Masalah putus sekolah dan pengangguran

  • Published on
    21-Jun-2015

  • View
    5.321

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

<ul><li> 1. MASALAH PUTUS SEKOLAH DAN PENGANGGURAN - Tinjauan Sosiologi Pendidikan - Oleh: St Wardah Hanafie Das &amp; Abdul Halik I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masyarakat global telah dilanda syndrome kronis dan akut dalam personal manusia dalam berbagai aspek, baik ideologi, moral, cultural, paradigm, dan sebagainya. Noam Chomsky menilai globalisasi yang tidak memprioritaskan hak-hak rakyat (masyarakat) sangat mungkin merosot terjerembab ke dalam bentuk tirani, yang dapat bersifat oligarkis dan oligopolistik. Globalisasi semacam itu didasarkan atas konsentrasi kekuasaan gabungan Negara dan swasta yang secara umum tidak bertanggungjawab pada publik.1[1] Penomena ini berdampak besar bagi order social di dalam membangun peradaban, karena ranah kapitalis dan neoliberalis yang jadi urat nadi dinamika sosial. Tuntutan kontemporer menegaskan eksistensi manusia didasari oleh daya saing yang tinggi. Tumbuhnya daya saing tinggi tentunya di backup oleh pendidikan. Senada dengan hal tersebut, Druker yang meramalkan bahwa masyarakat modern mendatang adalah masyarakat knowledge society, dan siapa yang akan menempati posisi penting adalah educated person.2[2] Manusia terdidiklah yang dapat memainkan peranan penting dalam dunia global kontemporer. Sebagai tuntutan atas menguatnya ledakan informasi dan pengetahuan masyarakat modern, lembaga pendidikan di masa global dalam penyelenggaraan fungsinya harus mampu mengajarkan bagaimana dapat memperoleh informasi dan mengolah informasi kepada peserta didik, baik mereka yang berasal dari keluarga yang berkecukupan maupun yang papa.3[3] Dengan demikian, pemerataan dan akses pendidikan perlu ditingkatkan sehingga fungsi dan peran pendidikan secara filosofis dapat berjalan dengan baik. </li></ul><p> 2. Dalam konteks epistemologi pendidikan Islam di Indonesia, masih lebih besar penekanan vertikalnya ketimbang horisontalnya, sehingga pembahasan materi cenderung melangit, ideal, bermetafisika penuh, dan fokus pada dogmatisme kebenaran yang terkadang membuat agama dan ilmu pengetahuan tidak terasa fungsinya karena tidak terlalu praksis emansipatoris.4[4] Epistemologi pendidikan Islam telah banyak terkondisikan dan mengadopsi epistemologi pendidikan Barat modern yang tentunya tidak sesuai dengan nilai- nilai dasar dan semangat Islam karena penuh dengan status quo dan penindasan. Olehnya itu, pendidikan Islam diharapkan dapat menjadi elan vital dalam memajukan harkat dan martabat masyarakat melalui kesadaran akan pendidikan. Kesadaran masyarakat terhadap pendidikan akan menjadi embrio bagi eksistensi kehidupan. Namun, kini masih banyak masyarakat justru tidak dapat mengenyam pendidikan dan ada yang sudah mengenyam pendidikan (atau putus sekolah) tapi tidak mendapat tempat yang layak di dalam masyarakat (menganggur). Dalam makalah ini akan dikaji tinjauan sosiologis pendidikan mengenai putus sekolah dan pengangguran. B. Rumusan Masalah Berdasarkan pembahasan prolog tersebut di atas, maka dalam makalah ini akan dikemukakan permasalahan yang menjadi kajian sentral, yaitu: 1. Apa yang menjadi penyebab putus sekolah dan pengangguran? 