Pengelolaan Tensi-Tensi Pada PT Freeport Indonesia

  • Published on
    08-Apr-2016

  • View
    97

  • Download
    1

DESCRIPTION

The Freeport Mine, Irian Jaya, Indonesia:Tailings & FailingsStakeholder AnalysisSimons, R., Performance Management and Control Systems for Implementing Strategy: Text and Cases, Prentice-Hall, 2000 (S)

Transcript

PENGELOLAAN TENSI-TENSI PADAPT FREEPORT INDONESIATulisan ini disusun untuk memenuhi tugas Mata KuliahSistem Pengendalian ManajemenProgram Studi Akuntasi S-1 RegulerDisusun oleh:Meutia Nanda AuliaNPM 1006712450Fikri SyuhadaNPM 1006764012Julio Hokky Sahputra NPM 1006696270Laurentius Leonard Halimkesuma NPM 1006696320Fakultas Ekonomi Universitas IndonesiaSemester Ganjil Tahun Akademik 2013/2014STATEMENT OF AUTHORSHIPKami yang bertandatangan dibawah ini menyatakan bahwa makalah/tugas terlampir adalah murni hasil pekerjaan kami sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain yang kami gunakan tanpa menyebutkan sumbernya.Materi ini tidak/belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk makalah/tugas pada mata ajar lain kecuali kami menyatakan dengan jelas bahwa kami menyatakan menggunakannya.Kami memahami bahwa tugas yang kami kumpulkan ini dapat diperbanyak dan atau dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme.NamaNPMTanda tanganMeutia Nanda Aulia1006712450Fikri Syuhada1006764012Julio Hokky Sahputra1006696270Laurentius Leonard Halimkesuma1006696320Mata Kuliah: Sistem Pengendalian Manajemen Judul Makalah: Pengelolaan Tensi-Tensi pada PT Freeport IndonesiaTanggal: 13 September 2013Dosen: Bapak Rudyan Kopot dan Bapak Hamdi AdnanSekilas Pandang Kasus Harvard Business School:Tambang Freeport, Irian Jaya, IndonesiaPT Freeport Indonesia (PTFI) merupakan sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang pertambangan khususnya dalam eksplorasi dan pengembangan tembaga, emas, dan perak di Papua. Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, tepatnya pada tahun 1966, PT Freeport membuat kontrak eksklusif berjangka 30 tahun dengan pemerintah Indonesia. PTFI dengan segera membangun sarana dan prasarana untuk mengakses tambang di area pegunungan bijih mineral Ertsberg dan secara resmi mulai beroperasi pada tahun 1973.Pada tahun 1988, persediaan sumber daya yang ada di area tersebut sudah menipis. Setelah dilakukan eksplorasi, ditemukan bahwa masih terdapat persediaan bernilai 1,9 Milyar Ton di pegunungan Grasberg. Untuk mempertahankan investasi PT Freeport, pemerintah Indonesia memberikan izin untuk mengeksplorasi area seluas 6 juta are dan menegosiasi ulang kontrak untuk 30 tahun mendatang dengan perpanjangan dua kali sepuluh tahun.Setelah beroperasi selama 20 tahun, PTFI telah mengakibatkan kerusakan yang signifikan terhadap lingkungan. Proyek di Grasberg menyebabkan adanya 115.000 Ton limbah mengalir ke sungai setiap harinya. Di sisi lain, pada periode 1993-1995, dengan adanya investasi dari RTZ, PTFI melakukan ekspansi operasi dari memproduksi sebanyak 160.000 Ton/hari menjadi 250.000 Ton/hari. Walaupun mendapatkan banyak tekanan dari organisasi-organisasi serta masyarakat sekitar yang peduli lingkungan, PTFI tetap dapat beroperasi akibat adanya hubungan yang kontroversial antara PTFI dengan Presiden Soeharto dan kolusi dengan tentara Indonesia.Setelah krisis dan berakhirnya masa pemerintahan Presiden Soeharto, PTFI sebagai salah satu perusahaan yang bergantung pada