PEMICU 2 FIX.doc

  • Published on
    05-Nov-2015

  • View
    218

  • Download
    6

Embed Size (px)

Transcript

PEMICU 2 Seorang laki-laki dengan demam Dr. Bayu, 25 tahun, seorang dokter PTT telah menyelesaikan tugasnya di Kalimantan Timur 2 bulan yang lalu dan kembali ke Jakarta. Ia dibawa ke rumah sakit dengan keluhan demam tinggi, menggigil, berkeringat, pucat, sakit kepala, dan muntah. Sebelumnya dr. Bayu pernah menderita sakit seperti ini ditempat tugasnya. Pemeriksaan fisik: suhu 38,3 0C; nadi 100x/menit; Tekanan darah: 120/80mmHg; frekuensi nafas: 18X/menit.KATA KUNCI Laki-laki 25 tahun

Demam tinggi

Menggigil

Berkeringat

Pucat

Sakit kepala

Muntah

Pemeriksaan fisik :

Suhu 38,3 CNadi 100x/menit

Tekanan darah 120/80 mmHg

RR 18x/menitIDENTIFIKASI MASALAH Laki-laki 25 tahun demam tinggi (38,3C) disertai menggigil, berkeringat, pucat, sakit kepala, dan muntah

Baru pulang setelah bertugas di Kal-tim 2 bulan yang lalu dan sebelumnya pernah mengalami penyakit seperti ini ditempat bertugasnya.

ANALISIS MASALAH

HIPOTESISdr Bayu 25 tahun berdasarkan tanda dan gejala serta riwayat penyakit sebelumnya mengalami malaria.PERTANYAAN TERJARING

1. Demam tifoid

a. Definisi & etiologi

b. Tanda gejala, faktor risiko dan epidemiologi

c. Patofisiologi sampai menimbulkan tanda dan gejala

d. Diagnosis

2. 1. Malaria Palcifaruma. Definisi & etiologi

b. Tanda gejala, faktor risiko dan epidemiologi

c. Patofisiologi sampai menimbulkan tanda dan gejala

d. Diagnosis

2. 2. Malaria Vivaxa. Definisi & etiologi

b. Tanda gejala, faktor risiko dan epidemiologi

c. Patofisiologi sampai menimbulkan tanda dan gejala

d. Diagnosis

2. 3. Malaria Ovale

a. Definisi & etiologi

b. Tanda gejala, faktor risiko dan epidemiologi

c. Patofisiologi sampai menimbulkan tanda dan gejala

d. Diagnosis

2. 4. Malaria malariae

a. Definisi & etiologi

b. Tanda gejala, faktor risiko dan epidemiologi

c. Patofisiologi sampai menimbulkan tanda dan gejala

d. Diagnosis

3. DBD

a. Definisi & etiologi

b. Tanda gejala, faktor risiko dan epidemiologi

c. Patofisiologi sampai menimbulkan tanda dan gejala

d. Diagnosis

4. DX ?

5. DX

a. Patogenesis

b. Tatalaksana

c. Prognosis

d. Preventif & komplikasi

6. Mekanisme demam

7. Mekanisme pucat

8. Mekanisme sakit kepala

9. Mekanisme muntah

10. Mengapa pada kasus mengaami penyakit yang sama kembali ? hubungkan dengan lokasi PTT!JAWABAN 1. Demam tifoid

a. Definisi dan etiologi

Demam tifoid atau typhus abdominalis merupakan penyakit infeksi akut yang terjadi pada usus halus, yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhi.

b. Tanda dan Gejala, faktor Resiko dan Epidemiologi Tanda dan gejalaSetelah masa inkubasi selama 10-20 hari timbul gejala prodormal yaitu ;

Malaise

Mialgia

Sakit kepala

kemudian menyusul gejala klinis yaitu ;

Demam

Bau nafas tidak sedap

Bibir kering dan pecah-pecah (ragaden)

Lidah ditutupi selaput putih kotor (coated tongue)

Perut kembung (meteorismus)

Konstipasi

Diare

Gangguan kesadaran ; apatis somnolenFaktor risiko

Sumber air dan sanitasi yang buruk Kurangnya higiene pengolahan makanan

Kurangnya perilaku hidup bersih dan sehat (mencuci tangan)Epidemiologi

Angka kejadian Demam Tifoid di Indonesia mencapai 350 810 kasus per 100.000 populasi. Demam tifoid dapat menginfeksi semua orang dan tidak ada perbedaan yang nyata antara insiden pada laki-laki dan perempuan. Insiden pasien demam tifoid dengan usia 12 30 tahun 70 80 %, usia 31 40 tahun 10 20 %, usia > 40 tahun 5 10 %. Menurut penelitian Simanjuntak, C.H, dkk (1989) di Paseh, Jawa Barat terdapat 77 % penderita demam tifoid pada umur 3 19 tahun dan tertinggi pada umur 10 -15 tahun dengan insiden rate 687,9 per 100.000 penduduk. Insiden rate pada umur 0 3 tahun sebesar 263 per 100.000 penduduk.

c. Patofisiologi sampai menimbulkan tanda dan gejala Salmonella yang tertelan akan mencapai usus halus, dari usus halus Salmonella memasuki saluran limfatik dan kemudian masuk ke aliran darah. Salmonella dibawa ke berbagai organ oleh darah, salah satunya usus. Organisme tersebut memperbanyak diri di jaringan limfoid usus dan diekskresikan dalam feses. Setelah periode inkubasi selama 10-14 hari, timbul demam, malaise, sakit kepala, konstipasi, bradikardia, dan mialgia. Demam mencapai tingkat yang lebih parah, serta limfa dan hepar membesar. Meskipun jarang, rose spots (bercak makulopapular) dapat timbul sebentar, biasanya pada kulit perut atau dada. Hitung jenis leukosit normal atau rendah. Kondisi ini jika dibiarkan dapat mengakibatkan perdarahan dan perforasi usus. Lesi utama adalah hyperplasia dan nekrosis jaringan limfoid (misalnya plak peyeri usus), hepatitis, nekrosis fokal pada hepar, dan peradangan kandung empedu, periosteum, paru, serta organ lain.d. Penegakkan diagnosis demam tifoid

