PENELITIAN ABI

  • Published on
    20-Jun-2015

  • View
    254

  • Download
    1

Embed Size (px)

Transcript

<p>1</p> <p>I. PENDAHULUAN</p> <p>A. Latar Belakang</p> <p>Alasan diadakan pengawetan kayu yang memiliki kelas awet rendah ialah kerena kayu yang memiliki kelas awet tinggi sulit didapatkan dengan jumlah yang banyak dan harga yang sukup mahal, selain itu memiliki nilai estetika dan nilai dekoratif yang baik. Kayu sengon yang diambil oleh penulis dalam penelitian ini merupakan jenis tumbuhan yang banyak ditemukan di daerah Kalimantan Timur dan daerah daerah lainnya selain itu kayu sengon memiliki pertumbuhan sangat cepat sehingga tidak perlu memerlukakn waktu yang lama untuk mengolahnya menjadi kebutuhan masyarakat seperti membuat bahan bahan bangunan ringan bawah atap contohnya meja, rak piring, tempat tidur, rak buku serta untuk kebutuhan industri seperti industri korek api, industri pulp dan kertas dan lain lain, namun kayu sengon memiliki beberapa kekurangan yaitu keawetan kayu sengon sangat rendah yaitu digolongkan pada kayu kelas awet IV V sehingga dalam penggunaannya kayu sengon harus diawetkan terlebih dahulu. Pada umumnya proses pengawetan terhadap kayu dilakukan dengan berbagai metode seperti pengawetan dengan penyemprotan, pencelupan, pembalutan, vakum, dan rendaman, dari beberapa cara mengawetkan kayu tersebut penulis melakukan penelitian dengan menggunakan metode pengawetan yaitu rendaman panas dan dingin dan metode rendaman dingin, penulis mengambil metode ini dikerenakan prosesnya yang sangat sederhana dan tidak membutuhkan biaya yang besar.</p> <p>2</p> <p>Untuk melakukan suatu pengawetan terhadap kayu tentunya dipe rlukan bahan pengawet agar katy yang diawetkan dapat bertahan lama dan terhindar dari serangan organisme perusak kayu, dalam penelitian ini bahan pengawet yang digunakan adalah bahan kimia yang berkualitas tinggi dan digolongkan kedalam bahan kimia yang ramah lingkungan, bahan kimia tersebut adalah pengawet kayu merek Prevail 100EC buatan Amerika Serikat ( USA ) yang memiliki kandungan bahan aktif Cypermnathrium yang dapat mencegah berkembangnya organisme perusak kayu pada kayu kelas awet rendah. Bahan pengawet Prevail 100EC adalah produk unggulan baru FMC Coorperation (AS), yang mengandung bahan aktif cypermnathrium yang aman bagi lingkungan asal tepat pengaplikasiannya. Produk ini memiki daya basmi cepat terhadap Jamur dan serangga perusak kayu seperti Rayap, penggerek, kumbang dan lain sebagainya, namun dengan tingkat keracunan yang rendah terhadap mamalia ( Surya Wisnu Utama (2009) ) Pengawetan kayu yang diartikan sebagai suatu cara memberi dan memasukan bahan pengawet kedalam kayu yang bertujuan untuk memperpanjang masa pakai kayu. Proses pengawetan pada kayu dengan kelas awet rendah sangat penting kerena kayu tersebut sangat mudah terserang organisme perusak kayu, oleh sebab itulah penulis melakukan penelitian ini dengan harapan besarnya retensi dengan menggunakan kedua metode ini bisa menjadi acuan untuk melakukan pengawetan kayu dan tentunya kayu yang telah diawetkan bisa bertahan lama dan tahan terhadap organisme perusak kayu.</p> <p>3</p> <p>B. Maksud dan Tujuan Penelitian Maksud dan tujuan dari penelitian adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui berapa banyak bahan pengawet Prevail 100EC dengan konsentrasi 10 % yang dapat masuk ke dalam kayu sengon dengan motode rendaman panas dan dingin dan metode rendaman dingin. 2. Untuk menentukan metode yang tepat dan lebih efisien pada proses pengawetan kayu terutama dengan metode yang diujikan ini.