Pariwara Vol 48 tahun 2018 - IPB Vol 048 Tahun 2018.pdf · Sementara itu Ketua Panitia KKN-T IPB, ...…

  • Published on
    15-May-2019

  • View
    212

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

<p>Media Komunikasi InternalInstitut Pertanian Bogor</p> <p>Penanggung Jawab: Yatri Indah Kusumastuti Pimpinan Redaksi: Siti Nuryati Redaktur Pelaksana: D Ramdhani </p> <p>Editor : Aris Solikhah, Siti Zulaedah, Rio Fatahillah CP Reporter : Dedeh H, Awaluddin Fotografer: Cecep AW, Bambang A Layout : D Ramdhani Sirkulasi: Agus Budi P, Endih M, Untung Alamat Redaksi: Humas IPB Gd. Andi Hakim Nasoetion, Rektorat Lt. 1, Kampus IPB Dramaga Telp. : (0251) 8425635, Email: humas@apps.ipb.ac.id</p> <p>Volume 048/ Tahun 2018PARIWARA IPB</p> <p>Terbit Harian</p> <p>Tahun 2019, Seluruh Fakultas dan Sekolah di IPB Akan Ikuti KKN-Tematik</p> <p>Lembaga Penelit ian dan Pengabdian kepada </p> <p>Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB) </p> <p>mengadakan Kuliah Pembekalan Umum Kuliah Kerja </p> <p>Nyata (KKN)-Tematik IPB 2018. KKN-T IPB 2018 yang </p> <p>mengusung tema Pengintegrasian Pendidikan dan </p> <p>Pengabdian Kepada Masyarakat dalam Pengarusutamaan </p> <p>Pertanianini digelar di Gedung Graha Widya Wisuda </p> <p>(GWW) Kampus IPB Dramaga Bogor (31/3).</p> <p>Dalam sambutannya, Rektor IPB, Dr. Arif Satria mengatakan </p> <p>bahwa tahun 2019 (tahun depan) seluruh fakultas dan </p> <p>sekolah di IPB akan ikut program KKN-T IPB. Menurutnya </p> <p>KKN-T ini sangat penting dalam menunjang skill mahasiswa </p> <p>untuk mendapatkan pekerjaan. Sekarang ini perusahaan </p> <p>multinasional sudah memperhitungkan pengalaman calon </p> <p>pelamar. Seperti sejauh mana calon tersebut dapat </p> <p>menggerakkan masyarakat.</p> <p>Yang sekarang dibutuhkan dalam mencari pekerjaan atau </p> <p>berwirausaha adalah kombinasi kemampuan hard skill, soft </p> <p>skill dan karakter, tutur Rektor.</p> <p>Rektor berharap kegiatan KKNT IPB dapat mengasah softskill </p> <p>kemitraan, kerjasama tim lintas bidang ilmu (lintas profesi) </p> <p>dan leadership mahasiswa dalam mengelola program </p> <p>pembangunan di wilayah perdesaan. Kegiatan KKNT IPB </p> <p>juga menjadi kegiatan civitas akademika IPB dalam </p> <p>membantu memberikan solusi terhadap permasalahan </p> <p>m a s y a r a k a t p e d e s a a n y a n g d i l a k u k a n s e c a r a </p> <p>berkesinambungan sehingga memberikan manfaat yang </p> <p>optimal baik untuk masyarakat maupun pemerintah daerah. </p> <p>Kehadiran mahasiswa KKN-T IPB diharapkan benar-benar </p> <p>akan memberikan solusi yang nyata di masyarakat.</p> <p>Sementara itu Kepala LPPM IPB, Dr. Aji Hermawan </p> <p>menjelaskan bahwa KKN-T merupakan suatu bentuk </p> <p>pendidikan dengan cara memberikan pengalaman belajar </p> <p>kepada mahasiswa untuk hidup di tengah masyarakat di luar </p> <p>kampus. Mahasiswa secara langsung bersama-sama </p> <p>masyarakat mengidentifikasi dan menangani masalah </p> <p>pertanian dan lingkungan serta masalah pembangunan lain </p> <p>yang dihadapi di daerah.