Pariwara Vol 35 tahun 2018 - IPB Vol 035 Tahun... · Ayam Ciparage, Ayam Tolaki, Ayam Tukong, Ayam…

  • Published on
    11-Mar-2019

  • View
    213

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

<p>Media Komunikasi InternalInstitut Pertanian Bogor</p> <p>Penanggung Jawab: Yatri Indah Kusumastuti Pimpinan Redaksi: Siti Nuryati Redaktur Pelaksana: D Ramdhani </p> <p>Editor : Nunung Munawaroh Reporter : Siti Zulaedah, Dedeh H, Awaluddin Fotografer: Cecep AW, Bambang A </p> <p>Layout : D Ramdhani Sirkulasi: Agus Budi P, Endih M, Untung Alamat Redaksi: Humas IPB Gd. Andi Hakim Nasoetion, </p> <p>Rektorat Lt. 1, Kampus IPB Dramaga Telp. : (0251) 8425635, Email: humas@apps.ipb.ac.id</p> <p>Volume 035/ Tahun 2018PARIWARA IPB</p> <p>Terbit Harian</p> <p>Ayam Indonesia Masuk Satwa Termahal Di Dunia</p> <p>etua Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia </p> <p>K(Himpuli), Drs. Ade Zulkarnain mengatakan tren perkembangan usaha ayam lokal menunjukkan peningkatan sangat baik sekali. Hal ini Ia sampaikan </p> <p>dalam Kuliah Umum Prospek Bisnis Unggas Lokal di </p> <p>Indonesia yang digelar di Auditorium J.H.Hutasoit </p> <p>Fakultas Peternakan Kampus IPB Dramaga, (14/3).</p> <p>Drs. Ade mengajak mahasiswa IPB untuk sama-sama </p> <p>membangun unggas lokal Indonesia dan perlu adanya </p> <p>regenerasi dari kalangan muda. Generasi muda harus </p> <p>mulai berpikir bagaimana mengangkat sumberdaya </p> <p>genetik negeri sendiri.</p> <p>Menurutnya prospek pengembangan unggas lokal sangat baik. </p> <p>Unggas lokal merupakan plasma nutfah asli Indonesia sehingga </p> <p>tidak perlu impor bibit. Unggas lokal memiliki cita rasa yang </p> <p>khas. Produk ternak sehat memiliki segmentasi pasar </p> <p>menengah ke atas. Saat ini pelaku usaha riil berasal dari </p> <p>peternak rakyat/skala Usaha Mikro Kecil dan Menengah </p> <p>(UMKM).</p> <p>Sesungguhnya asal usul ayam-ayam yang ada di dunia itu </p> <p>berasal dari tiga wilayah yaitu China, Lembah Indus dan </p> <p>Indonesia. Awalnya kita memiliki sekira 30 an spesies ayam tapi </p> <p>kini tinggal 26 spesies. Dan 80 persennya hampir punah, </p> <p>ujarnya.</p> <p>2</p> <p>Adapun ayam-ayam asli Indonesia adalah Ayam Kedu </p> <p>(putih, hitam, blorok, cemeni), Ayam Sentul, Ayam </p> <p>Pelung, Ayam Gaok, Ayam Jantur, Ayam Delona, Ayam </p> <p>Sedayu, Ayam Ayunai, Ayam Olagan, Ayam Sumatera, </p> <p>Ayam Ciparage, Ayam Tolaki, Ayam Tukong, Ayam Gaga </p> <p>(Ayam Ketawa), Ayam Kampung, Ayam Kokok Balengek, </p> <p>dan Ayam Bekisar.</p> <p>Sementara ayam pendatang atau Ayam Arab adalah </p> <p>Ayam Merawang (braekel/fayoumi) dan Ayam Nunukan </p> <p>Wareng.</p> <p>Sejarah penyebarannya, tahun 1800 ayam asli Indonesia </p> <p>dibawa ke Inggris. Dan Ayam Sumatera pertama kali </p> <p>dibawa ke Amerika pada tahun 1847.</p> <p>Ayam asli Indonesia masuk dalam 10 satwa termahal </p> <p>dunia, harganya bisa mencapai 33 juta rupiah per ekor. </p> <p>Saat saya ke luar negeri, saya pernah beli DOC Ayam </p> <p>Sumatera seharga 2 juta. Ini artinya ayam Indonesia </p> <p>sangat bernilai di mata dunia bahkan salah satu ayam lokal kita </p> <p>sudah diakui oleh Amerika, terangnya.