MODUL PRAKTIKUM TEKNIK PENGOLAHAN LIMBAH ?· TEKNIK PENGOLAHAN LIMBAH CAIR ... Prinsip pengukuran BOD…

  • Published on
    02-Mar-2019

  • View
    214

  • Download
    1

Embed Size (px)

Transcript

MODUL PRAKTIKUM

TEKNIK PENGOLAHAN LIMBAH CAIR

LABORATORIUM TEKNIK SUMBERDAYA ALAM DAN LINGKUNGAN

JURUSAN KETEKNIKAN PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

2014

PERATURAN DAN TATA TERTIB

KEGIATAN PRAKTIKUM LABORATORIUM LINGKUNGAN

1. Setiap praktikan wajib memiliki buku petunjuk (modul) praktikum. 2. Setiap praktikan diwajibkan hadir tepat pada waktunya. Praktikan yang terlambat dari 15 menit,tidak

diperkenankan mengikuti kegiatan praktikum,kecuali seizin koordinator asisten praktikum.

3. Sebelum memasuki laboratorium, praktikan wajib memakai jas lab terlebih dahulu. 4. Praktikan wajib menyerahkan tiket masuk praktikum sesuai topik yang akan dilaksanakan. 5. Selama diadakan pre/post test, praktikan tidak diperkenankan meminta/memberikan jawaban kepada

praktikan lain. Jika hal tersebut terjadi,maka dilakukan pengurangan 5 point/kejadian contekan dari

nilai seluruh kelompok. Bagi yang terlambat pre-test, tidak diberikan kompensasi (pre test tetap

berlangsung dan praktikkan mengerjakan sesuai nomor pre-test yang dibacakan asisten).

6. Selama praktikum, praktikan tidak diperkenankan makan, minum dan melakukan kegiatan diluar kegiatan praktikum tanpa seizin asisten

7. Setelah melakukan praktikum, diwajibkan membersihkan alat-alat yang dipakai dan disimpan kembali pada tempat semula dalam keadaan bersih. Sampah harus dibuang ditempat sampah dan

praktikan wajib menjaga kebersihan laboratorium.

8. Selama kegiatan praktikum, praktikan diwajibkan membuat Data Hasil Praktikum per kelompok dan mendapat persetujuan (acc) dari asisten yang bertugas.

9. Setiap kelompok atau mahasiswa wajib mengganti alat yang rusak atau hilang selama praktikum berlangsung.

10. Laporan praktikum dikumpulkan 1 minggu setelah praktikum dilaksanakan. 11. Keterlambatan pengumpulan laporan dikenakan pengurangan nilai (per jam minus 10)

SANKSI

1. Bagi praktikan yang tidak mengumpulkan laporan praktikum, tidak diperkenankan mengikuti ujian akhir praktikum (UAP).

2. Bagi praktikan yang terlambat mengumpulkan laporan praktikum, nilai laporan dikurangi 10 per jam. 3. Kesamaan dalam pembuatan laporan praktikum akan dikenakan nilai NOL (0).

Materi I

Aklimatisasi

I.Tujuan

1.1 Mengetahui metode aklimatisasi mikroorganisme pada media

II.Tinjauan Pustaka

Aklimatisasi adalah proses adaptasi dari suatu mikroorganisme pada sebuah media sebagai

lingkungan hidup barunya. Beberapa kondisi yang pada umumnya disesuaikan adalah suhu

lingkungan, derajat keasaman (pH), dan kadar oksigen.Proses penyesuaian ini berlangsung dalam

waktu yang cukup bervariasi tergantung dari jauhnya perbedaan kondisi antara lingkungan baru yang

akan dihadapi, dapat berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa minggu.Selama proses

aklimatisasi,dapat diberikan nutrisi sebagai katalis pertumbuhan mikroorganisme di media.

Proses aklimatisasi tersebut akan membentuk lapisan biofilm pada media.Ada 5 tahap dalam

proses pembentukan biofilm.

1. Pelekatan awal: mikroba melekat pada permukaan suatu benda dan dapat diperantarai oleh fili (rambut halus sel) contohnya pada P.aeruginosa.

