Perda_8_2008 (Lampiran Bab II)

  • View
    8

  • Download
    3

Embed Size (px)

DESCRIPTION

gugj

Transcript

  • Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2008-2013

    5

    BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI WILAYAH

    A. KONDISI GEOGRAFIS

    1. Letak dan Luas Wilayah

    Kalimantan Barat terletak di posisi antara 20 08 Lintang Utara 30 05 Lintang Selatan dan 10 30 1140 10 Bujur Timur, dengan demikian garis khatulistiwa (garis lintang 00) melintasi provinsi ini dan menjadikan Kota Pontianak sebagai satu-satunya kota di Indonesia yang di atasnya tepat dilalui oleh garis tersebut.

    Provinsi Kalimantan Barat memiliki luas wilayah 146.807,00 km2 (14,68 juta Ha), membentang dari utara ke selatan sepanjang 600 km dan dari timur ke barat sepanjang 850 km, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:

    Sebelah utara berbatasan dengan Sarawak (Malaysia Timur). Sebelah selatan berbatasan dengan Kalimantan Tengah dan Laut Jawa. Sebelah timur berbatasan dengan Sarawak dan Kalimantan Timur. Sebelah barat berbatasan dengan Laut Natuna dan Selat Karimata.

    Sejak 7 Januari 1953, melalui Undang-undang Darurat No. 2 Tahun 1953, Kalimantan Barat dinyatakan sebagai Daerah Otonom Tingkat Provinsi. Meskipun waktu itu kedudukan wilayah Kalimantan Barat masih tetap berstatus sebagai wilayah administrative Keresidenan. Melalui Undang-undang No. 25 Tahun 1956 (Lembar Negara No. 65) Pemerintah Indonesia membentuk daerah-daerah otonom tingkat provinsi, yaitu: Provinsi Kalimantan Barat, Provinsi Kalimantan Selatan, dan Provinsi Kalimantan Timur, sekaligus mencabut berlakunya Undang-undang Darurat No. 2 Tahun 1953. Selanjutnya melalui Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No. DES.52/10/50 tanggal 12 Desember 1956 ditetapkan bahwa Undang-undang No. 25 tersebut mulai berlaku 1 Januari 1957. Dengan demikian sejak awal tahun 1957 Kalimantan Barat sepenuhnya menjadi satu Provinsi yang dikepalai oleh seorang Gubernur dengan Ibukota berkedudukan di Pontianak alias Kota Khatulistiwa.

    Provinsi Kalimantan Barat yang luas wilayahnya kurang lebih 1,13 kali luas pulau Jawa ini sekarang terbagi kepada 14 Pemerintahan Kabupaten/Kota, yaitu: Kabupaten Sambas luas 6.394,70 km2 (4,36%), Kabupaten Bengkayang luas 5.397,30 km2 (3,68%), Kabupaten Landak luas 9.909,10 km2 (6,75%), Kabupaten Pontianak dan Kubu Raya luas 8.262,10 km2 (5,63%), Kabupaten Sanggau luas 12.857,70 km2 (8,76%), Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara luas 35.809,00 km2 (24,39%), Kabupaten Sintang luas 21.635,00 km2 (14,74%), Kabupaten Kapuas Hulu luas 29.842,00 km2 (20,33%), Kabupaten Sekadau luas 5.444,30 km2 (3,71%), Kabupaten Melawi luas 10.644,00 km2 (7,25%), Kota Pontianak luas 107,80 km2 (0,07%), dan Kota Singkawang luas 504,00 km2 (0,34%).

    Provinsi Kalimantan Barat masih relatif terisolir terhadap provinsi lainnya yang ada di Kalimantan (Kalteng, Kaltim, dan Kalsel) baik ditinjau dari aspek transportasi, ekonomi, dan komunikasi, bahkan dalam hal pembagian waktu. Namun memperhatikan letak batas-batas tersebut di atas terlihat bahwa wilayah Kalimantan Barat mempunyai karakteristik geografis yang relatif terbuka dan memiliki akses yang lebih luas terhadap wilayah-wilayah potensial selain tiga provinsi lainnya di Kalimantan, yaitu ke wilayah Jawa dan Sumatera, wilayah kepulauan lainnya di Laut Natuna, dan ke luar negeri yaitu Serawak. Bahkan sebagai salah satu wilayah Indonesia yang berbatasan langsung dengan Negara asing, Kalimantan Barat merupakan satu-satunya provinsi yang secara resmi memiliki akses jalan darat untuk masuk dan keluar ke/dari negara asing tersebut.