</p> <p>Ini merupakan metamorfosis dari Kuliah Kerja Profesi </p> <p>(KKP) yang selama ini konsisten diselenggarakan beberapa </p> <p>fakultas di IPB seperti Fakultas Pertanian, Fakultas </p> <p>Peternakan, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, dan Fakultas </p> <p>Ekologi Manusia. Metamorfosis tersebut dilakukan guna </p> <p>mendorong sinergitas berbagai disiplin ilmu (profesi) di </p> <p>lingkungan IPB untuk menyelenggarakan KKN IPB yang lebih </p> <p>terintegrasi dan efisien sehingga KKN-T IPB memberikan </p> <p>manfaat yang optimal baik untuk IPB maupun stakeholder </p> <p>lainnya (terutama petani dan masyarakat perdesaan), </p> <p>paparnya.</p> <p>Dari kegiatan ini diharapkan mahasiswa mampu </p> <p>mengidentifikasikan, merencanakan, melaksanakan dan </p> <p>2</p> <p>lingkungan secara terintregrasi. Memiliki kepedulian dan </p> <p>komitmen yang tinggi, terampil berkomunikasi dan </p> <p>bekerjasama antar profesi dalam mengatasi permasalahan </p> <p>yang ada di masyarakat, serta memiliki empati terhadap </p> <p>permasalahan sosial di tengah masyarakat.</p> <p>Sementara itu Ketua Panitia KKN-T IPB, Dr. Iwan Prihantoro </p> <p>menjelaskan bahwa fokus program KKN-T IPB 2018 adalah </p> <p>sawah dan pekarangan, pertanian terpadu berbasis </p> <p>peternakan, pengembangan ekonomi pertanian dan </p> <p>perdesaan berbasis sumberdaya lokal, pengembangan aksi </p> <p>ekologis dalam pengarusutamaan pertanian untuk kualitas </p> <p>kehidupan berkelanjutan, konservasi lingkungan, serta </p> <p>pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).</p> <p>KKN-T IPB tahun 2018 diikuti oleh 2.235 mahasiswa </p> <p>melibatkan 210 dosen pembimbing lapang. Lokasinya </p> <p>tersebar di 10 Provinsi, 33 kabupaten/kota, yakni di provinsi </p> <p>Jawa Barat (Kabupaten Sukabumi, Karawang, Subang, </p> <p>Bogor, Indramayu, Majalengka, Sumedang, Kota Bogor, </p> <p>Kab. Bandung), provinsi Jawa Tengah (Kab. Pekalongan, </p> <p>Kota Pekalongan, Kab. Tegal , Kab. Rembang, </p> <p>Kab. Wonogiri, Kab. Brebes, Kab. Kebumen, Kab. </p> <p>Banjarnegara, Kab. Pemalang, Kab. Blora, Kab. Jepara), </p> <p>provinsi Jawa Timur (Kab. Bojonegoro), provinsi Banten </p> <p>(Kab. Lebak, Kab Pandeglang), provinsi Kepulauan Bangka </p> <p>Belitung (Kab. Bangka), provinsi Sumatera Utara (Kabupaten </p> <p>Padang Lawas), provinsi Maluku Utara (Kabupaten Taliabu), </p> <p>provinsi Kalimantan Timur (Kabupaten Mahakam Ulu), </p> <p>provinsi Kalimantan Barat (Kabupaten Bengkayang), dan </p> <p>provinsi Lampung (Kab. Pesisir Barat), ujarnya.</p> <p>Dalam kuliah pembekalan, seluruh mahasiswa mendapatkan </p> <p>materi pembekalan dari Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) </p> <p>IPB, Prof. Dr. M. Ahmad Chozin dengan mengangkat tema, </p> <p>Urgensi KKN-T IPB tahun 2018, Wakil Ketua MWA IPB </p> <p>Dr. Ahmad Mukhlis Yusuf, dengan materi Penguatan </p> <p>Cinta Kebangsaan, dosen Departemen Sains Komunikasi </p> <p>dan Pengembangan Masyarakat (SKPM),Dr. Ninuk </p> <p>Purnaningsih mengusung tema,Penyusunan Program </p> <p>Kerja Mahasiswa KKN-T IPB 2018dan dosen Departemen </p> <p>Gizi Masyarakat, Dr. Rimbawan dengan tema,Etika </p> <p>Mahasiswa di Masyarakat Lokasi KKN-T IPB 2018. </p> <p>(Awl/Zul)</p> <p>IPB dan LAPAN Perpanjang Kontrak Kerjasama</p> <p>Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr. Arif Satria </p> <p>bersama Kepala Lembaga Penerbangan dan </p> <p>Antariksa Nasional (LAPAN) Prof. Dr. Thomas </p> <p>D j a m a l u d d i n l a n j u t k a n k e r j a s a m a d i b i d a n g </p> <p>pengembangan satelit penginderaan jauh. Kerjasama ini </p> <p>bertujuan untuk mendukung ketahanan pangan bangsa </p> <p>Indonesia. Jalinan kerjasama ini ditandai dengan </p> <p>penandatangan nota kesepakatan antara IPB dan LAPAN di </p> <p>Rancabungur Bogor (3/4).