Pemeriksaan Mata Pada Pengemudi

  • Published on
    28-Dec-2015

  • View
    163

  • Download
    3

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Standar pemeriksaan mata bagi pengemudi berdasarkan Konsensus Nasional Pemeriksaan Kesehatan Bagi Pengemudi yang disusun oleh Kolegium Kedokteran Okupasi Indonesia

Transcript

<p>Pemeriksaan Mata Pada Pengemudi Kendaraan Bermotordr. David Rudy Wibowo (1006826036) ____________________________________________________________________________________________</p> <p>UNIVERSITAS INDONESIA</p> <p>PEMERIKSAAN MATA PADA PENGEMUDI KENDARAAN BERMOTOR</p> <p>TUGAS MAKALAH</p> <p>dr. David Rudy Wibowo1006826036</p> <p>FAKULTAS KEDOKTERANPROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALISKEDOKTERAN OKUPASIJAKARTAOKTOBER 2013</p> <p>Tugas Makalah Gizi Kerjadr. David Rudy Wibowo (1006826036) ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------</p> <p>I. </p> <p>iii</p> <p>KATA PENGANTAR</p> <p>Pertama-tama, saya selaku penulis ingin mengucapkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan rahmatNya tulisan ini dapat terselesaikan dengan baik.</p> <p>Tulisan ini dibuat untuk memperjelas Konsensus Nasional Pedoman Pemeriksaan Kesehatan Pengemudi yang disusun oleh PERDOKI pada tahun 2011, sehingga memperjelas pembaca yang berminat untuk mempelajari perihal pemeriksaan mata pada seorang (calon) pengemudi.</p> <p>Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, khususnya Ibu Anandani Widarini selaku Manajer Prodia Occupational Health Center yang memberikan ide penulisan, dan DR. Dr. Dewi S. Soemarko, MS, Sp.Ok yang memberikan banyak masukan dan koreksi guna menyempurnakan isi tulisan ini.</p> <p>Akhir kata, semoga makalah ini membawa manfaat bagi mereka yang membaca dan mempelajarinya.</p> <p>Jakarta, November 2013</p> <p> Penulis</p> <p>DAFTAR ISI</p> <p>BAB I PENDAHULUAN1I.1Latar belakang1I.2Permasalahan2I.3Tujuan3I.3.1Tujuan umum3I.3.2Tujuan khusus3BAB II TINJAUAN PUSTAKA4II.1Persyaratan Umum Pengemudi4II.1.1Persyaratan Usia4II.1.2Persyaratan Fisik4II.2Pemeriksaan Mata Pada Pengemudi5II.2.1Pemeriksaan Tajam Penglihatan7II.2.2Pemeriksaan Pergerakan Bola Mata10II.2.3Pemeriksaan Lapangan Pandang14II.2.4Pemeriksaan Persepsi Warna17II.2.5Pemeriksaan Waktu Reaksi Visual24II.2.6Pemeriksaan Ketahanan Terhadap Kesilauan26II.2.7Pemeriksaan Penglihatan Malam27II.2.8Pemeriksaan Persepsi Kedalaman Ruang30BAB III KESIMPULAN DAN SARAN37III.1Kesimpulan37III.2Saran38</p> <p>PENDAHULUAN</p> <p>I.1 Latar belakangPada masa kini, transportasi darat telah menjadi kebutuhan masyarakat di berbagai sektor untuk keperluan pribadi, masyarakat umum, kebutuhan khusus, mapupun di sektor industri. Luasnya penggunaan transportasi darat ini dapat merupakan hal yang positif dari segi penyerapan tenaga kerja, namun di segi lain menimbulkan berbagai masalah, antara lain: meningkatnya angka kecelakaan, polusi udara, dan penyakit akibat kerja pada profesi pengemudi kendaraan bermotor.