PERAN MEDIA RELATIONS MENGATASI KRISIS LEDAKAN WorkingPaper001.pdf · juga dijadikan sebagai bahan…

  • Published on
    03-Mar-2019

  • View
    212

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

PERAN MEDIA RELATIONS MENGATASI KRISIS LEDAKAN TABUNG GAS 3 KG LPG

PADA PT.PERTAMINA (PERSERO)

Panji Adityo Nugroho Universitas Bina Nusantara, Jakarta, 021-6333537, panjiadityon@hotmail.com

Muhammad Adi Pribadi, S.E., M.Comm., MIB

ABSTRAK

Tujuan penelitian untuk mengetahui upaya dan kendala apa saja yang dialami Media Relations dalam menangani krisis yang menimpa Pertamina. Metodologi penelitian dilakukan menggunakan metodologi kualitatif. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam, data sekunder berupa dokumen-dokumen diperoleh dari PT.Pertamina (Persero). Analisis menggunakan metode reduksi data, penyajian data, dan interpretasi data. Hasil yang dicapai bahwa penyebab krisis disebabkan oleh kombinasi dari kondisi rumah pengguna yang sempit dan tidak aman, faktor kesalahan manusia, kesalahan alat, dan kurangnya pemahaman masyarakat menggunakan gas LPG 3 kg. Dalam menangani krisis, media relations melakukan penanganan secara above the line dan below the line.Contact Center Pertamina berperan sebagai pendukung penting bagi media relations. Disimpulkan, walaupun upaya media relations dalam menangani krisis sudah maksimal, namun tidak banyak masyarakat mengetahui upaya-upaya penanganan yang dilakukan oleh media relations. Contact center sebagai peran pendukung justru lebih berperan dalam memberikan informasi dan menyelesaikan krisis dibandingkan media relations.(PAN). Kata kunci : media relations, reputasi, ledakan gas LPG 3kg, kualitatif, contact center.

Objectives of the research is to to determine the effort and constraint experienced by Media Relations when handling crisis that befell Pertamina. The study was conducted using qualitative methodology. Primary data obtained through interviews, and secondary data in the form of documents obtained from PT.Pertamina (Persero). Analysis is done using the method of data reduction, data presentation, and data interpretation. The achieved result is that the cause of the crisis caused by a combination of the cramped and unsafe home conditions, human error, equipment error, and lack of public understanding of the use of LPG 3 kg. In dealing with the crisis, media relations handling it with above the line and below the line strategy. Pertamina Contact Center act as an important support for media relations. Conclusions, despite the media relations efforts in addressing the crisis, not many people know the efforts undertaken by media relations. Contact center as a supporting role was more instrumental in providing information and help in resolving the crisis than media relations.(PAN).

Keywords : media relations, reputation, 3 kg LPG gas explosion, qualitative , contact center.

