Perjudian Jokowi? - pensiun, Jendral Moeldoko membagi-bagikan 55 ribu buah arloji kepada prajurit TNI.…

  • Published on
    30-Mar-2019

  • View
    212

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

1

Perjudian Jokowi? 15 June 2015

Made Supriatma

Harian Indoprogress http://indoprogress.com/2015/06/perjudian-jokowi/?ref=yfp

SELAMA SEMINGGU lalu kantor kepresidenan pindah ke Solo. Kita semua tahu, sang

presiden punya hajatan. Dia mengawinkan anaknya. Tidak istimewa, bukan? Sama sekali

tidak.

Kecuali bahwa presiden kita itu ternyata sangat sederhana pribadinya. Dia mengambil

mantu dari keluarga sederhana. Saksi nikahnya pun kabarnya hanya ketua RT setempat.

Bayangkan. Orang nomor satu di Indonesia itu tidak mengundang sesama kepala negara ke

pernikahan anaknya.

Coba tengok negeri jiran. Dua bulan lalu PM Najib Razak mengawinkan putrinya, Nooryana

Najwa Najib, dengan pemuda Kazakhstan yang namanya sulit dilafalkan lidah Melayu,

Daniyar Kessikbayev. Kabarnya, perkawinan itu demikian mewahnya. Untuk bunga saja,

mereka menghabiskan RM 3 juta (atau kira-kira Rp 10.7 milyar!). Perkawinan ini dengan

segera mengundang sensasi di internet.

Syukurlah, presiden kita sederhana. Walaupun undangan yang datang lebih dari 4 ribu

orang! Seorang kawan memajang foto-foto perkawinan di Facebook. Dia bilang, dia sudah

2 jam lebih antre, namun belum juga bisa salaman dengan pengantin dan keluarganya yang

ada di panggung.

http://indoprogress.com/penulis/made-supriatma/http://indoprogress.com/kanalhttp://indoprogress.com/2015/06/perjudian-jokowi/?ref=yfp

2

Akan tetapi, saya sungguh-sungguh menganjurkan supaya Anda tidak menirunya. Cobalah

Anda undang tukang becak, pedagang angkringan, tukang asongan, dan sebagainya itu ke

perkawinan Anda, pasti Anda akan dicap kere!

Sederhana itu hanya milik orang-orang besar. Kalau Anda sudah cukup sederhana (baca:

kere) untuk apa lagi hidup sederhana?

***

Kita kembali ke kantor kepresidenan. Sebelum mudik ke Solo, presiden Jokowi rupanya

sudah mengambil keputusan penting dalam soal urusan Hankam. Yang pertama, dia

mengusulkan Jendral TNI Gatot Nurmantyo yang sekarang menjabat Kepala Staf

Angkatan Darat (Kasad) menjadi panglima TNI. Dan yang kedua, dia akan mengangkat

Letjen TNI (Purn.) Dr. (H.C.) H. Sutiyoso menjadi Kepala Badan Intelijen Nasional.

Kedua orang yang akan memegang posisi penting ini adalah orang pesisir pantai utara

(pantura). Jawa. Gatot Nurmantyo adalah orang Tegal, sedangkan Sutiyoso orang

Semarang. Sekalipun demikin, sulit menarik hubungan antara ketiban jabatan dengan

tempat asal kelahiran.

***

Sekalipun hampir setahun menjadi Kasad, kita tidak banyak tahu tentang Gatot

Nurmantyo. Memang karir militernya dipampang untuk publik. Tapi kita tidak tahu,

misalnya, arloji apakah yang dia pakai.

Anda tahu, sejak Jenderal Moeldoko menjadi Panglima TNI, soal arloji ini jadi penting.

Moeldoko pernah dituduh media Singapura mengenakan arloji Richard Mille RM 011

Felipe Massa Flyback Black Kite edisi terbatas (hanya ada 30 biji di dunia), yang

harganya $100,000.00 atau Rp 1.3 milyar per biji. Reaksi Jenderal Moeldoko pun sangat

mengesankan. Dia mengadakan konferensi pers dan di sana dia membanting jam tangan

itu di depan para wartawan. Dia bilang, semua arloji mewah yang dia miliki adalah arloji

KW alias palsu.

Tapi toh Jenderal Moeldoko tidak bisa lepas dari arloji. Menjelang pensiun, Jendral

Moeldoko membagi-bagikan 55 ribu buah arloji kepada prajurit TNI. Lima puluh lima ribu!

