PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN lp2m. nursalim.pdf · PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KONSIDERASI…

  • Published on
    10-Mar-2019

  • View
    212

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

<p>49</p> <p>PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KONSIDERASITERHADAP SIKAP TENGGANG RASA</p> <p>Oleh: Nur SalimDosen Jurusan PPKN FKIP UNP Kediri</p> <p>AbstrakModel konsiderasi berupaya membebaskan individu dari sifat destruktif yang</p> <p>mungkin tersamar dalam bentuk kecintaan pada diri sendiri (suka mementingkan dirisendiri atau kelompoknya sendiri tanpa mau tahu bahwa diluar juga ada kelompok lain).Sehingga tercipta pribadi yang memiliki kepedulian atau perhatian pada orang lain atasdasar cinta kasih dan saling menghormati.</p> <p>Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangananalisis kovarian faktorial acak atau completely randomized factorial analysis ofcavariance design yang disingkat CRFAC-pq (Kirk, 1982: 743-748). Maksudnya, untukmempelajari efek metode mengajar dengan model konsiderasi dan metode tradisionalkepada siswa-siswa kelas II SMA. Sebelum metode tersebut digunakan,terlebih dahuluanak-anak diberi tes awal.</p> <p>Pengujian hipotesis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat signifikanantara penerapan model konsiderasi dan metode terhadap sikap tenggang rasa siswa SMA,yang diperlihatkan oleh harga Fperhitungan = 740,57 F0,99 (1,27) 7,68. Berarti hipotesisalternatil (H1) diterima. Dengan teknik analisis kovarian ini hanya dapat menyatakanadanya perbedaan antara penerapan model konsiderasi dan metode tradisional terhadapsikap tenggang rasa, tetapi tidak melukiskan di mana letak perbedaan itu. Untuk itu perludiadakan posthoc comparisons dengan menggunakan metode Tukey. Hasil Tukey methodof multiple comparisons menunjukkan harga qhitung 26,645 lebih besar dari qkritis = 3,925pada 0,01. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengaruh model konsiderasiterhadap peningkatan sikap tenggang rasa, sangat positif dan signifikan.</p> <p>Kata Kunci: konsiderasi, tenggangrasa</p> <p>PendahuluanMata Pelajaran PKn sebagaimana tercantum dalam pasal 37 ayat 1 UU No.20 tahun</p> <p>2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, merupakan mata pelajaran wajib baik di tingkatpendidikan dasar maupun menengah. PKn bertujuan untuk membina manusia Indonesiaagar menjadi warga negara yang baik dengan segala atributnya. Dengan perkataan lain,PKn berupaya membina dan mengembangkan kesadaran berpolitik siswa, pribadi yangdemokratis yang selaras dengan nilai-nilai Pancasila. Hal ini membawa konsekuensi segalakegiatan pembelajaran siswa selalu diarahkan pada pemahaman, penghayatan danpengamalan nilai Pancasila. Sehingga peserta didik sebagai warga negara, dapatmengejawantahkan nilai-nilai Pancasila dalam tata pikir, tata tutur dan tata laku dalamkehidupan berbangsa dan bernegara. Kedudukannya yang unik sebagai pendidikan politikdan pendidikan moral menempatkan PKn ini pada posisi sentral dan strategis dalamkonstelasi pendidikan kita.</p> <p>Persoalannya sekarang adalah metode pembelajaran apa yang tepat untuk PKn, yangmenekankan pembelajarannya pada ranah afektif ini. Permasalahan ini penting mengingat</p> <p>Nur Salim 50</p> <p>EFEKTOR No.16, APRIL, Tahun 2010</p> <p>akhir-akhir banyak sorotan dan keprihatinan terhadap moralitas anak didik/generasi mudakita. Dekadensi moral terjadi secara merata di seluruh tanah air, meskipun tidak bisadipungkiri bahwa kemajuan tekhnologi informasi dan komunikasi selain memberi dampakpositif juga memberi dampak negative yang luar biasa pula.