2. Pelekatan permanen: mikrob melekat dengan bantuan eksopolisakarida (EPS). 3. Maturasi I: proses pematangan biofilm tahap awal. 4. Maturasi II: proses pematangan biofilm tahap akhir, mikrob siap untuk menyebar. 5. Dispersi: Sebagian bakteri akan menyebar dan berkolonisasi di tempat lain.

III.Alat dan Bahan

3.1 Alat -Bak Prototipe

-Media

-Aerator

-Batu Aerator

-Selang

3.2 Bahan -Starter

-Air

-NPK

IV.Cara Kerja

1. Alat dan bahan disiapkan. 2. Batu aerator,aerator,dan selang di rangkai,kemudian di masukkan ke bak prototype. 3. Media di masukkan ke dalam bak prototype. 4. Air dimasukkan ke bak prototype. 5. Starter dimasukkan ke bak prototype. 6. Aerator dinyalakan

http://id.wikipedia.org/wiki/Suhuhttp://id.wikipedia.org/wiki/Derajat_keasamanhttp://id.wikipedia.org/wiki/Oksigen

Materi II

Pengamatan BOD, TSS, pH, Suhu dan Kekeruhan

I.Tujuan

1.1 Mengamati efektifitas kinerja system instalasi pengolahan limbah cair oleh biofilm

II.Tinjauan Pustaka

2.1 BOD

Biological Oxygen Demand menunjukkan jumlah oksigen dalam satuan ppm yang dibutuhkan

oleh mikroorganisme untuk memecahkan bahan-bahan organik yang terdapat di dalam air.

Pemeriksaan BOD diperlukan untuk menentukan beban pencemaran akibat air buangan penduduk atau

industri.

Prinsip pengukuran BOD pada dasarnya cukup sederhana, yaitu mengukur kandungan oksigen

terlarut awal (DOi) dari sampel segera setelah pengambilan contoh dengan menggunakan DO meter,

kemudian mengukur kandungan oksigen terlarut pada sampel yang telah diinkubasi selama 5 hari pada

kondisi gelap dan suhu tetap (20oC) yang sering disebut dengan DO5.

Ket :

BOD = Bological oxygen demand (mg/L)

DOi = Okesigen terlarut 0 hari

DO5 = Oksigen terlarut 5 hari

2.2 TSS

Total suspended solid atau padatan tersuspensi total (TSS) adalah residu dari padatan total

yang tertahan oleh saringan dengan ukuran partikel maksimal 2m atau lebih besar dari ukuran

partikel koloid. Yang termasuk TSS adalah lumpur, tanah liat, logam oksida, sulfida, ganggang,

bakteri dan jamur. TSS umumnya dihilangkan dengan flokulasi dan penyaringan.

Prinsip analisa TSS dapat dilakukan sebagai berikut : Contoh uji yang telah homogen disaring

dengan kertas saring yang telah ditimbang. Residu yang tertahan pada saringan dikeringkan sampai

mencapai berat konstan pada suhu 103C sampai dengan 105C. Kenaikan berat saringan mewakili

padatan tersuspensi total (TSS). Jika padatan tersuspensi menghambat saringan dan memperlama

penyaringan, diameter pori-pori saringan perlu diperbesar atau mengurangi volume contoh uji. Untuk

memperoleh estimasi TSS, dihitung perbedaan antara padatan terlarut total dan padatan total.

TSS (mg/L) = (A-B) X 1000 / V

A = berat kertas saring + residu kering (mg)

B = berat kertas saring (mg)

V = volume (mL)

2.3 Suhu

Pengukuran suhu menggunakan termometer.Merupakan parameter yang sangat penting

dikarenakan efeknya terhadap reaksi kimia, laju reaksi, kehidupan organisme air dan penggunaan air

untuk berbagai aktivitas sehari hari. Naiknya suhu atau temperatur air akan menimbulkan akibat

berikut :

Menurunnya jumlah oksigen terlarut dalam air. Meningkatkan kecepatan reaksi kimia. Mengganggu kehidupan organisme air.

