Makalah SP4 Agribisnis a

  • Published on
    08-Jul-2015

  • View
    364

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Agribisnis-Agrowisata

Transcript

MODEL PENGEMBANGAN AGRIBISNIS DAN AGROWISATA

Oleh Made AntaraPengajar pada Jurusan Sosek/PS Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Udayana

Makalah Disajikan pada Semiloka AA dengan Topik Prosedur Pengembangan Agribisnis dan Agrowisata pada Sistem Subak di Bali, Kasus Subak Dlodtunduh-Ubud Bali

DENPASAR JULI 2005

0

PENDAHULUAN Agribisnis mulai diwacanakan menjelang Pelita IV (1980-an). Masalahnya ketika negara kesulitan dlm neraca pembayaran. Berbagai kebijakan pemb diambil oleh pem Orba, antara lain: (1) Masyarakat diminta mengencangkan ikat pinggang; (2) Kebijakan 1 Juni 1983 dalam bidang Perbankan; (3) Reformasi pajak; (4) Memobilisasi dana masyarakat melalui sektor anggaran; (5) Mencari alternatif komoditi ekspor lain, yang tidak lain adalah Agribisnis. Bahkan dalam Daftar Skala PPrioritas BKPM ke AS, agribisnis memperoleh priotitas utama. Krisis moneter yang diikuti oleh krisis ekonomi yang menimpa Indonesia sejak Juli 1997, telah menyebabkan perekonomian Indonesia porak-poranda. Depresiasi nilai rupiah atau apresiasi dollar dari Rp 2400/$ tahun 1996 menjadi Rp 15.000/$ tahun 1998 telah menyebabkan inflasi sampai mencapai 75 persen tahun 1998, pendapatan riil masyarakat menurun drastis, paberik-paberik yang berbahan baku impor banyak yang tutup, pengangguran meningkat luar biasa dan jumlah rakyat miskin bertambah banyak. Namun di dibalik krisis yang menimpa perekonomian Indonesia, ada satu sektor yang masih tetap tegar, bahkan berjaya karena menangguh berkah dari situasi krisis yakni sektor agribisnis dengan jantung penggeraknya adalah sektor pertanian dalam arti luas. Depresiasi nilai rupiah menyebabkan produk-produk agribisnis Indonesia sangat kompetitif di pasar Internasional dan harga-harga di dalam negeripun ikut merayap naik sampai mencapai 5 kali lipat dari harga sebelum krisis. Petani dan pelaku-pelaku agribisnis lainnya meraih keuntunagan luar biasa. Bahkan ada celetukan yang bernada guyon dari mereka, mudah-mudahan krisis ekonomi tidak cepat berlalu.

PEMBANGUNAN AGRIBISNIS Definisi Agribisnis Ilmu agribisnis pertama kali dicetuskan di Harvard Business School, Amerika Serikat tahun 1957 oleh Davis dan Golberg. Kemudian dikembangkan oleh Downey dan Erickson tahun 1987 dan di Indonesia sejak tahun 1990-an disebar-luaskan melalui berbagai seminar dan media ilmiah oleh Profesor Bungaran Saragih. Semua pencetus dan pengembang ilmu agribisnis berlatar belakang ahli ilmu ekonomi pertanian ditambah dengan pendalaman ilmu-ilmu 1

manajemen, karena dalam penerapannya di tingkat on-farm dan off-farm yang berwawasan bisnis, agar tercapai efisiensi alokasi sumberdaya atau profit maksimum, peranan ilmu ekonomi dan manajemen sangat sentral sebagai alat analisis untuk menghasilkan solusi bagi permasalahan agribisnis. Sangat mustahil seorang yang bukan berlatar belakang ekonomi pertanian memahami dengan baik ilmu agribisnis, karena di dalamnya terkandung prinsip-prinsip ilmu ekonomi, sepertil ilmu ekonomi mikro, ekonomi makro, ekonomi produksi, ilmu pemasaran, metode kuantitatif dan ilmu-ilmu menajamen. Para pencetus dan pengembang ilmu agribisnis (Davis dan Golberg, 1957; Downey dan Erickson, 1987; Saragih, 1998) telah bersepakat mendefinisikan Agribisnis (Agri=Agriculture artinya pertanian dan Business artinya usaha atau kegiatan yang berorientasi profit), yaitu kegiatan yang berhubungan dengan penanganan komoditi pertanian dalam arti luas, yang meliputi salah satu atau keseluruhan dari mata rantai produksi, pengolahan masukan dan produksi (agroindustri), penunjang pemasaran kegiatan. masukan-keluaran Sedangkan yang keluaran dan

