Pemetaan Detail Situasi

  • Published on
    09-Aug-2015

  • View
    1.024

  • Download
    41

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Kemah Kerja 2012 Universitas Pakuan Bogor dan Institut Teknologi Bandung

Transcript

<p>KATA PENGANTAR</p> <p>Segala puji kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya yang diberikan kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan kemah kerja dimulai dari proses pengambilan data hingga penyusunan laporan. Laporan ini merupakan hasil kerja keras kami yang tidak terlepas dari segenap bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, baik dari lingkungan keluarga, civitas akademika, teman dan sahabat, yang mungkin jumlahnya terlalu banyak untuk disebutkan satu per satu. Untuk itu, kami ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang senantiasa membantu kami selama kemah kerja. Pada proses penyusunan laporan ini, kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kata sempurna. Hal ini dikarenakan keterbatasan pengetahuan yang kami miliki. Namun demikian, kami telah mencurahkan segala ilmu dan tenaga yang kami miliki untuk penyusunan laporan ini dengan harapan dapat berguna bagi orang banyak. Akhir kata, kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam laporan ini. Tidak lupa kami mengharapkan saran dan kritik demi kemajuan penyusunan laporan kami berikutnya. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca, serta dapat menjadi referensi demi kemajuan nusa dan bangsa.</p> <p>Bogor, 7 Januari 2013</p> <p>Penyusun</p> <p>Laporan Kemah Kerja 2012 Kelompok 3</p> <p>i</p> <p>BAB I PENDAHULUANI.1 Latar Belakang Bumi tempat kita tinggal mempunyai berbagai macam bentuk relief tanah dan objek lainnya, baik itu bentukan alami maupun manusia. Untuk mempermudah kita mengenal bumi ini, diperlukan suatu representasi mengenai keadaan bumi dalam bentuk yang praktis dan mudah dimengerti. Geodesi merupakan salah satu cabang dari ilmu kebumian yang khusus mempelajari geodinamika bumi, agar dapat direpresentasikan beserta informasi-informasi geografisnya dalam suatu bidang, baik itu manual maupun dijital. Sarana yang umum dipakai oleh orang-orang dalam pembangunan atau navigasi adalah peta topografi. Topografi berasal dari bahasa Yunani topos yang berarti lapangan dan grafos yang berarti penjelasan tertulis. Jadi, topografi mempunyai arti penjelasan tertulis mengenai keadaan lapangan. Untuk dapat membuat peta topografi, dibutuhkan beberapa titik yang mewakili bentukan alam yang akan dipetakan. Titik-titik ini harus sudah diketahui koordinatnya terhadap suatu sistem koordinat tertentu dan skala yang seragam. Oleh karena itu, dibutuhkan beberapa proses dalam pembuatan peta topografi. Proses tersebut meliputi pengukuran kerangka dasar horizontal, pengukuran kerangka dasar vertikal, dan pengukuran situasi atau detail. Besaran-besaran yang diukur meliputi arah, sudut, jarak, dan ketinggian baik secara langsung maupun tidak langsung. Objek yang diukur dalam pengukuran kerangka dasar adalah sudut dan beda tinggi dari titik-titik kerangka dasar yang kita tentukan di lapangan dan mempunyai fungsi sebagai titik pengontrol untuk pengukuran situasi. Sedangkan dalam pengukuran situasi, objek yang diukur adalah titik-titik detail yang merupakan posisi pohon, pojok bangunan, bentuk jalan, titik ketinggian, dan titik lainnya yang letak dan kerapatannya ditentukan oleh skala untuk menggambarkan bentuk relief tanah. Setelah semua proses pengukuran dilakukan, pengolahan data dapat dimulai untuk memecahkan parameter koordinat terhadap suatu sistem koordinat tertentu. Untuk dapat melakukan semua kegiatan tersebut, diperlukan pemahaman teoritis mengenai Ilmu Ukur Tanah, Hitung Perataan, Kerangka Dasar Geodetik, Survei Satelit, Sistem Transformasi Koordinat, Kartografi, dan lain-lain. Berdasarkan latar belakang inilah, Program Studi Teknik Geodesi