PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK _ PADA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA (Penelitian Tindakan Kelas di SDN ... mata pelajaran Indonesia. Penulis mencari ... (RPP) disesuaikan dengan pokok

  • Published on
    05-Feb-2018

  • View
    214

  • Download
    1

Embed Size (px)

Transcript

  • Kalimaya, Volume 4, Nomor 2, Agustus 2016

    PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA SISWA PADA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

    (Penelitian Tindakan Kelas di SDN Peundeuy 2 kelas V)

    Rahmawati wulansari

    Ima Nimah Chudari1

    Encep Supriatna2

    Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Kampus Daerah Serang,

    Universitas Pendidikan Indonesia

    e_mail: amarahmawatiwulansari@gmail.com

    ABSTRAK

    Kemampuan sesorang dalam mengemas kata menjadi sebuah kalimat yang baik ditambah dengan

    kemampuan berbicara dapat menunjang popularitas dikehidupannya. Namun tidak semudah membalikan

    telapak tangan dalam mengemas kata-kata menjadi sebuah kalimat yang sempurna. Tidak semua orang

    memiliki kemampuan berbicara. Pembelajaran melakukan pembiasaan berbicara akan menjadikan seseorang

    memiliki kemampuan berbicara yang baik. Pembelajaran tersebut dimulai dari diri mungkin sehingga terjadi

    suatu pembiasaan akan terbawa hingga dewasa.Penelitian disini memiliki tujuan untuk mengetahui

    kompetensi pendidik khususnya dipelajaran bahasa Indonesia serta keterampilan berbicara siswa.penulis

    menerapkan model pembelajaran talking stick diSD kelas V untuk meningkatkan keterampilan

    berbicara,murid diharapkan tidak malu berbicara didepan kelas menggunakan kata-kata yang baik dalam

    kalimat sederhana. Penelitian disini menggunakan metode penelitian tindakan kelas, dikembangkan oleh

    Stephen Kemmis dan Mc.Taggart. Penelitian ini terdiri dari tiga siklus. Tiap siklus memiliki empat

    tahapan,yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Subjek disini adalah murid kelas V SDN

    Peundeuy 2 Garut Propinsi Jawa Barat. Hasil kegiatan prasiklus dipenelitian ini, sebanyak 13 siswa dari 34

    siswa kelas V dinyatakan memenuhi KKM dengan persentase 38,23%. Hasil pelaksanaan kegiatan siklus I

    terjadi peningkatan,yaitu sebanyak 18 murid dari 34 murid kelas V memenuhi KKM. berarti sebanyak 5

    orang murid mengalami peningkatan kemampuan keterampilan berbicara. Prosentase penelitian sebanyak

    52,29%. Kegiatan siklus dua dilakukan mengalami peningkatan dari siklus satu. Sebanyak 21 murid dari 34

    orang murid lulus memenuhi KKM,ini menunjukkan adanya peningkatan keterampilan berbicara murid

    sebanyak 61,76%. Penulis melakukan siklus tiga dengan hasil 29 murid dari 34 orang murid menunjukkan

    peningkatan keterampilan berbicara murid dengan peningkatan porsentase sebanyak 85,29%. Tiga aspek

    yang ditekankan dipenelitian ini,yaitu membuat drama,memerankan drama dengan lafal dan intonasi yang

    baik,melakukan permainan talking stick. Kegiatan siklus satu sebesar 73% ketiga aspek aktivitas murid

    terpenuhi,siklus dua ketiga aktivitas aspek yang terpenuhi sebanyak 82%, untuk siklus tiga terlihat

    peningkatan sebanyak 93% ketiga aspek terpenuhi.

    Kata Kunci : talking stick, berbicara

    1 Penulis penanggung jawab 2 Penulis penanggung jawab

  • Rahmawati Wulansari, Ima Nimah Chundari, Encep Supriatna. Penerapan model

    pembelajaran talking stick untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa pada

    pembelajaran bahasa indonesia.

    PENDAHULUAN

    Menurut Fitrahnya, manusia mempunyai

    kemampuan untuk berpikir dan

    menyatakan pendapat, keingintahuan,

    perasaan, serta pengalaman -

    pengalamannya. Selain itu, manusia juga

    seringkali memiliki keinginan untuk

    mempengaruhi, bahkan memaksakan

    pikiran dan pendapatnya kepada orang lain

    atau kelompok. Pada umumnya, keinginan

    keinginan tersebut dilakukannya secara

    langsung melalui pembicaraan atau

    komunikasi.