</p> <p>C. Hasil yang Diharapkan Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah agar bahan baku kayu yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kayu sengon yang memiliki kelas awet rendah setelah dilakukan pengawetan dapat dimanfaatkan untuk keperluan pengerjaan kayu seperti dimanfaatkan untuk bahan bahan bangunan ringan bawah atap seperti meja, rak piring, tempat tidur, rak buku, industri korek api dan lainnya serta ketahanan kayu sengon terhadap serangan organisme perusak kayu menjadi lebih baik dibandingkan ketika sebelum diawetkan. Selanjutnya penggunaan terhadap bahan pengawet yang baik dan bermutu tinggi serta dalam penggunaan bahan pengawet hendaknya diperhatikan jenis racun yang digunakan, pemilihan bahan pengawet hendaknya memilih bahan pengawet yang ramah terhadap lingkungan sehingga tidak membahayakan terhadap lingkungan sekitarnya seperti pengawet Prevail 100EC ini yang telah di tetapkan sebagai bahan pengawet yang ramah lingkungan.</p> <p>4</p> <p>Dari hasil penelitian ini diharapkan juga dapat menjadi acuan bagi masyarakat dan industri pengawetan kayu, acuan yang dimaksud adalah metode yang tepat dalam proses pengawetan kayu, sehingga hasil yang diharapkan didapat dengan baik kerena tingkat keawetan kayu menjadi lebih tinggi atau bahan pengawet yang masuk kedalam kayu semakin baik sehingga kayu bisa bertahan lama dan aman dari serangan organisme perusak kayu.</p> <p>5</p> <p>I. TINJAUAN PUSTAKA</p> <p>A. Pengertian Pengawetan Kayu Pengawetan kayu adalah proses pengawetan kayu dengan cara memberikan bahan kimia beracun yang bertujuan untuk memperpanjang masa pakai kayu dan untuk memperbesar sifat keawetan kayu yang memiliki sifat keawetan kayu rendah sehingga memiliki daya tahan lama. Menurut Dumanau (1982) Keawetan kayu adalah daya tahan suatu jenis kayu terhadap faktor perusak yang datang dari luar tubuh kayu itu sendiri. Kondisi lingkungan pada saat menyimpan atau menggunakan kayu sebagai bahan bangunan sangat mempengaruhi keaetan kayu terhadap serangan organisme perusak kayu, seperti penggunaan kayu ditempat yang relatif lembab akan mudah terserang terhadap jamur, begitu juga sebaliknya apabila penggunaan kayu ditempat yang kering dan teduh bisa diserang oleh hama penggerek kayu, penggunaan kayu hendaknya disesuaikan dengan kondisi lingkungan tempat kayu tersebut digunakan dan salah satu antisipasi untuk menanggulangi serangan yang akan terjadi pada kayu hendaknya sebelum digunakan kayu tersebut diawetkan terlebih dahulu. Selanjutnya menurut Tawakal (1987) Pengawetan kayu adalah proses perlakuan kimia atau perlakuan fisik terhadap kayu yang ditinjau untuk memperpanjang masa pakai ( service life ) kayu, tujuanya adalah untuk mencegah kerusakan kayu akibat serangga organisme perusak kayu sehingga tahan lebih lama untuk mendapatkan nilai ekonomis yang tinggi.</p> <p>6</p> <p>Proses pengawetan terhadap kayu bisa ilakukan dengan memasukan bahan kimia kedalam kayu seperti dengan , pencelupan, pembalutan, vakum, rendaman dan lain sebagainya, selain itu perlakuakan terhadap fisik kayu seperti pengeringan kayu, pengetaman dan penyimpanan kayu juga sangat penting untuk diperhatikan supaya kayu yang akan dipergunakan dapat bertahan lama. Penggunaan kayu yang memiliki keawetan yang baik sangat mempengaruhi nilai ekonomi terhadap bahan-bahan bangunan, dan benda benda lain yang dibuat dengan kayu, hal ini dikerenakan tingkat keawetan akan mempengaruhi masa pakai terhadap bahan kayu yang digunakan sehingga perbaikan dan penggantian terhadap bahan kayu akan dapat dihemat yang berarti akan menghemat biaya juga untuk keprluan penggantian dan perbaikan bahan bahan kayu yang rusak.