Suhu suatu badan air dipengaruhi oleh musim, lintang (latitude), ketinggian dari permukaan

laut (altitude), waktu, sirkulasi udara, penutupan awan, aliran, serta kedalaman. Perubahan suhu

mempengaruhi proses fisika, kimia, dan biologi badan air.

http://environmentalchemistry.wordpress.com/2012/01/11/total-suspended-solid-tss-2/http://environmentalchemistry.wordpress.com/2012/01/11/total-suspended-solid-tss-2/

Peningkatan suhu mengakibatkan peningkatan viskositas, reaksi kimia, evaporasi, volatilisasi,

dekomposisi bahan organik oleh mikroba, serta menyebabkan penurunan kelarutan gas dalam air (gas

O2, CO2, N2, CH4, dan sebagainya). Kisaran suhu optimum bagi pertumbuhan fitoplankton di

perairan adalah 20 oC 30

oC.

2.4 Kekeruhan

Kekeruhan dapat mempengaruhi masuknya sinar matahari ke dalam air. Sinar matahari sangat

diperlukan oleh organisme yang berada didalam perairan untuk proses metabolisme. Bila suatu

perairan keruh maka sinar matahari yang masuk akan sedikit karena terpencar-pencar oleh adanya

partikel yang terlarut, dan bila air tidak keruh maka sinar matahari yang masuk akan banyak.

Kekeruhan dapat dipakai sebagai indikasi kualitas suatu perairan. Air alami dan air

buangan yang mengandung koloid dapat memudarkan sinar sehingga mengurangi transmisi sinar.

Kekeruhan dapat mengurangi proses fotosintesis tanaman dalam air. Misalnya vegetasi perairan

berakar dan ganggang, mengurangi pertumbuhan tanaman dan mengurangi produktifitas ikan.

Kekeruhan dapat disebabkan oleh tanah liat dan lempung, buangan industri dan

mikroorganisme. Upaya untuk mengurangi kekeruhan ini antara lain dengan penyaringan dan

koagulasi. Tujuan dari pemeriksaan parameter ini adalah untuk mengetahui derajat kekeruhan air

yang disebabkan oleh adanya partikel-partikel yang tersebar merata dan dapat menghambat

jalannya sinar matahari yang melalui air tersebut.

Dengan menggunakan alat turbidimeter perhitungan :

Hasil pemeriksaan x NTU x Pengenceran = .. NTU Kekeruhan

larutan standart

2.5 pH

Keasaman air diukur dengan Indikator universal.Keasaman ditetapkan berdasarkan tinggi-

rendahnya konsentrasi ion hidrogen dalam air. pH dapat mempengaruhi kehidupan biologi dalam air.

Bila terlalu rendah atau terlalu tinggi dapat mematikan kehidupan mikroorganisme. Ph normal untuk

kehidupan air 6 8.

III.Alat dan Bahan

3.3 Alat -DO meter

-pH Universal

-Termometer

-Kertas Saring

3.4 Bahan -Air

IV.Cara Kerja

4.1 BOD

1. Alat dan bahan disiapkan

2. Sampel dihitung DO-nya dengan DO Meter ( ) 3. Sampel diinkubasi selama 5 hari pada kondisi gelap dan suhu tetap (20

oC)

4. Sampel dihitung DO-nya dengan DO Meter (DO5 )

5. Kadar BOD dihitung.

4.2 TSS

1. Alat dan bahan disiapkan

2. Sampel diambil sebanyak 100 ml

3. Sampel disaring dengan kertas saring

5. Cawan ditimbang

6. Kertas saring berisi sampel diletakkan di cawan.

4. Cawan dan sampel di masukkan ke oven dengan suhu 103-105 oC selama 60 menit.

5. Cawan dan sampel ditimbang

6. TSS dihitung.

4.3 Suhu

1. Alat dan bahan disiapkan

2. Termometer dicelupkan ke bak prototype

3. Suhu termometer diamati

4.4 Kekeruhan

1. Alat dan bahan disiapkan 2. Alat turbidimeter disambungkan dengan sumber listrik 3. Larutan standar diletakan pada tempat sample, lakukan pengukuran dan sesuaikan nilai pengukuran dengan cara memutar tombol pengatur hingga nilai yang tertera pada layar sesuai dengan nilai standar. 4. Sample dimasukan pada tempat pengukuran sample 5. Skala pengukuran kekeruhan dibaca (lakukan pengukuran 3 kali dengan menekan tombol pengulangan pengukuran untuk setiap pengulangan)

