Bercak Hitam dan Kulit Kering oleh Evan Regar, 0906508024 Bercak Hitam Secara umum, dalam ilmu penyakit kulit dikenal istilah kelainan pigmentasi pada kulit. Kelainan ini disebabkan oleh bertambahnya dan/atau berkurangnya pembentukan pigmen melanin pada kulit. Warna kulit secara normal dipengaruhi oleh: (1) hemoglobin tereduksi (yang memberikan kesan biru); (2) hemoglobin teroksigenasi / oxyhemoglobin (yang memberikan kesan merah); (3) karotenoid (memberikan kesan kuning); dan (4) melanin (memberikan kesan cokelat-gelap). Walaupun demikian, melanin dominan dalam menentukan tiga warna kulit dasar seseorang (yang ditentukan secara genetik – disebut constitutive melanin pigmentation), yakni hitam, cokelat, atau putih.1 Peningkatan melanin (hipermelanosis) dapat diakibatkan faktor genetik, hormonal (seperti pada penyakit Adisson), peningkatan kadar hormon melanotropin pituitari, serta paparan terhadap radiasi ultraviolet (UVR). Hipermelanosis dapat berupa: (1) peningkatan jumlah melanosit; atau (2) tidak ada peningkatan melanosit tapi terjadi peningkatan produksi melanin. Lentigo ialah makula yang biasanya berwarna cokelat, berbentuk bulat. Lentigo disebabkan oleh pertambahan jumlah melanosit pada taut dermo-epidermal. Secara khusus, pada orang dewasa, dikenal istilah senile lentigo (atau solar lentigo, old age spot, liver spot, sun-induced freckle, atau senile freckle). Terjadi di usia 40 hingga 60, batas tegas, warna mulai dari cokelat muda hingga cokelat gelap, berukuran 1-3 cm, bentuknya bulat atau oval dengan batas berbentuk tidak teratur. Distribusi ruam tampak di daerah kulit yang sering terpajan matahari, seperti dahi, pipi, daerah hidung, tangan dan lengan bagian dorsal, punggung, serta dada. Kulit orang kaukasian sering mengalami solar lentigo, juga pada kulit-kulit orang asia. Mekanisme terjadinya lentigo adalah akibat proliferasi sel-sel melanosit, yang akhirnya meningkatkan melanisasi kulit. Berbeda dengan efelid (freckle) yang juga memiliki gambaran yang sama namun diakibatkan peningkatkan produksi melanin dan cenderung tanpa diikuti penambahan jumlkah sel melanosit. Senile lentigo, selain diakibatkan penambahan melanosit, diduga penyebab lainnya adalah hiperplasia melanosit. Sindrom LEOPARD dan Peutz-Jeghers juga ditandai dengan lentigo. Solar lentigo dapat diinduksi oleh efek mutagenik akibat paparan terhadap sinar UV sebelumnya, sehingga terjadi peningkatan produksi melanin . Mutasi gen FGFR3 dan PIK3CA ditemukan pada beberapa kasus solar lentigo. Di sekitar area yang mengalami hiperpigmentasi, kadang ditemui juga keadaan hipopigmentasi sehingga semakin menimbulkan perbedaan warna kulit.3 Pada pemeriksaan histopatologik didapati gambaran berpisahnya geligi epidermal dengan lapisan basal.. Meskipun tidak berbahaya, senile lentigo menggambarkan pajanan berlebih terhadap sinar matahari terutama pada orang-orang berusia lanjut, dan menunjukan peningkatan risiko kanker kulit sebagai efek kroniknya. Biopsi perlu dilakukan apabila didapati kecurigaan terhadap diagnosis diferensial yang ditandai dengan pertumbuhan yang sangat cepat, lesi yang dicurigai suatu melanoma, serta lesi-lesi yang menimbulkan rasa nyeri dan perdarahan. Untuk mengatasi lentigo, dapat digunakan siroterapi cahaya dengan nitrogen cair, pemutihan (bleaching) dengan hidrokuinon, pengelupasan kimiawi dengan asam trikloroasetat (trichlor), obat lain seperti mequinol, tretionin, tarzarotene, dan adapalene, serta menggunakan terapi laser dengan jenis laser YAG. Black spot, atau disebut juga melasma adalah suatu keadaan hipermelanosis yang didapat, dengan gambaran klinis makula (suatu ruam yang berbatas tegas berupa perubahan warna semata-mata, tidak menonjol), tidak merata, dapat berwarna mulai cokelat muda sampai cokelat tua, predileksinya di daerah yang terpajan UVR, khususnya di wajah. Onsetnya umumnya pada orang dewasa (30-44 tahun), dengan predileksi jenis kelamin perempuan lebih tinggi daripada laki-laki (pria hanya 10%)1, 2 Selain daripada paparan UVR, penggunaan kontrasepsi dan terapi hormon juga dapat menimbulkan gejala melasma. Lesi dapat timbul beberapa minggu setelah paparan sinar matahari. Patogenesisnya belum diketahui secara jelas, namun diduga akibat: (1) peningkatan produksi melanosom