2. Bagaimana tinjauan sosiologi pendidikan terhadap putus sekolah dan pengangguran? II. PEMBAHASAN A. Penyebab Putus Sekolah dan Pengangguran 1. Penyebab Putus Sekolah Putus sekolah dan pengangguran menjadi masalah krusial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Putus sekolah dapat terjadi akibat dari berbagai persoalan dalam aspek politik, ekonomi, hukum, budaya, dan sebagainya. Putus sekolah masuk ke dalam seluruh ranah 3. masyarakat khususnya di Indonesia telah menjadi phenomena tersendiri, dan memiliki motif yang beragam. Menurut Sekjen Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, kasus putus sekolah yang paling menonjol tahun ini terjadi di tingkat SMP, yaitu 48 %. Adapun di tingkat SD tercatat 23 %. Sedangkan prosentase jumlah putus sekolah di tingkat SMA adalah 29 %. Kalau digabungkan kelompok usia pubertas, yaitu anak SMP dan SMA, jumlahnya mencapai 77 %. Dengan kata lain, jumlah anak usia remaja yang putus sekolah tahun ini tak kurang dari 8 juta orang.5[5] Angka statistik tersebut menunjukkan tingkat putus sekolah pada jenjang pendidikan menengah ke bawah masih sangat tinggi, sehingga pendidikan di Indonesia belum merata pada setiap jenjang. Angka anak yang putus sekolah umur 815 tahun merupakan proporsi anak putus sekolah pada tingkat pendidikan tertentu pada suatu waktu terhadap jumlah peserta didik pada tingkat pendidikan tertentu pada waktu tertentu pula. Peserta didik yang putus sekolah adalah peserta didik yang tidak melanjutkan lagi sekolahnya sebelum menamatkan tingkat pendidikan yang sedang ia duduki.6[6] Peserta didik yang putus sekolah boleh jadi berhenti atau tidak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Putus sekolah sering terjadi, baik di masyarakat perkotaan maupun di pedesaan, pada masyarakat terdidik maupun yang kurang terdidik. Hal ini mendeskripsikan putus sekolah dapat terjadi karena faktor yang bervarian. Secara makro, penyebab putus sekolah disebabkan karena faktor ekonomi, keluarga, teman sebaya, masalah pribadi.7[7] Penyebab terjadinya putus sekolah secara umum adalah karena terjadinya resesi ekonomi baik dalam skala makro (bangsa) maupun dalam skala mikro (keluarga), persepsi, asumsi, dan kondisi keluarga terhadap pendidikan, pergaulan teman sebaya khususnya pada dampak negatif, dan kondisi anak (baik fisik maupun psikis). Kemudian menurut Ny Y. Singgih D. Gunarsa, bahwa faktor penyebab putus sekolah adalah bersumber pada anak itu sendiri dan bersumber di luar anak, yaitu faktor keluarga dan 4. sekolah.8[8] Pandangan ini senada dengan pendapat John W. Santrock, namun Y. Singgih juga menekankan pada pihak sekolah, seperti sistem pendidikan, layanan pendidikan, biaya pendidikan, akses pendidikan, dan sebagainya. Sekolah dapat menjadi penyebab terjadinya putus sekolah bagi anak apabila kurang respek dengan sistem pembelajaran yang memenjarakan, biaya pendidikan tinggi, akses pendidikan terbatas atau tidak terjangkau. Apresiasi Wahono menilai orang tua khususnya di Indonesia rata-rata sadar akan pentingnya pendidikan sehingga faktor ekonomi yang menjadi alasan mendasar. Penyebab anak putus sekolah ada kaitan erat antara beban ekonomi masyarakat dan kegiatan pendidikan, yakni karena kesulitan finansial, ujung-ujungnya adalah demi membantu ekonomi orang tua, anak-anak terpaksa terbengkalai pendidikannya, dan bahkan mereka putus sekolah.9[9] Keluarga yang belum beruntung secara ekonomi menjadikan anak sebagai penopang dalam pemenuhan ekonomi keluarga, sehingga anak terpaksa membantu keluarganya mencari nafkah dan akhirnya putus sekolah. Tingginya angka putus sekolah membawa dampak yang sangat besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Anak yang putus sekolah membawa keresahan sosial, ekonomi, moral, dan masa depan. Menurut H. Sahilun A. Nasir menyatakan bahwa akibat anak putus sekolah membawa dampak terjadinya degradasi moral, budi pekerti, patriotisme, dan ketidakpuasan para anak, maka pada akhirnya akan mengakibatkan kerugian besar bangsa, masyarakat, dan Negara.10[10] Pada dasarnya, anak yang putus sekolah menjadi beban Negara dalam berbagai aspek, seperti ekonomi, degradasi kultural, moral, intelektual, spiritual, sosial, dan sebagainya. 