Panji Si Pelukis Cilik

  • Published on
    17-Jan-2016

  • View
    1

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

This is a story for kids ;)

Transcript

<p>Dongeng</p> <p>PANJI SI PELUKIS CILIK</p> <p>Oleh Ika Nov</p> <p>Pada zaman dahulu kala, di sebuah hutan yang lebat, tinggallah seorang anak bernama Panji. Panji yang yatim piatu hanya hidup bersama kakeknya yang sudah tua renta di sebuah rumah tua. Kakek Panji sangat menyayangi Panji, begitu juga dengan Panji. Meskipun tinggal di sebuah hutan yang jauh dari keramaian, Panji memiliki impian yang sangat besar, yaitu menjadi pelukis terkenal. Panji ingin sekali membahagiakan kakeknya. Panji ingin tinggal di rumah dengan halaman yang luas serta membelikan banyak makanan yang lezat untuk kakeknya setiap hari. Kakek Panji selalu mengajarkan padanya agar jangan mudah menyerah dalam menggapai impian. Maka, dengan tekat yang kuat, Panji rela menembus hutan belantara dan bersiap untuk menghadapi serangan hewan buas di hutan demi menuju kota untuk menggapai mimpinya.</p> <p>Tunggu aku ya kakek...aku akan pulang dengan membawa banyak makanan yang lezat...! teriak Panji sambil melambaikan tangannya pada kakek saat berangkat. Kakek hanya dapat berdo'a dan melepas Panji dengan senyum bercampur haru.</p> <p> Panji mengikat kuat beberapa lukisan karyanya di punggung dan melangkah pasti masuk kedalam hutan. Panji hanya membawa beberapa bambu runcing sebagai senjata. Beberapa saat kemudian, Panji mendengar sesuatu. Panji mendengar jeritan manusia. Dengan berlari-lari kecil, Panji mencari sumber bunyi itu dan sampailah dia di mulut gua yang amat besar. Panji pun masuk ke dalam dan jeritan yang ia dengar semakin jelas.</p> <p>Tolong...tolong...! suara itu menggema di seluruh gua.</p> <p>Panji pun kaget saat mengetahui bahwa jeritan tadi berasal dari seorang gadis seumuran dirinya yang sedang terikat di dalam gua. Panji mendekat dan membantu gadis kecil itu melepaskan ikatan ditubuhnya. </p> <p>Namaku Sekar, terima kasih telah menyelamatkanku, kata Sekar pada Panji.</p> <p>Namaku Panji, balas Panji.</p> <p>Tolong aku, antarkan aku pulang pada ayahku, pinta Sekar memohon.</p> <p>Panji bingung, dia harus pergi ke kota untuk mewujudkan mimpinya, tetapi ia juga kasihan dengan Sekar. Akhirnya Panji memutuskan untuk membantu Sekar bertemu dengan ayahnya. Dia tidak boleh memikirkan diri sendiri secara berlebihan, itu jugalah yang diajarkan kakek padanya.</p> <p>Namun, sesaat setelah keluar dari dalam gua, mereka mendengar geraman suara yang menyeramkan. Mereka melangkah pelan-pelan dan waspada. Tiba-tiba, ada sesuatu yang melompat cepat dari atas gua. Seketika itu juga, mereka melihat ke atas. Akan tetapi, macan kumbang yang amat besar dan buas itu kini sudah berada di hadapan mereka. Sekar hanya dapat berteriak ketakutan, bersembunyi dibalik tubuh Panji. </p> <p>Sementara macan buas itu terus mengaum kencang, diam-diam Panji mengambil salah satu bambu runcing dari buntalan yang dia bawa. Dengan sigap Panji melempar bambu runcing itu jauh melesat. Ternyata hal itu berhasil megalihkan perhatian si macan selama beberapa saat. Dengan lincah Panji manarik Sekar bersembunyi di balik semak-semak rimbun tak jauh dari tempat semula. Macan buas itu terus melihat sekeliling, namun tak menyadari bahwa Panji dan sekar ada disana. </p> <p>Dengan penuh kewaspadaan, Panji terus menuggu kesempatan untuk kabur dari Macan buas itu. </p> <p>Sekar, kamu tunggu disini dan jangan bersuara. Aku akan berusaha mengalihkan perhatiannya, perintah Panji pada Sekar. Sekar hanya dapat mengangguk cemas.</p> <p>Panji mulai keluar dari semak-semak dan berlari beberapa meter dari macan. Ia berencana untuk bersembunyi di balik pohon, namun si macan buas itu malihatnya. Si macan langsung berlari dan melompat ke arah Panji. Secara spontan, Panji mengambil satu lagi bambu runcing miliknya dan menancapkannya diantara kedua rahang si macan. Si macan pun tak dapat menggigit tubuh Panji. Namun cakar si macan masih bebas dan siap menyambar tubuh Panji.</p> <p>JLEP! sebuah panah menancap pada tubuh si macan dan macan itu pun tumbang.</p> <p>Kemudian datanglah pasukan berkuda, merekalah yang menyelamatkan Panji. Ternyata mereka adalah raja dan para pengawalnya.</p> <p>Ayah...! teriak Sekar keluar dari persembunyiannya.</p> <p>Ternyata Sekar adalah anak dari raja yang amat tersohor. Sekar pun bercerita tentang Panji yang menyelamatkannya. Raja sangat salut pada keberanian Panji. Raja juga melihat lukisan-lukisan karya Panji dan ia sangat kagum pada karyanya. Raja lalu menawarkan Panji untuk menjadi pelukis cilik di istananya. Panji bersedia ikut apabila kakeknya juga ikut, dan raja pun mengangguk tanda setuju.</p> <p>Kini Panji telah menjadi pelukis cilik yang amat terkenal di istana dan juga di seluruh kota. Ia dapat mengajak kakeknya tinggal di istana yang megah dengan halaman yang amat luas. Ia juga dapat mempersembahkan makanan yang lezat pada kakeknya setiap hari. Impian Panji telah terwujud.</p> <p>BIODATA</p> <p>Nama</p> <p>: Ika Noviana Pristianti</p> <p>Nama pena: Ika Nov</p> <p>Alamat</p> <p>: Jl.Cakraningrat RT.01/RW.05</p> <p> Sutojayan-Lodoyo</p> <p> Blitar-Jatim. 66172</p> <p>No. HP</p> <p>: 08563485548</p> <p>E-mail</p> <p>: ikanoviana@yahoo.comNo.Rek</p> <p>: 3502-01-031154-53-4</p> <p>Atas nama: IKA NOVIANA PRISTIANTI</p> <p> 3502 Unit Sutojayan Blitar</p>