Metamorfosis Jokowi - maklumi Jokowi sudah menjalani metamorfosis panjang dari ulat, menjadi kepompong,…

  • Published on
    08-Mar-2019

  • View
    212

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

<p>1 </p> <p>Metamorfosis Jokowi http://nasional.kompas.com/read/2016/09/18/04585861/metamorfosis.jokowi </p> <p>TRIBUN NEWS / HERUDINPresiden Joko Widodo berbicara pada acara peresmian Terminal Peti Kemas </p> <p>Kalibaru, Pelabuhan Utama Tanjung Priok atau New Priok Container Terminal (NPCT) 1 di Jakarta, Selasa </p> <p>(13/9/2016). Terminal tersebut merupakan terminal peti kemas pertama dalam pembangunan Fase IA </p> <p>Terminal New Priok yang terdiri atas tiga terminal peti kemas dan dua terminal produk. </p> <p>Oleh: Budiarto Shambazy </p> <p>Anda mungkin ingat momen Gubernur DKI Joko Widodo alias Jokowi tak bosan </p> <p>menongkrongi pekerjaan perbaikan tanggul Kanal Barat yang jebol di Sungai Ciliwung, </p> <p>dekat Jalan Latuharhary, Jakarta Pusat. </p> <p>Waktu itu Jakarta dalam status tanggap darurat bencana banjir, 17-27 Januari 2013. </p> <p>Menjadi pemandangan menarik karena kok ada gubernur seperti mandor mengawasi </p> <p>kuli-kuli bekerja di proyek kotor? </p> <p>Ketika itu ia ditanyai mengapa mau berjorok-jorok seperti itu, ia menjawab, Kalau saya </p> <p>tinggal nanti mereka berhenti bekerja. </p> <p>Ilustrasi ini mencerminkan sebelum era Jokowi para gubernur malas turun ke lapangan </p> <p>mengawasi pekerjaan yang tak dikerjakan sampai tuntas, misalnya penggalian lubang yang </p> <p>berjalan sepanjang tahun. </p> <p>Kita terbiasa melihat gubernur baru yang hobi blusukan ke Pasar Tanah Abang atau </p> <p>masuk gorong-gorong, dengan melipat lengan kemeja dan celana bagian bawah. </p> <p>Jakarta kembali hidup setelah selama berpuluh tahun hidup dalam ketidakpastian dan </p> <p>pesimisme gelap karena warganya kehilangan rasa memiliki. </p> <p>http://nasional.kompas.com/read/2016/09/18/04585861/metamorfosis.jokowihttp://nasional.kompas.com/tag/Jokowi</p> <p>2 </p> <p>Begitu juga hidup kembali kepemimpinan yang wajar dan masuk akal, yakni kepemimpinan </p> <p>yang rajin bekerja, merakyat, anti KKN, dan bernyali besar. </p> <p>Jangan lupa politik itu soal momentum. Dengan dukungan prestasi sebagai gubernur, </p> <p>pencitraan media arus utama dan media sosial, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan </p> <p>(PDI-P), khususnya Ketua Umum Megawati Soekarnoputri, mayoritas rakyat memilih </p> <p>Jokowi sebagai presiden ketujuh. </p> <p>Momentum itu mulai hilang karena dua hal. Pertama, perombakan kabinet jilid 2 yang </p> <p>lebih banyak memunculkan pertanyaan ketimbang jawaban; dan kedua, pengampunan </p> <p>pajak (PP) yang membuat sebagian publik kelas menengah merasa dimintai jatah </p> <p>preman. </p> <p>Jangan salah, seperti dibuktikan oleh hasil berbagai jajak pendapat, dukungan mayoritas </p> <p>rakyat masih besar sampai detik ini. </p> <p>Rakyat kalangan menengah dan bawah rupanya puas dengan berbagai jaminan sosial ala </p> <p>Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, dan Kartu Indonesia