Materi Dasar-Dasar Manajemen Aksi Mahasiswa

  • Published on
    12-Aug-2015

  • View
    978

  • Download
    65

DESCRIPTION

Materi ini menjelaskan bagaimana sebuah konsep aksi mahasiswa (demonstrasi mahasiswa)

Transcript

DASAR DASAR MANAJEMEN AKSI1 Oleh : Inggar Saputra2 Berikan aku seribu orang tua, niscaya akau ku cabut Semeru dari akarnya. Jika kau beri aku satu pemuda, niscaya akan kuguncang dunia...!!! (Soekarno) Perjalanan sejarah telah menempatkan pemuda (mahasiswa) dalam posisi strategis.Kebangkitan Islam adalah kebangkitan pemuda menantang arus zaman. Tegaknya peradaban suatu bangsa diwarnai kisah kepahlawanan kaum muda. Tak heran pemuda seringkali berteriak Junta Pemuda sebagai aspirasi ideologis membumikan gerakan sosial politik yang dibangunnya. Tidak heran, seorang pemuda penggerak setengah juta demonstran di Mesir, Hasan Al Banna menyatakan dalam tubuh pemuda terdapat empat rukun yakni iman, ikhlas, semangat dan amal. Dasar keimanan adalah nurani yang menyala, dasar keikhlasan adalah hati yang bertakwa, dasar semangat adalah perasaan yang menggelora dan dasar amal adalah kemauan yang kuat3 Hadirnya pemuda sendiri tak terbantahkan ketika melihat struktur dan kultur budaya bangsa Indonesia. Dalam struktur masyarakat Indonesia dikenal tiga unsur yang saling bersinergi meliputi kekuatan pengusaha (ekonomi), politikus (politik) dan elemen civil society (mahasiswa, LSM, ormas dll). Pemuda khususnya mahasiswa berupaya memainkan peranan sebagai kelompok penekan (pressure group) atas kedua kekuatan lainnya. A. Sejarah Gerakan Mahasiswa Dunia mahasiswa adalah masa persemaian kekuatan idealisme dan intelektual. Menurut Indra Kusumah mahasiswa memiliki 3 fungsi dan peran. Pertama intelektual akademisi, dimana mahasiswa adalah intelektual muda yang dalam beraktifitas dalam sebuah universitas adalah sebagai simbol keilmuan. Kampus sendiri masih dianggap sebagai benteng moral yang ilmiah dan obyektif. Kedua cadangan masa depan (iron stock), mahasiswa adalah calon pemimpin bangsa yang akan menggantikan generasi tua di masa mendatang. Pemuda adalah kuncup yang perlu dipelihara agar bertumbuh dan berkembang menjadi bunga-bunga bangsa. Ketiga agen of change (agen perubahan), mahasiswa adalah pendorong terjadinya perubahan sosial dalam masyarakat4. Dalam konteks ini, seorang mahasiswa berfungsi mencurahkan segala konsep baru, ide-ide segar dan hal unik yang dapat bermanfaat untuk masyarakat.5 Pada masa pergerakan nasional, kita dapat melihat beberapa agen perubahan seperti Soetomo, Agus Salim dan Tjokroaminoto yang mendesain Indonesia yang terjajah menjadi bangsa merdeka6 Sejarah Indonesia adalah sejarah mahasiswa. Kita tak lupa bagaimana deklarasi Sumpah Pemuda berhasil mengguncang politik Tanah Air. 28 Oktober 1928, semangat membara pemuda Indonesia menyatakan kesatuan bangsa, bahasa dan tanah air : Indonesia. Bergerak ke masa revolusi fisik, jasa pemuda menelurkan kudeta tak berdarah (Peristiwa Rengasdengkok),

dimana pemuda menculik Soekarno dan tokoh tua agar mempercepat kemerdekaan. Akhirnya tercetuslah peristiwa penting Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Perjuangan belum berakhir, fase 1945-1965 keguncangan politik melanda Indonesia. Pemberontakan dan guncangan perekonomian mengguncang ibu pertiwi. Maraknya aksi anti PKI menyeret pemuda (KAMI dan KAPPI) turun berdemonstrasi menyuarakan perubahan. Mereka meneriakkan semangat Tritura : Turunkan harga, rombak kabinet dan bubarkan PKI. Darah mengucur ketika Arief Rahman dari UI tewas di tangan rezim Soekarno. Tahun 1974 kembali mahasiswa meneriakkan sebuah perubahan sosial. Mahasiswa mempersoalkan kedatangan PM Tanaka dari Jepang. Meletuslah peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari), dimana Soeharto melumpuhkan gerakan demonstrasi mahasiswa secara represif. Tahun 1978 gerakan mahasiswa mengalami degradasi pergerakan dan penumpulan pemikiran. Mendikbud Dr Syarif Thayeb, menerapkan SK 028/U/1974 tentang NKK/BKK yang mempersempit ruang gerak mahasiswa. Kemunculan lembaga studi gagal menyerap aspirasi mahasiswa atas berbagai masalah kerakyatan. Gerakan mahasiswa kembali bangkit sekitar tahun 1990-an. mendekati tahun 1997 dimana krisis ekonomi berimbas pada pemerintah. Memasuki tahun 1998 aksi menentang Soeharto makin 1998 Soeharto menyatakan berhenti sebagai Presiden Republik menandai Indonesia bersiap menghadapi masa reformasi. Aksi semakin memuncak krisis kepercayaan pada marak, dan tepat 21 Mei Indonesia. Peristiwa ini

