Newcastle Disease

  • Published on
    18-Dec-2015

  • View
    2

  • Download
    1

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Newcastle Disease merupaka penyakit yang menyerang unggas yang dapat menimbukan kerugian besar pada suatu peternakan

Transcript

<p>BAB IPENDAHULUAN</p> <p>1.1 Latar BelakangDalam suatu usaha peternakan, keberhasilan dan keuntungan merupakan sasaran utama. Namun untuk mencapai tujuan tersebut harus dilaksanakan pengelolaan sistem peternakan yang efisien seperti pengawasan ternak terhadap serangan penyakit, pengaturan nutrisi yang optimal, dan sanitasi lingkungan yang selalu terkontrol. Saat ini usaha pengendalian penyakit yag disebabkan oleh virus telah mendapat perhatian serius dari kalangan ilmuwan seperti usaha vaksinasi. Namun masih ada kendala yang mampu menurunkan efisiensi produktivitas ternak, diantaranya penyakit Newcastle Disease (ND).Penyakit Newcastle atau lebih popular dikenal sebagai Newcastle Disease (ND) adalah merupakan salah satu penyakit ayang yang penting di Indonesia karena dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar berupa kematian ayam dengan prosentase tinggi sehingga peternak harus bisa mengetahui sedini mungkin apabila unggasnya terserang oleh virus ini agar dapat melakukan pengendalian atau pencegahan agar tidak menular ke unggas yang lain serta perlu dilakukan pengendalian agar peternakannya bebas dari virus ND ini sehingga dapat memberi keuntungan bagi peternak1.2 Rumusan Masalah1.2.1 Apa Pengertian luas dari ND?1.2.2 Bagaimana Etiologi Newcastle Disease?1.2.3 Bagaimana Epidemiologi ND?1.2.4 Bagaimana Siklus Hidup dan Mekanisme Infeksi Virus ND?1.2.5 Bagaimana Gejala Klinis Newcastle Disease?1.2.6 Bagaimana Pencegahan Newcastle Disease1.3 Tujuan PenulisanUntuk memenuhi tugas dari mata kuliah Manajemen dan Penyakit Unggas serta untuk mengetahui lebih dalam mengenai Penyakit Newcastle Disease agar mahasiswa khususnya Fakultas Kedokteran Hewan dapat memahami dengan baik penyakit tersebut sehingga dapat melakukan tindakan yang tepat apabila menemui kasus tersebut</p> <p>1.3 Metode PenulisanMetode yang digunakan dalam penulisan paper ini adalah dengan menggunakan metode studi pustaka, yaitu penulis mencari materi dari berbagai literature seperti buku dan internet.</p> <p>BAB IIPEMBAHASANSurvei: Nama Peternakan : Kusumanaya FarmNama pemilik: Bapak KusumanayaAlamat : Banjar Kanginan, Desa Penebel, TabananNo Telp.:081999084995 Menurut Kusumanaya selaku pemilik Kusumanaya Farm mengatakan penyakit virus yang sering terjadi di peternakannya adalah AI, ND, gumboro, ILT, dan Coryza. Akan tetapi, pemilik peternakan ini mengatakan apabila unggasnya terinfeksi oleh virus khususnya ND tidak Nampak gejala klinis yang timbul, tiba-tiba keesokann harinya ditemukan beberapa unggas yang mati. Berdasarkan hal tersebut, saya membahas lebih lanjut mengenai penyakit ND agar peternak serta mahasiswa kedokteran hewan UNUD dapat mengetahui sedini mungkin apabila terdapat ternak yang terinfeks ND sehingga dapat melakukan tindakan-tindakan yang tepat guna menekan angka kematian serta kerugia.2.1 PengertianPenyakit Newcastle atau lebih popular dikenal sebagai Newcastle Disease (ND) adalah merupakan salah satu penyakit ayang yang penting di Indonesia karena dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar berupa kematian ayam dengan prosentase tinggi (Wibowo et all, 2010). Infeksi ND pada ayam buras dapat menyebabkan kematian mencapai 60% dari populasi, oleh karenanya sangat menghambat perkembangan ayam buras di Indonesia. Di Indonesia penyakit ND dikenal pula dengan sebutan penyakit tetelo, sedangkan di Bali lebih dikenal dengan istilah penyakit gerubug. Kejadian penyakit bersifat akut sampai kronis, dapat menyerang semua jenis unggas terutama ayam, baik ayam ras maupun ayam bukan ras (buras). Oleh karena itu kasus ND merupakan ancaman serius bagi industri peternakan di Indonesia (Santhia, 2003 dalam Kencana et all, 2012).