</p> <p>Data kecelakaan lalu lintas dari Polda seluruh Indonesia, pada tahun 2010 terdapat kecelakaan lalu lintas sebanyak 68.677 kejadian, meningkat dari tahun 2009 yang terdapat 63.218 kejadian. Jumlah yang meninggal dunia pada tahun 2010 sebanyak 31.234, meningkat dari tahun 2009 sebanyak 20.168. Jumlah yang luka berat pada tahun 2010 sebanyak 56.084, meningkat dari tahun 2009 sebanyak 24.396. Jumlah luka ringan pada tahun 2010 sebanyak 198.519, meningkat dari tahun 2009 sebanyak 72.425. Dari data-data tersebut diketahui bahwa terjadi kecenderungan peningkatan angka kejadian kecelakaan setiap tahunnya. (1)</p> <p>Sebagian besar penyebab kecelakaan lalu lintas adalah faktor pengemudi (86,8%), dan ini sangat dipengaruhi oleh kemampuan, kondisi kesehatan, serta sikap dan perilaku pengemudi (misalnya kebiasaan mengkonsumsi alkohol, jamu kuat, minuman suplemen, bahkan narkoba (ganja/ekstasi/sabu)). </p> <p>Salah satu cara untuk mengendalikan angka kecelakaan lalu lintas adalah dengan memeriksakan kondisi kesehatan pengemudi sebelum mulai bekerja. Pemeriksaan kesehatan pekerja transportasi darat, khususnya pada pengemudi bertujuan untuk dapat mengukur kondisi kesehatan supaya dapat menentukan kelaikan kerja dan kembali bekerja. Hal ini dilakukan bukan hanya untuk meningkatkan keselamatan kerja di bidang transportasi, namun dapat meningkatkan produktivitas kerja. Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi (PERDOKI) pada tahun 2011 telah menyusun Konsensus Nasional Pedoman Pemeriksaan Kesehatan Pengemudi yang memuat secara lengkap panel-panel pemeriksaan kesehatan bagi pengemudi. Hasil pemeriksaan kesehatan pengemudi dikeluarkan dalam bentuk laporan berupa sertifikat medis, yang dikeluarkan pada waktu pemeriksaan kesehatan prakerja, periodik, atau khusus; atau juga dapat berupa work permit yang dikeluarkan secara harian. Sertifikat kesehatan ini dikeluarkan oleh dokter, yaitu: Dokter (umum) yang telah mengikuti dan memiliki sertifikat hiperkes dan keselamatan kerja, Dokter Magister Kedokteran Kerja (MKK), Dokter Spesialis Okupasi (SpOk).</p> <p>Tulisan ini akan membahas sebagian dari panel-panel pemeriksaan fisik pada pengemudi, yaitu panel pemeriksaan mata, yang juga merupakan salah satu prasyarat terpenting untuk dapat mengemudikan kendaraan. </p> <p>Terdapat 8 komponen pokok pemeriksaan mata yang perlu diperiksa pada seorang pengemudi. Ada pun komponen-komponen pemeriksaan mata yang akan dibahas adalah mengenai pemeriksaan: (1)1. Tajam penglihatan (visual acuity).2. Pergerakan bola mata.3. Lapangan pandang penglihatan.4. Kemampuan persepsi warna.5. Waktu reaksi visual.6. Ketahanan terhadap kesilauan.7. Penglihatan malam (night vision).8. Persepsi kedalaman.</p> <p>I.2 PermasalahanBuku Konsensus Nasional Pedoman Pemeriksaan Kesehatan Pengemudi yang disusun PERDOKI pada tahun 2011 tidak mengulas tentang metode pelaksanaan komponen-komponen pemeriksaan mata secara lengkap, sehingga kurang memberikan informasi yang cukup jelas bagi dokter pemeriksa. Sehingga dengan adanya tulisan ini, diharapkan dapat memberikan informasi yang jelas mengenai metode pemeriksaan mata bagi pengemudi kendaraan bermotor.