dan Geoinformatika Universitas Pakuan Bogor mengadakan Kemah Kerja yang bertujuan untuk mengaplikasikan ilmu-ilmu teoritis yang sudah didapat selama kuliah dan menguji kemampuan koordinasi antar sesama mahasiswa. Kemah Kerja kali ini berlokasi di kawasan Hutan Buru Kareumbi, Gunung Masigit.Laporan Kemah Kerja 2012 Kelompok 3 1</p> <p>Produk akhir yang diharapkan dari kegiatan ini adalah peta topografi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas untuk berbagai kepentingan. Secara tidak langsung, tujuan untuk pengabdian masyarakat pun dapat tercapai. I.2 Maksud dan Tujuan Mengaplikasikan keilmuan geodesi dan geoinformatika Universitas Pakuan Bogor dalam pembuatan peta dengan skala 1:2000 dan 1:500. I.3 Gambaran Umum Daerah Wilayah pengukuran dibagi dalam 2 bagian, yaitu daerah pengukuran titik kerangka dasar dan pengukuran detail situasi. Untuk pengukuran titik kerangka dasar, dilakukan pengukuran pada jalur 6 yang terdapat di kring III, sedangkan untuk pengukuran detail situasi dilakukan pengukuran di daerah kring 4, yaitu wilayah rumah pohon.</p> <p>I.4</p> <p>Waktu dan Tempat Pelaksanaan kegiatan Kemah Kerja 2012 dilakukan dalam dua tahap, yaitu tahap</p> <p>pengambilan data dan pengolahan data. Tahap pengambilan data dilaksanakan pada tanggal 3-17 Juni 2012 bertempat digunung Masigit, Kareumbi, Garut. Tahap kedua adalah pengolahan data yang dilakukan di Fakultas Teknik Kampus Universitas Pakuan Bogor dari tanggal 18 Juni 29 Juni 2012.Laporan Kemah Kerja 2012 Kelompok 3 2</p> <p>I.5</p> <p>Peserta Kegiatan Peserta Kemah Kerja 2012 merupakan 97 mahasiswa Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, serta 13 mahasiswa Teknik Geodesi Universitas Pakuan. Peserta dibagi dalam 10 kelompok. Penulis merupakan kelompok 3 dengan anggota sebagai berikut : 1. Manda Marcella 2. Nur Fajar Trihantoro 3. Legina Nur Widya 4. M. Syafril Radifanur 5. Raden Artha Alam 6. Rezza Riawan 7. Rifkizel 8. Ikhwan Permana 9. Rio Adhitia Putra 10. Binahar Panjaitan 11. Rega Aminda 15109010 15109013 15109015 15109017 15109023 15109084 15109087 15109088 15109093 15109098 051110006 ITB ITB ITB ITB ITB ITB ITB ITB ITB ITB Universitas Pakuan Bogor</p> <p>Laporan Kemah Kerja 2012 Kelompok 3</p> <p>3</p> <p>BAB II LANDASAN TEORIII.1 PEMETAAN SITUASI Pemetaan situasi adalah pemetaan suatu daerah atau wilayah ukur yang mencakup penyajian dalam dimensi horizontal dan vertical secara bersama-sama dalam suatu gambar peta. Kegiatan pemetaan situasi meliputi pekerjaan sebagai berikut : 1. Orientasi dan Perencanaan Pengukuran 2. Kerangka Kontrol Horizontal 3. Kerangka Kontrol Vertikal 4. Pengukuran Detail Situasi 5. Penggambaran Peta II.1.1 Orientasi dan Perencanaan Pengukuran Orientasi medan yaitu kegiatan yang dilakukan untuk melihat situasi medan pengukuran dalam rangka merencanakan lokasi penempatan patok kerangka dasar atau merencanakan titik-titik yang akan diambil untuk detail situasi. Selanjutnya yaitu melakukan perencanaan dimana akan dipasang titik kontrol horizontal dan titik kontrol vertikal. Sebelum melaksanakan pekerjaan pengukuran perlu dilakukan pengadaan sejumlah titik dengan kerapatan tertentu dan ditandai dengan patok dari kayu, pilar beton atau baut yang ditanam pada permukaan tanah atau suatu gedung atau jembatan. Pekerjaan ini biasa disebut dengan pematokan. Hal- hal yang harus diperhatikan dalam pematokan adalah sebagai berikut : Antara patok 1 dan patok lain yang bersebelahan harus terlihat dan harus dapat dibidik dengan ETS. Jarak antar patok yang bersebelahan tidak boleh melebihi ketelitian jarak dalam EDM yang terdapat dalam ETS.