Paradigma Heddy

  • Published on
    06-Feb-2016

  • View
    24

  • Download
    3

Embed Size (px)

DESCRIPTION

teori

Transcript

I

makalah

pelatihan

2007PARADIGMA, EPISTEMOLOGIDAN METODE

ILMU SOSIAL-BUDAYA- SEBUAH PEMETAAN -.

Heddy Shri Ahimsa-Putra

Antropologi Budaya

Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Gadjah Mada

Makalah disampaikan dalam pelatihan Metodologi Penelitian, diselenggarakan oleh CRCS UGM, di Yogyakarta,

12 Februari 19 Maret 2007PARADIGMA, EPISTEMOLOGI DAN METODE

ILMU SOSIAL-BUDAYA- SEBUAH PEMETAAN -

Heddy Shri Ahimsa-Putra

Antropologi Budaya

Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Gadjah Mada

I. PENGANTAR

Sudah sering, bahkan sangat sering, kita mendengar istilah-istilah: teori, kerangka teori dan paradigma. Dalam berbagai forum diskusi, lokakarya dan seminar tentang metode penelitian, istilah-istilah tersebut tidak pernah lupa di-sebut. Namun demikian, tidak setiap orang yang pernah menggunakan istilah-istilah ini dalam diskusi ataupun tulisan-tulisannya dapat menjelaskan makna istilah-istilah tersebut dengan baik dan memuaskan. Bahkan dari pertemuan saya dengan banyak ilmuwan sosial-budaya, saya mendapat kesan bahwa me-reka umumnya tidak merasa perlu memahami arti istilah-istilah ini dengan baik, karena semua orang dianggap telah mengetahui maknanya.

Anggapan ini tentu saja banyak melesetnya, karena dalam kenyataannya masih banyak ilmuwan kita yang tidak memahami dan tidak berupaya mema-hami dengan lebih baik arti istilah-istilah tersebut. Memang ada orang yang berpendapat bahwa memberikan definisi-definisi yang jelas dan ketat pada isti-lah-istilah tertentu dalam kegiatan ilmiah dianggap tidak begitu penting, karena definisi dianggap dapat menghambat gerak atau aktivitas keilmuannya. Selain itu, ada pula yang berpendapat bahwa kemajuan ilmu pengetahuan tidak diten-tukan oleh jelasnya pengertian istilah-istilah yang digunakan. Dua pendapat ini jelas salah saya kira.

Bagaimanapun juga pendefinisian atas istilah-istilah tertentu, apalagi yang berasal dari bahasa asing (seperti teori, metodologi dan paradigma), tetaplah penting. Jika pendefinisian ini dirasakan terlalu sulit, maka minimal apa-apa yang terkandung dalam istilah-istilah tersebut harus kita ketahui. Artinya, kita harus mengetahui unsur-unsur yang terdapat dalam suatu istilah. Misalnya sa-ja, kalau kita merasa sangat kesulitan mendefinisikan atau mengatakan apa yang kita maksud sebagai teori, paling tidak kita harus mengetahui apa saja unsur-unsur yang terdapat dalam sebuah teori, sehingga kalau ada sesuatu yang disodorkan kepada kita, kita bisa mengatakan apakah yang disodorkan tersebut sebuah teori atau bukan.

Sikap kebanyakan ilmuwan kita -terutama ilmuwan sosial-budaya-, yang cenderung menganggap definisi tidak begitu penting dan sulit menerima defi-nisi orang lain tanpa kemudian berusaha merumuskan definisinya sendiri, telah membuat proses pengembangan teori dan proses konseptualisasi dalam ilmu sosial-budaya di Indonesia berjalan begitu lambat. Definisi-definisi pada dasar-nya merupakan salah satu batu fondasi penting bagi perkembangan ilmu pe-ngetahuan. Akibat dari diabaikannya pendefinisian konsep-konsep penting da-lam ilmu sosial-budaya adalah tidak banyaknya perkembangan teoritis dan konseptual dunia ilmu pengetahuan di Indonesia terutama ilmu sosial-budaya.

