PENGARUH SELF EFFICACY BELIEFS - ?· JURNAL PENGARUH SELF EFFICACY BELIEFS ... motivasi dan monitoring…

  • Published on
    05-Jul-2018

  • View
    212

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

  • JURNAL PENGARUH SELF EFFICACY BELIEFS

    TERHADAP PRESTASI AKADEMIK SISWA SMA KELAS XI JURUSAN IPS

    Rika Indah Amalia

    Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma

    ABSTRAKSI Penelitian ini bertujuan untuk

    mengetahui apakah terdapat pengaruh Self

    efficacy beliefs terhadap prestasi akademik

    siswa SMA kelas XI jurusan IPS.

    Tingkat intelektual setiap siswa

    berbeda-beda. Ada yang lemah dalam suatu

    bidang tapi unggul di bidang lain. Untuk

    memunculkan potensi unggulan itu

    diperlukan suasana dan kondisi keyakinan

    diri individu yang nantinya akan

    mempengaruhi prestasi akademik siswa.

    Subjek penelitian ini adalah siswa

    siswi SMA Budhi Warman I Cililitan

    Jakarta Timur. Subjek dalam penelitian ini

    diambil dari siswa siswi Kelas XI jurusan

    IPS yang berusia 15 18 tahun dengan

    jumlah subjek penelitian 100 orang

    responden.

    Metode pengumpulan data dalam

    penelitian ini adalah metode skala. Untuk

    mengukur self efficacy beliefs digunakan

    skala self efficacy beliefs yang berbentuk

    skala Likert, yang disusun berdasarkan

    komponen-komponen self efficacy beliefs

    menurut Bandura (1997), yaitu komponen

    magnitude, komponen generality dan

    komponen strength. Untuk variabel prestasi

    akademik di ambil dari nilai rata-rata raport

    selama masa studi yang sudah di tempuh.

    Dalam penelitian ini peneliti mengambil nilai

    raport semester ganjil.

    Hasil penelitian ini diketahui

    memiliki validitas antara 0,311 sampai

    dengan 0.534. dan nilai reliabilitas sebesar

    0.874. dan nilai normalitas pada Kolmogorov

    Smirnov sebesar 0,200 (p > 0,05). Nilai

    linieritas sebesar 2,750 (p < 0,05) hal ini

    berarti hasil penelitian ini tidak linier.

    Hasil analisis data (uji hipotesis)

    dalam penelitian ini diketahui dengan

    menggunakan teknik regresi sederhana

    diperoleh nilai 0,027 dengan signifikansi

    0,100 (p > 0,05) Hasil tersebut menunjukkan

    bahwa hipotesis yang berbunyi terdapat

    pengaruh self efficacy beliefs prestasi

    akademik di tolak. Dengan demikian tidak

    terdapat pengaruh self efficacy beliefs

    terhadap prestasi akademik.

    Hasil tersebut menunjukkan adanya

    perbedaan tingkat Adversity Quotient yang

    signifikan antara orang tua tunggal wanita

    dengan strategi problem-focused coping dan

    orang tua tunggal wanita dengan strategi

    emotion-focused coping.

    Kata kunci: Self Efficacy Beliefs, Prestasi Akademik, SMA

    PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan berlangsung seumur

    hidup manusia, maka sampai masa dewasa

    pun pendidikan seseorang belum berakhir.

  • Baru habis usaha itu kalau manusia yang

    bersangkutan telah dijemput utusan

    penciptanya.

    Pada era globalisasi dituntut sumber

    daya manusia yang berkualitas, maka saat

    ini pendidikan sangatlah penting. Oleh

    karena itu banyak orang-orang yang ingin

    menuntut ilmu sampai setinggi-tingginya.

    Dewasa ini bangsa Indonesia sedang

    menghadapi era globalisasi dan

    perdagangan bebas. Sehingga untuk

    menghadapinya bangsa Indonesia

    membutuhkan penerus bangsa yang

    berkualitas dan unggul. Sumber daya

    manusia yang unggul hanya dapat

    diciptakan melalui pendidikan yang

    berkualitas.

    Pendidikan di Indonesia mutunya

    masih rendah dibandingkan dengan Negara-

    negara lainnya yang berada di Asia. Apabila

    dibandingkan dengan Jepang mutu

    pendidikan di tanah air masih kalah jauh.

    Seiring dengan itu, tokoh

    cendikiawan muslim, Nurcholis Madjid

    mengakui bahwa, di Amerika, Jepang dan

    negara-negara lain baik di Asia dan Eropa,

    perkembangan pendidikan hampir merata.