    Melihat posisi yang strategis wilayah ini tentu memberikan peluang untuk meningkatkan pembangunan dan aksesibilitas sosial budaya serta ekonomi yang lebih luas baik dalam skala lokal/internal dan nasional, yaitu terhadap daerah-daerah di dalam negeri, maupun dalam skala regional/internasional yaitu dengan negara-negara tetangga di kawasan ASEAN. Secara umum sebagian besar lahan di Kalimantan Barat adalah hutan yang menutupi areal seluas 6.212.696 Ha (42,32%) serta padang/semak/belukar/alang-alang seluas 4.898.393 Ha (34,11%). Selain itu juga terdapat tanah kering seluas 527.944 Ha, dan tanah tandus (open ground) seluas 29.446.

  • Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2008-2013

    6

    Adapun lahan yang telah digunakan (land utilization) mencakup: perkebunan seluas 1.574.855 Ha, ladang (sawah non irigasi) seluas 368.650 Ha, perairan darat (land fishery) 335.124 Ha, kebun campuran (cultuvate) seluas 238.701 Ha, peruntukan tempat tinggal atau pemukiman seluas 122.350 Ha (0,83%), sawah dengan sistem irigasi 63.872 Ha, pertambangan 4.840 Ha, industri seluas 2.030 Ha, dan lain-lain 296.640 Ha.

    2. Topografi dan Iklim

    Secara umum Kalimantan Barat merupakan dataran rendah dengan sedikit berbukit, diapit oleh dua jajaran gunung yaitu: pegunungan Kalingkang di Kapuas Hulu bagian utara dan pegunungan Schwener di selatan sepanjang perbatasan dengan Provinsi Kalimantan Tengah, serta dialiri oleh ratusan sungai yang aman untuk dilayari. Sebagian besar daerah daratannya berawa-rawa bercampur gambut dan hutan mangrove. Sekian banyak danau yang ada, dua terpenting di antaranya yaitu danau Sentarum (luas 117,500 Ha) yang nyaris kering di musim kemarau, dan danau Luar (luas 5,400 ha).

    Provinsi yang total luasnya 14.680.700 Ha ini sebagian besar wilayahnya (sekitar 36%) merupakan areal datar dengan kemiringan rendah < 2 persen mencakup wilayah seluas 5.273.053 Ha (wilayah terluas berada di Kabupaten Ketapang, 1.866.993 Ha / 35%). Sisanya adalah dataran dengan kemiringan masing-masing 2 15 persen seluas 3.569.149 Ha / 24% dari total wilayah Kalbar (yang terluas berada di Kabupaten Ketapang, 907.304 Ha / 25%), kemiringan 15 40 persen seluas 2.976.974 Ha / 20% dari total wilayah Kalbar (yang terluas berada di Kabupaten Sintang, 581.929 Ha / 16%), dan dengan kemiringan tinggi > 40 persen seluas 2.861.524 Ha / 20% dari wilayah Kalbar (yang terluas terdapat di Kabupaten Kapuas Hulu, 1.166.570 Ha / 41%).

    Sekitar 2.855.600 Ha (19,5%) dari seluruh wilayah Kalimantan Barat merupakan daerah tergenang (flooding area), yang paling luas di antaranya terdapat di Kabupaten Ketapang 1.005.000 Ha (35,2%), sedangkan sebagian besar sisanya (sekitar 80,5% dari total wilayah Kalbar) merupakan daerah tidak tergenang, yaitu seluas 11.825.100 Ha (paling luas berada di Kabupaten Kapuas Hulu yaitu 2.594.200 Ha / 22%).

    Dilihat dari jenis tanah permukaan (the type of soil surface), sebagian besar daratan Kalimantan Barat (sekitar 57%) berjenis tanah PMK (Podsolet Merah Kuning, termasuk kompleks PMK) mencakup seluas 8.367.807 Ha (terluas di Kabupaten Ketapang, seluas 2.266.975 Ha / 27%). Kemudian Aluvial seluas 1.459.033 Ha (terluas di Kabupaten Pontianak, 514.368 Ha), OGH seluas 1.418.711 Ha (terluas di Kabupaten Ketapang, 669.125 Ha), Podsol seluas 454.400 Ha (terluas di Kabupaten Ketapang, 171.200 Ha), Latosol seluas 212.800 Ha, (terluas di Kabupaten Bengkayang, 140.000 Ha), dan Regosol seluas 44.800 Ha yang hanya terdapat di Kabupaten Ketapang 40.000 Ha dan Kota Singkawang seluas 4.800 Ha.