PENDAHULUAN

Saat ini, siapa yang tidak menggunakan LPG untuk memasak ? Di Indonesia, masyarakat sudah berbodong-bondong berpindah ke LPG, dimana sebelumnya masih banyak masyarakat menggunakan minyak tanah. Perpindahan ini dikarenakan adanya program konversi minyak tanah ke LPG yang dicanangkan oleh pemerintah pada tahun 2007. Namun pada awalnya program konversi ini tidak berjalan semulus yang diharapkan pemerintah.Masih banyak saja hal yang menghambat. Salah satunya adalah faktor masyarakat yang sudah terlalu lama menggunakan minyak tanah.Untuk menjelaskannya, kita perlu melihat kondisi Indonesia di masa lalu. Achmad Faisal, mantan Direktur Pemasaran dan Niaga PT.Pertamina (Persero), dalam buku Selamat Tinggal Minyak Tanah, Selamat datang LPG menjelaskan bahwa sejak dahulu masyarakat Indonesia hampir seluruhnya menggunakan kayu bakar untuk memasak. Terutama mereka yang tinggal di pedesaan dan sebagian di perkotaan. Kemudian, pemerintah pada tahun 60-an mulai memperkenalkan minyak tanah pada masyarakat. Ini merupakan akibat dari over supply dari kilang-kilang minyak milik Pertamina. Pada awalnya mereka menolak memakai minyak tanah (mitan) karena telah terbiasa menggunakan kayu bakar. Bahkan di Jakarta hingga tahun 70-an masih banyak ditemukan rumah-rumah tangga yang memakai kayu bakar untuk masak sehari-hari. Mitan kurang diminati. Hal ini membuaat Pertamina pun memaksa para agen mitan untuk menjual ekstra keras pada masyarakat, agar bisa menghabiskan jatah mitan yang mereka terima. Bila tidak, kuota mitan para agen tersebut akan dipotong untuk bulan yang akan datang. Lama kelamaan, masyarakat menyadari penggunaan mitan lebih praktis daripada kayu bakar. Maka dimulailah era penggunaan mitan di Indonesia. Di kota besar dan kecil hingga perkampungan. Seiring dengan makin banyaknya kilang BBM, produksi mitan pun menjadi semakin banyak. Minyak tanah tidak lagi men-jadi sesuatu yang asing bagi rakyat Indonesia. Minyak tanah dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga seperti memasak dan penerangan atau sebagai bahan bakar utama industri kecil dan nelayan. Minyak tanah juga dijadikan sebagai bahan baku pabrik obat pem-basmi nyamuk, campuran cat, dan dipakai sebagai bahan pembersih di bengkel-bengkel dan industri karena sifatnya yang mampu menghilangkan lemak.Ini berbeda dengan tren di luar negeri. Minyak tanah bukanlah kebutuhan bahan bakar pokok rumah tangga karena ia hanya digunakan untuk menggerakkan mesin pemanas di musim dingin. Melimpahnya ketersediaan minyak tanah di Indonesia pada masa lalu serta kebutuhan masyarakat akan bahan bakar murah yang mendesak, menjadikan pemerintah saat itu mau tidak mau memilih memasarkan produk sampingan kilang itu secara massal. Ini dianggap cara termudah memenuhi kebutuhan masyarakat, sekaligus jadi solusi termurah menyalurkan minyak tanah. Namun di saat bersamaan mengubah pola pikir masyarakat pengguna minyak tanah yang sudah akut tidaklah mudah.LPG masih dianggap bahan bakar mahal karena ia diposisikan sebagai bahan bakar kalangan menengah atas. Selain itu komponen seperti kompor gas dan tabung ukuran 12 kg misalnya, masih dianggap merepotkan dan tidak ekonomis. Masalah lainnya faktor 'ketakutan' terhadap penggunaan gas yang menghantui masyarakat awam yang jumlahnya tidaklah sedikit. Padahal dengan pertimbangan keamanan, Pertamina memasarkan LPG dengan memberikan pembau dari senyawa sulfur. Tujuannya, agar keberadaan atau kebocoran LPG gampang dideteksi. Faktor-faktor itulah yang menjadikan konsumsi LPG di Indonesia rendah. Sebagai contoh, di tahun 2004 penggunaan LPG tak lebih dari 0,5 % dari jumlah penduduk. Itu sama artinya hanya 1,1 juta ton per tahun saja.Angka ini berbanding jauh dengan 3 juta ton produksi LPG yang ada di Indonesia, yang berarti masih tersisa 1,9 juta ton LPG yang belum termanfaatkan. Kemudian beralih kembali ke tahun 2007, dengan dukungan Wakil Presiden Jusuf Kalla, pemerintah bekerjasama dengan Pertamina membuat program konversi minyak tanah ke LPG, yang dimulai di pulau Jawa dan Bali, dan akan dilanjutkan ke Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Alasan menggunakan jenis tabung 3 kg pun merujuk kepada konsumsi minyak tanah masyarakat, dimana masyarakat biasanya membeli minyak tanah sebanyak 5 liter.Bila diubah menjadi perbandingan angka, maka 1 liter mitan setara dengan 0,57 kg gas LPG. Bila dihitung dengan cermat, ini berarti 5 liter mitan setara dengan 3 kg LPG. Proses program konversi ini sendiri sampai dengan akhir Desember 2012 akumulasi distribusi paket perdana telah mencapai 53,9 juta paket dan telah melebihi dari rencana awal sebesar 52,9 juta paket (jumlah rencana sesuai dengan hasilrapat dengan Wakil Presiden RI tanggal 3 Nopember 2009). Dengan cakupan wilayah 316 kabupaten/kota di 23 propinsi di Indonesia.

