PENGUKURAN, PENGOLAHAN & ANALISA DATA e- ?· PENGUKURAN, PENGOLAHAN & ANALISA DATA EKSPERIMEN Lokakarya…

  • Published on
    18-Mar-2019

  • View
    216

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

Kristal no.7/Oktober/1992 1

PENGUKURAN, PENGOLAHAN &ANALISA DATA EKSPERIMEN

Lokakarya Metodologi Penelitian Universitas Surabaya, 7-8 Juli 1992oleh : Sugata Pikatan

Eksperimen adalah kegiatan yang tak terpisahkan dengan istilah penelitian dibidang eksakta. Kegiatan ini meliputi tiga hal sekaligus yakni : pengukuran, pengolahandan analisa data. Ketiga hal ini terkait satu dengan lainnya demikian erat sehinggapembahasannya pun tidak dapat dipisahkan secara tegas. Sifat kemanunggalannya dapatdipahami melalui uraian-uraian dalam tulisan ini.

Mengapa eksperimen penting ? Eksperimen adalah kegiatan yang mengarah padapengujian suatu hipotesa teoritis. eksperimen adalah cara bertanya seorang ilmuwankepada alam. Hasil eksperimen merupakan jawaban yang diberikan oleh alam yang harusditafsirkan oleh ilmuwan sebagai dukungan atau tolakan terhadap hipotesa yangdiajukannya. Oleh sebab itu agar seorang ilmuwan mendapatkan jawaban yang baik(mudah ditafsirkan) tentunya ia perlu bagaimana cara bertanya dan cara menafsirkanjawaban yang baik dan benar.

Pengukuran adalah kegiatan pengumpulan data, sedangkan data sendiri adalahkumpulan jawaban yang diberikanalam. Kumpulan jawaban ini harus diolah dulu supayadapat tampil secara terintegrasi dan ilmiah. Tampilan hasil pengolahan inilah yangkemudian perlu diinterprestasikan melalui suatu analisa.

PENGUKURANKegiatan pengukuran memerlukan dua perangkat penting yaitu instrumen

(peralatan) sebagai perangkat kerasnya dan metoda pengukuran sebagai perangkatlunaknya. Keduanya digunakan secara serempak untuk mendapatkan data yang sebaik-baiknya.

Sebelum pembahasan tentang pengukuran dilanjutkan, ada baiknya kita mengetahuidulu watak-watak hasil pengulkuran (data) yang akan diperoleh. Data hasil pengukuranterhadap suatu besaran fisis tidak akan memberikan suatu nilai yang tepat. Hal inidisebabkan oleh banyak faktor antara lain keterbatasan jangkauan ukur alat yangdigunakan, kelemahan metoda pengukurannya, karakteristik alamiah besaran itu sendiri,dan lain-lain. Jadi data yang dapat disajikan nantinya hanyalah merupakan perkiraanterbaik tentang nilai besaran yang diukur. Hasil ukur biasanya ditampilkan dalam bentuk :

(x s)dimana x adalah nilai perkiraan terbaiknya dan s adalah galat (error) ukurnya. Nilai ukuryang dapat diterima dengan demikian adalah antara ( x-s ) sampai dengan (x + s). Hasilpengukuran dikatakan sah hanya jika diserati dengan ketelitiannya (ditampilkan oleh galats).Pengukuran dapat dibagi menjadi tiga jenis menurut cara kita melakukannya, yaitu :

1. Pengukuran langsungPengukuran ini dilakukan dengan cara membandingkan langsung sesuatu yang

akan diukur dengan sebuah standar yang dipakai sebagai alat ukurnya.

Kristal no.7/Oktober/1992 2

Misalnya seseorang mengukur panjang seutas tali, ia akan membandingkan panjang tali itudengan mistar yang dimilikinya.

2. Pengukuran tidak langsungPengukuran ini terpaksa dilakukan karena berbagai macam sebab, antara lain

keterbatasan panca indera manusia sebagai sensor terhadap gejala alam yang akan diukur.Untuk melihat benda-benda mikroskop manusia perlu alat bantu yaitu mikroskop. Untukmengukur arus listrik manusia perlu mengubah dulu gejala listrik menjadi gejala mekanikjarum amperemeter.