</p> <p> Penyakit ND disebabkan oleh Avian Paramyxovirus type-1 (APMV-1), genus Avulavirus famili Paramyxoviridae, merupakan virus RNA dengan genom serat tunggal (single stranded/ss) dan berpolaritas negatif. Famili Paramyxoviridae berbentuk pleomorfik, biasanya berbentuk bulat dengan diameter 100-500 nm, namun ada pula yang berbentuk filamen, dan beramplop. Ada sembilan serotype dari avian Paramyxovirus yaitu APMV-1 sampai APMV-9 (OIE, 2002 dalam Kencana et all, 2012).</p> <p> Berdasarkan atas virulensinya, virus ND (VND) dikelompokkan menjadi tiga patotype yaitu: lentogenik adalah strain virus yang kurang virulen, mesogenik merupakan strain virus dengan virulensi sedang, dan velogenik adalah strain virus ganas. Strain velogenik dibedakan lagi menjadi bentuk neurotrofik dengan gejala gangguan saraf dan kelainan pada sistem pernafasan, dan bentuk viserotrofik yang ditandai dengan kelainan pada sistem pencernaan (Aldous dan Alexander, 2001 dalam Kencana et all, 2012).</p> <p> Kerugian akibat penyakit ND disebabkan karena angka kesakitan (morbiditas) maupun angka kematian (mortalitas) pada ternak unggas yang sangat tinggi. Mortalitas maupun morbiditas dapat mencapai 50-100% akibat infeksi VND strain velogenik terutama pada kelompok ayam yang peka, 50% pada strain mesogenik, dan 30% pada infeksi virus strain velogenik (Tabbu, 2000 dalam Kencana et all, 2012).2.2 Etiologi Newcastle DiseasePenyakit tetelo disebabkan oleh virus yang berukuran 100-250 nm, yang tersusun dari Asam Inti Ribonukleat (ARN) atau sering disebut Ribonucleic Acid (RNA), protein dan lemak . Virus ini termasuk dalam Famili Paramyxoviridae dengan genera Genus Pneumovirus atau Genus Paramyxovirus (PMV.Genus Paramyxovirus mempunyai 9 serogroup, yaitu Paramyxovirus-1 sampai Paramyxovirus-9 dalam Saepulloh et all, 2005).Serogroup yang paling penting dan paling patogen pada ayam adalah Paramyxovirus-1 (dengan prototype Newcastle Disease Virus), Paramyxovirus-2 dan Paramyxovirus-3. Serogroup lainnya yaitu Paramyxovirus-4,Paramyxovirus-5, Paramyxovirus-5, Paramyxovirus-6,Paramyxovirus-7, Paramyxovirus-8 dan Paramyxovirus-9 pada umumnya menyerang itik,angsa, merpati, betet, dan beberapa jenis burung Iainnya (ALEXANDER, 1991) . Pada Tabel 1,ditampilkan jenis jenis unggas sebagai induk semang dari masing-masing serogroup Paramyxovirus .Serogroup Paramyxovirus-1 dengan prototipeNewcastle Disease Virus (NDV) adalah penyebab penyakit tetelo pada ayam yang utama . Virus prototype ini mempunyai sifat hayati dapat menggumpalkan (haemagglutination) sel-sel darah merah ayam, selain itu virus ini mengeluarkan toksin dan hemolisin. Di alam, serogroupParamyxovirus-1 berdasarkan sifat keganasan (Virulensi) yang ditimbulkannya dibagi dalam 3 galur,yaitu galur velogenik yang sifat keganasannya sangat tinggi, galur mesogenik yang sifat keganasannya sedang dan galur lentogenik yang sifat keganasannya rendah atau sama sekali tidak ganas (ALEXANDER,1982; PALMIERI, 1989; PAREDE dan YOUNG, 1990 dalam Saepulloh et all, 2005) . Galur velogenik dapat menyebabkan angka kematian (mortalitas) cukup tinggi yaitu dapat mencapai 80-100% (AINI dan IBRAHIM, 1990 ; RONOHARDJO, 1993 dalam Saepulloh et all, 2005), galur mesogenik menyebabkan kematian sekitar 10% dan ayam yang tidak mati produksi telurnya turun serta terjadi hambatan pertumbuhan, sedangkan galur lentogenik tidak menyebabkan kematian atau tidak menimbulkan gangguan kesehatan ayam yang berarti (ALEXANDER, 1982 dalam Saepulloh et all, 2005).Penyebab perbedaan keganasan diantara galur Paramyxovirus tersebut belum jelas, namun salah satunya adalah terletak pada cepat atau lambatnya perbanyakan (multiplication) virus yang bersangkutan (RUSSEL, 1993 dalam Saepulloh et