</p> <p>I.3 Tujuan I.3.1 Tujuan umumMenjelaskan tentang pemeriksaan mata secara lengkap untuk para pengemudi kendaraan bermotor yang sesuai dengan standar pemeriksaan mata secara klinis. </p> <p>I.3.2 Tujuan khusus1. Menjelaskan tentang persyaratan, langkah-langkah, dan interpretasi pemeriksaan tajam penglihatan mata pada pengemudi.2. Menjelaskan tentang persyaratan, langkah-langkah, dan interpretasi pemeriksaan pergerakan bola mata pada pengemudi.3. Menjelaskan tentang persyaratan, langkah-langkah, dan interpretasi pemeriksaan lapangan pandang pada pengemudi.4. Menjelaskan tentang persyaratan, langkah-langkah, dan interpretasi pemeriksaan persepsi warna (buta warna) pada pengemudi.5. Menjelaskan tentang persyaratan, langkah-langkah, dan interpretasi pemeriksaan waktu reaksi visual pada pengemudi.6. Menjelaskan tentang persyaratan, langkah-langkah, dan interpretasi pemeriksaan ketahanan terhadap kesilauan pada pengemudi.7. Menjelaskan tentang persyaratan, langkah-langkah, dan interpretasi pemeriksaan penglihatan malam pada pengemudi.8. Menjelaskan tentang persyaratan, langkah-langkah, dan interpretasi pemeriksaan persepsi kedalaman (stereopsis) pada pengemudi.9. </p> <p>TINJAUAN PUSTAKA</p> <p>I.4 Persyaratan Umum PengemudiI.4.1 Persyaratan UsiaUsia minimal untuk pengemudi kendaraan penumpang dan perorangan (pemohon SIM A dan SIM C) adalah 17 tahun. Usia minimal untuk pengemudi kendaraan penumpang dan barang perorangan dengan jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) lebih dari 3.500 kg (pemohon SIM B I) adalah 20 tahun. Usia minimal untuk pengemudi kendaraan alat berat, kendaraan penarik atau kendaraan bermotor dengan menarik kereta gandengan lebih dari 1.000 kg (pemohon SIM B II) adalah 21 tahun.</p> <p>I.4.2 Persyaratan Fisik1. Anggota badan lengkapSebagai pengemudi kendaraan umum, diperlukan kelengkapan anggota badan, terutama lengan-tangan dan tungkai-kaki. Dalam mengemudi, untuk mengoperasikan peralatan di dalam kendaraan diperlukan fungsi menggenggam yang baik, gerakan fleksi-ekstensi yang normal, serta fungsi tungkai/kaki untuk dapat menginjak pedal dengan baik. Hal demikian diperlukan karena desain kendaraan yang dipasarkan di Indonesia saat ini diperuntukkan bagi orang dengan tangan dan kaki yang lengkap, kecuali dibuat dengan desain khusus atau pesanan tertentu.</p> <p>2. Kemampuan penglihatan yang baik Pengemudi atau operator kendaraan alat berat sangat tergantung pada kemampuan penglihatannya. Kemampuan penglihatan seorang pengemudi dapat dinilai dari segi ketajaman penglihatan, pergerakan bola mata, lapangan pandang, persepsi warna, waktu reaksi visual, ketahanan terhadap kesilauan, kemampuan penglihatan malam (night vision) dan persepsi ruang (stereoscopic vision) .Hal-hal mengenai pemeriksaan mata akan dibahas lebih lanjut pada bagian khusus di sub-bab II.2.</p> <p>3. Kemampuan pendengaran yang baikSeorang pengemudi harus memiliki kemampuan pendengaran yang cukup untuk bereaksi terhadap suara yang timbul di luar maupun di dalam kendaraannya. Pada pemeriksaan audiogram, ambang dengar rata-rata (average hearing threshold level) pada frekuensi 500 4000 Hz tidak boleh melebihi 40 dB. Bila ambang dengar rata-rata lebih dari 40 dB, maka harus dibantu dengan alat bantu dengar.