</p> <p>B. Metode Rendaman Dingin Metode rendaman dingin merupakan salah satu cara untuk megawetkan kayu dengan bahan pengawet yang larut dengan air, proses yang dilakukan dalam metode rendaman dingin ini relatif sederhana yaitu hanya dengan merendam kayu yang akan diawetkan deng campuran bahan pengawet dan air dan perendaman dilakukan pada suhu pada kisaran 10 0C 25 0C atau dalam ruangan ber AC selama beberapa hari atau beberapa minggu, perendaman dilakukan dengan memberikan pemberat di atas kayu yang akan diawetkan supaya semua permukaan kayu terendam, hal ini juga dijelaskan oleh Yoesoef (1997) yang mengatakan bahwa perendaman dingin dapat dilakukan dengan cara memasukkan</p> <p>7</p> <p>kayu ke dalam larutan bahan pengawet dan dibiarkan terendam selama beberapa hari atau beberapa minggu dan biasanya dilakukan pada suhu kamar. Sedangkan menurut Barly (1988) peresapan bahan pengawet akan berlangsung cepat pada waktu 2 (dua) sampai 3 (tiga) hari pertama rendaman yang kemudian akan berlangsung secara lambat setelah hari-hari berikutnya. Makin lama kayu terendam dalam bahan pengawet semakin besar penembusan yang diperoleh sehingga hasilnya akan sama dengan yang diperoleh dengan tekanan. Lebih lanjut Dumanau (1982) menambahkan bahwa waktu pengawetan perendaman kayu harus seluruhnya terendam jangan sampai ada yang terapung, oleh karena itu kayu harus diberi pemberat yang berguna untuk sirkulasi dalam perataan masuknya bahan pengawet.</p> <p>C. Metode Rendaman Panas Dan Dingin Metode rendaman panas dan dingin merupakan salah satu metode yang sering dilakukan dalam kegiatan proses pengawetan kayu, penggunaan metode ini sangat sederhana kerena proses yang akan dilalui sangat mudah yaitu dengan menaikan temperatur campuran larutan bahan pengawet dan kayu yang akan diawetkan dengan cara direbus sampai pada titik didih pada kisaran 90 0C 1100</p> <p>C dan selanjutnya diganti dengan perendaman dingin pada suhu kamar antara 20 C 34 0C. Proses pergantian perendaman kayu ini ada beberapa cara yaitu</p> <p>0</p> <p>dengan cara membiarkan campuran larutan bahan pengawet dingin setelah dipanaskan tampa mengganti larutan bahan pengawet dan cara selanjutnya yaitu</p> <p>8</p> <p>dengan memindahkan kayu pada campuran larutan bahan pengawet pada campuran larutan bahan pengawet yang dingin setelah direbus dengn larutan campuran bahan pengawet yang memiliki konsentrasi yang sama, pemindahan kayu dari larutan pengawet panas ke larutan pengawet panas hendaknya dengan cepat yaitu sebelum larutan pengawet untuk merebus kayu dingin. Hal yang ini juga dijelas oleh Rudy Tarumingkeng dkk (2002) perendaman kayu selama beberapa jam secara bergantian dengan rendaman bahan pengawet panas dan bahan pengawet relatif dingin berfungsi untuk mengembangkan udara dalam lapisan luar kayu dan untuk menguapkan lengas dipermukaan kayu dan lamanya rendaman dan suhu bahan pengawetnya akan lebih menentukan banyaknya udara dan uap air yang meninggalkan kayu.</p> <p>D. Bahan Pengawet Prevail 100 EC Menurut Surya Wisnu Utama (2009) Prevail 100 EC adalah produk unggulan baru FMC Coorperation (AS), yang mengandung bahan aktif cypermnathrium yang aman bagi lingkungan asal tepat pengaplikasiannya. Produk ini memiiki daya basmi cepat, namun dengan tingkat keracunan yang rendah terhadap mamalia, Prevail 100 EC merupakan produk anti rayap dan serangga yang mengandung bahan aktif cypermnathrium. Bahan aktif ini mempunyai karakteristik : 1. Tingkat keracunan pada hewan menyusui (mamalia) rendah. 2. Mempunyai efek daya serap yang cepat. 3. Mempunyi sifat penolakan terhadap rayap dan serangga yang tinggi.</p> <p>9</p> <p>4. Tingkat aplikasi yang rendah. 5. Tingkat kelarutan dalam air yang rendah.