pertanian dimaksud

kelembagaan

dengan

berhubungan adalah kegiatan usaha yang menunjang kegiatan pertanian dan kegiatan usaha yang ditunjang oleh kegiatan pertanian.

Agribisnis sebagai sebuah Konsep Sistem Apabila mata rantai kegiatan agribisnis dipandang sebagai suatu konsep sistem, maka mata rantai kegiatan tersebut dapat dibagi menjadi empat subsistem yaitu: (1) subsistem usahatani (on-farm), (2) subsistem agroindustri hulu dan hilir (off-farm), (3) subsistem pemasaran (off-farm), dan (4) subsistem lembaga penunjang (off-farm). Keempat subsistem ini mempunyai kaitan yang erat, sehingga gangguan atau kelemahan pada salah satu subsistem atau kegiatan akan berpengaruh terhadap subsistem atau kelancaran kegiatan dalam sistem agribisnis (lihat gambar 1). Jadi ilmu agribisnis adalah ilmu-ilmu yang berkaitan dengan keempat subsistem agribisnis tersebut , yang tidak lain adalah ilmu ekonomi pertanian dan manajemen, sedangkan ilmu-ilmu lainya adalah penunjang dan pelengkap. Agribisnis dalam pengertian seperti tersebut menunjukkan adanya keterkaitan vertikal antar subsistem dan keterkaitan horizontal dengan subsistem 2

atau sektor lain di luar sektor pertanian, seperti sektor jasa-jasa (finansial dan perbankan, sektor koperasi, sektor transportasi, sektor perdagangan, sektor pendidikan dan lain-lain. Keterkaitan luas ini sudah disadari sejak dahulu oleh ekonom pasca-revolusi industri, sehingga mereka menekankan arti strategis

penempatan pertanian (dan pedesaan) sebagai bisnis inti (core business) pada tahap pembangunan sebelum lepas landas terutama dalam kaitannya dengan proses industrialisasi. Sistem agribisnis merupakan totalitas atau kesatuan kinerja agribisnis yang terdiri dari subsistem agribisnis hulu yang berupa kegiatan ekonomi input produksi, informasi, dan teknologi; subsistem usahatani, yaitu kegiatan produksi pertanian primer tanaman dan hewan; subsistem agribisnis pengolahan, subsistem pemasaran; dan subsistem penunjang, yaitu dukungan sarana dan prasarana serta lingkungan yanng kondusif bagi pengembangan agribisnis. Dengan demikian pembangunan sistem agribisnis mencakup lima sub-sistem, yakni:

Pertama:

Sub-sistem agribisnis hulu (up-stream agribusiness) yakni industri-industri yang menghasilkan barang-barang modal bagi pertanian (arti luas) yakni industri perbenihan/pembibitan tumbuhan dan hewan, industri agrokimia (pupuk, pestisida, obat/vaksin ternak) dan industri agro-otomotif (mesin dan peralatan pertanian) serta industri pendukungnya. Sub-sistem usahatani (on-farm agribusiness) yakni kegiatan yang menggunakan barang-barang modal dan sumberdaya alam untuk menghasilkan komoditas pertanian primer. Termasuk dalam hal ini adalah usahatani tanaman pangan dan hortikultura, usahatani tanaman obat-obatan, usahatani perkebunan, dan usahatani peternakan, usaha perikanan dan usaha kehutanan.