</p> <p>Bahkan akhir bulan ini, satu komoditas di perusahaan yang </p> <p>dirintis Drs. Ade akan siap masuk pasar export. Hal ini </p> <p>menunjukkan bahwa sebenarnya ayam lokal Indonesia punya </p> <p>potensi yang bagus untuk dikembangkan.</p> <p>Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Akademik dan </p> <p>Kemahasiswaan Fakultas Peternakan (Fapet), Prof. Sumiati </p> <p>berharap bahwa kegiatan ini bisa membangun dan memotivasi </p> <p>kecintaan generasi muda terhadap unggas lokal Indonesia.</p> <p>Saat ini usaha dalam bidang unggas lokal sedang </p> <p>menggeliat. Saya harap acara ini dapat menambah wawasan </p> <p>mahasiswa. Saya berharap mahasiswa dalam membuat tugas </p> <p>akhir dapat membahas dan melihat tentang unggas lokal. </p> <p>Berdasarkan data di Himpuli, perkembangan dua komoditas </p> <p>ayam lokal dan itik ini sangat prospektif, ujarnya. (dh/Zul)</p> <p>Institut Pertanian Bogor (IPB) selalu menjadi institusi </p> <p>terdepan dalam inovasi dan kepedulian terhadap </p> <p>nasib pangan bangsa Indonesia. Salah satu bentuk </p> <p>perwujudan pengabdian tersebut, Departemen </p> <p>Agronomi dan Hortikultura IPB menggelar Seminar Sagu </p> <p>2018 dengan tema Optimalisasi Sagu dalam </p> <p>Menjawab Permasalahan Pangan dan Lingkungan.</p> <p>Seminar yang dilaksanakan Sabtu lalu di Gedung </p> <p>Common Class Room (CCR) , IPB Dramaga Bogor ini </p> <p>menghadirkan Prof. Bintoro (Akademisi); Dr. Endang Yuli </p> <p>Purwani (Balai Besar Pasca Panen, Badan Penelitian dan </p> <p>Pengembangan Pertanian); Ir. Darmansyah (Kepala </p> <p>Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Riau), Gusti Randy </p> <p>Pratama S.T (mahasiswa Pascasarjana, Teknologi Industri </p> <p>IPB) dan Fendri Ahmad M.Si selaku Ketua Pelaksana.</p> <p>Dalam seminar tersebut, Prof Bintoro memaparkan </p> <p>kiprahnya dalam melakukan penelitian di bidang sagu. </p> <p>Prof. Bintoro menyampaikan, Indonesia dikaruniai kekayaan </p> <p>alam sagu yang luar biasa. Sagu dapat ditemukan dengan </p> <p>mudah di beberapa pulau besar di Indonesia seperti Kepulauan </p> <p>Riau, Papua dan pulau terpencil lainnya. Sagu terkategori </p> <p>sebagai tanaman yang kuat dan kokoh karena meskipun terjadi </p> <p>bencana. Bahkan dalam kondisi banjir setinggi dua meter </p> <p>sekalipun sagu masih bisa bertahan, tentu hal ini sangat baik </p> <p>untuk kondisi Indonesia yang rawan bencana.</p> <p>Masalah yang terjadi di masyarakat kita ialah pengelolaan </p> <p>sagu belum dilakukan secara baik dan benar sehingga harga </p> <p>jual belum maksimal. Ketika pemerintah saat ini sedang </p> <p>bersemangat membangun daerah tertinggal, maka seharusnya </p> <p>pemerintah juga melirik komoditas sagu karena sagu banyak </p> <p>ditemukan di daerah tertinggal. Saat kita sudah bisa mengelola </p> <p>sagu dengan baik maka kita ikut membangun daerah </p> <p>tertinggal, tambahnya</p> <p>Riset-riset tentang sagu bertujuan untuk memberikan wawasan </p> <p>dan informasi kepada masyarakat bahwa komoditas sagu dapat </p> <p>menjadi jawaban untuk mengatasi permasalahan tidak hanya di </p> <p>Indonesia namun juga dunia di masa yang akan datang.