    Ditinjau dari jenis tekstur tanah (the type of soil texture), sebagian besar daratan Kalimantan Barat (59,2%) adalah bertekstur tanah sedang (moderate) yaitu seluas 8.697.831 Ha (terluas di Kabupaten Ketapang, 1.987.700 Ha). Kemudian halus (smooth) seluas 3.327.677 ha (terluas di Kapuas Hulu, 1.453.400 Ha), kasar (hard) seluas 2.655.192 Ha (terluas di Kabupaten Sintang, 1.120.450 Ha), gambut (turf) seluas 1.729.653 ha (terluas di Kabupaten Ketapang, 627.500 Ha), dan rawa (swamp) seluas 18.750 Ha masing-masing di Kabupaten Kapuas Hulu seluas 18.000 Ha dan di Kabupaten Ketapang seluas 750 Ha.

    Kalimantan Barat memiliki 19 macam kandungan tanah (the soil bearing), yang terbanyak adalah kwarter (Quartenary) sekitar 4.491.431 Ha (terbanyak di Kabupaten Ketapang, 1.886.017 Ha), kemudian Plistosen-Pliosen (Plistocene-Pliocene) sebanyak 3.667.686 Ha (terluas di Kabupaten Sintang, 1.705.379 Ha), Intrusif dan Plasonik Asam (Acid Intrusive and Plutonic) sebanyak 1.294.093 Ha (terluas di Kabupaten Ketapang, 564.139 Ha), Intrusif dan Plutonik Basa Menengah (Intermediate Intrusive and

  • Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2008-2013

    7

    Plutonic) sebanyak 925.951 Ha (terluas di Kabupaten Sekadau, 171.430 Ha), Efusif tak Dibagi (Effusive Undivided) sebanyak 787.713 Ha (terluas di Kabupaten Ketapang, 623 956 Ha), Pra Tersier tak Dibagi (Pretertiary Undivided) sebanyak 665.833 Ha sebagian besar terletak di Kabupaten Hulu, Kapur (Cretaceous) 540.436 Ha (terluas di Kabupaten Sintang, 423.980 Ha), Trias (Triassic) sebanyak 471.865 Ha (terbanyak di Kabupaten Bengkayang, 183.579 Ha), Permokarbon Trias Atas (Permo Carboniferous-U Triassic) sebanyak 330.079 Ha (terluas di Kabupaten Kapuas Hulu, 224.759 Ha), Efusif Menengah (Intermediate Effusive) sebanyak 275.674 Ha (terluas di Kabupaten Kapuas Hulu, 181.943 Ha), Permokarbon (Permo Carboniferous) sebanyak 275.385 Ha (terluas di Kabupaten Kapuas Hulu, 109.273 Ha), Sekis Hablur (Crystalline Schist) sebanyak 112.654 Ha (terluas di Kabupaten Kapuas Hulu, 47 605 Ha), Paleozoik (Paleozoic) sebanyak 108.679 Ha (terluas di Kabupaten Sambas, 81.966 Ha), Efusif Basa (Basic Effusive) sebanyak 98.587 Ha (terluas di Kabupaten Bengkayang, 53.932 Ha), Efusif Asam (Acid Effusive Rocks) sebanyak 88.808 Ha (terluas di Kabupaten Landak, 52.301 Ha), Intrusif dan Plutonik Basa (Basic Intrusive and Plutonic) sebanyak 87.951 Ha (terluas di Kabupaten Sanggau, 27.645 Ha), Paleogen (Paleogene) sebanyak 38.150 Ha (terbanyak di Kabupaten Landak, 35.802 Ha), Jura (Jurassic) sebanyak 19.034 Ha (terluas di Kabupaten Bengkayang, 13.734 Ha), Neogen (Neogene) sebanyak 12.861 Ha (terluas di Kabupaten Kapuas Hulu 11.673 Ha).

    Kalimantan Barat termasuk daerah penghujan yang cukup tinggi intensitasnya. Tahun 2006 jumla