4.6 pH

1. Alat dan bahan disiapkan

2. Indikator universal dicelupkan ke bak prototype

3. pH diamati dengan membandingkan warna pada kertas indikator

Materi III

Rekayasa dan Perancangan Unit Pengolahan Limbah

I.Tujuan

1.1 Merancang dan merekayasa unit pengolahan limbah cair

II.Tinjauan Pustaka

1. Pengolahan Secara Fisika

Pada umumnya, sebelum dilakukan pengolahan lanjutan terhadap air limbah, bahan-

bahan tersuspensi dalam air limbah yang berukuran besar dan yang mudah mengendap atau

bahan-bahan yang terapung disisihkan terlebih dahulu. Tahap penyaringan (screening) merupakan

cara yang efisien dan murah untuk menyisihkan bahan tersuspensi yang berukuran besar biasanya

dengan menggunakan sand filter dengan ukuran silica yang disesuaikan dengan bahan-bahan

tersuspensi yang akan disaring.

Bahan tersuspensi yang mudah mengendap dapat disisihkan secara mudah dengan proses

pengendapan. Pada proses ini bisa dilakukan tanpa tambahan bahan kimia tapi dalam kondisi

tertentu, dimana bahan-bahan terususpensi sulit diendapkan maka akan digunakan bahan kimia

sebagai bahan pembantu dalam proses sedimentasi. Pada proses ini akan terjadi pembentukan

flok-flok dalam ukuran tertentu yang lebih besar sehingga mudah diendapkan. Proses flotasi

banyak digunakan untuk menyisihkan bahan-bahan yang mengapung seperti minyak dan lemak

agar tidak mengganggu proses pengolahan berikutnya. Flotasi juga dapat digunakan sebagai cara

penyisihan bahan-bahan tersuspensi (clarification) atau pemekatan lumpur endapan (sludge

thickening) dengan memberikan aliran udara ke atas (air flotation).

2. Pengolahan Secara Biologis Pengolahan air buangan secara biologis adalah salah satu cara pengolahan yang

diarahkan untuk menurunkan atau menyisihkan substrat tertentu yang terkandung dalam air

buangan dengan memafaatkan aktivitas mikroorganisme untuk melakukan perombakan substrat

tersebut. Proses pengolahan air buangan secara biologis dapat berlangsung dalam tiga lingkungan

utama, yaitu :

* Lingkungan aerob, yaitu lingkungan dimana oksigen terlarut (DO) didalam air cukup banyak,

sehingga oksigen bukan merupakan faktor pembatas;

* Lingkungan anoksik, yaotu lingkungan dimana oksigen terlarut (DO) didalam air ada dalam

konsentrasi yang rendah.

* Lingkungan anaerob, merupakan kebalikan dari lingkungan aerob, yaitu tidak terdapat

oksigen terlarut, sehingga oksigen menjadi faktor pembatas berlangsungnya proses

metabolisme aerob.

3. Pengolahan Secara Kimia

Pengolahan air buangan secara kimia biasanya dilakukan untuk menghilangkan partikel-

partikel yang tidak mudah mengendap (koloid), logam-logam berat, senyawa fosfor dan zat

organik beracun dengan membubuhkan bahan kimia tertentu yang diperlukan. Penyisihan bahan-

bahan tersebut pada prinsipnya berlangsung melalui perubahan sifat bahan-bahan tersebut, yaitu

dari tak dapat diendapkan menjadi mudah diendapkan (flokulasi-koagulasi), baik dengan atau

tanpa reaksi oksidasi-reduksi, dan juga berlangsung sebagai hasil reaksi oksidasi.

III.Alat dan Bahan

3.5 Alat -Bak Prototipe

-Media

-Aerator

-Batu Aerator

-Selang

-Pompa

3.6 Bahan -Starter

-Air

-NPK

IV.Cara Kerja

Pada praktikum rekayasa dan perancangan, praktikan diberikan kebebebasan untuk merancang

dan merekayasa system pengolahan limbah cair nya sendiri per kelompok.Per kelompok akan diberikan

bak 3 prototype.Kemudian dilakukan pengamatan seperti pada materi ke dua.

(Contoh)

Recommended

View more >