baik akibat UVR, hormon, maupun bahan farmakologik; dan (2) penghambatan turnover dari lapisan sel malpighi (stratum basalde dan stratum spinosum, yang merupakan stratum germinativum) akibat obat-obatan sitostatik. Etiologi dari melasma adalah: (1) sinar UV yang mampu merusak gugus sulfhidril (sulfhidril mampu menghambat aktivitas tirosinase melalui pengikatan ion Cu), sehingga proses melanogenesis terus berlangsung; (2) hormon seperti MSH; (3) obat farmakologik, seperti difenil hidantoin, mesantoin, klorpromasin, obat-obat sitostatik; (4) genetik dengan kasus sebanyak 20-70%; (5) ras; (6) penggunaan kosmetika yang bisa menyebabkan fotosensitivitas jika terpajan sinar matahari; dan (7) idiopatik. Diagnosis melasma ditegakkan dengan pemeriksaan klinis, namun untuk menentukan tipe melasma perlu dilakukan pemeriksaan sinar Wood. Untuk mencegah melasma diperlukan perlindungan terhadap paparan sinar matahari (jam 9 sampai 15). Menggunakan krim tabir surya (baik fisis, yang memantulkan UV; serta kimiawi, yang menyerap UV) – baik yang mengandung PABA maupun tidak mengandung PABA) sekitar 30 menit sebelum paparan sinar matahari. Pengobatan melasma dilakukan dengan topikal, antara lain penggunaan krim hidrokinon – digunakan malam hari disertai tabir surya pada siang hari, efek dalam 2 hingga 6 bulan); asam retinoat (tretionin), dan asam azelat. Pengobatan sistemik dilakukan dengan konsumsi vitamin C (mengubah melanin oksidasi – warna gelap- menjadi melanin reduksi – warna lebih terang), dan glutation (senyawa SH tereduksi untuk menghambat pembentukan melanin). Pengelupasan serta bedah laser juga dapat dilakukan. Gambar 1 – (kiri) Gambaran melasma pada wajah1; (kanan) Gambaran solar lentigo pada punggung tangan4 Gambar 2 – Gambaran solar lentigo pada kulit wajah seorang wanita5 Kulit Kering6 Lapisan epidermis (terutama stratum korneum) merupakan lapisan yang terutama berperan dalam kelembaban kulit. Secara biokimia, protein struktural keratin dan filaggrin berperan dalam proses kelembaban kulit. Korneosit (atau keratinosit yang telah berada pada lapisan stratum korneum, mengalami keratinisasi dan telah mati) mengandung keratin yang bermanfaat untuk menjaga kadar air (water-retaining keratin), selain untuk membentuk struktural lapisan epidermis, yang kemudian dikelilingi oleh selubung protein dan lemak.. Lapisan lemak dwilapis berada di sekeliling sel-sel ruang ekstraseluler. Sistem ini akan menjaga secara alamiah kelembaban kulit. Filagrin adalah protein yang awalnya mulai menggumpal di lapisan granulosa sel-sel kulit. Seiring maturasi keratinosit (naik ke lapisan yang lebih atas), filagrin akan bergabung dengan keratin membentuk suatu kompleks. Kompleks ini mencegah filagrin didegradasi oleh enzim proteolitik. Seiring proses maturasi, enzim mulai merusak kompleks keratin-filagrin, yang akhirnya filagrin berada di luar korneosit dan keratin tetap berada di dalam korneosit. Apabila kelembaban kulit berkurang, enzim protelitik di stratum korneum akan memicu perusakkan filagrin menjadi asam amino bebas. Asam amino bebas, bersama dengan zat lain seperti asam laktat, ujrea, dan garam berada di stratum korneum dan berfungsi sebagai faktor pelembab alamiah (natural moisturizing factors), dan bekerja dengan cara menarik dan menahan air, alias sifat higroskopis. Proteolisis filagrin hanya berlangsung apabila kulit kering. Adapun proses ini bermanfaat untuk mengendalikan tekanan osmosis kulit dan air yang dikandung oleh lapisan kulit. Selain daripada proses di atas, deskuamasi, atau pelepasan sel-sel kulit mati (the shedding of skin cells) juga penting untuk menjaga kehalusan kulit. Deskuamasi dilakukan oleh proses enzimatik (khususnya proses pelarutan desmosom – koneksi antarsel korneosit). Enzim proteolitik desmosom yang berada intraseluler ini cenderung hanya bekerja apabila kulit berada dalam kondisi cukup air (well-hydrated). Kekurangan air akan menyebabkan proses deskuamasi berjalan tidak normal dan mengakibatkan kulit menebal, kering, kasar, dan bersiisk. Lemak interseluler merupakan lapisan bertumpuk (multilamellae) yang beradda mengelilingi korneosit dan menyimpan air di dalam strukturnya. Lapisan ini terutama terdiri atas koelseterol, asam lemak bebas, dan spingolipid yang berasal dari