Kedua:

3

Ketiga:

Sub-sistem pengolahan (down-stream agribusiness) yakni industri yang mengolah komoditas pertanian primer (agroindustri) menjadi produk olahan baik produk antara (intermediate product) maupun produk akhir (finish product). Termasuk di dalamnya industri makanan, industri minuman, industri barang-barang serat alam (barang-barang karet, plywood, pulp, kertas, bahan-bahan bangunan terbuat kayu, rayon, benang dari kapas/sutera, barang-barang kulit, tali dan karung goni), industri biofarmaka, dan industri agro wisata dan estetika. Sub-sistem pemasaran yakni kegiatan-kegiatan untuk memperlancar pemasaran komoditas pertanian baik segar maupun olahan di dalam dan di luar negeri. Termasuk di dalamnya adalah kegiatan distribusi untuk memperlancar arus komoditi dari sentra produksi ke sentra konsumsi, promosi, informasi pasar, serta intelijen pasar (market intelligence). Subsistem lembaga penunjang atau pelancar yaitu subsistem yang menunjang atau memperlancar subsistem agribisnis lainnya agar dapat berjalan dengan lancar atau pelaku-pelaku agribisnis dapat beraktivitas dengan lancar. Subsistem ini terdiri dari: (1) lembaga penunjang berwujud prasarana atau infrastruktur, antara lain: gedung, jalan, jembatan, alat transportasi, dsb., dan (2) lembaga penunjang berwujud organisasi antara lain: Perbankan, Koperasi, Lembaga Penelitian, Lembaga Penyuluhan, Pasar, sistem informasi dan dukungan kebijakan pemerintah (mikro ekonomi, tata ruang, makro ekonomi), dll.

Keempat:

Kelima:

Secara singkat lingkup pembangunan sistem agribisnis tersebut dapat digambarkan seperti Gambar 1.

4

PEMASARAN/ PERDAGANGAN- Perdagangan Domestik

- Perdagangan Internasional

AGROINDUSTRI HULU (Upstream) - Benih - Pupuk - Pakan - Pestisida - Alat dan Mesin (Alsintan) - Obat-Obatan - Teknologi

PRODUKSI (Keluaran) - Pangan - Usahatani Padi - Hortikultura - Kebun -Ternak

AGROINDUSTRI HILIR

(Down Stream) - Pascapanen - Pengolahan lanjutan

LEMBAGA PENUNJANGPRASARANA- Jalan

ORGANISASI - Perkreditan

- Jembatan - Penyuuhan - Pelabuhan - Penelitian - Terminal - Peraturan Gambar 1. Sistem Pemerintah Agribisnis - Alat Transportasi - Koperasi - SUBAK - Dll

Gambar 1. Lingkup Pembangunan Agribisnis = keterkaitan dua arah (saling menunjang/saling membutuhkan/salingterkait)

5

Dengan demikian bidang agribisnis merupakan kegiatan lebih dari sekedar pertanian, karena di dalamnya mencakup kegiatan-kegiatan lain yang mewakili sektor di luar pertanian. Oleh karenanya penting disadari bahwa setiap usaha untuk melakukan analisis sektoral bagi subsistem baru akan memiliki makna dan memberikan peranan yang bermanfaat apabila dikaitkan satu sama lain dan berorientasi pada konsep sistem. Memahami timbulnya kaitan antara tiap subsistem, siapa pelaku dalam tiap subsistem, dan bagaimana teknologi yang digunakan merupakam hal yang sangat penting untuk mengetahui masalahmasalah yang dihadapi agribisnis dan mencari alternatif pemecahannya. Kaitan antar Subsistem dalam Sistem Agribisnis Tidak jarang dilaporkan peristiwa terputusnya kaitan antara satu subsistem dengan subsistem lainnya. Misalnya, keluhan pengrajin tempe dan tahu di suatu wilayah karena sulitnya memperoleh bahan baku kedelai. Sebaliknya di suatu wilayah di laporkan adanya kelebihan produksi kedelai yang yang tid