Soeharto menjadi sasaran amukan masyarakat. PTFI tidak dapat lagi melakukan bisnis tanpa mengindahkan etika seperti pada masa-masa sebelumnya. Saat ini PTFI menghadapi tekanan-tekanan yang harus dikelola agar dapat beroperasi dengan baik.Berikut kami menganalisis kasus PTFI dengan menggunakan pendekatan lima tekanan utama yang perlu dikelola agar sebuah organisasi dapat mengimplementasikan performance measurement and control system secara efektif.1. Balancing Profit, Growth, and ControlSeorang manager pasti berusaha untuk meningkatkan profit perusahaan. Untuk itu, perusahaan akan berusaha untuk melakukan inovasi. Akan tetapi, jika perusahaan mengejar pertumbuhan dan profit secara berlebihan dan tidak melakukan kontrol yang cukup, dapat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti melakukan inovasi yang beresiko terhadap perusahaan. Di sisi lain, jika perusahaan sama sekali tidak mengejar pertumbuhan dan profit, perusahaan tidak dapat bertahan karena profit yang rendah menyebabkan rendahnya return terhadap pemegang saham. Perusahaan harus mengelola keseimbangan antara profit, pertumbuhan, dan kontrol. Walaupun mendapat banyak tekanan dari stakeholders, menurut kami PTFI sudah mengelola keseimbangan yang baik di antara profit, pertumbuhan, dan kontrol. Hal ini dapat terlihat dari profitability perusahaan selama beroperasi. Grafik 1: Pertumbuhan Revenue, Expenses, dan Net Income (data diolah)Freeport McMoRan Copper & Gold, Inc.Pada periode 1995-1998 dimana terjadi peningkatan kapasitas produksi, terjadi pertumbuhan yang sangat signifikan. Revenue mencapai hampir sepuluh kali lipat dan net income naik lebih dari 600% (lihat appendix tabel 2). Pada masa 1998-2000 dimana terjadi guncangan akibat krisis dan pergantian pemerintahan, PTFI sempat mengalami penurunan net income hingga 50%, namun dapat kembali memperbaiki kondisinya dengan meningkatkan net income sebesar 114% dalam dua tahun berikutnya. Walaupun peningkatan revenue setelah 1998 tidak begitu signifikan, PTFI berhasil mengelola beban-bebannya sehingga pertumbuhan net income tetap baik.Dalam hal pertumbuhan usaha, pada periode 1973-2003 PTFI telah melakukan peningkatan signifikan dalam hal kapasitas produksi. Pada tahun 1988, PTFI telah memproses 25.000 Ton/hari bijih tembaga, emas, dan perak. Kemudian kapasitas ini naik hingga 52.000 Ton/hari pada tahun 1989 dan meningkat lagi hingga 115.000 Ton/hari pada tahun 1993. Dengan masuknya investasi RTZ sebesar $750.000.000, PTFI bahkan meningkatkan kapasitas menjadi 250.000 Ton/hari. Tidak hanya ekspansi dalam kapasitas produksi, PTFI juga melakukan ekspansi dalam kapasitas pemrosesan dengan melakukan joint venture dengan Mitsubishi dan FluorDaniels untuk membuat smelter (pabrik peleburan) berkapasitas 200.000 Ton/tahun di Jawa.Kesalahan manager adalah seringkali menganggap sebuah proyek untung hanya karena melihat peningkatan pendapatan yang positif, tetapi tidak menyadari permasalahan seperti berkurangnya persentase peningkatan profit. Oleh karena itu, kontrol dalam konteks ini adalah manager tidak hanya sekadar memperhatikan peningkatan pendapatan saja, tetapi juga terus memperhatikan bagian mana dari perusahaan yang perlu diperbaiki atau yang perlu ditingkatkan lagi. Melihat peningkatan kapasitas dan profit yang terus berkembang, menurut kami PTFI telah menerapkan kontrol yang baik.2. Balancing Short-Term Results Againts Long Term