</p> <p>Pada tahun 2010, IPB pertama kali menjalin kerjasama </p> <p>dengan LAPAN untuk jangka waktu kerjasama lima tahun </p> <p>plus dua tahun perpanjangan. Kini kerjasama ini kita perkuat </p> <p>lagi dengan melanjutkan kerjasama untuk tahun 2018-</p> <p>2023, ujar Rektor IPB.</p> <p>Untuk lima tahun ke depan, kerjasama ini akan difokuskan </p> <p>pada bidang pengembangan Pusat Teknologi Satelit, Pusat </p> <p>Teknologi Data Pengindraan Jarak Jauh, dan Pusat </p> <p>Pemanfaatan Pengindraan Jarak Jauh.</p> <p>Melalui data satelit ini, kita bisa memperkirakan luasan </p> <p>lahan pertanian beserta produktivitasnya. Hal ini karena </p> <p>satelit didukung dengan kamera atau pencitra yang mampu </p> <p>membedakan padi baru tumbuh hingga padi siap panen," </p> <p>ungkapnya. </p> <p>Harapannya ke depan, pemerintah khususnya Kementrian </p> <p>Pertanian dapat mengajak perguruan tinggi di Indonesia </p> <p>untuk melakukan peningkatan program pembangunan </p> <p>bidang pertanian dan merumuskan secara akurat. Tidak lagi </p> <p>terjebak dengan angka-angka yang sifatnya ramalan atau </p> <p>prediksi yang akurasinya rendah.</p> <p>Pemerintah bisa melakukan kerjasama dengan LAPAN </p> <p>untuk dapat dengan cepat membedakan padi yang siap </p> <p>panen, kata Rektor.</p> <p>Selain IPB, pada kesempatan yang sama ada empat </p> <p>perguruan tinggi lain yang juga melakukan kerjasama </p> <p>dengan LAPAN. Yakni Institut Teknologi Sepuluh Nopember </p> <p>Surabaya (ITS), Universitas Syah Kuala, Surya University dan </p> <p>Universitas Bandar Lampung. Kerjasama ini terkait bidang </p> <p>pengembangan satelit dan pemanfaatan data satelit.</p> <p>3</p> <p>Kepala LAPAN Prof. Dr. Thomas Djamaluddin mengatakan </p> <p>kerjasama dengan perguruan tinggi di Indonesia fungsinya </p> <p>untuk memperkuat kompetensi dua belah pihak. LAPAN </p> <p>dapat memberikan kontribusi pengembangan penguasan </p> <p>teknologi antariksa, teknologi data dan informasi untuk </p> <p>memperkuat pendidikan dan penelitian di perguruan </p> <p>tinggi. LAPAN sendiri dapat memperoleh manfaat dari </p> <p>kerjasama ini dalam pengembangan kapasitas sumberdaya </p> <p>manusianya.</p> <p>Selama ini kami sudah bekerjasama dengan perguruan </p> <p>tinggi yaitu IPB dan telah meluncurkan satelit LAPAN A3 </p> <p>atau yang biasa disebut LAPAN-IPB. LAPAN-IPB memiliki </p> <p>misi tersendiri. Yakni untuk pemotretan permukaan bumi, </p> <p>khususnya lahan pertanian. Untuk pemantauan kapal laut, </p> <p>pengukuran medan magnet bumi dan uj i hasi l </p> <p>kerekayasaan LAPAN star sensor dan reaction wheel untuk </p> <p>kendali satelit," terang Thomas.</p> <p>Selain penandatangan kerjasama dengan perguruan tinggi </p> <p>di Indonesia, LAPAN juga meresmikan antena S-Xband </p> <p>Mission Control Center. Antena S-Xband Mission Control </p> <p>Center ini terintegrasi dengan bangunan pusat pengendali </p> <p>misi satelit di LAPAN, juga dapat menerima data Automatic </p> <p>Identification System (AIS) yang berasal dari kapal-kapal laut </p> <p>di seluruh dunia.