Kemunculan gerakan mahasiswa kembali marak pada 3 periodesasi kepemimpinan (Habibie, Gus Dur dan Megawati). Puncaknya terjadi tahun 2004, dimana mahasiswa terlibat dalam demonstrasi menentang putusan kasasi bebasnya Akbar Tanjung. Mahasiswa terlibat bentrok dengan polisi di depan Mahkamah Agung. Ratusan mahasiswa terluka dan menjadi korban kekerasan rezim aparat kepolisian. Bagai gelombang kehidupan, bergerak dan terus bergerak. Filosofi itu dipegang aktivis mahasiswa. Kenaikan presiden SBY tahun 2009 disambut gelombang protes. Aksi semakin memuncak mendekati putusan akhir DPR/MPR terkait mega skandal korupsi Bank Century. Protes mahasiswa di depan gedung DPR/MPR mendapat sambutan pukulan dan lemparan batu aparat. Tak sedikit mahasiswa terluka dan sempat berhembus isu seorang aktivis mahasiswa meninggal. B. Manajemen aksi Manajemen aksi adalah sebuah sistem pengaturan demonstrasi (aksi massa) yang dilakukan oleh beberapa orang untuk menggalang opini publik terhadap suatu masalah yang muncul dan berkembang sehingga diharapkan lahir sebuah perubahan sosial.

Dalam aturan negara demonstrasi diperbolehkan dan dilindungi Undang-Undang. Pertama Declaration of Human Right (freedom of speech). Kedua UUD 1945 pasal 28 beserta amandemennya. Secara umum ketentuan aksi diperbolehkan karena adanya kebebasan menyampaikan pendapat oleh masyarakat kepada negara. Ada juga UU No. 9/1998 tentang Mekanisme Penyampaian Pendapat di Muka Umum. UU ini mengharuskan panitia aksi harus memberikan pemberitahuan kepada pihak kepolisian setidaknya 3 hari menjelang hari H. Ketentuan lainnya adalah, didalam surat pemberitahuan itu harus ada nama penanggung jawab aksi, waktu pelaksanaan, rute yangh dilewati, isu yang dibawa, jumlah massa, dan bentuk aksi. Selain itu ada juga larangan untuk melakukan aksi pada hari-hari tertentu dan tempat-tempat tertentu. Aksi mahasiswa bermacam macam bentuknya, dimana menurut Sharp dibagi menjadi tiga yakni protes (demonstrasi dan persuasi), nonkooperasi (ekonomi, sosial, politik) dan Intervensi tanpa kekerasan. Model aksi lain masih sangat banyak (kurang lebih terdapat 54 macam) diantaranya boikot ekonomi, mogok makan, pernyataan public, deklarasi, jalan mundur, duduk di jalan dan teatrikal. Metode yang dipakai antar gerakan mahasiswa seringkali berbeda. LDK, BEM dan KAMMI misalnya seringkali menghindari model violent action yang cenderung anarkis. Sedangkan elemen lain seperti Forkot, LMND, GMNI sering menggunakan metode radikal berorientasi kekerasan. Dalam aksi mahasiswa, diperlukan sebuah manajemen aksi. Untuk itu diperlukan sebuah perangkat aksi meliputi : 1. Korlap (Koordinator Lapangan) Korlap adalah pemimpin keseluruhan teknis aksi yang menjalankan rumusan aksi yang disusun oleh tim acara. Korlap tidak perlu muncul ke publik, agar ia bebas mengamati dinamika aksi (peserta aksi, skenario aksi dan situasi aksi). 2. Danlap Dikenal dalam bahasa lain sebagai jendral lapangan (Jenlap). Danlap adalah pemegang komando tertinggi dalam aksi yang bertugas menyampaikan instruksi, memantau dan mengatur jalannya aksi. Dalam aksi lapangan, danlap dirahasiakan karena ketika aksi berlangsung orang pertama yang dicari polisi adalah danlap. Danlap berhak memutuskan meneruskan atau menghentikan sebuah aksi lapangan. 3. Dinlap Dinlap adalah pemegang komando aksi yang menyampaikan instruksi kepada peserta aksi dari mobil sound. Dinlap berkoordinasi dengan tim acara dan korlap untuk mengatur agenda, skenario dan target aksi. Dinlap sebaiknya menyiapkan yel yel dan lagu perjuangan untuk mendinamisasi aksi.