    Dalam kehidupan nyata, orang

    yang ingin menyatakan tanggapan, atau

    hasil pemikirannya yang ditujukan kepada

    seseorang atau pun suatu forum sering kali

    mendapatkan masalah, baik itu pelafalan

    ataupun kesulitan mengungkapakan apa

    yang ingin di bicarakan. Cara berbicara ini

    memang memiliki efek yang cukup besar

    pengaruhnya atas diri maupun keberadaan

    seseorang. Oleh karena itu, setiap orang

    mesti memiliki pengetahuan atau

    kemampuan retorika (cara berbicara) yang

    meyakinkan.

    Tidak hanya manusia dewasa yang

    harus memiliki kemampuan beretorika

    yang baik. murid sekolah dasar pun

    alangkah sangat baiknya memiliki

    kemampuan seperti itu. Kemampuan

    berbicara murid diperlukan untuk

    mengutarakan pendapat dalam bentuk

    pernyataan maupun pertanyaan. Ungkapan

    tersebut harus memiliki susunan kalimat

    yang terstruktur yang dibangun oleh kata-

    kata yang sesuai dengan isi kandungan

    makna yang dimaksud. Dengan

    pembelajaran dan pembiasaanlah semua

    dimulai.

    Pembelajaran merupakan suatu

    kegiatan yang didalamnya ditata dan diatur

    sebaik mungkin dengan didasarkan pada

    banyak aspek, baik itu aspek yang

    berkaitan dengan konsep pembelajaran,

    maupun aturanaturan hukum

    pembelajaran yang mengatur tata cara

    pelaksanaan pendidikan yang pada

    umumnya secara lebih khusus. Sedangkan

    perencanaan pembelajaran adalah

    rancangan yang dijadikan panduan bagi

    guru untuk melaksanakan proses

    pembelajaran yang akan disampaikan

    kepada siswa. Secara asal kata

    pembelajaran berasal dari bahasa Inggris

    yaitu instruction. Pentingnya

    perencanaan dalam pembelajaran adalah

    suatu kegiatan yang diatur berdasarkan

    langkah - langkah tertentu (sistematis)

    yang melibatkan unsur - unsur maupun

    komponen pembelajaran secara

    menyeluruh.

    Tidak sedikit murid sekolah dasar

    yang malu-malu mengutarakan apa yang

    ingin disampaikan walaupun hanya satu

    kalimat atau dalam bentuk pertanyaan. Hal

    ini bisa jadi merupakan pembiasaan

    berbicara baik bertanya atau

    menyampaikan pendapat yang kurang di

    terapkan di sekolah, sehingga siswa

    merasa enggan atau pun merasa kesulitan

    apa yang ingin sebenarnya mereka

    ungkapkan karena ketidak beranian

    mereka berbicara. Ini bukan hanya

    masalah pembiasaan, dalam kurikulum

    KTSP 2006, disebutkan bahwa

    pembelajaran bahasa Indonesia merupakan

    pembelajaran yang menggunakan

    pendekatan komunikatif. Artinya apa yang

    disampaikan oleh pendidik harus bisa

    dicerna dengan baik oleh muridnya

    sehingga siswa tidak pakum dalam sebuah

    kebisuan. Menguasai kemampuan

    berbahasa dan keterampilan berbicara

    menjadi alasan utama orang-orang bisa

    terkenal karena kemampuannya dalam

    mengemas kata-kata menjadi kalimat yang

    sangat baik dengan didukung oleh

    kemampuan berbicara yang sangat baik

    sekali sehingga setiap kata yang diucapkan

    akan menjadi perhatian banyak orang yang

    mendengarnya.

    Penulis menitik beratkan penelitian

    ini pada keterampilan berbicara siswa.

    Dimana salah satu aspek dalam

    keterampilan berbahasa adalah berbicara.

  • Kalimaya, Volume 4, Nomor 2, Agustus 2016

    Penulis merasa tertantang untuk

    mengadakan sebuah penelitian lebih jauh

    mengenai kemampuan berbicara ini.

    sebagai objek murid kelas lima sebagai

    contoh dengan jumlah murid seabnyak 34

    orang dari keseluruah kumpulan yang ada

    di kelas lima yaitu sebanyak 34 orang

    anak.

    Penelitian ini dilaksanakan sesuai

    dengan jadwal penelitian yaitu tanggal 12

    Sampai tanggal 21 bulan Maret tahun

    2016. Penelitian ini dilaksanakan dengan

    mempertimbangkan hasil dari observasi

    awal penulis terhadap apa yang terjadi

    pada murid kelas V yang kesulitan dalam

    mengungkapkan ide atau gagasan atau

    pernyataan dalam bentuk lisan. Dengan

    kata lain murid kurang terampil dalam

    berbicara. Oleh karena itu penulis

    mencoba untuk mengetahui lebih jauh apa

    yang menyebabkan murid kurang terampil

    berbicara dan mengatasinya.Penelitian ini

    penulis laksanakan dengan menggunakan

    metode pembelajaran talking stick, atau

    tongkat berbicara. Talking stick atau

    tongkat berbicara adalah salah bagian dari

    metode pembelajaran kolaboratif yang

    didalamnya murid terlibat langsung dalam

    proses penelitian. Murid terlebih dahulu

    dibentuk kelompok.