all, 2005) . Semakin cepat virus tersebut berkembang biak, maka sifatnya akan semakin ganas (virulen) . Untuk menentukan penggolongan galur virus di lapangan dapat dilakukan dengan uji patogenitas (pathogenicity test) (OzAI et al., 1987 dalam Saepulloh et all, 2005) . Penentuan galur virus berdasarkan keganasannya dilakukan dengan menyuntikkan (inokulasi) virus lapang pada kantong alantois telur tertunas (telur berembrio). Lamanya waktu kematian atau " Mean Death Time" (MDT) dari embrio ini yang menentukan keganasannya (ALLAN et al., 1978 dalam Saepulloh et all, 2005). Apabila embrio mati kurang dari 60 jam setelah inokulasi virus, ini berarti virus bersangkutan termasuk galur velogenik, kematian embrio antara 60-90 jam termasuk galur mesogenik dan embrio mati setelah 90 jam maka virus lapang tersebut termasuk galur lentogenik (ALLAN et al ., 1978 ; OZAI et al., 1987 dalam Saepulloh et all, 2005). Penentuan galur virus ini dapat juga dilakukan dengan menggunakan uji patogenitas lainnya, yaitu dengan Intracerebral Pathogenicity Index (ICPI) pada anak ayam umur sehari (day old chick) atau dengan Intra venous Pathogenicity Index (IVPI) pada anak ayam umur 6 hari. Apabila pada uji ICPI memperoleh nilai 1,20-1,60 dan pada uji IVPI memperoleh nilai 1,00-1,45, maka virus bersangkutan termasuk galur mesogenik, bilanilainya lebih tinggi termasuk virus galur velogenik dan sebaliknya bila lebih rendah termasuk galur lentogenik (ALEXANDER, 1991 dalam Saepulloh et all, 2005) .2.3 Epidemiologi Newcastle DiseaseDi Indonesia, penyakit ND bersifat endemis, yang ditandai dengan kejadianpenyakit yang ditemukan sepanjang tahun. Penyakit ND bersifat akut sampai kronis ditandai dengan angka sakit (morbidiatas) maupun angka kematian (mortalitas) yang sangat tinggi. Pada kelompok ayam yang peka kejadian penyakit berlansung cepat ditandai dengan mortalitas maupun morbiditasnya tinggi, dapat mencapai 100% terutama akibat infeksi NDV strain velogenik, dan 30-50% pada strain mesogenik (Tabbu, 2000). Sementara virus ND lentogenik umumnya menimbulkan gejala klinis yang ringan atau tanpa gejala klinis sehingga banyak yang dipakai untuk vaksin.2.4 Siklus Hidup dan Mekanisme Infeksi Virus NDProtein HN berperan dalam tahap penempelan virus ND pada reseptor sel inang atau induk semang yang mengandung sialic acid (NAGAY, 1993 dalam Hewajuli 2011). Molekul sialic acid ini adalah glycoprotein dan glycolipid. Penempelan virus dilakukan dengan penyatuan virus dan membran sel yang diperantarai oleh protein F.Virus RNA kemudian dilepaskan dalam sitoplasma dan terjadi replikasi Gambar 2, (FERREIRA et al., 2004 dalam Hewajuli 2011). Envelope virus masuk ke dalam sel melalui 2 jalan utama yaitu pertama, penyatuan secara langsung antara envelope virus dengan membran plasma dan kedua, diperantarai oleh reseptor endositosis. Penetrasi virus melalui reseptor endositosis tergantung pada kondisi pHnya. Pada paramyxoviruses, proses penyatuan membran virus dengan membran plasma inang atau induk semang tidak tergantung pH (SAN ROMAN et al., 1999 dalam Hewajuli 2011). Walaupun demikian, hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penyatuan virus ND dengan sel mampu meningkatkan pH. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa penetrasi virus ND pada sel inang melalui reseptor endositosis juga dipengaruhi oleh kondisi pH.Kepekaan sel terhadap virus ND yang tidak virulen dipengaruhi oleh beberapa faktor. Sel tersebut harus mempunyai reseptor yang cocok sehingga virus dapat melakukan penempelan dan masuk ke dalam sel. Disamping itu, sel tersebut juga harus memiliki tripsin yang menyerupai protease dimana enzim ini berperan dalam pemecahan protein F0 menjadi F1 dan F2. Penyebaran reseptor sel pada ayam yang peka terhadap virus ND bentuk tidak virulen bersifat terbatas dan hanya ditemukan pada saluran