Pengendalian Tingkah Laku Anak 1

  • Published on
    26-Dec-2015

  • View
    76

  • Download
    4

Embed Size (px)

DESCRIPTION

fkg

Transcript

PENGENDALIAN TINGKAH LAKU ANAK

DALAM PRAKTEK KEDOKTERAN GIGI

Oleh :

Drg. Soesilo Soeparmin, MS

F A K U L T A S K E D O K T E R A N G I G I

UNIVERSITAS MAHASARASWATI

DENPASAR

JULI 2014PENGENDALIAN TINGKAH LAKU ANAK

DALAM PRAKTEK KEDOKTERAN GIGI

Soesilo Soeparmin

ABSTRAK

Anak-anak memiliki berbagai macam sifat yang dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, masyarakat dan lingkungan praktek dokter gigi. Perilaku anak tersebut ada kalanya dapat memudahkan atau menyulitkan dokter gigi dalam melakukan perawatan. Kunci keberhasilan perawatan gigi pada anak selain ditentukan oleh pengetahuan klinis dan ketrampilan dokter gigi, sebagian juga ditentukan oleh kesanggupan anak untuk bekerjasama selama perawatan. Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui strategi pengendalian tingkah laku anak dalam praktek kedokteran gigi. Perawatan terhadap anak-anak adalah hubungan antara dokter gigi - pasien anak - orang tua/ orang yang mendampingi anak tersebut (one to two relationship). Dasar dari menerapkan perilaku kedokteran gigi terhadap anak-anak adalah dengan membentuk kemampuan untuk dapat mengarahkan mereka melalui pengalaman perawatan gigi mereka. Yang terpenting dalam perawatan pasien anak adalah hubungan yang dinamis diantara pasien anak, keluarga dan dokter gigi. Strategi pengendalian tingkah laku anak yang dapat diterapkan dalam praktek kedokteran gigi adalah strategi modeling, desensitisasi dan kombinasinya. Untuk melengkapi strategi ini, dapat digunakan metode Tell-Show-Do dan reinforcement, sedangkan Hand Over Mouth Exercise jangan dilakukan pada anak yang mengalami rasa takut.Kata Kunci : Strategi Pengendalian, Tingkah Laku CONTROL OF BEHAVIOUR CHILD IN DENTIST PRACTICESoesilo Soeparmin

ABSTRACT

Children have a wide range of properties that are influenced by the family environment, society and the environment dental practice. The child's behavior can sometimes facilitate or complicate the dentist to perform maintenance. The key to success in addition to dental care in children is determined by the clinical knowledge and skills of the dentist, is also partly determined by the child's ability to cooperate during treatment. This research aims to determine the control strategy of the child's behavior in the practice of dentistry. Treatment of children is the relationship between the dentist - pediatric patients - the parents / persons accompanying the child (one-to-two relationship). The basis of applying behavior towards children dentistry is to establish the ability to be able to steer them through their dental experience. Most important in the treatment of pediatric patients is a dynamic relationship among pediatric patients, families and dentists. Child behavior control strategies that can be applied in dental practice is a strategy modeling, desensitization, and combinations thereof. To complement this strategy, the method can be used Tell-Show-Do and reinforcement, while Hand Over Mouth Exercise should not be performed on children who experience fear.Keywords : Control Strategy, BehaviorKorespondensi : Sosilo Soeparmin, drg., M.S., Bagian Kedokteran Gigi Anak, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Mahasaraswati Denpasar, Jl. Kamboja 11A Denpasar, Telp. (0361) 7424079, Fax. (0361) 261278, email : soesilo.soeparmin@gmail.com