    METODE

    Penelitian yang dilakukan penulis

    mempergunakan model Tindakan Kelas.

    Penelitian ini dilakukan di kelas lima

    Sekolah Dasar semester dua fokus

    penelitian pada aktifitas belajar murid

    dalam pembelajaran bahasa Indonesia

    dengan menerapkan metode pembelajaran

    talking stick.

    Proses pelajaran talking stick ini

    penulis terapkan untuk meningkatkan

    keterampilan berbicara murid supaya anak

    berani berbicara didepan kelas dengan

    kata-kata yang tersusun dalam kalimat

    yang baik. teknik tindakan kelas ini pada

    pelaksanaannya terdiri dari tiga siklus

    yang tahapan tiap siklus terdapat empat

    langkah kegiatan yaitu perencanaa,

    tindakan, pengamatan dan refleksi.

    Sebelum masuk kedalam tindakan siklus

    pertama, penulis melakukan kegiatan pra

    siklus. Dimana kegiatan ini penulis

    lakukan yaitu melakukan observasi

    permasalahan yang ada di kelas lima pada

    mata pelajaran Indonesia. Penulis mencari

    tahu apa yang menyebabkan siswa ini

    tidak memiliki keberanian untuk berbicara

    didepan kelas. Selain melakukan

    pengamatan, penulis menentukan

    pendekatan yang bagus dengan

    karakteristik anak, menyiapkan bahan ajar

    dan mempersiapkan strategi proses belajar

    mengajar yang akan disampaikan pada

    pembelajaran bahasa Indonesia, serta

    menentukan recana pelaksanaan

    pembelajaran (RPP) pada matapelajaran

    bahasa Indonesia dengan metode talking

    stick berikut dengan media

    pembelajarannya.

    Pelaksanaan penelitian ini

    tahapannya dilakukan atas dasar rencana

    yang sebelumnya telah dibuat. Kegiatan

    yang dilakukan yaitu membentuk

    kelompok 5-6 orang murid perkelompok

    untuk melakukan kegiatan pembelajaran

    bahasa Indonesia dengan metode talking

    stik. Peneliti bersama pendidik

    menjelaskan bagaimana cara metode

    talking stick ini diterapkan. Metode ini

    menggunakan media berupa tongkat atau

    stick yang dijadikan penentu bagi murid

    untuk berbicara didepan kelas. Tongkat

    tersebut akan di estapetkan dari kelompok

    satu kepada kelompok lainnya dengan

    menyanyikan lagu. Apabila lagu telah

    selesai dan tongkat berhenti di satu

    kelompok maka kelompok tersebut

    ditugaskan untuk menampilkan drama

    yang telah mereka buat sebelumnya.

    Kegiatan selanjutnya yaitu

    pengamatan. Pengamatan dilakukan pada

    saat proses kegiatan belajar mengajar

    berlangsung hal ini untuk mengetahui

    kesulitan apa yang siswa alami dan juga

    keberhasilan metode yang digunakan.

  • Rahmawati Wulansari, Ima Nimah Chundari, Encep Supriatna. Penerapan model

    pembelajaran talking stick untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa pada

    pembelajaran bahasa indonesia.

    Kegiatan terakhir dari tahapan setiap siklus

    yaitu refleksi. Refleksi dalam konteks

    penelitian tindakan kelas ini merupakan

    evaluasi yang dilakukan oleh peneliti

    bersama guru setelah kegiatan pelaksanaan

    dan pengamatan selesai. Kegiatan

    selanjutnya yaitu melakukan kegiatan

    evaluasi terhadap keberhasilan dan

    kegagalan yang terjadi pada kegiatan yang

    telah dilaksanakan tersebut. Adapun

    keberhasilan siklus pertama dianggap

    berhasil jika sebagian besar dari murid

    sudah mampu menyampaikan drama

    dengan baik dan benar. Berdasarkan

    refleksi itulah peneliti menyusun rencana

    penelitian untuk siklus selanjutnya.

    Hasil yang diharapkan dari

    penelitian yang dilakukan dengan

    menggunakan metode pembelajaran

    talking stick ini yaitu dapat memunculkan

    keberanian murid untuk berbicara didepan

    kelas dalam bentuk drama bersama

    kelompoknya sehingga ada sebuah

    perubahan perilaku murid dalam

    pembelajaran bahasa Indoensia.