pencernaan dan saluran pernafasan bagian atas (ALEXANDER, 1991 dalam Hewajuli 2011). Sedangkan virus bentuk virulen tidak selalu memerlukan enzim protease dan replikasi virus biasanya terjadi di sebagian besar jaringan induk semang. Replikasi virus yang terjadi di limfosit.menghasilkan suatu respon imun dan produksi antigen virus yang cukup dibutuhkan untuk meningkatkan efektivitas sistem imun. Di dalam saluran pencernaan terdapat faktor-faktor nonspesifik yang mempengaruhi replikasi virus ND. Enzim protease dan pH yang bervariasi mempunyai pengaruh dalam proses penempelan virus pada reseptor sel. Dimana keberadaan tripsin pada beberapa bagian saluran pencernaan dapat mengaktifkan virus ND bentuk tidak virulen setelah virus tersebut dilepaskan dari sel yang kekurangan enzim protease (Hewajuli. 2011).Penelitian untuk menentukan tempat awal replikasi virus ND setelah diinfeksi virus V4 secara oral yang dilakukan oleh BOUZARI dan SPARDBROW (2006) menunjukkan hasil bahwa virus dapat diisolasi dari esophagus, tembolok dan trakea setelah 24 jam pascainokulasi virus V4 melalui mulut pada ayam umur3 minggu. Tetapi jumlah virus yang ditemukan pada organ tersebut lebih sedikit jika dibandingkan dengan organ proventrikulus. Virus V4 juga tidak dapat diisolasi dari organ pencernaan lain dan darah. Meskipun demikian, virus dapat dideteksi pada jejunum, ileum dan caecum pada 6 hari setelah diinfeksi virus V4 melalui tembolok, virus juga dapat ditemukan dalam darah pada 4 hari pascainfeksi. Antigen virus ND dideteksi pada sebagian besar sel epitel saluran pencernaan serta limfosit dan makrofag ditemukan pada lamina propia beberapa jaringan. Hasil penelitian di atas memperlihatkan bahwa tempat awal replikasi virus ND terutama terjadi di saluran pencernaan bagian atas yaitu esophagus, tembolok dan proventrikulus apabila virus ND diinfeksikan melalui mulut, sedangkan replikasi virus ND pada saluran pencernaan bagian bawah yaitu duodenum, jejunum, ileum dan caecum kemungkinan terjadi sebagai akibat viremia (Hewajuli. 2011).</p> <p>2.5 Gejala Klinis Newcastle DiseaseGejala klinis yang terlihat pada penderita sangat bervariasi, dari yang sangat ringan sampai yang terberat. Berikut ini dijelaskan kemungkinan gejala-gejala klinis pada ungggas penderita penyakit ND. Bentuk Velogenik-viscerotropik : bersifat akut, menimbulkan kematian yang tinggi, mencapai 80 100%. Pada permulaan sakit napsu makan hilang, mencret yang kadang-kadang disertai darah, lesu, sesak napas, megap-megap, ngorok, bersin, batuk, paralisis parsial atau komplit, kadang-kadang terlihat gejala torticalis. Bentuk Velogenik-pneumoencephalitis : gejala pernapasan dan syaraf, seperti torticalis lebih menonjol terjadi daripada velogenik-viscerotropik. Mortalitas bisa mencapai 60 80 %. Bentuk Mesogenik : pada bentuk ini terlihat gejala klinis berupa gejala respirasi, seperti : batuk, bersin, sesak napas, megap-megap. Pada anak ayam menyebabkan kematian sampai 10%, sedangkan pada ayam dewasa hanya berupa penurunan produksi telur dan hambatan pertumbuhan, tidak menimbulkan kematian. Bentuk Lentogenik : terlihat gejala respirasi ringan saja, tidak terlihat gejala syaraf. Bentuk ini tidak menimbulkan kematian, baik pada anak ayam maupun ayam dewasa. Bentuk asymptomatik : pada galur lentogenik juga sering tidak memperlihatkan gejala klinis.Gejala klinis anak ayam dan ayam fase bertelur penderita ND dijelaskan sebagai berikut (a) Pada anak ayam, ditemukan penderita mati tiba-tiba tanpa gejala penyakit. Pernapasan sesak, batuk, lemah, napsu makan menurun, mencret dan berkerumun. Terlihat gejala syarafi berupa paralisis total atau parsial. Penderita mengalami tremor atau kejang otot, bergerak melingkar dan jatuh. Sayap terkulai dan leher terputar (torticolis). Mortalitas pada penderita bervariasi. (b) pada ayam fase produksi, um...</p>