</p> <p>Dari uraian di atas dapat disimpulkan: ada kesenjangan antara tujuan PKn yang lebihmenekankan ranah afektif, terutama pembentukan sikap dengan metode pembelajaran yanglebih menekankan pada ranah kognitif (kebiasaan mengajar tradisional-masa lalu yangmasih terbawa sampai sekarang). Hal ini mengilhami peneliti untuk mengadakan penelitiantentang metode pembelajaran yang dipandang benar-benar menekankan ranah afektifsebagai pelengkap metode lain yang cenderung pada ranah kognitif.</p> <p>Mencari dan memilih metode pembelajaran yang benar-benar cocok untuk membina(bukan sekedar menanamkan) nilai-nilai Pancasila ini bukan merupakan persoalan yangmudah, mengingat:a. Model-model pendidikan nilai yang diperkenalkan saat ini banyak yang bersifat</p> <p>rasional-kognitif.b. Pada berbagai model pendidikan nilai / moral memperkenalkan moralitas yang lebih</p> <p>dipandang sebagai persoalan penalaran, padahal dalam kultur masyarakat Indonesia,faktor empati / kepedulian terhadap orang lain menjadi salah satu tolok ukur tinggirendahnya moralitas seseorang.</p> <p>c. Berbagai model pendidikan moral yang diperkenalkan memiliki dasar-dasar, tujuandan cara-cara pendidikan yang berbeda-beda (Wittrock, 1996: 118).</p> <p>d. Kita harus memperhitungkan landasan filosofis yang mendasari model pendidikanmoral / nilai yang dikembangkan untuk dikaji kemungkinannya diterapkan dalamsistem pendidikan kita yang menganut landasan filsafat Pancasila. Lebih jauhMohammad Noor Syam (2008:7) mengatakan perlunya penguatan pendidikannilai/moral karena sekarang kita sudah merasakan adanya degradasi nasional, konflikhorizontal, erosi jati diri nasional sampai anarchisme dan praktek Negara yangmenjurus liberalisme.</p> <p>Model konsiderasiPeneliti memilih model konsiderasi (Consideration model) yang dikemukakan oleh</p> <p>Peter McPhail untuk diuji apakah cocok digunakan dalam mengajarkan dan mendidikkannilai-nilai kepada anak. Dasar pertimbangan dipilihnya model ini adalah:a. Model ini menekankan ranah afektif;b. Model ini memandang moralitas sebagai gaya kepribadian dan bukan sekedar</p> <p>persoalan penalaran sebagaimana halnya beberapa model pendidikan moral yang lain(Nasution, 1999: 161)</p> <p>c. Model ini memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagaimanusia;</p> <p>d. Model ini menggunakan cara yang non-indoktrinatif.Model ini bertujuan agar kita menaruh consideration, atau kepedulian atau</p> <p>teposeliro terhadap orang lain (Nasution, 1999: 161).Jadi fokus model ini adalah membantu siswa mengembangkan rasa konsiderasi, tepo</p> <p>seliro, yaitu pemahaman dan penghargaan atas apa yang diucapkan atau dirasakan oranglain, betapapun berbedanya dengan pandangan kita sendiri (Nasution 1999:163).</p> <p>Model konsiderasi ini didasarkan atas asumsi bahwa:a. Hidup untuk kepentingan orang lain merupakan pengalaman yang membebaskan yakni</p> <p>dari egoisme atau individualisme;</p> <p>Nur Salim 51</p> <p>EFEKTOR No.16, APRIL, Tahun 2010</p> <p>b. Hanya dengan memberikan konsiderasi, kepada orang lain kita dapat mewujudkandiri kita sepenuhnya. Kebutuhan yang fundamental pada manusia ialah bergaul secaraharmonis dengan sesama manusia, saling memberi dan menerima cinta kasih, to loveand to be loved(Nasution, 1999:161).</p> <p>Model ini berupaya membebaskan individu dari sifat destruktif yang mungkin tersamardalam bentuk kecintaan pada diri sendiri (suka mementingkan diri sendiri ataukelompoknya sendiri tanpa mau tahu bahwa diluar juga ada kelompok lain). Sehinggatercipta pribadi yang memiliki kepedulian atau perhatian pada orang lain atas dasar cintakasih dan saling menghormati.</p> <p>Model ini didasarkan atas hasil McPhail yang dilakukan terhadap 800 siswa pria danwanita yang berusia 13 - 18 tahun tentang perlakuan baik dan perlakuan tidak baik yangdilakukan orang dewasa terhadap dirinya. Dan riset yang dilakukannya, McPhailmenginterpretasikan bahwa kelakuan yang baik adalah kelakuan yang memperlihatkankepedulian terhadap kebutuhan, perasaan dan perhatian orang lain.