Pernah lihat arloji sebanyak itu?

Tapi sekali lagi, tidak ada hubungan antara arloji dengan ketepatan waktu. Jadi kalau

Anda ada acara dengan Jenderal Moeldoko dan beliau terlambat, itu bukan salah

3

arlojinya. Itu karena Jenderal Moeldoko, sama seperti kita, orang Indonesia yang

memang selalu kena masalah lalu-lintas dan akhirnya terlambat.

Nah, ada sedikit yang kita ketahui dari Jenderal Nurmantyo: dia mendalami proxy war.

Pernah dengar perang seperti ini? Idenya sederhan: Ini perang antara dua pihak yang

tidak saling berhadap-hadapan namun menggunakan pihak ketiga untuk mengalahkan

musuh. Kasarnya, seperti Anda naksir cewek tapi tidak berani omong langsung, terus

minta adik Anda yang masih SD untuk kirim salam. Romantis bukan? Iya. Persoalannya

adalah proxy war adalah perang dan bukan roman!

Dalam perang macam ini tidak kelihatan siapa kawan dan siapa lawan. Musuh menggunakan

non-state actors untuk menyerang. Dalam satu ceramahnya, Gatot Nurmantyo

menjelaskan bahwa proxy war ini bisa dikenali dengan adanya gerakan separatis,

demonstrasi massa (termasuk mahasiswa dan buruh), dan bentrok antar-kelompok. [1]

Kalau Anda melihat grafik makalah Jendral Gatot dalam presentasinya tentang Peran

Pemuda Dalam Menghadapi Proxy War, niscaya Anda akan yakin betapa seriusnya musuh

yang melakukan proxy war ini. Model analisis ini bisa diterapkan dimana saja, kapan saja,

dan kepada siapa saja.

Bulan April kemarin, Jenderal Gatot berdialog (ceramah, tepatnya) dengan aparat

pemerintah daerah, DPRD, tokoh agama dan tokoh pemuda di Yogyakarta. Dalam ceramah

itu, dia menyampaikan fakta yang mengejutkan. Dalam tiga tahun terakhir ini, katanya,

ada 21 kasus dimana mahasiswa membakar fasilitas kampusnya. Ini tidak main-main.

Menariknya, Jenderal ini membikin perbandingan dengan pasien rumah sakit jiwa. Dia

menemukan bahwa tidak ada kasus pembakaran oleh pasien RSJ terhadap rumah

sakitnya!

Pasien gila saja tidak pernah membakar rumah sakitnya sendiri. Ini mahasiswa gimana?

Tapi bukan saya sebut mahasiswa gila lho, kata Gatot.[2]

Jenderal Gatot mengatakan bahwa hal ini terjadi karena proxy war yang sudah terjadi

di Indonesia. Selain itu, karena perubahan kebudayaan hasil rekayasa negara asing.

Budaya kita sudah disusupi paham asing, ujarnya.

Saya bayangkan peserta ceramah Jendral Gatot manggut-manggut cemas karena proxy

war ini.

http://indoprogress.com/2015/06/perjudian-jokowi/?ref=yfp#_ftn1http://indoprogress.com/2015/06/perjudian-jokowi/?ref=yfp#_ftn2

4

Jenderal yang tamatan Akmil 1982 ini ternyata juga amat takut dengan komunisme. Di

sela doa bersama prajurit TNI untuk memperingati hari Kesaktian Pancasila, Selasa 30

September 2014, dia dikutip mengatakan, Ada aliran baru, yaitu Neo Komunis yang

seolah-olah mengedepankan demokrasi di kehidupan sehari-hari. Bagi Indonesia,

komunisme merupakan bahaya laten dan musuh bersama.

Dia, Gatot Nurmantyo, baru berusia lima tahun ketika peristiwa G30S yang diikuti

pembantaian atas kaum komunis itu terjadi.

Bisa dimaklumi juga kalau Jenderal Gatot ini jengkel terhadap demokrasi. Pada satu

kesempatan berceramah di depan organisasi Pemuda Pancasila (ya, PP yang baju loreng

merah-oranye di film Jagal itu!), dia mengatakan, Demokrasi kita saat ini adalah

kerakyatan yang dipimpin oleh kekuatan dengan cara voting, ujarnya. Demokrasi itu soal

menentukan pilihan. Akan tetapi, sesuatu yang benar tidak selalu disukai banyak orang.