    HASIL DAN PEMBAHASAN

    Pelaksanaan kegiatan tindakan

    kelas yang telah dimulai dari kegiatan pra

    siklus, kegiatan siklus satu, siklus dua, dan

    siklus tiga. Dalam kegiatan pra siklus

    dalam tahapan observasi dilakukan saat

    proses pembelajaran berlangsung yakni

    motivasi belajar murid dan perhatian

    murid, disesuaikan dengan tujuan

    pembelajaran yaitu meningkatkan

    kemampuan berbicara murid dengan

    menerapkan model pembelajaran talking

    stick di SD Kelas V. Data yang diperoleh

    dari pendidik sebelumnya, murid yang

    telah memenuhi KKM yang dinyatakan

    tuntas sebanyak 13 murid dengan

    presentase 38,23%. Tahapan refleksi yang

    dilakukan dalam kegiatan pra siklus ini

    peneliti menemukan

    kekurangan/kelemahan dalam proses

    pembelajaran diantaranya, penggunaan

    metode kurang menarik dimana peran

    pendidik lebih dominan dalam proses

    pembelajaran sehingga murid merasa

    jenuh. Berdasarkan temuan peneliti

    tentang kekurangan/kelemahan yang

    terjadi dalam proses pembelajaran, maka

    peneliti akan melakukan perbaikan yang

    akan diterapkan pada siklus satu.

    perencanaan yang akan peneliti lakukan

    yaitu: Persiapan untuk melakukan

    penelitian ketahap selanjutnya, Penetapan

    jadwal mata pelajaran bahasa Indonesia

    menindaklanjuti hasil pra siklus tentang

    meningkatkan kemampuan berbicara

    dalam menggungkapkan pikiran, perasaan

    secara lisan dalam memerankan

    tokohxdrama,Peninjauanxpada pokok

    bahasan yang akan diajarkan dengan

    menggunakan model pembelajaran talking

    stick, Memeriksa kurikulum untuk melihat

    tuntunan kurikulum dari mata pelajaran

    bahasa Indonesia yang masih dapat

    disampaikan sesuai dengan lokasi waktu

    yang ada, Membuat rumusan persiapan

    pelaksanaan pembelajaran (RPP)

    disesuaikan dengan pokok bahasan,

    kurikulum, dan model pembelajaran yang

    akan digunakan dengan menggunakan

    model pembelajaran talking stick.

    Penelitian tindakan kelas untuk

    siklus satu ini dilakukan pada tanggal 13

    Mei 2016. Pada siklus satu ini peneliti

    melakukan perencanaan, tindakan,

    observasi, refleksi. Perencanaan

    dilaksanakan pada tahap prasiklus pada

    tanggal 12 Mei 2016. Perencanaan

    dilakukan untuk menindak lanjuti hasil

    refleksi pada tahap sebelumnya. tindakan

    yang dilakukan pada siklus satu pendidik

    telah melakukan kegiatan belajar mengajar

    dengan awalan ketika pendidik masuk

    kedalam kelas dengan mengucapkan salam

    di awal pembelajaran selanjutnya pendidik

    mengajak murid untuk berdoa sebelum

    proses belajar dimulai lalu setelah berdoa

    bersama-sama pendidik memeriksa daftar

    hadir murid setelah memeriksa daftar hadir

    pendidik mengkondisikan kelas supaya

    murid dapat mengikuti proses belajar

    dengan tertib supaya murid lebih semangat

    dalam mengikuti proses pembelajaran

    pendidik mengajak siswa untuk melakukan

  • Kalimaya, Volume 4, Nomor 2, Agustus 2016

    tepuk semangat bersama-sama, setelah

    selesai melakukan tepuk semngat bersama-

    sama pendidik menjelaskan tujuan dari

    pembelajaran yang akan dipelajari

    muridpun memperhatikan pendidik

    berlanjut pada materi pendidik

    menjelaskan apa yang dimaksud dengan

    drama dan mencontohkan bagaimana cara

    memeranan tokoh drama dengan lafal

    intonasi dan ekspresi yang tepat, setelah

    selesai menjelaskan materi dan

    memeberikan contoh guru menugaskan

    siswa untuk membentuk sebuah kelompok

    dengan adanya siswa kelas V 34 orang

    maka siswa disuruh berhitung dulu dari 1-

    5 ketika sudah hitungan ke 5 makan siswa

    berhitung kembali dari 1-5 dan seterusnya.

    Setelah selesai membagian kelompok guru

    menyuruh siswa untuk duduk secara

    berkelompok.

    Setelah siswa selesai merapikan

    tempat duduk yang sesuai dengan

    kelompok masing-masing maka siswa

    ditugaskan untuk membuat sebuah drama

    pendek bebas, lalu siswa pun antusias

    untuk mengerjakan tugas tersebut, ketika

    s...

Recommended

View more >