metode mekanik

  • Published on
    03-Jul-2015

  • View
    1.174

  • Download
    5

Embed Size (px)

Transcript

<p>Sistem Pertanian berkelanjutan I ( Pertanian konservasi) Konservasi Tanah dengan Metode MekanikDiajukan untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Penginderaan Jauh dan Sisitem Informasi Geografi</p> <p>Disusun Oleh: kelompok 6 Hapizhah A Rehna Ismarani Tarigan Devy Mastiur H Irma Meliaki S (150110080110) ( 150110080111 ) ( 150110080112 ) ( 150110080113 )</p> <p>FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2010 / 2011</p> <p>KATA PENGANTAR</p> <p>Puji dan syukur, kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan berkat-Nya saya dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Sistem Pertanian berkelanjutan I ( Pertanian konservasi) tentang Dampak Erosi. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini terutama pada dosen Mata Kuliah Sistem Pertanian berkelanjutan I ( Pertanian konservasi) Fakultas Pertanian Unpad serta teman-teman yang turut memberi dukungan. Kami menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dari segi materi maupun cara penulisannya. Oleh karena itu masukan, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi penyempurnaan program ini. Akhir kata kami berharap agar makalah ini nantinya dapat bermanfaat membuat penulis serta rekan yang lain lebih mengerti materi yang disampaikan dalam makalah ini. Sekian dan Terimakasih.</p> <p>Jatinangor,</p> <p>April 2011</p> <p>Penulis</p> <p>BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kekeringan berkepanjangan saat ini sangat erat hubungannya dengan kesalahan penanganan pengelolaan lahan daerah aliran sungai (DAS) bagian hulu yang kurang mengikuti kaidah konservasi tanah dan air, sehingga pasokan dan cadangan air tanah menurun. Pengelolaan DAS bagian hulu sering kali menjadi fokus perhatian mengingat dalam suatu DAS, bagian hulu dan hilir mempunyai keterkaitan biofisik melalui daur hidrologi. Misalnya kesalahan penggunaan lahan daerah hulu (seperti: Wonogiri, Boyolali, dan Purwodadi) akan berdampak pada masyarakat di daerah hilir. Terbukanya lahan yang berbukit di daerah hulu baik karena penebangan hutan ataupun penerapan cara pengelolaan tanah dalam usaha tani yang keliru menyebabkan terjadinya erosi tanah. Sedimentasi dari tanah yang tereosi akan menyebabkan daya tampung sungai berkurang, yang menyebabkan terjadinya banjir di daerah hilir. Disamping itu karena pasokan air hujan ke dalam tanah (water saving) rendah dan cadangan air dimusim kemarau berkurang akan menyebabkan terjadi kekeringan berkepanjangan dan hilangnya mata air seperti banyak terjadi sekarang ini. Indonesia sebagai daerah tropis, erosi tanah oleh air merupakan bentuk degradasi tanah yang sangat dominan. Praktik deforesterisasi merupakan penyebab utamanya baik di hutan produksi ataupun di hutan rakyat, yang menyebabkan terjadinya kerusakan hutan dan lahan. Di samping itu, praktek usaha tani yang keliru di daerah hulu yang tidak memperhatikan kaidahkaidah konservasi akan menyebabkan terjadinya kemerosotan sumberdaya lahan yang akan berakibat semakin luasnya lahan kritis kita. Hal ini terbukti pada tahun 1990-an luas lahan kritis di Indonesia 13,18 juta hektar, namun sekarang diperkirakan mencapai 23,24 juta hektar, sebagian besar berada di luar kawasan hutan (65%) yaitu di lahan milik rakyat dengan pemanfaatan yang sekedarnya atau bahkan cenderung diterlantarkan. Keadaan ini justru akan membawa dampak lahan semakin krtis dan kekeringan panjang terjadi dimusim kemarau. Hal ini menandakan bahwa petani masih banyak yang belum mengindahkan praktek usaha tani konservasi.1.2 Perumusan Masalah</p> <p>Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas dapat dirumuskan masalah bagaimana cara untuk mengkonservasi tanah dan air di Indonesia dengan berbagai metode,khususnya menggunakan metode mekanik.1.3 Tujuan</p> <p>Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memaparkan mengenai metode mekanik dalam mengkonservasi lahan di Indonesia.</p> <p>BAB II PEMBAHASAN 2.1 Teknik Pengendalian Erosi Secara garis besar, teknik pengendalian erosi dibedakan menjadi dua, yaitu teknik konservasi mekanik dan vegetatif. Konservasi tanah secara mekanik adalah semua perlakuan fisik mekanis dan pembuatan bangunan yang ditujukan untuk mengurangi aliran permukaan guna menekan erosi dan meningkatkan kemampuan tanah mendukung usahatani secara berkelanjutan. Pada prinsipnya konservasi mekanik dalam pengendalian erosi harus selalu diikuti oleh cara vegetatif, yaitu penggunaan tumbuhan/tanaman dan sisa-sisa tanaman/tumbuhan (misalnya mulsa dan pupuk hijau), serta penerapan pola tanam yang dapat menutup permukaan tanah sepanjang tahun. 