Namun program konversi ini tidak berjalan semulus sesuai harapan pemerintah dan Pertamina.Hal ini dikarenakan maraknya kasuk meledaknya gas-gas LPG 3 kg di Indonesia pada kisaran tahun 2008 sampai tahun 2011, dimana pada tahun 2008 terjadi 60 kasus, kemudian turun menjadi 52 kasus pada 2009. Tapi kemudian jumlahnya meningkat tajam hingga pertengahan 2010, mencapai 245 kasus. Kasus-kasus ledakan gas ini sangat menggegerkan masyarakat, hingga membuat reputasi Pertamina menjadi sangat menurun. Dari data yang ada, didapatkan hasil bahwa kasus ledakan tersebut banyak terjadi karena faktor human error. Akibat kasus tersebut, Pertamina bahkan sampai dituduh menjual bom kepada masyarakat. Dampaknya, Pertamina mengalami krisis yang berat di dalam perusahaan. Menurut Fearn-Banks dalam Wigley dan Zhang (2011:2), krisis adalah situasi atau kejadian besar dengan dampak negatif yang secara potensial memengaruhi sebuah organisasi atau industri, termasuk publiknya, produknya, jasanya atau nama baik. Krisis menyela transaksi bisnis yang normal dan kadang-kadang dapat mengancam keberadaan organisasi Sebagai perusahaan yang sudah berdiri selama 55 tahun, tentunya sangat penting bagi PT.Pertamina (Persero) untuk membangun dan menjaga reputasinya kepada semua kalangan yang terkait, baik kepada kalangan internal perusahaan, maupun kepada kalangan eksternal.Dalam mengatasi krisis, hal ini bisa dilakukan oleh Media Relation melalui manajemen reputasi yang baik. Berkat manajemen reputasi yang dilakukan oleh Media Relations Pertamina, jumlah kasus yang terjadi merosot tajam hanya menjadi 15 kasus yang terjadi sepanjang tahun 2011.Hal ini sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai melalui kegiatan Media Relations menurut Iriantara (2011 :90-91), Meningkatkan kesadaran, misalnya kesadaran merek (brand-awareness) pada publik, mengubah sikap, misalnya mengubah sikap dari anti menjadi netral dan dari netral menjadi mendukung terhadap tindakan yang dilakukan organisasi, dan mendorong tindakan, misalnya mendorong untuk mendukung kebijakan proses produksi yang ramah lingkungan yang dilakukan organisasi Dari latar belakang tersebut, penulis memutuskan akan meneliti bagaimana peran Media Relations dalam mengatasi krisis ledakan tabung gas.Rumusan masalahnya adalah sebagai berikut: Upaya apa yang diambil oleh Media Relations dalam mengatasi krisis yang disebabkan oleh kasus ledakan LPG 3 kg yang terjadi di masyarakat ? Kendala apa yang dihadapi Media Relations dalam mengatasi krisis yang disebabkan oleh kasus ledakan LPG 3 kg yang terjadi di masyarakat ? Tujuan penelitian ini adalah untuk untuk mengetahui dan memahami peran Media Relations dalam mengatasi krisis yang disebabkan oleh kasus ledakan LPG 3 kg yang terjadi di masyarakat dan u ntuk mengetahui kendala apa saja yang dialami Media Relations dalam mengatasi krisis yang disebabkan oleh kasus ledakan LPG 3 kg yang terjadi di masyarakat.

METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif. Kirk dan Miller dalam Hikmat (2011:38) menyebutkan, pendekatan kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahannya. Moleong dalam Hikmat (2011:37) berpendapat metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan berperilaku yang dapat diamati. Metode Kualitatif dipergunakan dengan beberapa pertimbangan.Pertama, menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan ganda..Kedua, metode ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dengan responden. Ketiga, metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama dan terhadap pola-pola nilai yang dihadapi. Moleong juga menambahkan bahwa penelitian kualitatif menyusun desain yang secara terus menerus disesuaikan dengan kenyataan di lapangan.Dengan kata lain tidak harus menggunakan desain yang telah disusun secara ketat atau kaku, sehingga tidak dapat diubah lagi. Hal itu karena beberapa hal.Pertam, tidak dapat dibayangkan sebelumnya tentang kenyataan-kenyataan ganda di lapangan. Kedua, tidak dapat diramalkan sebelumnya apa yang akan berubah karena hal itu akan terjadi dalam interaksi antara peneliti dengan kenyataan. Bermacam sistem nilai yang terkait berhubungan dengan cara yang tidak dapat diramalkan. Penelitian kualitatif lebih menghendaki agar pengertian dan hasil interpretasi yang diperoleh dirundingkan dan disepakati oleh manusia yang dijadikan sebagai sumber data

Data primer di penelitian ini yang didapat oleh penulis dengan memperoleh data-data yang dikumpulkan secara langsung dari lapangan melalui wawancara kepada Manager Fungsi Media PT.Pertamina (Persero) maupun kepada masyarakat pengguna LPG 3 kg dan juga pengguna LPG 3 kg yang memiliki masalah kebocoran gas dan menghubungi Pertamina. Data sekunder yang diperoleh oleh penulis merupakan data berupa dokumen-dokumen yang didapat dari PT.Pertamina (Persero) yang dapat menunjang isi dan hasil penelitian. Menurut Kuncoro (2009 : 148), data sekunder adalah data yang telah dikumpulkan oleh pihak lain. Data sekunder yang diperoleh oleh penulis merupakan data berupa dokumen-dokumen yang didapat dari PT.Pertamina (Persero) yang dapat menunjang isi dan hasil penelitian. Sumber data didapat dari wawancara yang mendalam dengan narasumber dari pihak internal perusahaan dalam mengetahui peran Media Relation PT Pertamina (Persero), yaitu Manager Fungsi Media, Ibu Wianda Pusponegoro.Wawancara juga dilakukan dengan masyarakat yang menjadi target konversi gas LPG dan juga pengguna LPG 3 kg yang memiliki masalah kebocoran gas dan menghubungi Pertamina. Teknik wawancara menurut Hikmat (2011:79-80) merupakan teknik pencarian data/ informasi mendalam yang diajukan kepada responden/informan dalam bentuk pertanyaan susulan setelah teknik angket dalam bentuk pertanyaan lisan. Teknik ini sangat diperlukan untuk mengungkap bagian terdalam (tersembunyi) yang tidak dapat terungkap lewat angket. Alat yang digunakan dalam teknik ini recorder, panduan wawancara, dan catatan penelitian Untuk mendukung penelitian, studi dokumentasi digunakan untuk pengumpulan data Menurut Meleong seperti yang dijelaskan Hikmat (2011:83), dalam banyak hal dokumen sebagai sumber data dapat dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan, bahkan untuk meramalkan.Studi dokumentasi dalam hal ini data statistic dan data- data resmi lainnya yang dapat menunjang isi penelitian ini.

Dalam melakukan observasi, penulis melakukan observasi secara non partisipan karena penulis tidak terlibat secara langsung dan mengikuti kegiatan Media Relations PT. Pertamina (Persero). Nasution dalam Hikmat (2011:73 ) menjelaskan teknik observasi ilmiah adalah kegiatan mengamati dan mencermati serta melakukan pencatatan data atau informasi yang sesuai dengan konteks penelitian. Teknik observasi diharapkan dapat menjelaskan atau menggambarkan secara las dan rinci tentang masalah yang dihadapi. Teknik observasi dapat menjelaskan secara luas dan rinci tentang masalah-masalah yang dihadapi ka...