</p> <p>Kegiatan ini juga dihadiri oleh Dirjen Penguatan Riset dan </p> <p>Pengembangan Kemenristekdikti, Dr. Muhammad Dimyati, </p> <p>perwakilan Komisi VII DPR RI, Drs. Nawawi Saleh, jajaran staf </p> <p>LAPAN, pihak swasta dan masyarakat. (Awl/Zul)</p> <p>Rektor IPB Upayakan Ada Kenaikan Kesejahteraan Tendik</p> <p>Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr.Arif Satria, </p> <p>S.P, M.Si mengatakan akan mengupayakan ada </p> <p>kenaikan kesejahteraan tenaga kependidikan </p> <p>(tendik). Hal ini disampaikan dalam Dialog Rektor dengan </p> <p>Tendik, Selasa (3/4) di Kampus IPB Dramaga. </p> <p>"Kami berkomitmen melakukan beberapa upaya untuk </p> <p>meningkatkan kesejahteraan tendik. Salah satunya </p> <p>memberikan insentif kehadiran sebesar Rp 20 ribu per hari </p> <p>pada tendik yang masuk dan pulang kerja tepat waktu yakni </p> <p>pukul 08.00 -16.00 WIB. Sementara ini kami baru bisa </p> <p>mengapresiasi ini. Ke depannya semoga kita bisa </p> <p>memberikan lebih," kata Rektor.</p> <p>Lebih lanjut Rektor mengatakan selama ini IPB mengalami </p> <p>keterbatasan pendapatan karena hanya 7,5 persen </p> <p>mahasiswa yang membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) </p> <p>penuh sesuai standar besaran biaya perkuliahan yang </p> <p>ditetapkan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan </p> <p>Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti RI). "Kita </p> <p>memahami kondisi mahasiswa kita mayoritas mempunyai </p> <p>latar belakang sosial ekonomi yang terbatas, sedikit yang </p> <p>bisa membayar full UKT. Bila saja minimal 50 persen UKT </p> <p>mahasiswa IPB dibayarkan, insya Allah, pendanaan IPB lebih </p> <p>longgar sehingga kita bisa lebih meningkatkan </p> <p>kesejahteraan pegawai," kata Rektor. Apalagi rasio jumlah </p> <p>tendik PNS IPB dengan dosen sangat besar yakni 2,7 : 1. </p> <p>Belum lagi jumlah tendik Non PNS IPB yang juga cukup </p> <p>besar.</p> <p>Menurut Rektor, kondisi ini berbeda dengan beberapa </p> <p>perguruan tinggi yang lain yang rasio tendik dan dosennya </p> <p>lebih kecil dan pendapatannya dari UKT yang lebih besar. </p> <p>"Kita sedang mencarikan solusi dengan menggandeng </p> <p>banyak sponsor untuk membantu membayarkan biaya </p> <p>pendidikan mahasiswa. Salah satu solusinya juga dengan </p> <p>sistem pinjaman pendidikan yang nanti dibayarkan bila </p> <p>mahasiswa sudah lulus dan bekerja," katanya.</p> <p>Bagi tendik yang memenuhi kualitas kompetensi khusus bisa </p> <p>mengajukan alih fungsi sebagai dosen atau fungsional </p> <p>khusus. Ke depannya, kata Rektor, IPB akan memperbaiki </p> <p>informasi dan pelayanan terkait kenaikan pangkat, </p> <p>peningkatan kapasitas dan pelatihan untuk tendik. "Paling </p> <p>lambat tahun 2019 diusahakan ada dana penelitian </p> <p>kompetitif yang menunjang karir tendik."</p> <p>Dalam sambutannya, Ketua Panitia Dialog Rektor dengan </p> <p>Tendik, Astridina, S.Sos, M.M mengatakan dialog ini dalam </p> <p>rangka menjembatani komunikasi antara tendik dengan </p> <p>pimpinan, sebagai wadah untuk menyalurkan komunikasi </p> <p>dan aspirasi tendik dengan pimpinan. "Kami berharap Forum </p> <p>Tenaga Kependidikan IPB mendapat legalitas dan diakui </p> <p>lembaganya oleh IPB. Dengan dia log in i dapat </p> <p>meningkatkan kinerja dan profesionalisme tendik menjadi </p> <p>lebih baik," kata Astrid. Menanggapi hal tersebut, sebagai </p> <p>wadah komunikasi tendik, rencananya Rektor IPB akan </p> <p>mengeluarkan Surat Keputusan (SK) berkaitan legalitas </p> <p>organisasi perkumpulan tendik IPB.