Pengaruh pemberian etanol kameko terhadap peningkatan kadar sgot dan sgpt pada mencit

  • Published on
    04-Dec-2015

  • View
    34

  • Download
    13

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Kameko merupakan minuman tradisional fermentasi antara pohon enau dan kayu bakau (kayu buli).

Transcript

  • PENGARUH PEMBERIAN ETANOL KAMEKO (ARENGA PINNATA MERR.) TERHADAP PENINGKATAN KADAR SGOT DAN SGPT

    PADA MENCIT (MUS MUSCULUS)

    Muh. Imran J. B*Indria Hafizah**Waode Sitti Asfiah Udu***

    *Program Studi Pendidikan Dokter FK UHO **Kepala Program Studi Profesi FK UHO

    ***Kepala Laboraturium FK UHO

    ABSTRACT

    ALD (Alcohol Liver Disease) is a disease that causes mortality in users. WHO has reported that in 2012, 3 million people died due to alcohol use. In Indonesia, the death rate from alcohol consumption about 1800 people per year. In Indonesia, alcohol consumption was performed by utilizing palm juice is fermented into wine. In Southeast Sulawesi, the drink is known as kameko. This drink is a beverage that is often consumed by most people, especially men to specific interests such as relieving stress, fatigue, and others. However, this beverage it produces ethanol content is quite high and could lead liver damage. These study aims to determine the effect of ethanol kameko (Arenga pinnata Merr.) to increase the levels of SGOT and SGPT in mice (Mus musculus). These study was true experimental study with post test only control group design. The subjects of this study were male mice (Mus musculus) 8-12th weeks old and weigh 20-30 grams. The samples were divided into 3 groups: negative control group, positive control group and the treatment group. The treatment was done for 30th days method to measure of enzymes AST and ALT levels in mice using a spectrophotometer after the day treatment. Data were analyzed by one way ANOVA test. Data were significant if p value 0.05. The results has showed there were no significant difference in the levels of SGOT and SGPT examination. Key words : ALD, Arenga pinnata merr., Mus musculus, SGOT, SGPT. PENDAHULUAN Aren merupakan tanaman serbaguna kerena semua bagian dari tanaman ini dapat dimanfaatkan, mulai dari akar sampai daun mudanya. Akar tanaman sebagai anyaman atau cambuk, pondoh dapat dimakan sebagai sayuran, tulang daun untuk bahan kerajinan dan lain-lain. Produk yang paling popular dari tanaman aren adalah gula aren, sehingga aren juga disebut sugar palm. Di beberapa daerah seperti Ponorogo dan Ngawi (Jawa Timur) nira aren dibuat menjadi minuman tradisional seperti tuak dan legen yang cukup memberikan daya tarik tersendiri untuk wisatawan, sementara itu biji dari pohon ini diproduksi menjadi makanan yang dikenal sebagai kolang-kaling. Di kabupaten Muna nira dikenal dengan nama kameko yang merupakan minuman aren yang difermentasi dengan memanfaatkan tanin yang terdapat pada kulit kayu mangrove. Pengelolaan nira aren menjadi

    kameko sudah menjadi turun-temurun dimasyarakat (Mahendro, 2005). Menurut Organisasi Kesehatan Dunia WHO (2014) menyatakan bahwa 3 juta kematian pada tahun 2012 disebabkan oleh penggunaan berbahaya alkohol. Konsumsi alkohol tidak hanya dapat menyebabkan ketergantungan, tetapi juga meningkatkan risiko seseorang terkena lebih dari 200 penyakit termasuk sirosis hati dan beberapa jenis kanker. Selain itu, minuman alkohol dapat menyebabkan kekerasan dan cedera. Angka kematian pemuda usia 15-29 tahun di dunia akibat alkohol adalah sekitar 320.000 orang, 9% dari total kematian pada kelompok usia tersebut. Angka kematian akibat konsumsi alkohol di Indonesia adalah sekitar 50 orang per hari atau sekitar 18.000 orang per tahun (Dicky Conreng dkk., 2014). Dalam Penelitian Ngok dkk. (2014) menyatakan tuak adalah getah fermentasi