Capabilities and Growth OpportunitiesSeringkali kebutuhan jangka panjang akan mengorbankan hasil jangka pendek karena hasil dari investasi tersebut baru akan terlihat di masa depan. Padahal hasil jangka pendek juga sangat penting, apabila perusahaan tidak mampu menghasilkan keuntungan didalam jangka pendek maka perusahaan bisa mengalami kebangkrutan sebelum menikmati hasil dalam jangka panjang. Disisi lain apabila perusahaan tidak melakukan investasi untuk jangka panjang, bisa jadi perusahaan kehilangan daya saingnya di masa depan. Oleh karena itu akan selalu ada tensi atau pertentangan antara hasil dalam jangka pendek perusahaan dengan kebutuhan jangka panjang perusahaan untuk tetap bisa bersaing dan tumbuh.Performance measurement and control system memainkan peranan penting untuk menyeimbangkan hasil dalam jangka pendek perusahaan dengan kebutuhan investasi jangka panjang perusahaan dengan cara seperti berikut :1) Mengkomunikasikan kepada seluruh organisasi tujuan strategis dari organisasi beserta performance driver yang penting untuk mencapai tujuan tersebut.2) Memberikan sebuah pedoman untuk Logam & Mineral bahwa sumber daya yang ada cukup untuk mencapai tujuan tersebut.3) Menjelaskan hubungan sebab akibat antara tujuan dan profit4) Membuat dan memantau target profit dalam jangka pendek5) Memberikan pedoman untuk mengalokasikan sumber daya yang ada untuk mempertahankan kapabilitas perusahaan dalam jangka panjangApa yang Terjadi pada Penyeimbangan Hasil Jangka Pendek dan Kesempatan Pertumbuhan dan Kemampuan Jangka Panjang di PT Freeport IndonesiaPada tahun 1993 Freeport menjual 11,4% sahamnya kepada RTZ, sebuah perusahaan pertambangan mineral terbesar di dunia , hal ini dilakukan Freeport untuk mewujudkan rencana ekspansinya yaitu memperbesar kapasitas tambangnya hingga mampu menghasilkan 120 ribu hingga 180 ribu ton Logam & Mineral perhari. Kemudian RTZ melakukan investasi sebesar $750 juta untuk mendukung ekspansi Freeport sehingga memungkinkan Freeport untuk memproduksi hingga 250 ribu ton Logam & Mineral per hari, sebuah jumlah yang cukup untuk mengembalikan investasi yang dilakukan oleh RTZ dalam waktu yang relatif singkat. Hasilnya Freeport mampu menggandakan penerimaannya hanya dalam waktu 4 tahun (1992 1995).Akan tetapi meningkatnya penerimaan Freeport memancing tekanan dari berbagai pihak terkait kerusakan lingkungan alam dan sosial yang ditimbulkan oleh Freeport didalam operasinya. Tekanan tekanan yang timbul datang dari berbagai organisasi seperti Wahli, International Rivers Network. Bahkan Overseas Private Investment Corporation (OPIC) dan MIGA yang sebelumnya menjamin investasi Freeport sebesar $100 juta dan $50 juta membatalkan penjaminan tersebut karena kerusakan yang ditimbulkan Freeport pada lingkungan hidup di Papua dan pelanggaran HAM yang dilakukan Freeport terhadap penduduk asli Papua dalam operasinya. Tekanan terkait isu lingkungan hidup dan HAM terhadap Freeport berlanjut hingga internal Freeport. Sekelompok pemegang saham Freeport melakukan protes dan meminta kepada dewan komisaris dari Freeport untuk meelakukan review dengan transparan atas kerusakan lingkungan dan pelanggaran HAM yang terjadi akibat operasi Freeport. Disisi lain RTZ sebagai partner Freeport menekan agar Freeport menghasilkan minimal 230 ribu ton logam & mineral perhari. Bisa kita lihat bahwa terjadi tensi antara hasil jangka pendek dengan kepentingan