3. Pengukuran dengan perhitunganPengukuran ini dilakukan berdasarkan pada hasil-hasil pengukuran yang dilakukan

sebelumnya. Hasil ukurnya didapat melalui suatu perhitungan data pengukuran langsungmaupun tak langsung.

Volume tabung dapat diukur langsung dengan gelas ukur, dan dapat juga dihitungdari hasil ukur diameter dan tingginya. Contoh lain adalah massa jenis suatu zat cair dapatdiukur dengan densimeter, dan dapat juga dihitung dengan mengukur lebih dulu massa danvolumenya.

Mengingat data yang dihasilkan pengukuran ini selalu mengandung ketidakpastiansebesar s, maka semua rancangan instrumen dan metoda pengukuran dimaksudkan untukmendapatkan nilai galat s yang sekecil-kecilnya. Seorang eksperimen yang menggunakanalat ukur dan metoda pengukuran yang tidak dirancangnya sendiri ttap mutlak harusmengetahui batasan-batasan apa saja yang dimilikinya terhadap hasil ukurnya nanti.

Perangkat keras pengukuran yang berupa peralatan ukur memiliki watak-watakyang mutlak diketahui seorang eksperimenter. Watak tersebut adalah :

o resolusi : tingkat kemampuan alat itu untuk membedakan ukuran terkecil. Misalmistar 30 cm-an memiliki resolusi orde mm, sedangkan sebuah mikrometer dapatmemiliki resolusi yang lebih tinggi, yaitu orde 1/1000 mm.

o akurasi : tingkat kemampuan alat itu untuk memberikan hasil ukur yangmendekati nilai yang sebenarnya. Jika panjang 10,0 cm diukur oleh sebuah mistarsebagai 9,9 cm, akurasi mistar hanyalah 1 %.

o presesi : tingkat kemampuan alat itu untuk memberikan hasil ukur yang sama pada saat pengulangan pengukuran dilakukan.

Alat yang beresolusi dan berpresisi tinggi belum tentu memiliki akurasi yang tinggipula. Idealnya di dalam sebuah eksperimen semua instrumen yang dipakai memilikiresolusi dan akurasi yang tinggi.

Tingkat resolusi dan akurasi sebuah alat ukur biasanya dapat dipelajari dalam bukumanualnya. Kadang-kadang tampilan alat itu sendiri sudah menunjukkan resolusinya,misalnya dilihat dari pembagian skala pada alat tersebut. Akurasinya biasanya dinyatakandalam prosen. Jika akurasinya bersifat linier bebas, akurasi alat dinyatakan dalam % f.s.(full-scale). Jika akurasinya bersifat linier proporsional, akurasi alat cukup dinyatakandalam % saja (berarti terhadap hasil ukurnya).

Kristal no.7/Oktober/1992 3

Metoda pengukuran ikut berperan dalam menentukan keberhasilan suatupengukuran. Metoda ini berkaitan dengan dua komponen yang saling menunjang, yaknisistem yang diukur (sebagai obyek) dan si pengukur sendiri (sebagai subyek). Padaumumnya pengukuran dilakukan dengan cara mengganggu sistem yang diukur, akibatnyahasil ukurnya tentu meleset dari nilai yang sebenarnya akan diukur. Contoh : pengukuransuhu suatu benda mau tidak mau harus dilakukan dengan cara mengambil sedikit panasdarinya untuk masukan termometer yang digunakan. Atau pengukuran arus listrikmenggunakan amperemeter, mau tak mau sebagian arus yang akan diukur harus ditarikmasuk ke dalam tahanan shunt-nya. Sifat obtek pengukuran bahwa ia harus diganggu initidak sulit untuk dikoreksi.

Kesalahan yang berasal dari subyek pengukuran tentu sama sekali tidakdikehendaki dan dapat dihindari yaitu dengan melakukan pengukuran itu secara hati-hati.Contoh : kesalahan paralaks, yaitu pembacaan skala alat ukur tidak secara tegak lurus,akan memberikan data yang meleset. Atau eksperimen lupa melakukan zero-offset tentumembuat semua hasil ukur terlau besar atau terlalu kecil.