</p> <p>Dalam waktu dekat, Prof. Bintoro akan melakukan penelitian </p> <p>sagu berbasis inovasi dengan menerapkan sistem tumpang </p> <p>sari. Karena tanaman sagu membutuhkan waktu panen yang </p> <p>cukup lama, maka lahan sagu dapat ditanami dengan tanaman </p> <p>lain semisal tanaman hortikultura. Hal ini dapat memperbaiki </p> <p>kebiasaan masyarakat yang masih cenderung abai dalam </p> <p>pengelolaan lingkungan ketika membudidayakan sagu. </p> <p>Seminar Sagu AGH IPB Dorong Kemandirian Pangan dan Pembangunan Daerah Tertinggal</p> <p>3</p> <p>Yuanita Arizona, mahasiswa Departemen Ilmu dan </p> <p>Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, </p> <p>I n s t i t u t P e r t a n i a n B o g o r ( F a t e t a I P B ) </p> <p>berkesempatan belajar dan mencari pengetahuan di luar </p> <p>negeri melalui program ASEAN International Mobility for </p> <p>Student (AIMS). Bagi saya ini merupakan sebuah </p> <p>mimpi besar yang menjadi kenyataan. Seperti mendapat </p> <p>dunia runtuh kala itu. Saya masih ingat persisnya saat di </p> <p>depan Masjid Badan Pengawas Obat dan Makanan </p> <p>(BPOM), Jakarta, tiba-tiba mendapat pemberitahuan </p> <p>bahwa saya lolos sebagai salah satu (AIMS) di Universiti </p> <p>Teknologi Mara (UiTM) Malaysia periode September </p> <p>2017 hingga Januari 2018, jelas Yuanita.</p> <p> Yuanita sangat bersyukur atas apa yang ia dapatkan. </p> <p>Tidak hanya itu seluruh biaya dari kegiatan ini </p> <p>ditanggung Kementerian Riset, teknologi dan </p> <p>Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) RI. Saat mengikuti </p> <p>AIMS di Malaysia, ia mendapatkan pengalaman yang </p> <p>tidak terlupakan. Pengalaman ini dimulai dari persiapan </p> <p>sebelum keberangkatan. Pengurusan passport, medical </p> <p>check up, visa, hingga menunggu Visa Approval Letter </p> <p>(VAL) yang cukup rumit menyisakan cerita tersendiri.</p> <p>Di Negeri Jiran tersebut Yuanita beradaptasi dengan berbagai </p> <p>teman-teman yang memiliki budaya dan kebiasaan berbeda. </p> <p>Bahasa pengantar yang digunakan dalam kegiatan belajar </p> <p>mengajar adalah Bahasa Inggris, dengan itu dapat </p> <p>mendorongnya untuk mengembangkan keterampilan </p> <p>komunikasi berbahasa Inggris. Tidak hanya itu, Yuanita juga </p> <p>belajar berbahasa Melayu. Kampus memfasilitasi mahasiswa </p> <p>internasional untuk belajar Bahasa Melayu. Meskipun Bahasa </p> <p>Melayu tidak jauh berbeda dengan Bahasa Indonesia, tapi </p> <p>dengan belajar dan mempraktikkannya langsung di kehidupan </p> <p>sehari-hari di sana dapat meningkatkan khasanah berbahasa.</p> <p> Yuanita memiliki kesempatan berkenalan dengan orang-orang </p> <p>baru dan membangun networking tidak hanya teman-teman </p> <p>lokal dari Malaysia tetapi teman-teman dari seluruh dunia </p> <p>seperti Korea Selatan, Jerman, Jepang, Afganistan, Thailand, </p> <p>dan sebagainya.</p> <p>Dengan mengikuti program AIMS dengan sendirinya kita </p> <p>pun turut serta dalam memperkenalkan Indonesia di dunia </p> <p>Internasional. Saya berkesempatan membawakan tarian </p> <p>Manuk Dadali. Semua orang sangat menikmati </p> <p>pertunjukkan bahkan di akhir acara mereka bersedia kembali </p> <p>menarikan secara bersama-sama. Kami pun bangga dapat </p> <p>memperkenalkan tarian asal Indonesia di dunia internasional, </p> <p>imbuh Yuanita.