jangka panjang perusahaan dimulai ketika RTZ melakukan investasi di Freeport, untuk membayar investasi tersebut dengan cepat maka Freeport berproduksi sebanyak banyaknya tanpa memikirkan dampak yang ditimbulkan kepada lingkungan hidup di Papua. Akibatnya Freeport dikecam oleh berbagai organisasi di dunia baik organisasi lingkungan hidup maupun OPIC dan MIGA yang membuat Freeport kehilangan asuransinya sebesar $150 juta. Tidak hanya itu hal ini juga memicu terjadinya konflik internal antar pemegang saham di Freeport yang pastinya menghambat ekspansi bisnis Freeport.Nama Freeport telah menjadi buruk di mata dunia hingga kini akibatnya Freeport selalu mendapat berbagai resistensi ketika ingin melakukan ekspansi terhadap bisnisnya. Seandainya saja pada tahun 1993 1995 Freeport tidak melakukan ekspansi dengan agresif dan menjadi perusahaan yang lebih ramah lingkungan walaupun hal itu berarti keuntungan yang lebih sedikit, maka Freeport tidak akan mendapat kecaman dari berbagai pihak dan nama Freeport tidak akan menjadi buruk sehingga tidak akan timbul resistensi dalam mengembangkan bisnisnya didalam jangka panjang. Ini adalah contoh tensi antara kebutuhan dan pertumbuhan jangka panjang perusahaan dengan hasil jangka pendek perusahaan.3. Balancing Performance Expectations of Different ConstituenciesManajer perusahaan pada umumnya memiliki target keuangan dan non-keuangan baik itu jangka pendek atau jangka panjang (Simons, 2000). Dalam pencapaian target tersebut, perusahaan tentunya akan melibatkan pemangku kepentingan lainnya. Semuanya harus berjalan seimbang agar tidak terjadi masalah benturan kepentingan. Beberapa pemangku kepentingan beserta tujuannya (ekspektasi) dari PT Freeport Indonesia antara lain:Pemangku KepentinganKepentingan (Ekspektasi)Tensi atau Masalah TerkiniPemegang saham (per Juli 2012, Kompas 23 Juli 2012):1. Freeport-McMoran Cooper and Gold Inc. (FCX) 90,64%2. Pemerintah Indonesia 9,36%Mendapatkan kenaikan keuntungan dan produktivitas. Contohnya pada Exhibit 2, pendapatan naik signifikan dari 1 juta US$ pada 1995 menjadi 1,9 milyar US$ pada 2002 karena ada ekspansi kapasitas produksi dari 120.000 ton per hari menjadi 250.000 ton per hari plus tambahan modal dari RTZ.Tidak ada. Pada tahun 1998 ada dorongan untuk mendapatkan lebih banyak profit namun harus mempertimbangkan aspek sosial dan lingkungan.Manajemen perusahaanMelakukan ekspansi produksi tambang di Papua untuk menghasilkan laba lebih banyak bagi perusahaan.Perusahaan gagal mencapai target produksi (hanya mampu 80%-nya saja) dikarenakan 2 bulan penghentian operasi akibat kecelakaan longsor pada 14 Mei di Big Gossan. Pekerja PT. FreeportMendapatkan upah yang lebih layak dan keselamatan kerja terjamin.Freeport diprotes karena dianggap mengabaikan keselamatan kerja buruh sehingga terjadi kecelakaan di kawasan tambang Big Gossan, Papua pada 14 Mei. Ada juga anggota TNI yang disewa Freeport ditembak oleh anggota OPM. Pada pertengahan 2011, pekerja mogok kerja demi tuntutan kenaikan gaji dan ada kasus lain dimana karyawan PT Freeport ditembaki oleh orang tak dikenal.Pemerintah IndonesiaMendapatkan royalti dan pajak lebih banyak dengan melakukan renegoisasi kontrak karya. Belum tercapai kesepakatan resmi terkait renegosiasi kontrak tetapi ada rumor bahwa Freeport mau melakukan divestasi dan pengurangan kuasa lahan di Papua.Pemasok; salah satunya adalah PertaminaLetter of Intent