kendala yang dihadapi oleh petani..Diantara kendala itu adalah hama dan penyakit.Hama dan penyakit tanaman menyerang dan merusak usaha budidaya tanaman sehingga mengakibatkan berkurangnya kualitas dan kuantitas hasil yang diperoleh. Pengendalian yang sering dilakukan petani untuk mengendalikan hama dan penyakit adalah pengendalian secara kimia/w yaitu dengan pestisida kimia. Petani lebih memilih ini dalam pengendalian OPT (OrganismePenganggu Tanaman)tanpa mempertimbangkan efesiensi dan bahaya akibat penggunaan pestisida. Padahal ada yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama dan penyakit.PHT memiliki tujuan mengendalikan populasi hama agar tetap berada dibawah ambang yang tidak merugikan secara ekonomi. Strategi PHT bukanlah eradikasi melainkan pembatasan. Pengendalian hama dengan PHT disebut pengendalian secara multilateral, yaitu menggunakan semua metode atau teknik yang dikenal dan penerapannya tidak menimbulkan kerusakan lingkungan yang merugikan bagi hewan, manusia, dan makhluk hidup lainnya baik sekarang maupun pada masa yang akan datang.Hama merupakan suatu organisme atau binatang yang dapat merugikan seorang petani secara ekonomis dengan merusak dan mengganggu tanaman yang dibudidayakan. Hama menjadi musuh bagi petani dalam melaksanakan budidayanya sehingga diperlukan adanya pengendalian secara terpadu. Misalnya, Serangga (insecta), cacing (nematode), binatang menyusui, dan lain-lain. Penyakit merupakan suatu organisme mikroskopis yang juga mengganggu tingkat kesehatan dari tanaman, penyakit ini menyerang tanaman bukan disebabkan oleh binatang akan tetapi makhluk yang sangat kecil yang dapat menimbulkan gejala-gejala kerusakan yang sulit untuk diidentifikasi misalnya bakteri, virus, cendawan (jamur), dan lain-lain.Pengendalian hama dengan penyemprotan pestisida bukanlah satu-satunya cara yang tepat tetapi harus dilihat secara komprehensif dengan memperhatikan nilai-nilai ekologis, ekonomi dan kesehatan lingkungan secara umum melalui program yang kini dikenal dengan Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) atau Integrated Pest Management (IPM). Misalnya dengan menggunakan musuh alami ,sanitasi, pengendalian secara mekanis dan lainnya. Penyemprotan pestisida harus dilakukan secara sangat berhati-hati dan sangat selektif bilamana tidak ada lagi cara lain untuk menekan populasi hama di lapang. PHT pada dasarnya adalah penerapan sisten bercocok tanam untuk menghasilkan tanaman yang sehat, kuat, berproduksi tinggi dan berkualitas tinggiB. TujuanAdapun tujuan dari pelaksanaan praktikum Pengelolaan Hama Terpadu ini diantaranya adalah sebagai berikut:1. Untuk mengevaluasi Pengelolaan Hama Terpadu terhadap petani2. Untuk menganalisis risiko OPT untuk musim tanam selanjutnyaC. Lokasi PraktikumLokasi praktikum pengelolaan hama terpadu yaitu di Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo.

II. TINJAUAN PUSTAKABawang merah (Allium cepa, grupAggregatum) merupakan komoditas holtikultura yang sudah sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia. Tanaman ini umumnya ditanam dua kali dalam satu tahun, meskipun ada yang bisa ditanam sepanjang tahun. Seorang ahli taksonomi, Hanelt (1990) dalam Rabinowitch dan Currah (2002) mengoreksi klasifikasi bawang merah sebagai berikut:For many years, the nameAllium ascalonicumwas mistakenly used in literature for shallots, as the name was first given to a distinct wildAlliumspecies from the Near East. However, as nearly as 1956, J. Helm related shallot to theA. cepataxon.Sementara itu, klasifikasi bawang merah berdasarkan taksonominya adalah sebagai berikut:Kingdom:PlantaeSubkingdom:TracheobiontaSuper Divisio:SpermatophytaDivisio:MagnoliophytaSubdivisio:AngiospermaeKelas:LiliopsidaSubkelas:LiliidaeOrdo:AmaryllidalesFamili:AlliaceaeGenus:AlliumSpesies:Allium cepagrupAggregatumBawang merah merupakan tanaman semusim yang berbentuk rumput, berbatang pendek dan berakar serabut. Daunnya panjang serta berongga seperti pipa. Pangkal daunnya dapat berubah fungsi seperti menjadi umbi lapis. Oleh karena itu, bawang merah disebut umbi lapis. Tanaman bawang merah mempunyai aroma yang spesifik yang marangsang keluarnya air mata karena kandungan minyak eteris alliin. Batangnya berbentuk cakram dan di cakram inilah tumbuh tunas dan akar serabut. Bunga bawang merah berbentuk bongkol pada ujung