</p> <p> Menurut Yuanita, program AIMS ini sangat menarik untuk </p> <p>diikuti. Salah satu alasannya mengikuti program AIMS, </p> <p>karena persaingan tenaga kerja semakin meningkat, </p> <p>terlebih dengan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi </p> <p>ASEAN (MEA). </p> <p> Pengalaman mahasiswa IPB Kuliah Satu Semester di Malaysia</p> <p>Penelitian ini akan dilakukan di Desa Tanjung Peranak, </p> <p>Kepulauan Meranti, Provinsi Kepulauan Riau. Tempat ini </p> <p>dipilih mengingat besarnya potensi sagu dari wilayah </p> <p>tersebut.</p> <p>Seminar ini menekankan pada pentingnya keterlibatan </p> <p>pemerintah dalam pengelolaan sagu. Adanya dukungan </p> <p>fasilitas, prasarana serta pasar tentu akan membuat </p> <p>produksi sagu menjadi lebih murah. Harapannya di masa </p> <p>yang akan datang pangan Indonesia tak hanya </p> <p>bergantung pada beras namun juga bisa bergeser ke </p> <p>sagu, sehingga diversifikasi pangan dapat terwujud. Bagi </p> <p>IPB, penelitian seperti ini tentu dapat membantu IPB </p> <p>semakin kreatif berinovasi dan berkolaborasi dengan bidang </p> <p>lainnya tak hanya pertanian.</p> <p>Ratna, mahasiswa Agronomi dan Hort ikultura IPB </p> <p>menyampaikan apresiasinya terhadap seminar sagu ini. Ia </p> <p>merasa mendapatkan banyak informasi terkait bagaimana sagu </p> <p>dapat membantu Indonesia untuk berjuang melawan krisis </p> <p>pangan serta mewujudkan pemerataan ekonomi.</p> <p>Mempelajari komoditas sagu bagi saya sangat menarik, kita </p> <p>memang harus memikirkan alternatif pangan lainnya selain </p> <p>beras, ujarnya.(FF/Zul)</p> <p>4</p> <p>ebih lanjut Yuanita mengatakan, dengan </p> <p>Lmengikuti program AIMS ini menjadi nilai tambah baginya di era saat ini. Perusahaan mencari lulusan yang dapat bekerja di t im </p> <p>multinasional, yang berbicara dalam berbagai bahasa, </p> <p>yang dapat bekerja dengan mudah melintasi zona </p> <p>waktu berbeda-beda, dan memiliki keluwesan serta </p> <p>kemampuan adaptasi yang didapatkan dari tinggal di luar </p> <p>negeri. Bagi Yuanita ini merupakan kesempatan untuk </p> <p>mengembangkan ilmu, membuka pikiran, membangun </p> <p>relasi dengan teman internasional. Saya anggap ini juga </p> <p>sebagai batu loncatan untuk merasakan bagaimana hidup di </p> <p>negeri orang, mengagumi indahnya ciptaan Tuhan dari </p> <p>belahan dunia yang berbeda, ungkapnya. (dh/ris)</p> <p>Beginilah Pengalaman Mahasiswa IPB Peserta Pertukaran Pelajar ke Tokyo</p> <p>Indra Purnomo, mahasiswa Departemen Ilmu dan </p> <p>Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, </p> <p>Institut Pertanian Bogor (Fateta IPB), berkesempatan </p> <p>mengikuti kegiatan pertukaran pelajar yang bernama </p> <p>ASEAN International Mobility for Students (AIMS). Pada </p> <p>bulan September 2017 hingga Januari 2018 yang lalu, </p> <p>terpilih tempat tujuan AIMS yakni Jepang, tepatnya di </p> <p>Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT).</p> <p>Program ini hasil kerjasama pendidikan dan budaya </p> <p>antara perguruan tinggi dari seluruh wilayah ASEAN dan </p> <p>beberapa negara Asia seperti Indonesia, Malaysia, </p> <p>Thailand, Vietnam, dan Jepang. Dalam program ini </p> <p>mahasiswa mengikuti kuliah selama satu semester di </p> <p>perguruan tinggi di negara tujuan. Pendanaan dalam </p> <p>skema full scholarship sepenuhnya ditanggung oleh </p> <p>Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi </p> <p>(Kemenristekdikti) RI.