2.1.1 Teras bangku atau teras tangga</p> <p>Teras bangku atau teras tangga dibuat dengan cara memotong panjang lereng dan meratakan tanah di bagian bawahnya, sehingga terjadi deretan bangunan yang berbentuk seperti tangga. Pada usahatani lahan kering, fungsi utama teras bangku adalah: (1) memperlambat aliran permukaan; (2) menampung dan menyalurkan aliran permukaan dengan kekuatan yang tidak sampai merusak; (3) meningkatkan laju infiltrasi; dan (4) mempermudah pengolahan tanah. Teras bangku dapat dibuat datar (bidang olah datar, membentuk sudut 0o dengan bidang horizontal), miring ke dalam/goler kampak (bidang olah miring beberapa derajat ke arah yang berlawanan dengan lereng asli), dan miring keluar (bidang olah miring ke arah lereng asli). Teras biasanya dibangun di ekosistem lahan sawah tadah hujan, lahan tegalan, dan berbagai sistem wanatani. Tipe teras bangku dapat dilihat dalam Gambar 1. Teras bangku miring ke dalam (goler kampak ) dibangun pada tanah yang permeabilitasnya rendah, dengan tujuan agar air yang tidak segera terinfiltrasi menggenangi bidang olah dan tidak mengalir ke luar melalui talud di bibir teras. Teras bangku miring ke luar diterapkan di areal di mana aliran permukaan dan infiltrasi dikendalikan secara bersamaan, misalnya di areal rawan longsor. Teras bangku goler kampak memerlukan biaya relatif lebih mahal dibandingkan dengan teras bangku datar atau teras bangku miring ke luar, karena memerlukan lebih banyak penggalian bidang olah. Efektivitas teras bangku sebagai pengendali erosi akan meningkat bila ditanami dengan tanaman penguat teras di bibir dan tampingan teras. Rumput dan legum pohon merupakan tanaman yang baik untuk digunakan sebagai penguat teras. Tanaman murbei sebagai tanaman penguat teras banyak ditanam di daerah pengembangan ulat sutra. Teras bangku adakalanya</p> <p>dapat diperkuat dengan batu yang disusun, khususnya pada tampingan. Model seperti ini banyak diterapkan di kawasan yang berbatu.</p> <p>Gambar 1. Sketsa empat tipe teras bangku Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam pembuatan teras bangku adalah: (1) Dapat diterapkan pada lahan dengan kemiringan 10-40%, tidak dianjurkan pada lahan dengan kemiringan &gt;40% karena bidang olah akan menjadi terlalu sempit. (2) Tidak cocok pada tanah dangkal (200 mm, jumlah bulan kering dengan curah hujan 25%. Pagar hidup Pagar hidup adalah tanaman tahunan yang ditanam mengikuti batas pemilikan lahan. Tujuannya adalah untuk mengamankan lahan dari ternak, penahan angin, dan pengendali erosi.</p> <p>Pagar hidup berfungsi sebagai sumber pakan ternak, mulsa penyubur tanah, bahan organik, dan kayu bakar. Tanaman buah-buahan seperti nangka, alpukat, jengkol, dan petai sering digunakan sebagai tanaman pagar hidup. Strip tumbuhan alami Strip tumbuhan alami (STA) adalah strip atau barisan campuran berbagai tumbuhan alami yang terbentuk dengan membiarkan (tidak mengolah) sebagian kecil (selebar 50 cm) lahan di sepanjang kontur. STA efektif menahan erosi karena pertumbuhannya yang rapat. Keuntungan STA adalah tidak memerlukan biaya dan tenaga kerja tambahan (karena tidak memerlukan penanaman). Tenaga kerja hanya diperlukan untuk pemeliharaan agar STA tidak merambat ke lorong yang ditanami dengan tanaman utama. Dengan adanya STA akan memudahkan pembuatan teras bangku secara bertahap. Pada umumnya strip tanaman alami merupakan tanaman sementara (transisi) dari sistem strip ke sistem wanatani. STA dapat diganti secara bertahap dengan tanaman buahbuahan atau tanaman lain yang permanen dan memberikan nilai ekonomi. Strip rumput Sistem ini hampir sama dengan sistem pertanaman lorong dan strip tumbuhan alami, namun tanaman pagarnya adalah rumput pakan ternak. Strip dibuat mengikuti kontur dengan lebar 50 cm atau lebih. Makin lebar strip makin efektif dalam mengendalikan erosi dan makin terjamin pula kecukupan hijauan pakan ternak. Dalam keadaan tertentu, lebar strip dapat ditingkatkan, terutama jika ternak menjadi andalan usahatani. Lahan pegunungan pada umumnya berpotensi untuk usaha ternak ruminansia besar (sapi) dan ruminansia