</p> <p>McPhail berpendapat bahwa sekolah terlalu membebani siswa dengan penumpukandan pemanipulasian informasi serta terlalu sedikit memberi perhatian pada kemampuanmemecahkan persoalan sekitar identitas pribadi dan hubungan sosial. McPhail menyatakanbahwa siswa belajar lebih dari apa yang diajarkan gurunya. Belajar dari contoh-contohadalah kunci bagi perkembangan individu secara alamiah. Contoh adalah suatu bentukpendidikan. Tingkat berpikir moral yang lebih tinggi - maupun dalam perilaku moral - perludimodelkan dalam situasi kehidupan nyata.</p> <p>Masalah penelitianPenelitian ini akan membandingkan keberhasilan metode mengajar dengan model</p> <p>konsiderasi dan metode tradisional dalam mencapai tujuan afektif tertentu dari matapelajaran PKn. Untuk mengujinya dibutuhkan standar kompetensi (SK) dari mata pelajaranPKn yang benar-benar bernilai strategis dan menekankan pada ranah afektif mengingattujuan yang ingin dicapai mata pelajaran PKn juga mengandung ranah kognitif danpsikhomotor.</p> <p>Salah satu standar kompetensi yang penting dan strategis untuk dikembangkan dalammata pelajaran PKn yang termasuk dalam ranah afektif adalah sikap tenggang rasa. Sikaptenggang rasa ini sengaja dipilih untuk dikembangkan dalam penelitian ini karena sikap inisangat dibutuhkan untuk menangkal terjadinya berbagai konflik yang berkaitan denganmasalah rawan, suku. agama ras dan antar golongan sebagai mana yang akhir-akhir inisering terjadi di tanah air. Masalah ini perlu mendapat perhatian mengingat akhir-akhir inisuhu dan tensi politik negara sedang naik sebagai akibat dari mencuatnya berbagaipersoalan yang berlatar belakang SARA dan adanya perubahan beberapa kebijakan politik.Perlu ditegaskan di sini bahwa persoalan SARA bukan terletak pada upaya menghilangkanperbedaan-perbedaan itu, yang tentu saja akan mengingkari sejarah dan eksistensi bangsakita sendiri, tetapi pada bagaimana menanamkan sikap tertentu sehingga perbedaan-perbedaan tetap mempersatukan bangsa kita. Termasuk di dalamnya adalah bagaimanamenghilangkan atau meminimalkan sikap destruktif yang berbentuk prasangka. stereotypedan etnosentrisme. Untuk mempersatukan perbedaan-perbedaan itu kita perlu mengenalpotensi untuk bersatu dan potensi konflik itu sendiri. Potensi untuk bersatu itu, adalah sikappara warga dari masing-masing golongan yang dijiwai semangat toleransi denganmenjauhkan pandangan yang menganggap buruk, jahat, hina dan tak dapat dipercaya padagolongan lain.</p> <p>Nur Salim 52</p> <p>EFEKTOR No.16, APRIL, Tahun 2010</p> <p>Penelitian ini akan membandingkan keberhasilan metode mengajar dengan modelkonsiderasi dan metode tradisional dalam meningkatkan sikap tenggang rasa siswa SMAterhadap masalah-masalah kesukuan, agama, ras dan antar golongan. Yang akan dicobauntuk diubah dengan metode mengajar ini adalah prasangka, stereotype dan etnosentrisme.</p> <p>Masalah-masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagaiberikut:1. Apakah terdapat perbedaan sikap tenggang rasa antara siswa yang mendapat treatment</p> <p>model konsiderasi dan metode tradisional ?2. Apakah terdapat perbedaan sikap tenggang rasa antara siswa yang berasal dari</p> <p>lingkungan-sekolah-kota dan siswa yang berasal dari lingkungan-sekolah-desa ?3. Apakah terdapat efek yang saling tergantung antara metode mengajar dan lingkungan-</p> <p>sekolah terhadap sikap tenggang rasa ?</p> <p>Hipotesis penelitianBerdasarkan masalah-masalah tersebut diatas dapat dirumuskan hipotesis penelitian:</p> <p>1. H1 Terdapat perbedaan sikap tenggang rasa yang signifikan antara siswa yangmendapat treatment model konsiderasi dan siswa yang mendapat treatment metodetradisional;</p> <p>2. H1 Terdapat perbedaan sikap tenggang rasa antara siswa yang berada di lingkungansekolah-kota dan yang berada di lingkungan-sekolah-desa;</p> <p>3. H1 Terdapat efek yang saling tergantung antara metode mengajar dan lingkungansekolah terhadap sikap tenggang rasa.