4. Tim Kesehatan Aksi massa membutuhkan kekuatan fisik dan seringkali mendapat banyak potensi ancama. Untuk itu diperlukan tim kesehatan untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi 5. Tim Media Tugas tim media adalah memperbanyak dan menyebarkan pernyataan sikap, menghubungi media massa, mengordinasikan wawancara wartawan dengan pimpinan aksi. 6. Tim logistik Tugas tim logistik adalah : menyiapkan mobil sound, sound system dan kebutuhan aksi (bendera, air minum dan baliho/pamflet) dan menyiapkan peralatan pendukung (ikat kepala, leaflet dll) 7. Tim negoisator Tim negoisator adalah orang yang bertugas mengkomunikasikan aksi dengan stakeholder terkait seperti polisi, wartawan dan pihak lain di lapangan. Usahakan memilih orang yang memiliki kemampuan melobi baik ketika memutuskan memilih tim negoisator. 8. Tim acara Tim acara bertugas merumuskan aksi secara keseluruhan meliputi skenario aksi (rute aksi, kemungkinan chaos atau tidak dll), happening art/tearikal, orasi tokoh/pemimpin pergerakan, menyiapkan yel-yel, lagu perjuangan dan pernyataan sikap. 9. Tim keamanan Tim ini berfungsi mengamankan jalannya aksi agar tidak terjadi gangguan yang mengacaukan aksi. Tim pengamanan diusahakan berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk mencegah terjadinya penyusup, kerusuhan dan kemungkinan upaya evakuasi jika terjadi hal yang tidak diinginkan Sebelum bergerak ke lapangan ada mekanisme lahirnya keputusan aksi yaitu : 1. Diskusi awal. Diskusi penting karena bisa mengetahui dan menganalisis masalah di lapangan. Opini publik juga dapat dilihat apakah rpo atau kontra memandang masalah yang ada. Kegiatan diskusi biasanya dijalankan Departemen Kastrat. 2. Penggalangan Opini. Gerakan aksi perlu melihat dan melibatkan para unsur kekuatan rakyat. KAPMI bisa menggelar diskusi tokoh atau diskusi luas dengan senior yang mendalami masalah yang akan dijadikan isu aksi.

3. Pembentukan Tim Aksi 4.Aksi di lapangan Secara garis besar ada beberapa tahap merencanakan aksi : 1. Tema / Grand Issue. Pilihlah tema atau isu yang sedang hangat (up to date), relevan dan menarik. Isu yang menarik misalnya UN, kekerasan pelajar, dan kegagalan anggaran 20% APBN. Biasakan fokus dan detil dalam membangun isu. 2.Target/sasaran. Susun target aksi misalnya jumlah massa, tuntutan aksi dan blow up media. 3. Skenario. Skenario aksi perlu dibuat sebagai arahan teknis. Skenario aksi dibuat oleh tim acara sebagai panduan dinlap dan korlap. Skenario ini mencakup rute, tokoh orator, happening art, dan acara lainnya.Biasakan membuat lebih dari satu skenario. Buatlah skenario yang menarik misalnya membawa peti jenazah, mandi lumpur, membuat tiang gantungan,ruwatan massal dll.Bentuk aksi juga diperhatikan apakah aksi damai, semirusuh atau rusuh.Skenario aksi meliputi briefing,orasi, yel-yel,pembacaan doa,pernyataan sikap, happening art dll. 4.Pemberitahuan kepada polisi dan media. Kegiatan ini berjalan Bisakan tergantung pada kebutuhan. Buatlah surat izin aksi dan telepon media agar aksi kita diliput media. Undang media cetak, audio dan visual agar aksi ini dapat perhatian dari masyarakat luas. Media juga pada umumnya membutuhkan press release untuk kebutuhan pelaporan berita7. Membuat aksi membutuhkan dana dan logistik.Tak hanya bermodalkan semangat besar. Logistik aksi disiapkan sebelum aksi berjalan. Tujuan logistik adalah mendukung sebuah aksi berjalan baik dan menarik. Logistik aksi meliputi spanduk, pengeras suara,poster, pernyataan sikap,selebaran,bendera, ikat kepala, tali rafia,obat-obatan, alat komunikasi, kamera, absensi, alat tulis dan arloji.

1

Dipresentasikan dalam kegiatan Pendidikan dan Latihan Kepemimpinan Mahasiswa (PLKM) 2013 yang diadakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Republik Mahasiswa UPI Kampus Serang Banten, Minggu, 10 Maret 2013 di Banten 2 Penulis adalah Kepala Departemen Humas Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI) 2011-2013 3 Al Banna, Hasan. 1999. Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslim. Solo, Era Intermedia 4 Kusumah, Indra. Risalah Pergerakan Mahasiswa.Indydec Press. Bandung, 2007 5 Adi Nugroho dkk. Belajar Merawat Indonesia. Divisi Pendidikan Dompet Dhuafa. Jakarta, 2012. 6 Herfanda, Ahmadun Yossi. Yang Muda Yang Membaca. Asisten Deputi Pemberdayaan Lembaga Kepemudaan Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga. Jakarta, 2008 7 Sudarsono, Amin. Ijtihad Membangun Basis Gerakan. Muda Cendekia. Jakarta, 2010