untuk jual beli High Speed Diesel yang akan digunakan sebagai bahan bakar operasional di lokasi tambang.Tidak ada.Rekan kerja:1. Dirjen Perhubungan Udara dan Pemda Mimika2. PT Indosmelt dan PT Indovasi Mineral IndonesiaPenandatanganan MoU untuk mengembangkan Bandar Udara Mozes Kilangin dengan tujuan kontribusi nyata pengembangan ekonomi dan pariwisata di Timika, Papua (untuk rekan kerja 1). Penandatanganan MoU untuk membangun fasilitas pabrik peleburan konsentrat tembaga (untuk rekan kerja 2). Tidak adaLembaga Swadaya Masyarakat, terutama lingkungan:1. Wahana Lingkungan Indonesia (WAHLI)2. Jaringan Advokasi Tambang (JATAM)3. Indonesian Center for Environment Law (ICEL)4. International Rivers NetworkBerupaya mewujudkan sosial dan lingkungan alam yang sehat (tidak tercemar).Mendesak agar Freeport mau lebih memikirkan masalah lingkungan. Sebelumnya pada 1995, MIGA, World Banks political insurance agency, ditekan untuk membatalkan policy-nya karena masalah sosial dan lingkungan seperti pembuangan limbah beracun ke sungai.Masyarakat PapuaMerasakan manfaat dari keberadaan Freeport misalkan fasilitas pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur yang memadai. Tidak ada. Sebelumnya ada kasus tahun 1995-1996, masyarakat suku Amungme dan Komoros terkena dampak kontaminasi lingkungan. KonsumenMembeli emas, perak, tembaga, dan barang tambang lainnya dengan harga yang kompetitif.Tidak ada.Keterangan: Wahana Lingkungan Indonesia (WAHLI) ( mengupayakan kelayakan hidup dan lingkungan Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) ( membantu masyarakat yang menjadi korban perusahaan tambang Indonesian Center for Environment Law (ICEL) ( lembaga pengembangan hukum lingkungan Indonesia yang berupaya mewujudkan Good Sustainable Development Governance. Jika kita rangkum permasalahan kepentingan diatas, tampaknya Freeport harus mampu merancang suatu sistem atau kebijakan yang dapat mengurangi tensi-tensi yang ada. Memang ada trade-off untuk memenuhi kepentingan yang satu dengan yang lainnya seperti peningkatan laba dengan kenaikan kompensasi karyawan atau pembangunan infrastruktur sosial, namun manajemen harus mengambil keputusan yang tepat untuk menjamin tujuan keuangan dan non-keuangan perusahaan dapat tercapai. 4. Balancing Opportunities and AttentionManajemen harus mampu menyeimbangkan antara kesempatan yang ada dengan management time and attention. Manajer harus memfokuskan perhatian mereka untuk serangkaian masalah sehingga kesempatan bisa dikonversi menjadi keuntungan dan semua masalah bisa diatasi (Simons, 2000). Dalam hal kesempatan Freeport, sebetulnya relatif sulit diidentifikasi karena semua sudah by-contract, dan yang seringkali kesempatan tidak dapat dilihat dengan mudah (invisible). Salah satu masalah yang sedang hangat adalah keengganan PT Freeport Indonesia untuk menaati Peraturan Pemerintah No. 24 tahun 2012 bahwa perusahaan tambang asing harus melalukan divestasi minimal 51%. Menurut CEO Freeport-McMoran, Adkerson, mereka dilindungi haknya oleh kontrak karya tahun 1991 yang disetujui pemerintah Indonesia dan bukan oleh Undang-Undang Pertambangan yang baru. Perdebatan lainnya adalah apakah peraturan tersebut berlaku surut atau tidak dan sampai sekarang masih belum jelas pelaksanaannya. Masalah seperti inilah yang harus menjadi atensi manajemen perusahaan karena jika tidak diatasi maka akan menjadi masalah panjang. Penyelesaian masalah