degenerasi sel-sel granular. Seramida, salah satu jenis sffginlipid berperan dalam menghasilkan struktur lemak bertumpuk ini. Struktur ini akan memerangkap molekul air di regio hidrofilik (perlu diingat bahwa struktur lemak memiliki daerahg hidrofilik dan hidrofobik). Selain daripada itu, struktur ini juga mengelilingi koreneosit untuk mencegah aliran air dan zat-zat pelembab alamiah keluar dari stratum korneum dengan membentuk barrier yang impermeabel. Pada usia 40 tahun ke atas, struktur lipid interseluler ini mulai berkurang kualitas dan jumlahnya, sehingga kulit akan lebih mudah mengalami kering. Kulit kering (dan bersisik) merupakan kondisi di mana penyebab utamanya adalah kehilangan air pada lapisan stratum korneum. Kehilangan air ini disebut juga dengan kondisi TEWL (transepidermal water loss). Dikatakan bahwa kulit akan menajdi kering, bersisik, dan kontur elastis kulit berkurang apabila kadar air kurang dari 10% (dari kadar normal sekitar 30%). Stratum korneum sendiri mampu menyimpan air dan menerima air yang berasal dari lapisan di bawahnya (dermis), serta dari lingkungan luar tubuh. Air menjadi begitu penting karena air merupakan penyebab timbulnya sifat plastis dan lunak pada kulit. Jumlah air pada lapisan stratum korneum berubah-ubah tergantung kelembaban lingkungan, seperti pajanan terhadap udara dingin dan berangin dengan kelembaban lembab menyebabkan kulit menjadi kering. Apabila protein keratin di stratum korneum mengalami denaturasi, akan terjadi kehilangan faktor-faktor pelembab alami (natural moisturizing factors), seperti pelarut, detergen, sabun, dan air yang berlebihan, serta bahan kimia iritan lain. Sabun dan pelembab merupakan bahan pengiritasi sedang. Penggunaan bahan ini dapat menyebabkan protein kulit mengalami denaturasi dan kerusakan lapisan lamela lipid, sehingga terjadi kehilangan faktor pelembab alamiah dan mengurangi kohesi (kerekatan) antarsel. Akibatnya, terjadi penurunan kapasitas penyimpanan air kulit dan terjadinya TEWL. Pajanan terhadap bahan pengiritasi menyebabkan TEWL karena fungsi barrier pelindung yang terletak di stratum korneum mengalami penurunan fungsi. Bahan-bahan pelembab kulit (moisturizers) adalah bahan kimia yang meningkatkan kadar air di stratum korneum. Pada umumnya bahan pelembab kulit bekerja melalui bahan-bahan humektan (suatu bahan higroskopis = menyerap air) serta bahan-bahan oklusif (mampu menghambat pengeluaran air dari kulit) yang mirip dengan bahan pelembab kulit alami. Contoh bahan-bahan oklusif adalah petrolatum, lilin, dan lanolin. Bahan-bahan humektan cenderung menarik air dari dermis dalam, jarang dari lingkungan luar. Adanya hidrasi stratum korneum akan menormalkan fungsi lemak interselular dan proses deskuamasi alamiah. Bahan-bahan humektan antara lain asam amino, asam laktat, asam alfa hidroksil, propilena glikol, gliserin, dan urea. Selain daripada yang telah dijelaskan, pelembab kulit mengandung bahan yang mampu meningkatkan kehalusan kulit dengan melumasi dan mengisi celah-celah antarsel yang kering, yang sering dikatakan sebagai bahan aktif pelembab, sementara bahan pasif akan membantu melarutkan, mendistribusikan, dan menstabilkan bahan aktif. Gambar 3 – (ki) Struktur lapisan korneosit serta molekul-molekul yang berperan dalam kelembaban kulit; (ka) struktur lapisan lemak bertingkat yang akan memerangkap air di dalam strukturnya6 Referensi 1. Wolff K. Johnson RA. Suurmond D. Fitzpatrick’s color atlas & synopsis of clinical dermatology, 5th edition. New York: McGraw Hill; 2007. Djuanda A. Hamzah M. Aisah S. Buku ajar ilmu penyakit kulit dan kelamin, edisi kelima. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2007. Hall JC. Sauer’s manual of skin disease, 9th edition, Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2005. Uniklinik-Frieburg: diunduh dari www.uniklinikCourtesy: electronic.districsides.com freiburg.de Schwartz RA: diunduh dari: http://emedicine.medscape.com/article/1068503-overview Marino C from Washington State Department of Labor and Industries. Skin physiology, irritants, dry skin, and moisturizers. Diunduh dari: www.lni.wa.gov/Safety/Research/Dermatitis/files/skin_phys.pdf . 2. 3. 4. 5. 6.
Please download to view
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
...