    Sebab, anggaran yang dialokasikan ke

    pendidikan besar dan berjalan lancar. Tentu

    saja, pendapat ini tidak begitu saja

    dilontarkan. Menurutnya, paling tidak 65%

    penduduk Indonesia berpendidikan SD,

    bahkan tidak tamat. Selain itu kualitas

    pendidikan di negara ini juga dinilai masih

    rendah bila dibandingkan dengan negara

    lain. Tak heran jika Indonesia hanya

    menempati urutan 102 dari 107 negara di

    dunia dan urutan 41 dari 47 negara di Asia.

    Rendahnya mutu pendidikan di

    Indonesia mengundang perhatian Dien

    Novita, siswi Sekolah Menengah Umum

    (SMU) Negeri 3 Madiun. Dia lalu mereka-

    reka penyebabnya, terutama pada

    menurunnya minat belajar siswa. Dien

    menduga, itu terjadi karena kurangnya

    motivasi dan monitoring dari orang tua

    terhadap aktivitas keseharian anaknya,

    disamping belum adanya kesadaran dan

    keyakinan dari masing-masing siswa

    mengenai perkembangan yang terjadi pada

    dirinya.

    Berangkat dari dugaan itu, Dien lalu

    melakukan penelitian. Dia mencoba mencari

    pengaruh minat terhadap prestasi siswa

    dalam pelaksanaan metode belajar quantum

    learning di sekolahnya. Melalui penelitian

    itu, Dien menduga metode pembelajaran itu

    mampu meningkatkan minat siswa untuk

    berprestasi. Metode ini, seperti diketahui,

    menekankan pada prinsip kebebasan

    berekspresi yang bertanggug jawab itu

    mampu Dien mengumpulkan bahan

    penelitiannya melalui wawancara dengan

    siswa kelas 1 dan kelas 2. Dia mengambil

    sampel enam orang dengan tingkat

    keberhasilan prestasi yang berbeda. Setiap

    jenjang kelas, diambil satu siswa berprestasi

    tinggi, satu berprestasi sedang, dan seorang

    lainnya berprestasi kurang. Dia juga

    mewawancarai empat guru bidang studi dan

    seorang wakil kepala sekolah.

  • Tak hanya wawancara, dia pun

    melakukan pengamatan dan pencatatan

    terhadap gejala-gejala yang sedang

    dijadikan sasaran pengamatan.

    Pengamatan dilakukan mengenai proses

    belajar mengajar di kelas, keatifan, dan

    kegiatannya. Selain itu, dia juga mencari

    data mengenai siswa-siswa yang terlibat

    dalam kegiatan ekstra kurikuler sekolah dan

    prestasi siswa mengikuti kegiatan quantum

    learning. Hal yang sama dilakukan terhadap

    beberapa siswa yang pasif dalam kegiatan

    sekolah.

    Dari penelitian ini diketahui, siswa

    dengan kemampuan dan keyakinan diri

    yang lebih, mampu mengatasi kejenuhan

    dengan sekejap dan cara yang relevan.

    Sedangkan siswa dengan kemampuan

    sedang dan memiliki keyakinan yang

    kurang, lebih cenderung tidak memaksakan

    diri dan lebih santai.

    Siswa berkemampuan lebih dan

    yang mempunyai keyakinan yang tinggi

    sangat memperhatikan keseimbangan antara

    belajar, istirahat, dan beraktivitas. Mereka

    tidak hanya membuat jadwal, tapi juga lebih

    banyak memperhitungkan waktu dan

    manfaatnya. Siswa dengan kemampuan

    sedang dan memiliki keyakinan diri yang

    kurang rata-rata belajar sesuai dengan mood

    sehingga tidak efisien (Republika online,

    2007).

    Pendidikan pada dasarnya

    merupakan interaksi antara pendidik dengan

    peserta didik, untuk mencapai tujuan

    pendidikan, yang berlangsung dalam

    lingkungan tertentu. Interaksi ini disebut

    interaksi pendidikan, yaitu saling

    mempengaruhi antar pendidik dan peserta

    didik.

    Tingkat intelektual setiap siswa

    kondisinya berbeda-beda. Ada yang lemah

    dalam suatu bidang, tapi unggul dalam

    bidang lain. Untuk memunculkan potensi

    unggulan itu diperlukan suasana belajar dan

    kondisi keyakinan diri individu itu sendiri

    yang nantinya akan mempengaruhi prestasi

    akademik siswa tersebut.

    Menurut Winkel (1996) prestasi

    akademik adalah proses belajar yang

    dialami siswa untuk menghasilkan

    perubahan dalam bidang pengetahuan,

    pemahaman, penerapan, daya analisis, dan

    evaluasi.

    Menurut Soemanto, dkk (1988)

    terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi

    prestasi akademik yaitu faktor internal dan

    faktor eksternal. Secara faktor internal yaitu:

    (a) kematangan, (b) faktor usia kronologis,

    (c) faktor perbedaan jenis kelamin, (d)

    pengalaman sebelumnya, (e) kapasitas

    mental, (f) kondisi kesehatan jasmani, (g)

    kondisi kesehatan rohani, (h) tipe

    kepribadian, dan (i) motivasi.