</p> <p>Dialog ini juga dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang </p> <p>Sumberdaya, Perencanaan dan Kerjasama IPB, Dr. Ir. Agus </p> <p>Purwito, M.Sc.Agr yang aktif berdiskusi dengan para tendik </p> <p>yang hadir. (ris)</p> <p>4</p> <p>Kiprah Peneliti Ubi Kayu dari IPB</p> <p>Ubi kayu merupakan komoditas pertanian yang banyak </p> <p>dimanfaatkan sebagai bahan baku produk pangan, pakan, </p> <p>maupun bahan baku industri. Akan tetapi komoditas ini </p> <p>kurang mendapat perhatian yang ser ius dalam </p> <p>pengembangannya.</p> <p>Peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yaitu Dr. Nurul </p> <p>Khumaida mengungkapkan bahwa kebutuhan ubi kayu </p> <p>sangat tinggi. Beberapa tahun ini Indonesia mengimpor </p> <p>ubi kayu (dalam bentuk chips dan tapioka). Seyogyanya </p> <p>pemerintah memberikan perhatian yang lebih serius, selain </p> <p>terfokus pada pajale (padi, jagung, kedelai).</p> <p> K e b u t u h a n u b i k a y u i t u l u a r b i a s a k a r e n a </p> <p>pemanfaatannya tidak hanya untuk pangan tetapi juga </p> <p>industri. Diantaranya tapioka kemudian untuk pakan ternak, </p> <p>juga potensi untuk menjadi bioenergi, tuturnya. </p> <p>Dalam pengusahaan ubi kayu untuk industri, para </p> <p>pembudidaya masih terkendala untuk mendapatkan bibit, </p> <p>sebagai peneliti ia merasa tertantang untuk mencoba </p> <p>mengembangkan teknologi perbanyakan bibit ubi kayu </p> <p>secara in-vitro.</p> <p>Teknik in vitro itu adalah suatu teknik untuk perbanyakan </p> <p>tanaman dengan menggunakan bagian jaringan dari suatu </p> <p>tanaman yang ditumbuhkan pada media tanam secara in </p> <p>vitro. Kita sering menyebutnya sebagai kultur jaringan. </p> <p>Perbanyakan tanaman secara in vitro dapat dilakukan pada </p> <p>tanaman ub i kayu untuk mendukung indust r i </p> <p>pembibitannya. </p> <p>Teknik in vitro atau kultur jaringan hanya untuk </p> <p>perbanyakan tanaman secara massal dan tidak mengubah </p> <p>apapun (genetik tanaman). Akan tetapi bibit yang </p> <p>dihasilkan itu seragam, vigor dan bebas virus, ujarnya.</p> <p>Untuk itulah ia bersama anggota tim peneliti yang </p> <p>tergabung dalam Catalyst (Cassava for life style), yaitu tim </p> <p>yang fokus menekuni tentang ubi kayu, memulai riset </p> <p>menyeluruh tentang ubi kayu. </p> <p>Peneliti yang aktif di Asian Cassava Breeders Network </p> <p>(ACBnet) dan sebagai perwakilan Indonesia sebagai </p> <p>steering comitee untuk ACBnet ini, mendapat tantangan </p> <p>bersama tim untuk menghasilkan varietas baru ubi kayu.</p> <p>Saya diberi tantangan oleh reviewer Dikti saat monev </p> <p>hibah penelitian untuk mengupayakan varietas baru ubi </p> <p>kayu IPB. Maka pada tahun 2014 dan melibatkan mahasiswa </p> <p>pascasarjana, saya mulai bergerak untuk berupaya </p> <p>menghasilkan varietas baru. Pendekatan yang digunakan </p> <p>adalah dengan memanfaatkan mutagen fisik yaitu iradiasi </p> <p>sinar gamma unt...</p>

Recommended

View more >