Sejahtera. </p> <p>Telah terbukti, kompromi politik dalam dua kali perombakan kabinet tidak pernah </p> <p>tercapai maksimal. </p> <p>Hasil kompromi masih tetap semu, malah berpotensi menimbulkan konflik baru karena </p> <p>kehadiran menteri yang kurang cakap dan berjejak rekam buruk. </p> <p>Juga lebih terasa dominasi menteri-menteri yang telah berkiprah sejak era Orde Baru, </p> <p>khususnya dari kalangan purnawirawan. </p> <p>Tak terbantahkan pula, mayoritas menteri kali ini terdiri dari tokoh/politisi/akademisi </p> <p>bukanlah para loyalis tulen Jokowi karena lebih patuh kepada patron masing-masing. </p> <p>PP terkesan keliru sejak awal, baik detail kebijakannya yang sukar ditebak maupun </p> <p>sosialisasinya yang asal-asalan. </p> <p>PP tentu bermaksud baik, tetapi keburu menimbulkan keresahan karena pesan yang </p> <p>disampaikan kepada publik tidak pernah utuh. </p> <p>Publik paham pemerintah sedang BU (butuh uang) untuk menggenjot pembangunan </p> <p>infrastruktur untuk mencatat pertumbuhan ekonomi lima koma sekian atau bahkan 6 </p> <p>persen. </p> <p>http://nasional.kompas.com/tag/PDI-Phttp://nasional.kompas.com/tag/Megawati%20Soekarnoputri</p> <p>3 </p> <p>Dengan sosialisasi yang sempurna dan juga kesiapan aparat perpajakan, PP niscaya akan </p> <p>sukses. </p> <p>Kita mengharapkan PP sukses karena masih percaya 100 persen kepada Jokowi yang rajin </p> <p>bekerja, merakyat, anti KKN, dan bernyali besar. </p> <p>Kita juga kurang peduli dengan berbagai pernyataan yang dikemukakan pejabat tinggi </p> <p>yang seperti pengamat atau terkesan berlawanan dengan Jokowi. </p> <p>Mungkin ini gejala Jokowi sedang berjuang seorang diri, persis seperti ketika </p> <p>menongkrongi kuli-kuli yang memperbaiki tanggul Kanal Barat yang jebol itu. </p> <p>Ia mungkin juga masih sendirian mengarungi belantara politik Ibu Kota yang elitis, dari </p> <p>sebuah kota yang kebetulan bernama Solo (sendiri) di Jawa Tengah. </p> <p>Mungkin Jokowi sedang masuk masa jeda ibarat final sepak bola yang harus dimenangi. </p> <p>Pada babak pertama ia sudah unggul tipis, tetapi permainan belum mencapai top form. </p> <p>Pada saat jeda ia perlu mendengar instruksi-instruksi pelatih. Salah satu instruksi yang </p> <p>dia harus dengar adalah apa gerangan yang dikehendaki publik, yang disiarkan oleh pers, </p> <p>yang kewajibannya mengingatkan pemimpin dengan sikap berpihak hanya kepada </p> <p>kebenaran. </p> <p>Dalam kesendirian itulah Jokowi kadang tersandung. Ia cedera cukup fatal, seperti saat </p> <p>ia mesti memberhentikan dengan hormat Menteri ESDM Arcandra Tahar yang baru </p> <p>bertugas 20 hari, yang ternyata memiliki dua kewarganegaraan. </p> <p>Kita maklumi Jokowi sudah menjalani metamorfosis panjang dari ulat, menjadi </p> <p>kepompong, dan akhirnya menjadi kupu-kupu. </p> <p>Masih tersisa sekitar tiga tahun untuk terbang hilir-mudik dan sesekali hinggap di </p> <p>tangkai bunga yang kuat, bukan yang lemah </p> <p>Editor : Sandro Gatra </p> <p>Sumber : Kompas Cetak, </p> <p>http://nasional.kompas.com/tag/Arcandra%20Taharhttp://print.kompas.com/</p>

Recommended

View more >