Ini sangat berbeda dengan di dunia Barat, tempat ilmu pengetahuan sosial-budaya berkembang dengan pesat. Setiap konsep yang akan digunakan dalam penelitian selalu diupayakan pendefinisiannya agar dengan demikian dapat di-ketahui seperti apa wujudnya dalam realitas empiris atau dalam realitas kon-septual (dalam pikiran). Setiap definisi kemudian diuji ketepatannya, kemanfa-atannya untuk analisis, untuk memahami gejala yang dipelajari. Apabila ternya-ta konsep tersebut kurang bermanfaat, definisi akan diubah atau dipertajam, atau dimunculkan konsep lain yang dianggap akan lebih bermanfaat, lebih me-mungkinkan ilmuwan memahami gejala yang dipelajari. Hal semacam ini terli-hat jelas dalam perdebatan teoritis dan konseptual dalam tulisan-tulisan di ber-bagai jurnal ilmiah, serta dari munculnya kamus-kamus, ensiklopedi, yang isi-nya adalah penjelasan-penjelasan tentang makna berbagai macam konsep il-miah yang telah dikemukakan oleh para ilmuwan di masa-masa yang lalu, dan kalau mungkin hingga yang paling mutakhir.

Kemandegan perkembangan pemikiran di Indonesia tercermin dari sangat se-dikitnya -untuk tidak mengatakan tidak ada- perdebatan di kalangan ilmu-wan sosial-budaya tentang konsep-konsep yang mereka gunakan di berbagai jurnal ilmiah. Jurnal-jurnal umumnya hanya berisi hasil-hasil penelitian, yang walaupun mungkin bermanfaat untuk pemahaman masalah-masalah tertentu, namun sumbangan teoritisnya tidak pernah dipikirkan. Masing-masing ilmuwan tampak muncul dengan pemikirannya sendiri-sendiri dan tidak mengaitkannya dengan pemikiran ilmuwan yang lain. Tidak terlihat upaya-upaya untuk mem-pertanyakan kembali berbagai macam istilah atau konsep yang digunakan, ataupun meninjau lagi manfaatnya bagi analisis. Sangat sedikitnya kamus-kamus ilmu sosial-budaya serta ensiklopedi ilmu-sosial-budaya merupakan petunjuk lain yang sangat dari lambatnya perkem-bangan pemikiran dalam ilmu-ilmu sosial-budaya di Indonesia. Sangat mungkin hal ini disebabkan oleh masih sangat sedikitnya ilmuwan sosial-budaya di Indo-nesia, sangat mungkin pula oleh ketidak-tahuan di kalangan mereka tentang dasar-dasar ilmu pengetahuan, tentang hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri dan pertumbuhannya, serta tentang tujuan dan manfaat ilmu pengetahuan se-macam itu. Jika hal yang kedua yang terjadi, maka mungkin tidak akan terjadi pertumbuhan ilmu sosial-budaya yang evolutif, dari dalam, yang berasal dari kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia sendiri. Dalam tulisan ini saya menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai metode-metode dalam penelitian ilmu sosial-budaya seharusnya -dan sebaiknya me-mang- dikaitkan dengan pembicaraan mengenai unsur-unsur lain dalam suatu paradigma. Sayangnya, hal semacam ini umumnya tidak terjadi. Banyak ilmu-wan sosial-budaya yang tidak mengetahui dengan baik dan sistematis keter-kaitan antar unsur-unsur dalam paradigma ini, sehingga penelitian dan pe-ngembangan ilmu sosial-budaya di Indonesia kemudian selalu mengekor pada perkembangan ilmu pengetahuan alam, dan cenderung mempertahankan ke-pengekoran tersebut.