</p> <p>E. Retensi Bahan Pengawet Retensi adalah bahan pengawet yang tertinggal atau diserap oleh kayu pada satuan tertentu yang dinyatakan dalam Kg/m3. Besarnya tergantung pada golongan atau jenis bahan pengawet . Penyerapan bahan pengawet kedalam kayu dipengaruhi oleh jenis kayu hal ini disebabkan oleh setiap jenis kayu memiliki kerapatan serat yang berbeda beda, dimana beberapa jenis kayu memiliki kerapatan yang tinggi akan membutuhkan waktu yang lama untuk memasukan bahan pengawet kedalam kayu tersebut, begitu juga sebaliknya kayu yang memiliki kerapatan serat yang rendah akan relatif mudak untuk dimasuki bahan pengawet. Dalam proses pengawetan bahan pengawet yang bisa masuk kedalam kayu juga memiliki variasi yang berbeda ada bahan pengawet yang mudah dan ada juga yang susah masuk ke dalam kayu, hal ini disebabkan oleh tingkat kelarutan bahan pengawet yang cepat dan lambat, kondisi fisik bahan pengawet dan metode yang dilakukan pada saat pengawetan, selanjutnya mengenai retensi bahan pengawet ini banyak dipaparkan oleh pada ahli diantaranya, menurut Anonim (1992) menjelaskan salah satu cara menghitung besarnya retensi adalah berdasarkan perbedaan berat kayu sebelum dan sesudah diawetkan. Untuk mendapatkan pengawetan kayu yang baik.</p> <p>10</p> <p>F. Risalah Kayu Sengon Menurut Santoso (1992) sengon yang bahasa latin disebut Paraserianthes Falacataria, termasuk famili mimosaceae (keluarga petai-petaian). Kadang-kadang sengon disebut pula albisia yang sesungguhnya berasal dari bahasa latin tersebut. Di Indonesia sengon memiliki beberapa nama daerah seperti berikut : Jawa : Jeujing, Jeujing Laut (Sunda), Kalbi, Sengon Landi, Sengon Seberang (Jawa). Maluku : Seia (Ambon), Sikat (Banda), Tawa (Ternate) dan (Tidore).</p> <p>Bagian terpenting yang mempunyai nilai ekonomis pada tanaman sengon adalah kayunya. Pohonnya dapat mencapai tinggi 30-50 meter, dan diameter batang mencapai 70-80. Batang sengon tumbuh tegak lurus, kulit luar batangnya berwarna kelabu keputih-putihan. Kayu sengon mempunyai serat membujur dan berwarna putih, kayu sengon mempunyai berat jenis (BJ) 0.33 dan untuk tingkat keawetannya digolongkan kelas IV-V, sedangkan untuk kelas kekuatannya digolongkan kelas IV-V juga. Melihat sifat itu, kayu sengon dapat digunakan sebagai bahan bangunan ringan di bawah atap, atau bangunan lain bersifat sementara, kecuali kayu sengon yang berwarna putih juga digunakan untuk perabotan rumah tangga, misalnya : meja, kursi, rak piring, tempat tidur, industri korek api dan sebagai bahan baku industri kertas.</p> <p>11</p> <p>III. METODE PENELITIAN</p> <p>A. Waktu Penelitian Waktu penelitian ini adalah dimulai dari mei 2010 sampai juli 2010 atau 2 bulan, adapun rincian kegiatannya adalah sebagai berikut : Waktu No Keterangan Bulan 1 1 2 3 Persiapan dan pengambilan sampel Proses pengawetan kayu Pengolahan data dan penyusunan laporan XXXX XXXX XXXX Bulan 2 Bulan 3</p> <p>B. Tempat Pelaksanaan Penelitian Tempat pelaksanaan penelitian di Laboratorium Pengawetan Kayu Jurusan Pengolahan Hasil Hutan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.</p> <p>C. Bahan Baku Penelitian Bahan-bahan yang digunakan antara lain : 1. Bahan pengawet dengan konsentrasi 10 % atau 50 ml. Bahan pengawet yang digunakan adalah pengawet kayu dengan merek Prevail 100 EC. 2. Kayu sengon (Paraserianthes Falacataria). Dengan contoh uji yang berukuran 2 x 2 x 2 cm sebanyak 60 sampel yang terdiri dari 30 sampel untuk diawetkan dengan metode rendaman panas dingin dan 30 sampel dengan metode rendaman dingin.</p> <p>12</p> <p>3. Air sebanyak 450 ml. Air digunakan sebagai pelarut bahan pengawet. D. Alat Peralatan yang digunakan adalah ; 1. Cain Saw. 2. Ampalas. 3. Mikro Kapiler. 4. Timbangan analitik. 5. Pemberat. 6. Pengaduk. 7. Hot Plate Stirrer. 8. Desikator. 9. Kalkulator dan alat tulis. 10. Beaker glass. 11. Oven listrik.</p> <p>E. Inastrumen Pelaksanaan 1. Pembuatan larutan bahan pengawet merek Prevail 100 EC dengan konsentrasi 10 %. a. Larutan bahan pengawet yang dibutuhkan ialah sebanyak 500 ml. b. Pencampuran bahan pengawet prevail ke dalam gelas ukur sebanyak 50 ml. c. Siapkan air dalam bak sebanyak 450 ml</p> <p>13</p> <p>d. Campurkan bahan pengawet ke dalam Beaker glass yang berisi air aduk secara merata. 2. Pembuatan contoh uji dari kayu sengon. a. Contoh uji dengan ukuran 2 cm x 2 cm x 2 cm yang terdiri dari 60 sampel dan...</p>