Pemicu Kulit Kering dan Noda Hitam di Wajah

by kriswanti-ws

on

Report

Category:

Documents

Download: 0

Comment: 0

155

views

Comments

Description

Download Pemicu Kulit Kering dan Noda Hitam di Wajah

Transcript

Bercak Hitam dan Kulit Kering oleh Evan Regar, 0906508024 Bercak Hitam Secara umum, dalam ilmu penyakit kulit dikenal istilah kelainan pigmentasi pada kulit. Kelainan ini disebabkan oleh bertambahnya dan/atau berkurangnya pembentukan pigmen melanin pada kulit. Warna kulit secara normal dipengaruhi oleh: (1) hemoglobin tereduksi (yang memberikan kesan biru); (2) hemoglobin teroksigenasi / oxyhemoglobin (yang memberikan kesan merah); (3) karotenoid (memberikan kesan kuning); dan (4) melanin (memberikan kesan cokelat-gelap). Walaupun demikian, melanin dominan dalam menentukan tiga warna kulit dasar seseorang (yang ditentukan secara genetik – disebut constitutive melanin pigmentation), yakni hitam, cokelat, atau putih.1 Peningkatan melanin (hipermelanosis) dapat diakibatkan faktor genetik, hormonal (seperti pada penyakit Adisson), peningkatan kadar hormon melanotropin pituitari, serta paparan terhadap radiasi ultraviolet (UVR). Hipermelanosis dapat berupa: (1) peningkatan jumlah melanosit; atau (2) tidak ada peningkatan melanosit tapi terjadi peningkatan produksi melanin. Lentigo ialah makula yang biasanya berwarna cokelat, berbentuk bulat. Lentigo disebabkan oleh pertambahan jumlah melanosit pada taut dermo-epidermal. Secara khusus, pada orang dewasa, dikenal istilah senile lentigo (atau solar lentigo, old age spot, liver spot, sun-induced freckle, atau senile freckle). Terjadi di usia 40 hingga 60, batas tegas, warna mulai dari cokelat muda hingga cokelat gelap, berukuran 1-3 cm, bentuknya bulat atau oval dengan batas berbentuk tidak teratur. Distribusi ruam tampak di daerah kulit yang sering terpajan matahari, seperti dahi, pipi, daerah hidung, tangan dan lengan bagian dorsal, punggung, serta dada. Kulit orang kaukasian sering mengalami solar lentigo, juga pada kulit-kulit orang asia. Mekanisme terjadinya lentigo adalah akibat proliferasi sel-sel melanosit, yang akhirnya meningkatkan melanisasi kulit. Berbeda dengan efelid (freckle) yang juga memiliki gambaran yang sama namun diakibatkan peningkatkan produksi melanin dan cenderung tanpa diikuti penambahan jumlkah sel melanosit. Senile lentigo, selain diakibatkan penambahan melanosit, diduga penyebab lainnya adalah hiperplasia melanosit. Sindrom LEOPARD dan Peutz-Jeghers juga ditandai dengan lentigo. Solar lentigo dapat diinduksi oleh efek mutagenik akibat paparan terhadap sinar UV sebelumnya, sehingga terjadi peningkatan produksi melanin . Mutasi gen FGFR3 dan PIK3CA ditemukan pada beberapa kasus solar lentigo. Di sekitar area yang mengalami hiperpigmentasi, kadang ditemui juga keadaan hipopigmentasi sehingga semakin menimbulkan perbedaan warna kulit.3 Pada pemeriksaan histopatologik didapati gambaran berpisahnya geligi epidermal dengan lapisan basal.. Meskipun tidak berbahaya, senile lentigo menggambarkan pajanan berlebih terhadap sinar matahari terutama pada orang-orang berusia lanjut, dan menunjukan peningkatan risiko kanker kulit sebagai efek kroniknya. Biopsi perlu dilakukan apabila didapati