  • berbagai pohon-pohon palem khususnya palmyra, perak kurma dan pohon kelapa. Getah dikumpulkan setiap hari dan harus dikonsumsi dalam 5-12 jam setelah penyadapan. Getah adalah substrat yang sangat baik untuk pertumbuhan mikroba fermentasi dimulai segera setelah getah dikumpulkan dan dalam waktu satu atau dua jam. Alkohol menjadi cukup tinggi hingga 4% jika dibiarkan terus terfermentasi selama lebih dari satu hari, mulai berubah menjadi cuka. La Ode Kaake sebagai seorang Pakeba (pembuat kameko) selama 15 tahun di Kelurahan Benua nirai Kecamatan Abeli Kota Kendari Sulawesi Tenggara menjelaskan bahwa dalam pembuatan minuman tradisional kameko memerlukan pencampuran kulit batang kayu bakau (nama daerah : kayu Buli) untuk mendapatkan minuman beralkohol berkualitas baik. Kayu bakau yang digunakan adalah bakau yang memiliki zona transisi antara hutan mangrove dengan hutan dataran rendah biasa ditumbuhi oleh Nypa fruticans dan beberapa spesies palem lainnya, sehingga kulit kayu yang digunakan kurang mengandung air (Iman, 2014). Pada awalnya, nira aren memiliki banyak manfaat positif bagi masyarakat dari segi kesehatan, ekonomi, pangan, kerajinan tangan dan lain-lain. Sedangkan dampak negatifnya dapat menjadi minuman beralkohol dan diwariskan secara turun-temurun. Pada akhirnya, akan berdampak bagi tubuh dengan gangguan kesehatan dan yang paling besar dampaknya yaitu terhadap organ hati. Tetapi hal ini tidak meredam keinginan sebagian masyarakat untuk rutin mengkonsumsi kameko, karena kenikmatan mabuk yang didapat setelah meminum kameko tersebut. Oleh karena itu, selama masih ada pemabuk kameko pula akan tetap diproduksi (Kaake, Ld).

    METODE PENELITIAN Penelitian ini termasuk jenis penelitian true eksperimental dengan post test only control group design. Penelitian telah dilaksanakan di Laboraturium FK UHO selama dua bulan. Dua puluh tujuh ekor sampel mencit (Mus musculus) yang bejenis kelamin jantan dengan umur 8-12 minggu dan berat badan 20-30 gram diambil menggunakan teknik random sampling. Enzim ALT dan AST diukur menggunakan spektrostar nano. Hasil yang diperoleh kemudian diolah menggunkan rumus : Konsentrasi ALT/AST = absorban x 1745 U/L. Kemudian hasil dianalisis dengan SPSS for window. Terlebih dahulu diuji normalitas dengan Shapiro-Wilk. Apabila sebaran data berdistribusis normal maka dilakukan uji one way ANOVA, tetapi jika tidak berdistribusi normal maka dilakukan uji alternatif Kruskal Wallis. Uji ini bertujuan untuk mengetahui paling tidak terdapat perbedaan antara 2 kelompok tertentu. Apabila uji tersebut bermakna (p

  • Tabel 2. Karakteristik sampel penelitian berdasarkan kadar SGOT (Mus musculus) U/L

    Klp MeanSD Min Max Aquade

    s 1482,9698,9 773,0

    3 2393,2

    0

    Kameko

    1154,21089,1

    -494,7

    0

    2763,20

    Etanol 1632,2778,6 694,51

    2744,00

    Sumber : Data primer Tabel 3. Karakteristik sampel penelitian berdasarkan kadar SGPT (Mus musculus) U/L