</p> <p>4. Kondisi psikis yang baik Seorang pengemudi haruslah mempunyai motivasi yang baik, artinya ia harus mengetahui tujuannya memasuki lalu lintas. Dari segi intelegensia, seorang pengemudi harus mampu menyesuaikan diri terhadap situasi yang ada. Selain itu, seorang pengemudi harus mengerti bahwa selama mengemudikan kendaraan, terjadi suatu proses belajar yang berkesinambungan; ia harus belajar sedemikian rupa sehingga dapat meningkatkan keterampilan mengemudikan kendaraan, kebiasaan, dan kepandaian berlalu lintas dari waktu ke waktu. Yang terakhir, seorang pengemudi harus mempunyai emosi yang baik. Lingkungan lalu lintas mampu merangsang tanggapan emosional pengemudi, sehingga yang bersangkutan dituntut kematangan emosi dan tanggapan tertentu untuk mempertahankan batas kecepatan dan mengikuti garis jalur yang ada.</p> <p>I.5 Pemeriksaan Kesehatan Mata Pada PengemudiPemeriksaan kesehatan mata pada (calon) pengemudi bersifat penapisan atau skrining (screening), di mana pemeriksaan kesehatan dilakukan pada orang yang asimptomatik untuk menentukan adanya kelainan atau gangguan kesehatan, sehingga dapat dilakukan pemeriksaan diagnostik lanjutan agar diagnosis dini dapat ditegakkan. Berbeda dengan pemeriksaan yang bersifat diagnostik lanjutan, di mana dilakukan pada orang yang diduga memiliki kelainan, pemeriksaan tersebut bertujuan untuk menegakkan diagnosis pada orang yang tersangka menderita kelainan atau gangguan tertentu. Oleh karena perbedaan tujuan tersebut, maka pemeriksaan skrining dan pemeriksaaan diagnostik berbeda dalam hal sensitivitas dan spesifisitasnya. Sensitivitas memperlihatkan kemampuan suatu alat pemeriksaan untuk mendeteksi penyakit pada seorang subyek, sedangkan spesifisitas menunjuk pada kemampuan suatu alat pemeriksaan untuk menentukan bahwa subyek mengalami penyakit ataupun tidak.</p> <p>Pemeriksaan skrining haruslah mempunyai sensitivitas yang lebih besar daripada spesifisitasnya untuk dapat menjaring kelainan atau gangguan sekecil mungkin. Sedangkan pemeriksaan diagnostik harus mempunyai spesifisitas yang lebih besar daripada sensitivitasnya untuk dapat menegakkan diagnosis seobyektif mungkin. Meskipun demikian, baik pada pemeriksaan skrining maupun pemeriksaan diagnostik lanjutan, secara umum disepakati bahwa keduanya harus mempunyai nilai sensitivitas dan spesifisitas yang cukup besar (di atas 80%).</p> <p>Berikut ini adalah beberapa persyaratan umum bagi suatu instrumen agar layak disebut sebagai alat skrining, di samping mempunyai angka sensitivitas dan spesifitas tertentu:1. Instrumen pemeriksaan haruslah tersedia di Indonesia.2. Mudah dioperasikan, minimal oleh para dokter umum.3. Mempunyai mobilitas yang tinggi, mudah dibawa ke mana-mana, dan dapat dipakai pada pemeriksaan kesehatan di lapangan.4. Relatif murah dan terjangkau.