tangkai panjang yang berlubang di dalamnya. Bawang merah berbunga sempurna dengan ukuran buah yang kecil berbentuk kubah dengan tiga ruangan dan tidak berdaging. Tiap ruangan terdapat dua biji yang agak lunak dan tidak tahan terhadap sinar matahari.Kegunaan utama bawang merah adalah sebagai bumbu masak. Meskipun bukan merupakan kebutuhan pokok, bawang merah cenderung selalu dibutuhkan sebagai pelengkap bumbu masak sehari-hari. Kegunaan lainnya adalah sebagai obat tradisional (sebagai kompres penurun panas, diabetes, penurun kadar gula dan kolesterol darah, mencegah penebalan dan pengerasan pembuluh darah dan maag) karena kandungan senyawa allin dan allisin yang bersifat bakterisida (Rahayu,Estu. 2008).Adapun teknik budidaya bawang merah menurut Singgih Wobowo (2008) yaitu harus memperhatikan hal-hal berikut ini:1) Syarat Tumbuh Bawang MerahBawang merah dapat tumbuh pada tanah sawah atau tegalan, berstruktur remah, dan bertekstur sedang sampai liat. Jenis tanah Alluvial, Glei Humus atau Latosol, pH 5.6 - 6.5. Tanaman bawang merah memerlukan udara hangat untuk pertumbuhannya (25 s/d 32C), curah hujan 300 sampai 2500 mm pertahun, ketinggian 0-400 mdpl, dan kelembaban 50-70 %. Tanaman bawang merah dapat tumbuh di daerah beriklim kering. Tanaman bawang merah sangat peka terhadap curah hujan dan intensitas hujan yang tinggi, serta cuaca berkabut (Sutarya dan Grubben 1995, Nazarudin 1999).Pada budidaya bawang merah, faktor iklim merupakan faktor yang paling berpengaruh. Apabila iklimnya sesuai, maka hampir semua tipe tanah dapat digunakan dalam budidaya bawang merah. Unsur-unsur yang termasuk dalam faktor iklim, yaitu seperti ketinggian tempat, suhu, kelembaban, cahaya, curah hujan, dan angin. Tanaman bawang merah dapat tumbuh di dataran rendah hingga dataran tinggi 800 dpl. Pertumbuhan optimal dijumpai di daerah dengan ketinggian antara 10-250 m dpl (Anon, 1985dalamSumarni dan Sumiati, 1995). Tanaman bawang merah dapat menghasilkan umbi yang baik pada suhu udara antara 20o-30oC, dengan suhu rata-rata 24oC (Grubben, 1990dalamSumarni dan Sumiati, 1995).2) Pengolahan TanahPengolahan tanah dilakukan dengan tujuan untuk menciptakan lapisan tanah yang gembur, memperbaiki drainase dan aerasi tanah, meratakan permukaan tanah, dan mengendalikan gulma. Tanah dibajak atau dicangkul dengan kedalaman 20 cm, kemudian dibuat bedengan selebar 120 - 175 cm, tinggi 25 - 30 cm, serta panjang sesuai disesuaikan dengan kondisi lahan. Saluran drainase dibuat dengan lebar 40 - 50 cm dan kedalaman 50 - 60 cm. Apabila pH tanah kurang dari 5,6 diberi Dolomit dosis + 1,5 ton/ha disebarkan di atas bedengan dan diaduk rata dengan tanah lalu biarkan 2 minggu. Untuk mencegah serangan penyakit layu taburkan GLIO 100 gr (1 bungkus GLIO) dicampur 25-50 kg pupuk kandang matang, diamkan 1 minggu lalu taburkan merata di atas bedengan.3) Penyediaan BibitPada umumnya perbanyakan bawang merah dilakukan dengan menggunakan umbi sebagai bibit. Kualitas umbi bibit merupakan salah satu faktor yang menentukan tinggi rendahnya hasil produksi bawang merah. Umbi yang baik untuk bibit harus berasal dari tanaman yang cukup tua yaitu berumur 70 - 80 hari setelah tanam, dengan ukuran sedang (beratnya 5 - 10 gram, diameter 1,5 - 1,8 cm). Umbi bibit tersebut harus terlihat segar dan sehat, tidak keriput, dan warnanya cerah. Umbi bibit telah siap tanam apabila telah disimpan 2 - 4 bulan sejak dipanen dan tunasnya sudah sampai ke ujung umbi. Bibit yang bermutu adalah bibit yang seragam, murni dan sehat, berikut cirri-ciri bibit yang baik :a. Masa dormanse yang tepatb. Bila ditekan terasa keras/tidak gembosc. Bakal tunas tidak rusakd. Batang sejati tidak rusake. Tidak terserang penyakitf. Tidak membawa penyakitg. Berasal dari tanaman sehath. Pertumbuhan serempak.Lama penyimpanan bibit bawang merah adalah waktu yang diperlukan untuk menyimpan benih sampai bibit siap tanam atau masa dormanse,menurut Wibowo (1987), bibit bawang merah yang baik adalah pada penyimpanan 4 8 bulan dan jika sudah dicirikan : bila bibit dibelah sudah tumbuh tunah yang berwarna hijau yang panjangnya setengah panjang umbi.4) Penanaman dan Pemberian Pupuk DasarSetelah tanah selesai diolah selanjutnya dilakukan kegiatan pemupukan. Pupuk dasar yang digunakan adalah pupuk organik yang sudah matang seperti pupuk kandang sapi dengan dosis 10-20