dengan pemerintah juga dapat membantu manajemen Freeport Indonesia untuk mengalihkan fokus mereka untuk mengkonversi kesempatan yang ada menjadi keuntungan bagi perusahaan.5. Balancing the Motive of Human BehaviorSatu alasan dari alasan-alasan yang bersifat prinsip mengapa manajer menggunakan sistem pengendalian dan pengukuran kinerja adalah untuk mempengaruhi subordinat manajer dan karyawan-karyawan lainnya untuk dapat lebih mengutamakan kepentingan organisasi, dalam hal ini perusahaan, di atas kepentingan pribadi.Hal-hal yang diperlukan untuk mencapai tujuan di atas memang bukan perkara yang mudah. Namun, bila perusahaan telah berhasil mendesain sistem pengendalian dan pengukuran kinerjanya dengan:1) Memberikan kesempatan kepada karyawan untuk berkontribusi dan membuat perbedaan,2) Mentransmisikan secara jelas hal-hal atau tingkah laku apa saja yang dianggap dapat diterima,3) Memberikan penghargaan yang bernilai pada pencapaian,4) Memperkenankan adanya inovasi, dan5) Memberikan pekerjaan yang kompetenkepada karyawannya, pengutamaan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi mampu tercapai (Simons, 2000).Apa yang Terjadi pada Penyeimbangan Motivasi Tingkah Laku Manusia di PT Freeport Indonesia1) Dengan fakta bahwa PT Freeport Indonesia (PT FI) diputus ikatan kerjasamanya dengan MIGA Bank Dunia dan Overseas Private Investment Corporation Pemerintah Amerika Serikat, ditekan oleh Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) dan International Rivers Network dalam dampaknya terhadap lingkungan hidup dan masyarakat asli di sekitarnya, diberitakan secara buruk oleh The Wall Street Journal dan The New York Times, dan sering dituntut oleh serikat pekerjanya, ini berarti tindakan PT FI tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh institusi-institusi dan serikat pekerja. Dalam akumulasi kegigihan PT FI untuk mempertahankan do the same thing, hal ini juga menunjukkan bahwa PT FI tidak saja tidak memberikan kesempatan untuk institusi-institusi dan serikat pekerja ini berkontribusi mengarahkan perusahaan ke arah yang lebih sustainable tetapi juga tidak menyukai gangguan terhadap business as usual.2) Dengan ada tekanan dari partner investasi RTZ dan godaan pada individu-individu dalam manajemen itu sendiri, terlihat jelas bahwa perusahaan tidak dapat mentransmisikan secara jelas hal-hal atau tingkah laku apa saja yang dianggap dapat diterima dan malah secara jelas melanggarnya. Hal ini tidak mengejutkan mengingat manajemen PT FI pun mengabaikan surat dari pemegang sahamnya.3) Dengan fakta bahwa manajemen PT FI tidak menggubris sedikit pun tekanan dari WALHI, International Rivers Network, berbagai NGO Amerika Serikat dan Australia, tuntutan dari Overseas Private Investment Corporation Pemerintah Amerika Serikat, dan penilaian dari MIGA Bank Dunia, bukan hal aneh bila kita mengatakan dari competing demands yang dihadapi PT FI, manajemen PT FI lebih mengutamakan kepentingan pribadinya saja dan.4) Di samping manajemen PT FI menikmati pendapatan yang terus menanjak dari tahun ke tahun (lihat Tabel 1), dengan membiarkan ditekan dari partner investasi RTZ dan ditekan dari Tentara Negara Indonesia untuk tetap business as usual yang bertujuan untuk RTZ mendapat untung yang sangat besar dan TNI tetap mendapat upeti, terlihat bahwa insentif untuk berinovasi / challenging the status quo pada manajemen PT FI boleh dibilang tidak