</p> <p>Metodologi penelitianPopulasi dan Sampel Penelitian</p> <p>Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas II SMA negeri dan swasta di kota dankabupaten Kediri, yang sedang mengikuti pelajaran PKn dalam tahun ajaran 2009 /2010.Jumlah kelas II SMA di Kota Kediri ada 71 kelas, sedangkan yang di kabupaten ada 82kelas.</p> <p>Sebagai sampel dipilih 32 kelas. Penentuan sampel dilakukan dengan melalui duatahap, yaitu: tahap penentuan sampel sekolah (sebagai lokasi penelitian) kemudianpenentuan sampel kelas. Penetapan sampel sebanyak 32 kelas ini didasarkan padapenggunaan sub-sampel n = 8 (jumlah kelas untuk tiap metode mengajar dan tiaplingkungan sekolah), sehingga seluruh sampel N = npg = 8 x 2 x 2 = 32 (Q = 2 metodemengajar dan p = 2 lingkungan sekolah). Penggunaan sub kelas sebagai unit terkecil didalam penelitian ini sesuai dengan pendapat Baker dan Schutz yang menyatakan bahwakarena banyak faktor yang menyebabkan kelas yang satu beda dengan kelas yang lain, jikalebih dari satu kelas digunakan dalam penelitian itu, maka kelas cenderung digunakansebagai unit statistik, bukan angka dari siswa-siswa secara individual (Baker dan Schutz,1982: 148; Cronbach 1986:22).</p> <p>Rancangan PanelitianRancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan analisis kovarian faktorial</p> <p>acak atau completely randomized factorial analysis of cavariance design yang disingkatCRFAC-pq (Kirk, 1982: 743-748). Maksudnya, untuk mempelajari efek metode mengajardengan model konsiderasi dan metode tradisional kepada siswa-siswa kelas II SMA.Sebelum metode tersebut digunakan,terlebih dahulu anak-anak diberi tes awal. Setelahmetode mengajar selesai diberikan, pada akhir pelajaran diberikan tes akhir yang isinya</p> <p>Nur Salim 53</p> <p>EFEKTOR No.16, APRIL, Tahun 2010</p> <p>sama dengan tes awal (yang nantinya dalam pelaksanaan akan diacak nomor urutnya). Ataskedua hasil tes ini, kita bisa menentukan variabel respon Y sebagai selisih nilai tes akhirdan nilai tes awal untuk tiap sub kelas (unit terkecil). Jika nilai tes awal kita sebut x, makadalam hal ini ada kemungkinan bahwa respon Y dipengaruhi oleh variabel x sehingga tidaksemata-mata dikarenakan oleh efek metode mengajar yang digunakan. Dalam hal ini,sebelum diteliti mengenai Y sebagai efek metode mengajar dengan menggunakan ANAVA,maka perlu dilakukan dahulu analisis regresi Y atas X. Dengan kata lain, perlu dilakukanANALISIS KOVARIANS. Pada dasarnya analisis kovarians ini merupakan perkawinanantara analisis regresi dan analisis varians.</p> <p>Instrumen penelitian yang digunakan adalah skala sikap model Likert.</p> <p>Teknik Analisis DataAnalisis data dilaksanakan dengan menggunakan analisis kovarians faktorial sesuai</p> <p>dengan rancangan CRFAC-pq. Selanjutnya aposteriori nonorthogonal contrastdilaksanakan dengan menggunakan metode Tukey. Mengapa dilakukan aposteriorinonorthogonal contrast ? Karena memakai teknik analisis kovarians saja, hanya akandiperoleh hasil: adanya perbedaan (atau tidak ada perbedaan) antara penerapan modelkonsiderasi dan metode tradisional, tetapi tidak melukiskan di mana letak perbedaan itu.Untuk itu perlu diadakan posthoc comparisons dengan memakai metode Tukey. Dalam halakan dilakukan perbandingan antara:a. model konsiderasi dan metode tradisional yang diterapkan pada siswa yang berasal dari</p> <p>lingkungan yang sama (lingkungan-sekolah-desa, misalnya). Dengan demikian akandapat diketahui apakah model konsiderasi lebih efektif dibanding metode tradisional(dalam upaya meningkatkan sikap tenggang rasa siswa). Pengaruh faktor lingkunganterhadap sikap tenggang rasa siswa telah dihilangkan dengan membuat perbandinganantara siswa-siswa dari lingkungan yang sama.</p> <p>b. model konsiderasi itu sendiri yang diterapkan pada siswa yang berasal dari lingkunganyang berbeda (lingkungan-sekolah-desa dan lingkungan-sekolah-kota). Pembandinganini berguna untuk melihat keterkaitan antara penerapan m...</p>