    Klp MeanSD Min Max Aquade

    s 1745,7782,7 408,3

    3 2839,1

    1 Kamek

    o 1263,21047,

    3 123,8

    9 2537,2

    3

    Etanol 1015,3695,2 130,87

    2039,03

    Sumber : Data primer 2. Analisis Bivariat Tabel 4. Rerata kadar SGOT pada mencit (Mus musculus) setelah diinduksi kameko (MeanSD) U/L

    Klp MeanSD Min Max P

    value

    Aquades

    1482,9698,9

    773,03

    2393,20

    0,503

    Kameko

    1154,21089,1

    -494,70

    2763,20

    Etanol 1632,2778,6 694,51

    2744,00

    Sumber : Data primer Tabel 5. Rerata kadar SGPT pada mencit (Mus musculus) setelah diinduksi kameko (MeanSD) U/L

    Klp MeanSD Min Max P

    value

    Aquades

    1745,7782,7

    408,33

    2839,11

    0,204

    Kameko

    1263,21047,3

    123,89

    2537,23

    Etanol 1015,3695,2 130,87

    2039,03

    Sumber : Data primer

    PEMBAHASAN Pada penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok pada pemeriksaan kadar SGOT dengan p value 0,05. Aktivitas enzim SGOT pada mencit mengalami kenaikan melebihi kadar normal yaitu 23,2-48,4 U/L. Hasil yang serupa pada penelitian Kendran dkk. (2013) yang menemukan bahwa pemberian ekstrak etanol 2% daun sirih merah tidak memberikan pengaruh yang nyata (p 0,05) pada aktivitas ALT dan AST tikus putih. Pada penelitian Jawi dkk. (2007) juga menemukan bahwa kadar SGOT dan SGPT pada kelompok alkohol akut dan kelompok alkohol kronis hampir sama dengan dosis 0,8 g/kgbb. Pada penelitian ini, kadar SGOT belum meningkat secara signifikan. Hal ini kemungkinan karena enzim AST secara umum kurang spesifik jika dibandingkan dengan ALT. Enzim AST selain diproduksi di hati, juga diproduksi pada jaringan lain terutama jantung, otot rangka, ginjal dan otak. Pada penelitian ini pula dapat dilihat bahwa kadar SGOT kameko yang lebih rendah dibandingkan kelompok lain, kemungkinan dapat disebabkan oleh efek hepatoprotector dari senyawa metabolit sekunder seperti tanin, flavonoid, saponin,alkaloid,terpenoid, fenol dan steroid yang terkandung dalam minuman kameko karena tidak terlepas dari unsur pembuatan minuman kameko dihasilkan dari penyadapan nira pohon aren (Arenga pinnata merr.) dan kulit batang mangrove yang dikeringkan tanpa

  • pencampuran bahan pengawet dan kimia berbahaya lainnya. Menurut Bakshi dan Chaudhuni (2014) bahwa dalam tanaman mangrove terdapat metabolit sekunder seperti alkaloid, terpenoid, steroid, fenolat dan memiliki toksikologi serta farmakologi yang berguna terhadap patogen penyakit. Dalam penelitian Erlyani (2012) menemukan bahwa enau (Arenga pinnata merr.) merupakan tanaman obat yang memiliki potensi antioksidan. Selain itu, terdapat peningkatan secara deskriptif data kadar etanol pada kelompok positif. Hal ini kemungkinan akibat pemberian etanol pada mencit menyebabkan nekrosis pada jaringan hati karena terjadi peningkatan chemokines, lipid peroxidase dan endotoksin (Jawi dkk., 2007). Perbedaan hasil analisis pada mencit yang diberi perlakuan mungkin disebabkan oleh beberapa faktor seperti hemolisis saat pengambilan sampel, keadaan fisiologis dan makroenzim yang berbeda pada mencit serta mekanisme pertahanan diri mencit. Menurut Arakawa et al., 1996 bahwa perbedaan hasil ini kemungkinan dapat disebabkan oleh beberapa faktor misalnya stres yang dapat terjadi melalui peningkatan aktivitas syaraf simpatik perifer. Pada pemeriks

Recommended

View more >