II. TEORI, KERANGKA TEORI DAN PARADIGMA Istilah teori adalah istilah yang sangat biasa kita dengan sehari-hari, baik di lingkungan akademik maupun bukan. Biasanya orang mempertentangkan isti-lah teori dengan praktek, sehingga seringkali kita mendengar orang berkata :Ah... itu kan cuma teori. Prakteknya kan lain. Teori di sini menjadi suatu hal yang seharusnya, sebaiknya, seyogyanya. Jadi adanya dalam angan-angan, bukan dalam kenyataan; sedang praktek adalah apa yang sebenarnya terjadi, dilakukan atau diwujudkan. Oleh karena itu praktek adalah kenyataan-nya, bukan idealnya atau sebaiknya. Dalam pembicaraan kita di sini yang di-maksud dengan teori bukanlah yang seperti itu, walaupun teori tersebut me-mang masih berada dalam dunia angan-angan atau pemikiran.

a. Teori Teori di sini diartikan sebagai suatu pernyataan, pendapat atau pandang-an tentang (a) hakekat suatu kenyataan atau suatu fakta, atau tentang (b) hubungan antara kenyataan atau fakta tersebut dengan kenyataan atau fakta yang lain, dan kebenaran pernyataan tersebut telah diuji melalui me-tode dan prosedur tertentu. Jika pengujian ini dilakukan melalui metode dan prosedur (atau cara dan tata-urut) ilmiah, maka teori tersebut dikatakan seba-gai teori yang ilmiah atau teori ilmu pengetahuan, sedang kalau pengujiannya dilakukan tidak dengan menggunakan dan mengikuti prosedur ilmiah tadi, ma-ka teori tersebut akan dianggap sebagai teori yang tidak ilmiah dan karenanya tidak harus diyakini kebenarannya.

Jadi, sebuah teori bisa merupakan pandangan tentang hakekat suatu ke-nyataan atau gejala, seperti misalnya masyarakat, kebudayaan, kepribadi-an, kesenian, agama atau gejala yang lain. Teori tentang masyarakat misal-nya memaparkan berbagai hal tentang masyarakat tersebut, seperti ciri-cirinya, unsur-unsurnya, sifat-sifatnya, dan sebagainya. Tujuan teori ini adalah untuk menuntun penelitian tentang masyarakat itu sendiri. Ketika penelitian mengenai masyarakat mulai dilakukan, para peneliti mungkin akan menemukan berbagai gejala sosial-budaya yang belum dibicarakan atau belum tercakup dalam teori masyarakat yang lama. Jika ini yang terjadi, teori masyarakat yang lama terse-but akan ditinjau kembali, kemudian diperbaiki atau ditinggalkan sama sekali. Di sini akan muncul sebuah teori masyarakat yang baru.

Banyak teori telah dikembangkan dalam ilmu sosial-budaya. Berdasarkan cakupannya, teori-teori ini dapat dibagi menjadi tiga, yakni teori-teori besar (grand theories), teori-teori menengah (middle range theories) dan teori-teori kecil (small theories). Teori-teori besar adalah teori-teori yang dianggap dapat menjelaskan gejala-gejala sosial-budaya tertentu di semua masyarakat atau kebudayaan, sehingga teori-teori semacam ini biasanya sangat abstrak. Teori-teori menengah diangap dapat menjelaskan gejala-gejala sosial-budaya pada sejumlah masyarakat yang relatif sejenis. Teori-teori ini lebih sempit cakupan-nya daripada teori-teori yang besar, namun di lain pihak juga terasa lebih kong-krit. Teori-teori kecil lebih sempit lagi cakupannya, namun juga paling jelas ke-terkaitannya dengan realitas empiris. Teori-teori besar dalam ilmu sosial-budaya umumnya merupakan teori-teori mengenai hakekat dari kenyataan atau suatu gejala sosial-budaya tertentu, seperti misalnya teori tentang masyarakat dari Emile Durkheim, teori tentang tindakan sosial dari Talcott Parsons, teori kebudayaan dari E.B.Tylor, teori ke-pribadian dari Sigmund Freud, teori masyarakat dari Max Weber, teori tentang mitos dari Lvi-Str