kecurigaan terhadap diagnosis diferensial yang ditandai dengan pertumbuhan yang sangat cepat, lesi yang dicurigai suatu melanoma, serta lesi-lesi yang menimbulkan rasa nyeri dan perdarahan. Untuk mengatasi lentigo, dapat digunakan siroterapi cahaya dengan nitrogen cair, pemutihan (bleaching) dengan hidrokuinon, pengelupasan kimiawi dengan asam trikloroasetat (trichlor), obat lain seperti mequinol, tretionin, tarzarotene, dan adapalene, serta menggunakan terapi laser dengan jenis laser YAG. Black spot, atau disebut juga melasma adalah suatu keadaan hipermelanosis yang didapat, dengan gambaran klinis makula (suatu ruam yang berbatas tegas berupa perubahan warna semata-mata, tidak menonjol), tidak merata, dapat berwarna mulai cokelat muda sampai cokelat tua, predileksinya di daerah yang terpajan UVR, khususnya di wajah. Onsetnya umumnya pada orang dewasa (30-44 tahun), dengan predileksi jenis kelamin perempuan lebih tinggi daripada laki-laki (pria hanya 10%)1, 2 Selain daripada paparan UVR, penggunaan kontrasepsi dan terapi hormon juga dapat menimbulkan gejala melasma. Lesi dapat timbul beberapa minggu setelah paparan sinar matahari. Patogenesisnya belum diketahui secara jelas, namun diduga akibat: (1) peningkatan produksi melanosom baik akibat UVR, hormon, maupun bahan farmakologik; dan (2) penghambatan turnover dari lapisan sel malpighi (stratum basalde dan stratum spinosum, yang merupakan stratum germinativum) akibat obat-obatan sitostatik. Etiologi dari melasma adalah: (1) sinar UV yang mampu merusak gugus sulfhidril (sulfhidril mampu menghambat aktivitas tirosinase melalui pengikatan ion Cu), sehingga proses melanogenesis terus berlangsung; (2) hormon seperti MSH; (3) obat farmakologik, seperti difenil hidantoin, mesantoin, klorpromasin, obat-obat sitostatik; (4) genetik dengan kasus sebanyak 20-70%; (5) ras; (6) penggunaan kosmetika yang bisa menyebabkan fotosensitivitas jika terpajan sinar matahari; dan (7) idiopatik. Diagnosis melasma ditegakkan dengan pemeriksaan klinis, namun untuk menentukan tipe melasma perlu dilakukan pemeriksaan sinar Wood. Untuk mencegah melasma diperlukan perlindungan terhadap paparan sinar matahari (jam 9 sampai 15). Menggunakan krim tabir surya (baik fisis, yang memantulkan UV; serta kimiawi, yang menyerap UV) – baik yang mengandung PABA maupun tidak mengandung PABA) sekitar 30 menit sebelum paparan sinar matahari. Pengobatan melasma dilakukan dengan topikal, antara lain penggunaan krim hidrokinon – digunakan malam hari disertai tabir surya pada siang hari, efek dalam 2 hingga 6 bulan); asam retinoat (tretionin), dan asam azelat. Pengobatan sistemik dilakukan dengan konsumsi vitamin C (mengubah melanin oksidasi – warna gelap- menjadi melanin reduksi – warna lebih terang), dan glutation (senyawa SH tereduksi untuk menghambat pembentukan melanin). Pengelupasan serta bedah laser juga dapat dilakukan. Gambar 1 – (kiri) Gambaran melasma pada wajah1; (kanan) Gambaran solar lentigo pada punggung tangan4 Gambar 2 – Gambaran solar lentigo pada kulit wajah seorang wanita5 Kulit Kering6 Lapisan epidermis (terutama stratum korneum) merupakan lapisan yang terutama berperan dalam kelembaban kulit. Secara biokimia, protein struktural keratin dan filaggrin