2. Penyebab Pengangguran Pengangguran menjadi wacana urgen dikaji, baik dalam skala lokal maupun global. Karena pengangguran membawa dampak yang sangat besar bagi kelangsungan hidup masyarakat dan bangsa. Rakyat yang menganggur mengakibatkan keresahan di dalam 5. masyarakat seperti beban social, psikologis, ekonomi, dan sebagainya. Seseorang dapat hidup dengan eksis apabila dapat hidup dengan layak, aman, adil, dan sejahtera. Seseorang yang menganggur sangat sulit menempuh hidup yang layak, aman, merasakan dan bersikap adil, serta sejahtera. Konteks pengangguran di Indonesia, menurut hasil survey angkatan kerja nasional BPS (Badan Pusat Statistik) Februari 2007 tercatat pengangguran 10,5 juta jiwa (9,75%), dan sedangkan pengangguran intelektual sebanyak 740.206 jiwa (7,02%).11[11] kemudian keterangan yang lain menunjukkan pengangguran pada tahun 2009 sudah mencapai 10 juta jiwa (12 %). Angkat tersebut sangat tinggi sehingga sangat rawan dalam konteks kehidupan sosial, dan tingginya angka pengangguran menunjukkan stabilitas sosial dan ekonomi semakin terancam. Pengangguran merupakan suatu keadaan yang menakutkan, karena energi sekelompok orang, yang tidak dapat disalurkan lewat pekerjaan atau kegiatan yang produktif, kemudian mencari jalan penyaluran yang merugikan masyarakat atau malahan membahayakan orang lain.12[12] Hal tersebut menjadi bagian yang sangat penting mencari jalan keluar dari lingkaran pengangguran. Semakin tinggi jumlah penganggur maka semakin berdampak besar pada pembangunan order social, seperti keresahan sosial, konflik, kemiskinan, dan sebagainya. Dalam konteks sosiologis, pengangguran dapat terjadi dalam berbagai bentuk, yaitu: 1. Pengangguran Struktural (menganggur karena terjadi resesi ekonomi atau PHK). 2. Pengangguran sementara (menganggur karena pindahnya dari pekerjaan satu ke pekerjaan lain) 3. Pengangguran tidak tetap (menganggur karena selesai kontrak dan menunggu kontrak lain) 4. Pengangguran teknologi (menganggur karena pergantian tenaga mekanik) 5. Pengangguran residu (menganggur karena tidak mau bekerja).13[13] Pengangguran dapat menimpa masyarakat apabila terjadi resesi ekonomi secara global dan nasional sehingga menjamur PHK karena sector ekonomi rill tidak mampu membiayai tenaga kerja. Pengangguran juga dapat terjadi apabila job kerja dimutasi dari tempat yang 6. satu ke tempat yang lain, kontrak kerja selesai atau pekerjaan yang tidak kontiniu. Akselerasi teknologi mutakhir dapat menimbulkan pengangguran karena pekerjaan digantikan system mekanik yang dapat menggantikan tenaga manusia. Kemudian pengangguran terjadi akibat dari semangat kerja atau sikap malas yang menggerogoti seseorang. Permasalahan pengangguran menjadi masalah besar, maka dibutuhkan penanganan dan penyelesaian yang serius. Menurut Minsky, pengangguran tidak dapat diatasi tanpa campur tangan pemerintah, dalam hal ini pasar tidak akan dengan sendirinya menyelesaikan persoalan pengangguran serta derivasi masalah yang ditimbulkannya, seperti kemiskinan dan ketimpangan.14[14] Olehnya itu, pemerintah dan tentunya masyarakat harus sinergis dalam membangun sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi. Pemerintah membuka akses pendidikan yang seluas-luasnya, menciptakan lapangan kerja dan memberikan jaminan kerja kepada masyarakat. Kemudian masyarakat harus menumbuhkan kesadaran yang tinggi terhadap pendidikan, meningkatkan etos kerja dan semangat entrepreneurship. B. Tinjauan Sosiologi Pendidikan terhadap putus sekolah dan pengangguran Pendidikan merupakan esensi dasar dari kehidupan manusia. Manusia dapat hidup dengan baik apabila didukung oleh landasan pendidikan yang benar, terutama dalam era kompetitif sekarang ini. Karena pendidikan berfungsi sebagai alat yang strategis dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM).15[15] Pendidikan menjadi motor penggerak kelangsungan hidup layak, baik dalam konteks politik, sosial, ekonomi, maupun budaya. Problem dalam