Semua galat ukur yang timbul dari perangkat keras maupun perangkat lunakpengukuran dikategorikan pada satu jenis galat ukur yaitu : galat sistematis. Watak galatini yang terpenting adalah ia dapat dihilangkan (dilkoreksi) jika penyebabnya sudahdiketahui, tetapi sayangnya kehadirannya justru seringkali sulit dideteksi. Ia pandaibersembunyi. Hanya eksperimen berpengalamanlah yang seringkali dapat mencium adanyagalat sistematis ini. Kadang-kadang galat sistematis suatu eksperimen baru terdeteksisetelah ada hasil eksperimen lain yang pndekatannya berbeda.

Beberapa watak alat yang dapat menyebabkan timbulnya galat sistematis, dengansendirinya mempengaruhi akurasinya, antara lain adalah :

o histeresis : respons alat terhadap input yang meningkat berbeda dengan responsnya ketika inputnya menurun. Contoh: histeresis magnetik pada bahan- bahan feromagnetik.o damping : misalnya akibat efek gesekan zat alir. Di sini kecepatan alir ikut menetukan respons alat itu.o drifting : disebabkan perubahan sifat-sifat bahan dalam alat itu terhadap waktu (umurnya). Contoh : pegas akan mengalami deformasi tetap jika sudah sering dipakai.

Untuk minimisasi galat sistematik ini eksperimenter biasanya melakukan kalibrasiulang terhadap semua alat ukur yang digunakannya. Apabila kalibrasi ini tidak mungkindilaksanakan, diambil suatu kebijakan dengan menganggap galat ukurnya sekitar separosatuan terkecil yang terdapat pada alat ukur (batas resolusinya). Walaupun langkah iniriskan tetapi masih lebih baik daripada tidak mendapatkan galat ukur.

PENGOLAHAN DATADalam kegiatan pengolahan data hasil pengukuran konsentrasi terletak pada

perhitungan galat ukur s yang harus menyertai hasil ukur x. Galat ukur ternyata tidakhanya ditimbulkan oleh perangkat pengukuran sebagai galat sistematis, tetapi juga olehdinamika besaran maupun proses pengukurannya. Kata dinamika di sini dimaksudkan

Kristal no.7/Oktober/1992 4

untuk suatu keadaan yang tidak konstan. Galat yang timbul akibat gejala ini dikategorikandalam jenis galat rambang.

Ada dua hal penyebab dinamika besaran yang diukur :

1. Fluktuasi nilai besaran terhadap waktuTerdapat banyak sekali besaran yang berubah-ubah terhadap waktu, sehingga

pengukurannya tidak mungkin menghasilkan nilai tunggal. Contoh : tekanan dan suhuudara yang selalu berubah besarnya setiap saat. Bila tekanan udara merupakan salah satubesaran yang menentukan dalam eksperimen, pengukurannya harus dilakukan berulang-ulang, dari awal sampai akhir percobaan. Contoh lain adalah pengukuran tegngan listrikdari PLN, setiap saat besarnya berfluktuasi.

2. Formula ideal dalam perhitunganAda besaran misalnya luasan penampang suatu benda, tidak memiliki cara

pengukuran secara langsung maupun tak langsung. Luasan harus diukur melalui suatuperhitungan. Katakanlah penampang yang akan diukur adalah penampang seutas kawatyang berbentuk lingkaran, luasnya (L) dapat dihitung dengan mengukur diameter (D)kawat kemudian memasukkannya ke dalam formula : L = D2.

Permasalahannya terletak pada asumsi kita yang menganggap bentuk penampangitu sebagai lingkaran sempurna (ideal), padahal kenyataannya tentu tidak demikian karenabentuk geometri sempurna tidak pernah ada. Asumsi tetap dapat diterapkan asalkandiameter kawat diukur secara berulang-ulang pada arah diametral yang berbeda. Rata-ratanya nanti kita pakai sebagai pendekatan terbaik diameter yang dapat digunakandalam formula luasan lingkaran diatas.

Jadi dinamika suatu besaran yang akan diukur menghendaki pengukuran yangberulang-ulang, agar nilai yang diharapkan sekaligus dengan galat ukurnya dapat didekatisemaksimal mungkin. Perhitungan rata-rata yang disinggung di atas dan juga nantiperhitungan galat ukurnya memerlukan suatu metoda untuk menghitungnya. Untuk tujuanperhitungan semacam ini perangkat metodanya sudah tersedia yaitu metoda statistika,sehingga galat yang timbul dari dinamika besaran disebut juga galat statistik.Perhitungan nilai rata-rata dari data pengukuran amat jelas, yaitu :

x xi l

N

i= =

( / )1 (1)

Penjumlahan dilakukan dari data pertama (i = 1) sampai data terakhir (i = N), dengan Nadalah cacah seluruh data. Untuk selanjutnya tanda sumasi menunjukkan penjumlahandengan i = 1 sampai dengan N.