berperan dalam proses kelembaban kulit. Korneosit (atau keratinosit yang telah berada pada lapisan stratum korneum, mengalami keratinisasi dan telah mati) mengandung keratin yang bermanfaat untuk menjaga kadar air (water-retaining keratin), selain untuk membentuk struktural lapisan epidermis, yang kemudian dikelilingi oleh selubung protein dan lemak.. Lapisan lemak dwilapis berada di sekeliling sel-sel ruang ekstraseluler. Sistem ini akan menjaga secara alamiah kelembaban kulit. Filagrin adalah protein yang awalnya mulai menggumpal di lapisan granulosa sel-sel kulit. Seiring maturasi keratinosit (naik ke lapisan yang lebih atas), filagrin akan bergabung dengan keratin membentuk suatu kompleks. Kompleks ini mencegah filagrin didegradasi oleh enzim proteolitik. Seiring proses maturasi, enzim mulai merusak kompleks keratin-filagrin, yang akhirnya filagrin berada di luar korneosit dan keratin tetap berada di dalam korneosit. Apabila kelembaban kulit berkurang, enzim protelitik di stratum korneum akan memicu perusakkan filagrin menjadi asam amino bebas. Asam amino bebas, bersama dengan zat lain seperti asam laktat, ujrea, dan garam berada di stratum korneum dan berfungsi sebagai faktor pelembab alamiah (natural moisturizing factors), dan bekerja dengan cara menarik dan menahan air, alias sifat higroskopis. Proteolisis filagrin hanya berlangsung apabila kulit kering. Adapun proses ini bermanfaat untuk mengendalikan tekanan osmosis kulit dan air yang dikandung oleh lapisan kulit. Selain daripada proses di atas, deskuamasi, atau pelepasan sel-sel kulit mati (the shedding of skin cells) juga penting untuk menjaga kehalusan kulit. Deskuamasi dilakukan oleh proses enzimatik (khususnya proses pelarutan desmosom – koneksi antarsel korneosit). Enzim proteolitik desmosom yang berada intraseluler ini cenderung hanya bekerja apabila kulit berada dalam kondisi cukup air (well-hydrated). Kekurangan air akan menyebabkan proses deskuamasi berjalan tidak normal dan mengakibatkan kulit menebal, kering, kasar, dan bersiisk. Lemak interseluler merupakan lapisan bertumpuk (multilamellae) yang beradda mengelilingi korneosit dan menyimpan air di dalam strukturnya. Lapisan ini terutama terdiri atas koelseterol, asam lemak bebas, dan spingolipid yang berasal dari degenerasi sel-sel granular. Seramida, salah satu jenis sffginlipid berperan dalam menghasilkan struktur lemak bertumpuk ini. Struktur ini akan memerangkap molekul air di regio hidrofilik (perlu diingat bahwa struktur lemak memiliki daerahg hidrofilik dan hidrofobik). Selain daripada itu, struktur ini juga mengelilingi koreneosit untuk mencegah aliran air dan zat-zat pelembab alamiah keluar dari stratum korneum dengan membentuk barrier yang impermeabel. Pada usia 40 tahun ke atas, struktur lipid interseluler ini mulai berkurang kualitas dan jumlahnya, sehingga kulit akan lebih mudah mengalami kering. Kulit kering (dan bersisik) merupakan kondisi di mana penyebab utamanya adalah kehilangan air pada lapisan stratum korneum. Kehilangan air ini disebut juga dengan kondisi TEWL (transepidermal water loss). Dikatakan bahwa kulit akan menajdi kering, bersisik, dan kontur elastis kulit berkurang apabila kadar air kurang dari 10% (dari kadar