PENDAHULUANDalam melakukan perawatan terhadap pasien anak-anak yang harus diperhatikan adalah bagaimana sikap (perilaku) anak menerima suatu perawatan yang diberikan oleh dokter gigi. Anak-anak memiliki berbagai macam sifat yang dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, masyarakat dan lingkungan praktek dokter gigi. Perilaku anak tersebut ada kalanya dapat memudahkan atau menyulitkan dokter gigi dalam melakukan perawatan. Dalam hal ini ada banyak cara yang bisa dilakukan sehingga penting untuk seorang dokter gigi mengetahui perilaku anak dan bagaimana cara berkomunikasi dengan anak sehingga perawatan yang dilakukan menjadi lebih mudah. Kunci keberhasilan perawatan gigi pada anak selain ditentukan oleh pengetahuan klinis dan ketrampilan dokter gigi, sebagian juga ditentukan oleh kesanggupan anak untuk bekerjasama selama perawatan. Hal tersebut menyebabkan dokter gigi yang merawat pasien anak harus mampu melakukan pengelolaan perilaku agar pasien bersikap kooperatif. Pada umumnya, anak yang datang ke praktik dokter gigi berperilaku kooperatif dan dapat menerima perawatan gigi dengan baik apabila diperlakukan dengan benar sesuai dengan dasar-dasar pengelolaan perilaku. Namun, sebagian anak berperilaku non kooperatif serta bersikap negatif pada perawatan gigi.1Dalam melakukan perawatan gigi anak, terdapat tiga komponen yang harus bekerja sama, agar perawatan dapat berlangsung dengan lancar. Komponen tersebut digambarkan dalam bentuk segitiga yang dikenal sebagai segitiga perawatan gigi anak. Pada segitiga tersebut, bagian sudut-sudutnya ditempati oleh dokter gigi, keluarga (terutama ibu) dan anak sebagai pasien terletak pada puncak segitiga. Segitiga tersebut saling berhubungan secara dinamik.2 Masalah yang dihadapi oleh dokter gigi, pertama adalah anak dengan berbagai tingkah lakunya sesuai dengan perkembangan yang sedang berlangsung. Masalah kedua, yang terletak disudut lain adalah keluarga (terutama ibu) yang diharapkan memberi dukungan kepada dokter gigi dalam pelaksanaan perawatan gigi anaknya yang terkadang memerlukan perhatian khusus sebelum perawatan anak dimulai.Rasa takut dan cemas pada anak merupakan suatu pengalaman pada perawatan gigi yang tidak menyenangkan. Ketakutan dan kecemasan mempengaruhi tingkah laku anak dan lebih jauh lagi menentukan keberhasilan perawatan gigi. Kecemasan merupakan suatu ciri kepribadian dan ketakutan terhadap antisipasi bahaya dari sumber yang tidak dikenal, sedangkan takut merupakan respon emosional terhadap sesuatu yang dikenal berupa ancaman eksternal.1Strategi pengelolaan rasa takut pada anak adalah dasar untuk memulai perawatan dengan tujuan untuk mengembangkan sikap anak yang mau menjalankan perawatan sehingga dicapai kesehatan gigi dan mulut tanpa menimbulkan rasa takut. Selain itu, komunikasi merupakan dasar dari setiap perawatan yang akan dilakukan. Efektivitas komunikasi dokter gigi-pasien dapat mengurangi kecemasan dan meningkatkan kepuasan serta kenyamanan pasien. Strategi pengelolaan perilaku dibagi menjadi enam kategori dasar yaitu : pendidikan, dukungan, kognitif-perilaku, paksaan, pembatasan dan farmakologi.3Walaupun rasa takut terhadap perawatan gigi yang dilakukan dokter gigi bukan masalah yang serius, tetapi merupakan hambatan bagi para dokter gigi dalam usaha peningkatan kesehatan gigi di masyarakat. Maka dari itu penanggulangan adanya rasa takut terhadap perawatan gigi perlu dicarikan jalan keluarnya. Berdasarkan uraian latar belakang di atas, penulis ingin membahas mengenai strategi pengendalian tingkah laku anak dalam praktek kedokteran gigi.KLASIFIKASI PERILAKU ANAKMenurut Wright, perilaku anak diklasifikasikan menjadi:

1. Kooperatif

Anak-anak yang kooperatif terlihat santai dan rileks. Mereka sangat antusias menerima perawatan dari dokter gigi. Mereka dapat dirawat dengan sederhana dan mudah tanpa mengalami kesulitan, pendekatan tingkah laku (perilaku).42. Kurang kooperatif

Pasien ini termasuk anak-anak yang sangat muda di mana komunikasinya belum baik dan tidak dapat memahami komunikasi dengan baik. Karena umur mereka, mereka tergolong ke dalam pasien yang kurang kooperatif. Kelompok lain yang termasuk ke dalam pasien yang kurang kooperatif adalah pasien yang memiliki keterbatasan yang spesifik. Untuk anak-anak golongan ini, suatu waktu tekhnik manajemen perilaku secara khusus diperlukan. Ketika perawatan dilakukan, perubahan perilaku secara imediat yang positif tidak dapat diperkirakan.43. Potensial kooperatif

Secara karakteristik, yang termasuk ke dalam kooperatif potensial adalah permasalahan perilaku. Tipe ini berbeda dengan anak-anak yang kooperatif karena anak-anak ini mempunyai kemampuan untuk menjadi kooperatif. Ini merupakan perbedaan yang penting. Ketika memiliki cirri khas sebagai pasien yang kooperatif potensial, perilaku anak tersebut bisa diubah menjadi kooperatif.4Menurut Frankl, perilaku anak dibagi menjadi:

1. Sangat negative: menolak perawatan, menangis dengan keras, ketakutan atau adanya bukti penolakan secara terang-terangan.42. Negative: enggan menerima perawatan, tidak kooperatif, perilaku negative tetapi tidak diucapkan (hanya muram dan tidak ramah).43. Positif: menerima perawatan, kadang-kadang sangat hati-hati, ikhlas mematuhi perintah dokter gigi, kadang-kadang timbul keraguan, tetapi pasien mengikuti perintah dokter gigi dengan kooperatif. 44. Sangat positif: sangat bagus sikap terhadap dokter gigi, tertarik dengan prosedur dokter gigi, tertawa dan menikmati perawatan yang dilakukan dokter gigi.4Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Anak

a. Pertumbuhan dan Perkembangan

Perkembangan anak meliputi fisik, intelektual dan aspek emosional dari pertumbuhan. Aspek-aspek ini menunjukkan perubahan yang konstan pada ukuran dan besarnya. Pada umur intelektual tiga tahun terlihat progress perkembangan yang menandakan suatu kesiapan untuk menerima perawatan dental. Anak-anak yang terlihat normal secara fisik tetapi menunjukkan perilaku atau masalah sosiologis, tipe pasien seperti ini dapat dinamai unnanageable, dengan realisasi kecil yang menunjukkan anak yang behaviour problem bisa mengesankan beberapa bentuk dari kerusakan otak.4b. Pengalaman Medis dan Pengalaman Perawatan GigiKeterlibatan emosional yang dibuat atau diciptakan dari pengalaman medis terdahulu dan sikap buruk anak terhadap kunjungan ke praktek medis, dapat membentuk dan mempengaruhi perilaku yang tidak menyenangkan pada anak. Potensial perilaku yang tidak kooperatif bisa dihubungkan dengan ketakutan pada pengalaman dental. 4c. Pengaruh Keluarga dan Teman Sebaya

Fakto