    Sedangkan faktor eksternal prestasi

    akademik di pengaruhi oleh: (a) lingkungan

    keluarga, (b) lingkungan sekolah, dan (c)

    faktor situasional.

    Suryabrata(1993) menjelaskan

    bahwa prestasi akademik adalah hasil

    evaluasi dari suatu proses yang biasanya

    dinyatakan dalam bentuk kuantitatif (angka)

  • yang khusus dipersiapkan untuk proses

    evaluasi, misalnya rapor.

    Prestasi akademik yang ingin

    dikemukakan dalam penelitian ini akan

    dilihat berdasarkan jumlah nilai rapor yang

    diperoleh dari rata-rata nilai setiap mata

    pelajaran. Penentuan tinggi rendahnya

    prestasi akademik siswa dapat ditentukan

    setelah membandingkan jumlah nilai dari

    semua siswa di kelas yang dijadikan subjek

    penelitian.

    Prestasi akademik yang ingin

    peneliti teliti dari para siswa yang

    berhubungan dengan bagaimana siswa

    tersebut mempunyai kepercayaan diri atas

    kemampuannya untuk menentukan

    danmelaksanankan berbagai macam tugas

    serta bisa menampilkan performa perilaku

    untuk menyelesaikan tugas tertentu dengan

    baik dan efektif kepercayaan dirinya,

    kemampuan dirinya tersebut disebut dengan

    Self efficacy beliefs.

    Self efficacy beliefs adalah

    kepercayaan akan kemampuan diri yang

    dimiliki individu untuk menentukan dan

    melaksanakan berbagai tindakan yang

    diperlukan untuk menghasilkan suatu

    pencapaian (Bandura, 1997).

    Sedangkan menurut Coetzee &

    Cilliers (2001) menyatakan self-efficacy

    beliefs sebagai keyakinan individu untuk

    bisa menampilkan perilaku performa yang

    efektif sehingga bisa menyelesaikan tugas

    tertentu dengan baik.

    Fungsi dari self efficacy beliefs

    menurut Hjelle & Ziegler ada lima fungsi

    yaitu: (pertama) menentukan pilihan tingkah

    laku, (kedua) menentukan seberapa besar

    usaha dan ketekunan yang dilakukan,

    (ketiga) mempengaruhi pola pikir dan reaksi

    emosional, (keempat) meramalkan tingkah

    laku selanjutnya, dan (kelima) menunjukkan

    kinerja selanjutnya.

    Selain itu terdapat pula faktor-faktor

    yang mempengaruhi self efficacy beliefs.

    Menurut Bandura (1997) menjelaskan

    bahwa self efficacy beliefs dapat

    ditumbuhkan dan dipelajari berdasarkan

    lima sumber informasi yaitu: (a)

    performance accomplishment, (b) vocarious

    experiences, (c) verbal persuasion, (d)

    emotional aurosal, dan (e) physical or

    affective status.

    Selain itu menurut Bandura self

    efficacy beliefs mempunyai tiga komponen.

    ketiga komponen tersebut adalah: (a)

    komponen magnitude, yaitu komponen yang

    berhubungan dengan tingkat kesulitan

    tugas. Yang disesuaikan dengan batas

    kemampuan yang dirasakan untuk

    memenuhi tuntutan perilaku yang

    dibutuhkan bagi masing-masing tingkat.

    Orang yang memiliki self efficacy beliefs

    yang tinggi cenderung akan memilih

    mengerjakan tugas-tugas yang sifatnya sulit

    dibandingkan yang sifatnya mudah, (b)

    komponen generality, yaitu komponen yang

    menjelaskan tentang keyakinan individu

    untuk menyelesaikan tugas-tugas tertentu

    dengan tuntas dan baik, (c) komponen

    strength, komponen ini berhubungan

    dengan derajat kemantapan individu

    terhadap keyakinannya.

    Bentuk pendekatan yang dilakukan

  • siswa untuk memahami dan melaksanakan

    tugas akan mempengaruhi hasil belajarnya,

    sebab bentuk pendekatan yang dipilih

    dipengaruhi oleh tingkah laku terhadap

    dirinya sendiri dan lingkungannya. Dalam

    hal tingkah laku terhadap dirinya sendiri

    individu akan memilih menyelesaikan tugas-

    tugas tertentu dengan tuntas dan baik

    disesuaikan dengan kemampuan yang

    dimilikinya. Lingkungan belajar yang

    menyenangkan, tidak mengancam, memberi

    semangat, dan sikap optimisme bagi siswa

    dalam belajar, cenderung akan mendorong

    seseorang untuk belajar. Hal ini berarti sel

    efficacy beliefs mempunyai peranan dalam

    menentukan kualitas dan kuantitas belajar

    siswa.