kecil (domba). Untuk penyediaan hijauan pakan sekaligus penanggulangan erosi dapat dipilih berbagai jenis tanaman rumput, seperti rumput gajah, rumput benggala, setaria, rumput Brachiaria decumbens atau rumput BD, dan rumput raja. Silvipastura Sistem silvipastura adalah perpaduan antara tanaman kayu-kayuan dan rumput pakan ternak seperti rumput gajah, setaria, rumput BD, dan rumput benggala. Sistem ini dikembangkan apabila ternak menjadi komponen penting dalam usaha pertanian. Tanaman pohon-pohonan selain dapat memberikan naungan bagi ternak, juga menjadi sumber hijauan pakan ternak (misalnya kayu Afrika), terutama pada musim kemarau selama produksi rumput menurun. Kebun campuran</p> <p>Kebun campuran adalah lahan pertanian yang ditanami dengan berbagai macam tanaman tahunan seperti petai, jengkol, aren, melinjo, buah buahan, kayu-kayuan, dan sebagainya. Contoh kebun campuran adalah kebun karet (hutan karet) rakyat yang tanamannya terdiri atas karet sebagai tanaman utama dan berbagai jenis tanaman buah-buahan dan kayu-kayuan. Contoh lain adalah kebun damar (hutan damar) di Liwa, Lampung. Selain merupakan sumber pendapatan yang kontinyu sepanjang tahun karena beragamnya jenis tanaman, kebun campuran memberikan berbagai jasa lingkungan seperti pengendali erosi, mitigasi banjir, mempertahankan keanekaragaman hayati, dan menambat karbon dari atmosfer. Pertanian terpadu</p> <p>Penerapan sistem pertanian terpadu integrasi ternak dan tanaman terbukti sangat efektif dan efisien dalam rangka penyediaan pangan masyarakat. Siklus dan keseimbangan nutrisi serta energi akan terbentuk dalam suatu ekosistem secara terpadu. Sehingga akan meningkatkan efektifitas dan efisiensi produksi yang berupa peningkatan hasil produksi dan penurunan biaya produksi. Kegiatan terpadu usaha peternakan dan pertanian ini, sangatlah menunjang dalam penyediaan pupuk kandang di lahan pertanian, sehingga pola ini sering disebut pola peternakan tanpa limbah karena limbah peternakan digunakan untuk pupuk, dan limbah pertanian untuk makan ternak. Integrasi hewan ternak dan tanaman dimaksudkan untuk memperoleh hasil usaha yang optimal, dan dalam rangka memperbaiki kondisi kesuburan tanah. Interaksi antara ternak dan tanaman haruslah saling melengkapi, mendukung dan saling menguntungkan, sehingga dapat mendorong peningkatan efisiensi produksi dan meningkatkan keuntungan hasil usaha taninya. Sistem tumpangsari tanaman dan ternak banyak juga dipraktekkan di daerah perkebunan. Di dalam sistem tumpangsari ini tanaman perkebunan sebagai komponen utama dan tanaman rumput dan ternak yang merumput di atasnya merupakan komponen kedua. Praktek penerapan pola usaha tani konservasi ini hendaknya dilakukan secara terpadu, seperti sistem multiple croping (pertanaman ganda / tumpang sari), agroforestry, perternakan, dan dipadukan dengan pembuatan teras. Misalnya dalam praktek PHBM, tanaman pangan ditanam pada bidang teras meliputi kedelai, kacang tanah, jagung dan kacang panjang yang di tanamn diantara tanaman tahunan (misal: jati, mauni atau pinus sebagai tanaman pokok). Pada tepi teras ditanami dengan tanaman penguat teras yang terdiri dari tanaman rumput, lamtoro dan dapat ditanami tanaman hortikultura seperti srikaya ataupun nanas dan pisang. Tanaman rumput pada tepi teras disamping berfungsi sebagai penguat teras juga sebagai sumber pakan ternak (sapi atau kambing).</p> <p>BAB III PENUTUP</p> <p>3.1 Kesimpulan Pengendalian erosi secara teknis-mekanis merupakan usaha-usaha pengawetan tanah untuk mengurangi banyaknya tanah yang hilang di daerah lahan pertanian dengan cara mekanis tertentu. Sehubungan dengan usaha-usaha perbaikan tanah secara mekanik yang ditempuh bertujuan untuk memperlambat aliran permukaan dan menampung serta melanjutkan penyaluran aliran permukaan dengan daya pengikisan tanah yang tidak merusak. Cara mekanik adalah cara pengelolaan lahan tegalan (tanah darat) dengan menggunakan sarana fisik seperti tanah dan batu sebagai sarana konservasi tanahnya. Tujuannya untuk memperlambat aliran air di permukaan, mengurangi erosi serta menampung dan mengalirkan aliran air permukaan (Seloliman, 1997).</p> <p>DAFTAR PUSTAKA</p> <p>http://www.litbang.deptan.go.id/regulasi/one/12/file/BAB-IV.pdf http://derryariadi.blogspot.com/2009/04/teknik-konservasi-tanah-secara-mekanik.html http://balittanah.litbang.deptan.go.id/dokumentasi/buku/lahankering/berlereng5.pdf</p>