ada.KESIMPULAN DAN SARAN1) Dalam upaya menyeimbangkan Profit, Pertumbuhan, dan Kontrol, manajemen PT Freeport Indonesia menurut kami harus lebih menekankan pada kontrol terlebih dahulu. Hal ini dapat dimulai dari men-setting management philosophy yang doing the right thing.2) Dalam upaya menyeimbangkan Hasil Jangka Pendek dan Kesempatan Pertumbuhan dan Kemampuan Jangka Panjang, usai men-setting management philosophy yang doing the right thing manajemen PT Freeport Indonesia harus lebih transparan dan mengambil langkah tanggung jawab yang sifatnya korekif.3) Dalam upaya menyeimbangkan ekspektasi performa dari pemangku kepentingan yang berbeda-beda, manajemen PT Freeport Indonesia harus bekerja sangat giat dalam mengelola limbah produksinya.4) Dalam upaya menyeimbangkan kesempatan dan perhatian, manajemen PT Freeport Indonesia harus secara bersemangat memfokuskan perhatian dalam mematuhi Peraturan Pemerintah No. 24 tahun 2012 bahwa perusahaan tambang asing harus melalukan divestasi minimal 51%.5) Dalam upaya menyeimbangan motivasi tingkah laku manusia, manajemen PT Freeport Indonesia harus menerima masukan dari Wahana Lingkungan Hidup (WALHI), International Rivers Network, MIGA Bank Dunia dan Overseas Private Investment Corporation Pemerintah Amerika, meningkatkan tatakelola perusahaan sesuai nilai-nilai tatakelola perusahaan OECD, menurunkan rasa egois untuk dapat menurunkan negative externalities yang dikeluarkannya, dan terakhir, harus berkomitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan pemimpin perusahaan yang lebih baik.DAFTAR TABELTabel 1: Laporan Laba Rugi Freeport McMoRan Copper & Gold, Inc.Tabel 2: Pertumbuhan Keuangan Freeport McMoRan Copper & Gold, Inc. (data diolah)19921995199820002002Revenue $ 714,30 $ 1.834,30 $ 1.757.132,00 $ 1.868.610,00 $ 1.910.462,00 Cost and Expenses $ 437,90 $ 1.240,10 $ 1.179.185,00 $ 1.376.317,00 $ 1.270.325,00 Net Income $ 129,90 $ 253,70 $ 153.848,00 $ 76.987,00 $ 164.654,00 Grow in Revenue157%95693%6%2%Grow in Net Income95%60542%-50%114%DAFTAR REFERENSISimons, Robert. Performance Measurement & Control Systems for Implementing Strategy: Text & Cases, Prentice-Hall, 2000http://asetindonesia.blogdetik.com/tag/freeport/http://www.antaranews.com/berita/380020/polisi-sudah-periksa-21-orang-terkait-kasus-pt-freeporthttp://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/07/23/17563876/Hatta.Puji.Renegosiasi.Kontrak.Karya.Freeporthttp://bisnis.news.viva.co.id/news/read/294485-aturan-divestasi-tambang-asing-tak-berlaku-suhttp://news.okezone.com/read/2013/02/27/337/768190/redirecthttp://prokum.esdm.go.id/pp/2012/PP%2024%202012.pdfhttp://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/11/10/28/ltrft3-polisi-penerima-imbalan-dari-freeport-tak-akan-ditindakhttp://www.reuters.com/article/2013/08/28/indonesia-freeport-pay-idUSL4N0GT1XF20130828http://www.tempo.co/read/news/2013/08/22/092506570/Freeport-Tak-Capai-Target--Produksihttp://www.tempo.co/read/news/2011/10/02/090359396/Freeport-Tolak-Kenaikan-Upah-25-Persenhttp://www.tempo.co/read/news/2011/07/04/090344625/Ribuan-Karyawan-PT-Freeport-Mogok-Kerjahttp://www.tempo.co/read/news/2011/04/11/063326623/Penembakan-dalam-Sepekan-Karyawan-Freeport-Diimbau-Tenanghttp://www.tempo.co/read/news/2013/06/27/058491646/OPM-Akui-Tembak-Anggota-TNI-di-Puncak-Jayahttp://www.voanews.com/content/workers-blame-freeport-for-fatal-incident-at-giant-papua-mine/1665981.html