pendidikan yang ada di Indonesia adalah; bentuk pendidikan yang bersifat Parsial, Pragmatis, dalam banyak hal justru bersifat paradox.16[16] Parsial, karena pendidikan yang ada hanya sebatas mengembangkan intelektual dan ketrampilan dan melupakan pendidikan akhlak dan moral. Hal tersebut menjadikan hasil dari pendidikan yang semacam ini menumbuhkan banyak orang-orang yang trampil dan cerdas secara intelektual namun miskin dalam peringai dan tingkah laku, sehingga banyak orang-orang pintar namun 7. rusak moral dan ahlaknya. Pendidikan yang demikian adalah agen untuk melayani kepentingan dan kebutuhan hidup yang ada dalam masyarakat. Karena masyarakatnya industri maka yang laku adalah fakultas ekonomi, karena masyarakatnya butuh informasi dan tehnologi maka yang laris adalah fakultas tehnik informatika dan lain sebagainya. Bersifat Praktis dan pragmatis,17[17] hal tersebut tercermin dalam orientasi pendidikan yang ada, yaitu lapangan kerja; dalam banyak hal sekolah didirikan dengan konsep siap pakai, siap kerja, siap latih. Mengukur hasil pendidikan dengan ukuran yang sederhana, berapa lama kuliah dapat diselesaikan, IPK yang dapat dicapai. Kesuksesan sebuah lembaga pendidikan dilihat dari seberapa cepat peserta didiknya diterima di lapangan kerja, dan seberapa besar gaji yang dapat diperolehnya. Hal demikian bertolak belakang dengan konsep pendidikan dalam Islam. dimana dimensi terpenting dari hidup manusia yang menjadi orientasinya, bagaimana pendidikan dapat memberikan pengaruh dalam jiwa peserta didik untuk mengembangkan manusia menjadi semakin bertaqwa, beriman, berbudi luhur, berpengetahuan luas, trampil dan lain sebagainya. Pendidikan yang ada di Indonesia tidak menyentuh aspek substansi atau yang hakiki dan inti tersebut, melainkan hanya pada kisaran kulit dan kepentingan sesaat. Hal tersebut terjadi karena pandangan yang keliru dalam memahami hakekat, peranan dan tujuan hidup manusia di dunia.18[18] Bersifat paradox, pendidikan sesungguhnya adalah proses peniruan, pembiasaan, penghargaan. Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Dalam pendidikan yang ada di Indonesia sulit sekali menemukan seorang Pendidik yang ideal, yang menjadi sumber inspirasi bagi anak didiknya. Seperti apa yang dikatakan oleh Muhammad Samir Al Munir menyatakan bahwa: kami meletakan belahan hati dan jiwa kami di hadapan anda agar mereka mendengarkan apa kata anda. Mata mereka terikat kepada anda. Yang baik menurut mereka adalah apa yang anda perbuat dan yang buruk menurut mereka adalah apa yang anda tinggalkan. Karena itu, dalam memperbaiki mereka, yang pertama kali harus anda perbaiki adalah diri anda sendiri. Anda jaga diri anda agar senantiasa berada di dalam kebaikandi hadapan anda ada saudara- saudara dan anak-anak kami. Mereka mendapat hidayah dengan ilmu anda. Mereka menuai buah dari benih yang anda tanam, karena itu jadilah teladan yang baik bagi mereka19[19] 8. Konsep pendidikan dalam tinjauan Islam yang diharapkan adalah bagaimana peserta didik dapat cerdas intelektual, emosional, spiritual, social, dan teknikal. Integrasi ini akan menjadi cerminan muslim yang dapat hidup eksis, dinamis, inovatif-kreatif, dan menjadi rahmatan lil alamin. Proses pendidikan yang dilaksanakan harus memiliki visi misi yang jelas, pelayanan yang tepat, dikelola secara profesional, dan berorientasi pada peserta didik dan tuntutan zaman. Berbagai persepsi berkembang bahwa pendidikan konteks ke-Indonesia-an cenderung untuk mengeksploitasi anak agar mampu bersaing dengan yang lainnya demi memperoleh pekerjaan yang ujung-ujungnya adalah kesejahteraan di bidang ekonomi20[20], mendapatkan pekerjaan yang layak, menjadi orang yang kaya. Karena ukuran untuk mendapatkan pekerjaan adalah kepemilikan Izajah, sementara Izajah isinya adalah deretan angka yang diperoleh...</p>