</p> <p>Khususnya bagi pemerksaan skrining mata pada seorang (calon) pengemudi, terdapat delapan komponen pemeriksaan sesuai dengan Konsensus Nasional Pedoman Pemeriksaan Kesehatan Pengemudi. Tabel berikut menjelaskan masing-masing jenis pemeriksaan mata beserta instrumen pemeriksaan terpilih. (1)</p> <p>Tabel 1. Komponen Pemeriksaan MataJenis PemeriksaanInstrumen Pemeriksaan</p> <p>Tajam penglihatan (visual acuity)Snellen Chart</p> <p>Pergerakan bola mataPemeriksaan Fisik</p> <p>Lapangan pandangKampimetri</p> <p>Persepsi warnaBuku Ishihara</p> <p>Waktu reaksi visualTes Lakassidaya</p> <p>Ketahanan terhadap kesilauanPemeriksaan Fisik (tidak adanya katarak)</p> <p>Penglihatan malam (night vision)Tes adaptasi gelap dan tes adaptasi terang</p> <p>Persepsi kedalamanBuku TNO Stereotest</p> <p>I.5.1 Pemeriksaan Tajam PenglihatanTajam penglihatan disebut juga Visual Acuity atau Acies Visus, yaitu kemampuan seseorang untuk dapat melihat suatu objek yang sekecil mungkin tanpa akomodasi. Seseorang dikatakan mempunyai tajam penglihatan normal bila orang tersebut dapat melihat atau membedakan dua buah titik yang membentuk sudut sebesar 1 menit busur (arc minutes) atau 0,0003 radial. Mata hanya dapat membedakan 2 titik terpisah bila titik tersebut membentuk sudut sebesar 1 menit busur. Sebuah huruf hanya dapat terlihat jelas bila seluruh huruf membentuk sudut 5 menit busur dan setiap bagian dipisahkan dengan sudut 1 menit busur (Gambar 1). Makin jauh benda atau huruf yang akan dilihat, maka benda atau huruf tersebut makin perlu dibesarkan, karena sudut penglihatan yang dibentuk harus tetap 5 menit busur agar suatu huruf dapat terlihat dengan jelas. (2)</p> <p>Gambar 1. Tajam Penglihatan.</p> <p>Pemeriksaan tajam penglihatan sebaiknya dilakukan pada jarak 6 meter (di USA: 20 feet), karena pada jarak ini mata akan melihat benda dalam keadaan beristirahat atau tanpa akomodasi.</p> <p>Kemampuan mata melihat benda atau secara rinci sebuah objek secara kuantitatif ditentukan dengan dua cara: (2)1. Sebanding dengan sudut resolusi minimum (dalam menit busur). Ini merupakan tajam penglihatan resolusi. Disebut juga resolusi minimum tajam penglihatan.2. Dengan fraksi Snellen. Ini ditentukan dengan mempergunakan huruf atau cincin Landolt atau objek ekuivalen lainnya. </p> <p>Pemeriksaan tajam penglihatan jauh atau Visus dapat dilakukan dengan menggunakan: Snellen Chart, E-Chart, Logmar Chart, Kay Picture Test Chart atau Sheridan Gardner Test. Di Indonesia, instrumen terpilih yang biasa digunakan untuk menguji tajam penglihatan jauh seseorang adalah Kartu Snellen atau Snellen chart (Gambar 2), karena mudah diperoleh. Biasanya di bagian samping optotype tersebut terdapat pecahan (fraksi Snellen) yang mewakili besaran tajam penglihatan. Nilai fraksi Snellen untuk tajam penglihatan jauh pada mata normal adalah 6/6 (atau 20/20), sedangkan tajam penglihatan kurang (low vision) adalah tajam penglihatan lebih kecil atau sama dengan 6/12. (2,3,4)</p> <p>Tajam penglihatan 6/60 didefinisikan bahwasanya orang normal dapat melihat suatu obyek pada jarak 60 meter, sedangkan subyek yang menjalani pemeriksaan hanya dapat melihat obyek tersebut pada jarak 6 meter. Jika ditulis Visus 6/6, artinya angka 6 di atas (pembilang) menunjukkan kemampuan jarak baca subyek, sedangkan angka 6 di ba...</p>