Berbeda dengan perhitungan nilai rata-rata, perhitungan galat rambang suatupengukuran ternyata tidak sederhana. Pertama, kita harus tahu dulu watak besaran yangdiukur. Kemudian kita asumsikan tidak ada lagi galat sistematis, artinya semua galatsistematis diasumsikan sudah terkoreksi. Asumsi ini tentu saja tidak selalu benar, tetapidengan metoda ujian statistik nantinya asumsi ini dapat kita uji kebenarannya.

Kristal no.7/Oktober/1992 5

Ada dua jenis besaran yang perhitungan ralat rambangnya berbeda perlakuanstatistiknya. Kesamaan hanya terletak pada watak dinamikanya yang bersifat acak. keduajenis itu adalah :

a. besaran yang diukur dengan pencacahanContoh : deteksi radioaktivitas dilakukan dengan cara mencacah peluruhan yang

terjadi, misalnya dengan pencacah Geiger-Muller. Contoh lain adalah pencacahan cacahmolekul gas, cacah bintang dalam galaksi, dan lain-lain.Galat rambang yang timbul dari proses pencacahan ini kebolehjadiannya mengikuti

distribusi Poisson, sehingga galat ukurnya adalah : dan hasil ukurnya menjadi :

. adalah rata-rata pencacahan dalam beberapa selang waktu.

b. besaran yang diukur nilainyaSemua besaran yang tidak diukur melalui pencacahan termasuk golongan ini. Galat

rambang yang timbul dari pengukurannya memiliki kebolehjadian yang mengikuti distribusiGauss (normal). Jadi nilai terbaik pengukuran adalah rata-rata semua data yang diambil x,sedangkan galat ukur nilai terbaiknya adalah :

sx

N Nxi=

(

( )

)2

1

Dari persamaan (2) ini tampak bahwa semakin banyak data pengukuran berartisemakin kecil galatnya. Tetapi ini tidak berarti kita dapat menghilangkannya sama sekali.Kadang-kadang pengukuran suatu besaran hanya dilakukan sekali saja, hal ini disebabkanantara lain oleh terbatasnya resolusi alat ukurnya. Contohnya adalah pengukuran panjangseutas kawat logam, pengukuran dengan menggunakan mistar biasa menghambateksperimen mengetahui batas potongan pada ujung kawat ini secara mikroskopik tentutidak rata, tetapi mistar biasa tidak dapat melihatnya. Akibatnya, pengulanganpengukurannya akan sia-sia saja, sehingga pengukuran cukup dilakukan sekali. Tentu sajagalat ukurnya tidak dapat dihitung dari persamaan (2), galat ukurnya diasumsikandidominasi oleh galat sistematis, misalnya untuk mistar biasa dapat diambil 0,5 mm, yaituseparo satuan terkecilnya.

Khusus untuk pengukuran dengan perhitungan, galat yang timbul erupakanperpaduan dari galat-galat ukur besaran-besaran lain yang dipakai untuk menghitungnya.Contoh : pengukuran keliling dan luas sebuah meja berbentuk empat persegi panjangdilakukan dengan mengukur panjang dan lebar meja lebih dulu, misalnya :

( )p sp dan ( )l slGalat sp dan sl akan berperanan dalam menentukan galat yang dimiliki keliling meja atau

luas meja. Proses galat ukur mempengaruhi galat hitung disebut perambatan galat.Sekarang akan dihitung berapa hasil hitung untuk keliling dan luas meja itu.

Keliling meja mewakili operasi penjumlahan dua besaran, sedangkan luas meja mewakilioperasi perkalian dua besaran.Keliling meja : K = 2 (p l s sp+ +) ( )2 1

Kristal no.7/Oktober/1992 6

= ssehingga s p s ls = +2( )

Tampak bahwa operasi penjumlahan akan menyebabkan galat semua sukupenjumlahannya saling bergabung membentuk...

Recommended

View more >