Yang banyak belum tentu benar, katanya.

Tentu dia membayangkan seorang nabi atau bahkan Ratu Adil. Tidak terlalu sulit untuk

membayangkan jenderal ini percaya pada orang kuat. Dia lulusan Akmil 1982. Ini adalah

generasi muda yang dilatih untuk ber-dwifungsi. Karir militer tidak berhenti pada militer.

Terbuka kesempatan luas untuk menjadi apa saja: pejabat sipil, pengusaha, politisi, dan

sebagainya.

Jadi tidak perlu heran kalau Jenderal Gatot, dalam rangka ulang tahun Kostrad,

kemudian memilih untuk berziarah ke makam Soeharto.

Foto diambil dari http://idquote.info

***

http://indoprogress.com/wp-content/uploads/2015/06/gatot.jpg

5

Pagi hari 29 Mei, 2007. Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso sedang dalam kunjungan ke

Sydney, Australia Tiba-tiba kamarnya diketuk. Ada beberapa polisi negara bagian New

South Wales tiba-tiba memaksa masuk. Rupanya, dia dipaksa untuk memberikan

keterangan atas terbunuhnya wartawan di Balibo, Timor Leste, saat terjadi perang

pendudukan wilayah itu tahun 1975.

Dia pantas marah karena dia pernah belajar di the Australian Army Command and Staff

College di Melbourne dan Canberra pada tahun 1989-1990. Dia tidak diapa-apakan saat

itu. Mungkin karena saat itu Australia mendukung pendudukan Indonesia atas Timor

Leste.

Sutiyoso meniti karirnya di kesatuan elit Kopassus. Sebagai perwira muda, dia terlibat

dalam invasi Indonesia terhadap Timor Leste yang memakan korban sepertiga dari

penduduk daerah itu. Dia bertempur hampir di seluruh wilayah Indonesia. Hampir semua

pengalaman bertempurnya adalah melawan rakyat Indonesia sendiri.

Di Kopassus itulah karirnya bersinar. Di sana dia bahkan sampai ke jenjang wakil

Komandan Jenderal sebelum dipindah menjadi Komandan Korem Surya Kencana di Bogor.

Namanya semakin moncer karena dia dianggap berhasil mengamankan KTT APEC 1994.

Perjalanan karir terpenting Sutiyoso terjadi 27 Juli, 1996. Dialah yang

bertanggungjawab atas penyerbuan terhadap kantor pusat DPP PDI yang diketuai

Megawati Soekarnoputri. Dia menjalankan tugas dari Soeharto itu dengan

sebaik-baiknya dan dengan kekerasan berhasil mengenyahkan kepengurusan Megawati di

PDI (yang kemudian berubah menjadi PDIP) dan menggantinya dengan pengurus boneka

yang tunduk pada Soeharto. Hal yang lazim pada jaman itu.

Sekalipun terlibat secara langsung dalam peristiwa kekerasan terhadap pendukung PDIP,

toh itu tidak menghalangi Megawati untuk mendukung Sutiyoso dalam pemilihan gubernur

DKI tahun 2002. Itu membuktikan kehandalan Sutiyoso dalam berpolitik. Sekaligus juga

mematahkan anggapan bahwa Megawati itu pendendam.

Masa jabatannya sebagai gubernur juga meninggalkan beberapa warisan penting seperti

bus TransJakarta dan larangan merokok di tempat-tempat umum. Warisan lain adalah

Forum Betawi Rempug (FBR), yang setia bedemonstrasi mendukung putra yang bukan

Betawi ini.

***

6

Jelas, dua orang yang dipilih Jokowi ini sangat keras berbau Orba. Tidak apa-apa

sebenarnya. Siapa sih politisi, tentara, polisi atau politisi jaman Reformasi yang tidak

berbau Orba? Bahkan, tidak jarang kita lihat mereka yang beroposisi terhadap Orba

ternyata berpola pikir yang sama dengan Orba. Untuk saya, Orba itu ya penguasanya, ya

oposisinya.

Sebagai orang yang lahir dan besar sepenuhnya bersama Orde Baru, saya sangat akrab

baik dengan ide proxy war maupun dengan figur seperti Sutiyoso. Saya tidak bisa tidak

bertanya pada diri saya sendiri: apakah yang baru dari proxy war ini? Apa bedanya

dengan ucapan-ucapan pejabat-pejabat militer jaman Soeharto yang rajin sekali

mengatakan disusupi oleh kepentingan asing? Dilihat dari sisi ini, proxy war terdengar

seperti kuliah pengantar strategi pemerintahan Orba.