    Dari uraian di atas, maka peneliti

    ingin meneliti apakah terdapat pengaruh self

    efficacy beliefs terhadap prestasi akademik

    siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Budhi

    Warman I kelas XI jurusan IPS Jakarta -

    Timur?

    B. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk

    menguji apakah terdapat pengaruh self

    efficacy beliefs terhadap prestasi akademik

    siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Budhi

    Warman I kelas XI jurusan IPS Jakarta -

    Timur?

    C. Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah: 1. Manfaat Teoritis

    Penelitian ini diharapkan dapat memberi

    masukan untuk merekomondasikan

    pentingnya self efficacy beliefs sebagai

    salah satu faktor yang dapat

    mempengaruhi prestasi akademik siswa

    Sekolah Menengah Atas (SMA) SMUN

    99 kelas XI jurusan IPS Jakarta Timur.

    2. Manfaat Praktis Hasil penelitian ini diketahui memiliki

    validitas korelasi total item antara

    0,311 sampai dengan 0,534. Dan

    nilai reliabilitas sebesar 0, 874. Dan

    nilai normalitas pada Kolmogorov

    Smirnov sebesar 0, 200 (p > 0,05).

    Hasil analisis data (uji hipotesis)

    dalam penelitian ini diketahui dengan

    menggunakan teknik regresi

    sederhana diperoleh nilai 0,027

    dengan signifikansi 0,100 (p > 0,05)

    hal ini berarti tidak terdapat pengaruh

    self efficacy beliefs terhadap prestasi

    akademik. Hasil penelitian ini di

    harapkan dapat memperkaya

    khasanah ilmu pengetahuan,

    khususnya di bidang Psikologi

    pendidikan serta dapat dipergunakan

    sebagai pedoman dalam melakukan

    penelitian secara lebih lanjut,

    terutama dengan mengkaji variabel-

    variabel lain yang berkaitan dengan

    self efficacy beliefs dan prestasi

    akademik.

    TINJAUAN PUSTAKA A. Self Efficacy Beliefs 1. Pengertian Self Efficacy Beliefs

    Menurut Bandura (1997), self

    efficacy beliefs adalah keyakinan seseorang

    terhadap kemampuan yang dimilikinya untuk

    menentukan dan melaksanakan berbagai

    tindakan yang diperlukan untuk

  • menghasilkan suatu pencapaian.

    Pajares (1997), self efficacy beliefs

    adalah penilaian seseorang terhadap

    kemampuan diri untuk mengorganisasikan

    dan melaksanakan langkah-langkah yang

    terarah untuk mencapai suatu tujuan.

    Coetzee & Cilliers (2001)

    menyatakan self efficacy beliefs sebagai

    keyakinan individu untuk bisa menampilkan

    perilaku dengan performa yang efektif

    sehingga bisa menyelesaikan tugas tertentu

    dengan baik.

    Norwich (dalam Azwar, 1996)

    mendefinisikan self efficacy beliefs sebagai

    keyakinan diri yang merupakan salah satu

    faktor personal yang menjadi perantara

    interaksi antara faktor perilaku dan faktor

    lingkungan. Tingginya keyakinan diri yang

    dipersepsikan akan memotivasi individu

    secara kognitif untuk bertindak lebih terarah,

    terutama apabila tujuan yang hendak

    dicapai merupakan tujuan yang jelas.

    Berdasarkan definisi diatas dapat

    disimpulkan bahwa self efficacy beliefs

    adalah keyakinan seseorang terhadap

    kemampuan yang dimilikinya untuk

    mengorganisasikan dan bisa menampilkan

    perilaku performa yang efektif sehingga bisa

    menyelesaikan tugas tertentu dengan baik

    serta merupakan salah satu faktor personal

    yang menjadi perantara antara faktor

    perilaku dan faktor lingkungan.

    2. Fungsi Self Efficacy Belief Menurut Hjelle & Ziegler (1992), self

    efficacy memiliki lima macam fungsi, yaitu:

    a. Menentukan pilihan tingkah laku

    Seseorang akan cenderung memilih

    tugas yang diyakininya mampu

    untuk diselesaikan dengan baik dan

    akan menghindari suatu tugas yang

    dianggap sulit dilaksanakan dengan

    baik.

    Lebih lanjut juga disebutkan bahwa

    dalam pemilihan aktivitas, individu

    cenderung menghindari tugas-tugas

    dan situasi yang diyakini melebihi

    kemampuan dirinya dan cenderung

    melakukan tugas yang berada

    dalam jangkauannya.

    b. Menentukan seberapa besar

    usah...

Recommended

View more >