</p> <p>Laporan Kemah Kerja 2012 Kelompok 3</p> <p>4</p> <p>Patok dibuat dengan patok yang sudah dipersiapkan (patok yang dicat warna orange) Posisi patok harus seefektif dan seefisien mungkin. Dalam satu patok, harus hanya dapat melihat patok sebelumnya atau sesudahnya. Tidak boleh ada patok yang bisa melihat patok 2 patok setelahnya atau sebelumnya. Setelah patok dipasang, segera dibuat sketsa patok yang sudah memperhatikan arah dan jarak meskipun masih secara kasar. Penomoran patok atau titik Kerangka Dasar (KD) terdiri dari 3 digit angka, dimana digit pertama adalah nomor jalur kelompok (1-10) dan 2 digit terakhir adalah nomor titik KD. 1 titik KD memiliki 1 nama. Dan 1 nama hanya dimiliki oleh 1 titik KD.</p> <p>II.1.2 Kerangka Kontrol Horizontal Kerangka Kontrol Horizontal merupakan kumpulan titik-titik yang telah diketahui atau ditentukan posisi horizontalnya berupa koordinat pada bidang datar (X,Y) dalam sistem proyeksi tertentu. untuk keperluan pemetaan yang ditandai dengan patok-patok di lapangan. Pengukuran Kerangka Horizontal mempunyai maksud dan tujuan untuk menentukan koordinat dari koordinat lain yang telah diketahui. Sistem koordinat lokal atau sistem koordinat nasional yang digunakan sebagai</p> <p>acuan/pengikatan dalam penentuan posisi suatu titik atau titik kontrol lainnya. Metode penentuan posisi yang digunakan untuk penentuan kerangka horizontal dalam Kemah Kerja adalah Metoda Pengukuran Poligon dan Metoda Penentuan Posisi dengan GPS. II.1.2.1 Metode Pengukuran Poligon Poligon adalah suatu metode penentuan posisi horizontal banyak titik, dimana titik satu dengan titik lainnya dihubungkan satu sama lain dengan pengukuran sudut dan jarak sehingga membentuk suatu rangkaian titik-titik. Untuk menghitung koordinat titik-titik lain dalam poligon, perlu diketahui minimal satu koordinat awal dan satu arah awal (azimut awal) atau diketahui koordinat dua titik dalam rangkaian poligon tersebut. Dari data sudut dan jarak serta beberapa koordinat yang diketahui maka dapat dihitung koordinat titik lainya dengan rumus berikut :Laporan Kemah Kerja 2012 Kelompok 3 5</p> <p>XB = XA + DAB Sin AB YB = YA + DAB Cos AB</p> <p>Dimana : XA , YA XB , YB DAB AB : Koordinat awal (diketahui) : Koordinat yang akan ditentukan : Jarak antara dua titik : Azimut antara dua titik</p> <p>Berdasarkan bentuk geometris pengukuran poligon dapat dibagi dalam bentuk memanjang, kring (loop) dan bercabang. Dari hasil pengukuran poligon, apabila tidak memenuhi syarat geometris maka akan terjadi kesalahan penutup poligon (salah penutup sudut, absis dan ordinat). Kesalahan penutup ini dapat diratakan dengan metoda hitung perataan diantaranya metoda hitung perataan bouditch, dell dan metoda kuadrat terkecil. Dalam penentuan posisi dengan Poligon dilakukan pengukuran, antara lain: Pengukuran sudut mendatar adalah pengukuran yang dilakukan dengan cara mengukur jurusan-jurusan pada kedua arah sisi yang membentuk suatu sudut.</p> <p>J I</p> <p>ij</p> <p>Keterangan : Li = Jurusan ke titik i Lj = Jurusan ke titik j ij = Lj Li</p> <p>Laporan Kemah Kerja 2012 Kelompok 3</p> <p>6</p> <p>. Pengukuran jarak mendatarJarak mendatar ialah garis penghubung terpendek antara dua titik. LI</p> <p>A Keterangan : LI = Jarak datar</p> <p>B</p> <p>A , B = Nomor titik</p> <p>Berdasarkan bentuk geometris, pengukuran poligon dapat dibagi dalam bentuk : 1. Poligon Terbuka Poligon Terbuka adalah poligon yang terikat pada satu kordinat dan satu sudut jurusan awal, seperti gambar dibawah ini:</p> <p>zA</p> <p>Keterangan :</p> <p>= Sudut = Jarak = Sudut Jurusan Awal</p> <p>Laporan Kemah Kerja 2012 Kelompok 3</p> <p>7</p> <p>Prinsip Syarat Geometri = akhir - awal + n.180</p> <p> X = X akhir X awal Y = Y akhir Y awal 2. Poligon Tertutup/Kring Poligon yang terikat kepada dua titik yang telah diketahui kordinatnya dan satu sudut jurusan awal, yang berakhir dititik awal pengkuran Seperti gambar dibawah ini :</p> <p>B</p> <p>1</p> <p>ZA 2</p> <p>3</p> <p>Keterangan :</p> <p>= Sudut = Jarak = Sudut Jurusan Awal</p> <p>Laporan Kemah Kerja 2012 Kelompok 3</p> <p>8</p> <p>Syarat Geometri : X = ( n 2 ) . 180 (sudut dalam) = ( n + 2 ) . 