normal sekitar 30%). Stratum korneum sendiri mampu menyimpan air dan menerima air yang berasal dari lapisan di bawahnya (dermis), serta dari lingkungan luar tubuh. Air menjadi begitu penting karena air merupakan penyebab timbulnya sifat plastis dan lunak pada kulit. Jumlah air pada lapisan stratum korneum berubah-ubah tergantung kelembaban lingkungan, seperti pajanan terhadap udara dingin dan berangin dengan kelembaban lembab menyebabkan kulit menjadi kering. Apabila protein keratin di stratum korneum mengalami denaturasi, akan terjadi kehilangan faktor-faktor pelembab alami (natural moisturizing factors), seperti pelarut, detergen, sabun, dan air yang berlebihan, serta bahan kimia iritan lain. Sabun dan pelembab merupakan bahan pengiritasi sedang. Penggunaan bahan ini dapat menyebabkan protein kulit mengalami denaturasi dan kerusakan lapisan lamela lipid, sehingga terjadi kehilangan faktor pelembab alamiah dan mengurangi kohesi (kerekatan) antarsel. Akibatnya, terjadi penurunan kapasitas penyimpanan air kulit dan terjadinya TEWL. Pajanan terhadap bahan pengiritasi menyebabkan TEWL karena fungsi barrier pelindung yang terletak di stratum korneum mengalami penurunan fungsi. Bahan-bahan pelembab kulit (moisturizers) adalah bahan kimia yang meningkatkan kadar air di stratum korneum. Pada umumnya bahan pelembab kulit bekerja melalui bahan-bahan humektan (suatu bahan higroskopis = menyerap air) serta bahan-bahan oklusif (mampu menghambat pengeluaran air dari kulit) yang mirip dengan bahan pelembab kulit alami. Contoh bahan-bahan oklusif adalah petrolatum, lilin, dan lanolin. Bahan-bahan humektan cenderung menarik air dari dermis dalam, jarang dari lingkungan luar. Adanya hidrasi stratum korneum akan menormalkan fungsi lemak interselular dan proses deskuamasi alamiah. Bahan-bahan humektan antara lain asam amino, asam laktat, asam alfa hidroksil, propilena glikol, gliserin, dan urea. Selain daripada yang telah dijelaskan, pelembab kulit mengandung bahan yang mampu meningkatkan kehalusan kulit dengan melumasi dan mengisi celah-celah antarsel yang kering, yang sering dikatakan sebagai bahan aktif pelembab, sementara bahan pasif akan membantu melarutkan, mendistribusikan, dan menstabilkan bahan aktif. Gambar 3 – (ki) Struktur lapisan korneosit serta molekul-molekul yang berperan dalam kelembaban kulit; (ka) struktur lapisan lemak bertingkat yang akan memerangkap air di dalam strukturnya6 Referensi 1. Wolff K. Johnson RA. Suurmond D. Fitzpatrick’s color atlas & synopsis of clinical dermatology, 5th edition. New York: McGraw Hill; 2007. Djuanda A. Hamzah M. Aisah S. Buku ajar ilmu penyakit kulit dan kelamin, edisi kelima. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2007. Hall JC. Sauer’s manual of skin disease, 9th edition, Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2005. Uniklinik-Frieburg: diunduh dari www.uniklinikCourtesy: electronic.districsides.com freiburg.de Schwartz RA: diunduh dari: http://emedicine.medscape.com/article/1068503-overview Marino C from Washington State Department of Labor and Industries. Skin physiology, irritants, dry skin, and moisturizers. Diunduh dari: www.lni.wa.gov/Safety/Research/Dermatitis/files/skin_phys.pdf . 2. 3. 4. 5. 6.
Fly UP