</p> <p>Saat pertama kali menginjakkan kaki di Jepang, </p> <p>langsung disambut hangatnya udara di penghujung </p> <p>musim panas dan beberapa buddy (sebutan untuk </p> <p>mahasiswa Jepang yang mendapat tugas untuk </p> <p>menemani mahasiswa asing), kata Indra. Selama </p> <p>sebulan awal mengikuti kegiatan orientasi yang diisi </p> <p>dengan kuliah dan field trip tentang kehidupan di Jepang </p> <p>seperti geografi, kebudayaan, lingkungan, dan </p> <p>sebagainya. Materi tidak hanya diberikan oleh TUAT saja, </p> <p>tetapi juga diisi dosen dari universitas lain seperti Ibaraki </p> <p>University dan Tokyo Metropolitan University. Pada </p> <p>momen ini juga kami dapat saling mengenal rekan-rekan </p> <p>peserta AIMS dari negara lain yang juga berkuliah di </p> <p>TUAT, yaitu mahasiswa dari Malaysia, Thailand, dan </p> <p>Filipina yang jumlahnya 13 orang,tuturnya.</p> <p>Indra menceritakan, selain duduk di kelas mengikuti </p> <p>perkuliahan, dan mengunjungi lokasi-lokasi di Tokyo sebagai </p> <p>bagian dari study tour, bereksperimen di laboratorium dalam </p> <p>rangka mini research, dan tentu saja berpelesir ke tempat wisata. </p> <p>Mata kuliah yang diberikan merupakan bagian dari ilmu </p> <p>pertanian dan lingkungan internasional. Materi dalam </p> <p>perkuliahan ini umumnya baru didapatkan di sana, selalu </p> <p>diramu dengan sesi diskusi mengenai kondisi aktual di Jepang </p> <p>dan di negara masing-masing peserta AIMS beserta solusi </p> <p>terhadap permasalahan yang dihadapi. Tugas dan ujian yang </p> <p>diberikan sangat relevan dengan topik kuliah dan membantu </p> <p>mahasiswa untuk lebih mendalami topik tersebut. Study tour </p> <p>dikemas dengan mengunjungi hutan, kebun, pabrik, pasar, </p> <p>museum, dan tempat-tempat lain yang disesuaikan dengan </p> <p>topik pembelajaran. Penelitian skala kecil dilakukan pada </p> <p>laboratorium sesuai minat dengan dibimbing oleh dosen dan </p> <p>mahasiswa senior.</p> <p>Melalui penelitian ini, kami dapat mengenal dan mempelajari </p> <p>fasilitas-fasilitas yang cukup canggih dalam dunia riset. Kami </p> <p>juga sering mengadakan gathering dengan mahasiswa lokal </p> <p>dan internasional yang ada di TUAT untuk saling mengenal </p> <p>negara masing-masing, bertukar budaya, bahkan untuk sekedar </p> <p>berolahraga bersama. Pada saat liburan musim dingin, kami </p> <p>juga menyempatkan diri untuk mengunjungi daerah Koriyama </p> <p>dan tinggal bermalam dengan petani-petani lokal di wilayah </p> <p>pedesaan tersebut, papar Indra.</p> <p>Indra menjelaskan, kegiatan pertukaran pelajar, khususnya </p> <p>AIMS ini, sangat menarik untuk diikuti karena banyak sekali </p> <p>manfaat yang didapatkan. Sebagai mahasiswa yang </p> <p>berlatarbelakang pertanian, program ini sangat menambah </p> <p>pengetahuan di bidang pertanian pra dan pascapanen melalui </p> <p>kuliah, praktikum, dan studi lapang selama program </p> <p>berlangsung. Kemampuan berkomunikasi dalam bahasa asing, </p> <p>misalnya bahasa Inggris dan bahasa Jepang, juga terasah karena </p> <p>selalu digunakan dalam komunikasi baik publik maupun </p> <p>interpersonal. Selain itu, wawasan budaya internasional juga </p> <p>semakin luas akibat pertukaran budaya selama proses </p> <p>pembelajaran....</p>