180 (sudut luar) =0</p> <p> Y = 0 II.1.2.2Penentuan Posisi dengan Global Positioning System (GPS)</p> <p>GPS (Global Possitioning System) adalah sistem navigasi dan penentuan posisi menggunakan satelit yang dikembangkan dan dikelola oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat.GPS dapat memberikan informasi tentang posisi, kecepatan dan waktu dimana saja dimuka bumi setiap saat, dengan ketelitian penentuan posisi dalam fraksi milimeter sampai dengan meter. Kemampuan jangkauannya mencakup seluruh dunia dan dapat digunakan banyak orang setiap saat pada waktu yang sama. (Abidin,H.Z, 1995) Untuk dapat melaksanakan prinsip penentuan posisi diatas, GPS dikelola dalam suatu sistem GPS yang terdiri dari dari 3 bagian utama yaitu bagian angkasa (space segment), bagian pengontrol dan bagian pengguna, seperti gambar berikut: Dalam aplikasinya ada beberapa metoda penentuan posisi dengan GPS diantaranya adalah metoda penentuan posisi absolut dan metoda penentuan posisi relatif. II.1.2.2.1 Metoda Absolut Penentuan posisi dengan GPS metode absolut adalah penentuan posisi yang hanya menggunakan 1 alat receiver GPS. Karakteristik penentuan posisi dengan cara absolut ini adalah sebagai berikut : Posisi ditentukan dalam sistem WGS84 (terhadap pusat bumi). Prinsip penentuan posisi adalah perpotongan kebelakang dengan jarak kebeberapa satelit sekaligus. Hanya memerlukan satu receiver GPS. Titik yang ditentukan posisinya bisa diam (statik) atau bergerak (kinematik). Ketelitian posisi berkisar antara 5 sampai dengan 10 meterLaporan Kemah Kerja 2012 Kelompok 3 9</p> <p>-</p> <p>Aplikasi utama untuk keperluan navigasi dan metoda ini tidak dimaksudkan untuk aplikasi-aplikasi yang menuntut ketelitian posisi</p> <p>II.1.2.2.1 Metoda Differensial Yang dimaksud dengan penentuan posisi relatif atau metoda differensial adalah menentukan posisi suatu titik relatif terhadap titik lain yang telah diketahui koordinatnya, Pengukuran dilakukan secara bersamaan pada dua titik dalam selang waktu tertentu. Selanjutnya dari data hasil pengamatan diproses dan dihitung sehingga akan didapat perbedaan koordinat kartesian 3 dimensi (dx, dy, dz) atau disebut juga dengan baseline antar titik yang diukur.</p> <p>Karakteristik umum dari metoda penentuan posisi ini adalah sebagai berikut : Memerlukan minimal 2 receiver, satu ditempatkan pada titik yang telah diketahui koordinatnya. Posisi titik ditentukan relatif terhadap titik yang diketahui. Konsep dasar adalah differencing process dapat mengeliminir atau mereduksi pengaruh dari beberapa kesalahan dan bias. Bisa menggunakan data pseudorange atau fase. Ketelitian posisi yang diperoleh bervariasi dari tingkat mm sampai dengan desimeter.</p> <p>Laporan Kemah Kerja 2012 Kelompok 3</p> <p>10</p> <p>II.1.3 Kerangka Kontrol Vertikal Kerangka kontrol vertikal merupakan kumpulan titik-titik yang telah diketahui atau ditentukan posisi vertikalnya berupa ketinggiannya terhadap bidang referensi tertentu. Pengukuran tinggi adalah menentukan beda tinggi antara dua titik. Beda tinggi antara 2 titik dapat di tentukan dengan metode pengukuran sipat datar, metode trigonometris. II.1.3.1 Metoda Sipat Datar Sipat datar adalah suatu cara pengukuran beda tinggi antara dua titik diatas permukaan tanah, dimana penentuan selisih tinggi antara titik yang berdekatan dilakukan dengan tiga macam cara penenmpatan alat penyipat datar yang dipakai sesuai keadaan lapangan, yang dibedakan berdasarkan tempat berdirinya alat yakni: 1. Pada posisi tepat diatas salah satu titik yang akan ditentukan adalah selisih tingginya</p> <p>Keterangan: ta T HA b HB hab : tinggi alat di A : tinggi garis bidik : tinggi titik A : bacaan rambu di B : tinggi titik B : beda tinggi dari A ke B = ta b</p> <p>Tinggi titik B : Hb = Ha + habLaporan Kemah Kerja 2012 Kelompok 3 11</p> <p>2. Pada posisi ditengah-tengah antar 2 (dua) titik den...</p>