Diagnosis demam tifoid dapat ditegakkan dengan melihat gejala klinis dan hasil laboratorium. Pemeriksaan laboratorium yang bisa dilakukan untuk membantu dalam diagnosis demam tifoid adalah pemeriksaan darah perifer lengkap dengan gambaran yang sering ditemukan berupa leukopenia, namun dapat pula terjadi jumlah leukosit normal atau leukositosis, pada pemeriksaan hitung jenis leukosit dapat terjadi aneosinofilia maupun limfopenia. Pemeriksaan rutin lainnya yaitu uji Widal dan kultur organisme.Sampai saat ini, kultur masih menjadi standar baku emas dalam penegakkan diagnosis demam tifoid karena merupakan metode yang paling spesifik, namun kekurangannya membutuhkan waktu yang lama untuk pembiakan. Selain uji Widal, ada juga beberapa metode pemeriksaan serologi lain yang dapat dilakukan dengan cepat dan mudah serta memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang lebih baik dari Widal, yaitu uji TUBEX , typhidot, dan dipstick2.1 Malaria Palcifaruma. Definisi dan etiologi malaria falciparum

Definisi:

Malaria falciparum atau bias juga disebut malaria tropika atau malaria tersiana maligna merupakan malaria yang disebabkan oleh Plasmodium falciparum.Etiologi: P. Falciparumb. Tanda dan Gejala, Faktor Resiko, dan EpidemiologiTanda dan gejala Malaria falciparum :

Panas yang ireguler, kadang remiten atau intermiten

Anemia, dikarenakan pengrusakan eritrosit oleh parasit, hambatan eritropoiesis sementara, hemolisis oleh karena proses complement mediated immune complex, eritrofagositosis, penghambatan pengeluaran retikulosit, dan pengaruh sitokin.

Splenomegali, dikarenakan limpa merupakan organ yang penting dalam pertahanan tubuh terhadap infeksi malaria.

Parasitemia

Gejala prodromal (sakit kepala, nyeri belakang/tungkai, lesu, perasaan dingin, mual, muntah, dan diare). Gejala prodromal ini sering pada malaria P.vivax dan ovale, sedangkan pada P.falciparum dan malariae keluhan prodromal tidak jelas bahkan gejala dapat mendadak.

Gejala klasik (Trias Malaria) periode dingin (15-60 menit): mulai menggigil penderita sering membugkus diri dengan selimut atau sarung dan pada saat menggigil sering seluruh badan bergetar dan gigi saling terantuk, diikuti dengan meningkatnya temperature. periode panas : penderita muka merah, nadi cepat, dan panas badan tetap tinggi beberapa jam, diikuti dengan keadaan berkeringat. periode berkeringat : penderita berkeringat banyak dan temperature turun, dan penderita merasa sehat. Pada P.falciparum menggigil dapat berlangsung berat ataupun tidak ada. Pperiode tidak panas berlangsung 12 jam. Faktor risiko :

Factor parasit : resistensi obat, kecepatan multiplikasi, cara invasi, sitoadherens, roseting, toksin malaria.

Factor pejamu : imunitas, sitokin proinflamasi, umur.

Factor social dan geografi : akses pelayanan kesehatan, intensitas transmisi nyamuk.Epidemiologi :

Daerah endemis malaria dengan P.falciparum dan P.vivax adalah kawasan timur Indonesia mulai dari Kalimantan, Sulawesi Tengah sampai ke Utara, Maluku, Irian Jaya dan dari Lombor sampai Nusa Tenggara Timur serta Timor Timur.c. Patofisiologi sampai menimbulkan tanda dan gejala

d. DiagnosisDiagnosis malaria :a. Wawancara (anamnesis)

Anamnesis atau wawancara dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang penderita malaria yakni, keluhan utama: demam, menggigil, dan berkeringat yang dapat disertai sakit kepala, mual muntah, diare, nyeri otot, pegal-pegal, dan riwayat pernah tinggal di daerah endemis malaria, serta riwayat pernah sakit malaria atau minum obat anti malaria satu bulan terakhir, maupun riwayat pernah mendapat tranfusi darah.

b. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik terhadap penderita dapat ditemukan mengalami demam dengan suhu tubuh dari 37,50C sampai 400C, serta anemia yang dibuktikan dengan konjungtiva palpebra yang pucat, pambesaran limpa (splenomegali) dan pembesaran hati (hepatomegali).

c. Pemerikasaan laboratorium

Pemeriksaan mikroskopis, pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan darah yang menurut teknis pembuatannya dibagi menjadi preparat darah (SDr, sediaan darah) tebal dan preparat darah tipis, untuk menentukan ada tidaknya parasit malaria dalam darah. Tes diagnostik cepat Rapid Diagnostic Test (RDT) adalah pemeriksaan yang dilakukan bedasarkan antigen parasit malaria dengan imunokromatografi dalam bentuk dipstick. Test ini digunakan pada waktu terjadi KLB (Kejadian Luar Biasa) atau untuk memeriksa malaria pada daerah terpencil yang tidak ada tersedia sarana laboratorium. Dibandingkan uji mikroskopis, tes ini mempunyai kelebihan yaitu hasil pengujian cepat diperoleh, akan tetapi Rapid Diagnostic Test (RDT) sebaiknya menggunakan ting