Pertanyaan saya berikutnya adalah mengapa Jokowi mengambil keputusan ini? Karena

minggu ini semua perhatian tumpah ke Solo, tiba-tiba saya teringat pada antropolog

James Siegel. Dia pernah membikin karya ethnografis yang diberi judul Solo in the New

Order. Sebenarnya, saya tidak mau bicara teori yang mbulet ruwet itu, tapi sedikit saja

mungkin ada gunanya.

Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang hirarkis, termasuk dalam berbahasa. Orang

Jawa berbicara dalam kromo inggil (halus, tinggi) dan ngoko (kasar, rendah). Lalu,

tingkatan bahasa yang mana yang dipakai oleh orang Jawa bila ia berbicara dengan dirinya

sendiri? Bahasa yang mana yang merupakan bahasa pertama? Ngoko, demikianlah

kesimpulan Siegel. Oleh sebab itu, setiap peralihan dari ngoko ke kromo memerlukan

penerjemahan (translation). Bahasa kromo dipakai untuk menunjukkan hormat,

ketundukan, atau pengakuan atas kekuasaan.

Nah, yang menarik adalah tidak semua hal yang ngoko bisa diterjemahkan ke dalam kromo.

Siegel mengidentifikasi beberapa hal yang menurutnya aneh. Seperti ketika harus

berhadapan dengan angka, misalnya. Dia memperhatikan kebiasaan orang Solo berjudi,

karena pada jaman studi itu dibikin undian Porkas atau SDSB masih diperbolehkan.

Banyak orang memperjualbelikan nomor-nomor baik. Bahkan setelah nomor baik didapat,

tidak ada kepastian bahwa nomor itu akan keluar dalam undian. Oleh karena itu, nomor

harus di mistik. Misalnya nomor 29 adalah 2 ditambah 9, maka akan jadi 11. Tambahkan

dan kurangkan dengan satu maka kita akan dapat angka 10 dan 12. Baliklah kedua angka

itu sehingga menjadi 01 dan 21. Dua nomor itulah yang harus dipasang.

7

Angka-angka taruhan itu tidak bisa ditundukkan sekalipun sudah dimistik dan

dibolak-balik. Dengan demikian, hampir mustahil ia bisa diterjemahkan menjadi sesuatu

yang kromo.

Barangkali, perjudian inilah yang sedang dilakukan oleh Jokowi dengan mengangkat Gatot

Nurmantyo dan Sutiyoso. Mungkin ini adalah kalkulasi politik yang matang. Dia tahu persis

resikonya.

Selama ini, Jokowi berusaha untuk berbicara memakai kromo inggil kepada kawan dan

lawan politiknya. Sampai saat ini, dia tidak atau belum menggunakan bahasa politik ngoko.

Akibatnya, dia dipukuli kiri-kanan, Namun realitas politik akan memaksanya bicara dalam

bahasa ngoko.

Bagaimana kalau Jendral Gatot Nurmantyo kemudian berubah menjadi versi Indonesia

dari Jendral Prayut Chan-o-cha?

Lalu bagaimana dengan Sutiyoso? Ah, ini yang sulit. Sudahkah Anda melihat selfie

Sutiyoso dengan artis Chika Jessica? Carilah di Google. Foto selfie itu menunjukkan

kehandalan Bang Yos dalam melakukan penggalangan.

Selain itu, mungkin dengan menjadi Kepala BIN, dia akan lebih mudah menyelinap ke

Australia untuk reunian di tempat dia dulu belajar.

***

[1] https://wiramakara.files.wordpress.com/2014/03/ringkasan-peran-pemuda-dalam-menghadapi-proxy-war-jpeg.pdf

[2] http://news.liputan6.com/read/2217252/ksad-mahasiswa-sampai-bakar-kampus-apa-ini-namanya

http://indoprogress.com/2015/06/perjudian-jokowi/?ref=yfp#_ftnref1https://wiramakara.files.wordpress.com/2014/03/ringkasan-peran-pemuda-dalam-menghadapi-proxy-war-jpeg.pdfhttp://indoprogress.com/2015/06/perjudian-jokowi/?ref=yfp#_ftnref2http://news.liputan6.com/read/2217252/ksad-mahasiswa-sampai-bakar-kampus-apa-ini-namanya