permainan psikologi

  • Published on
    02-Jul-2015

  • View
    753

  • Download
    13

Embed Size (px)

Transcript

DENGAN BERMAIN TEMPURUNG PUN INTELIGENSI DAN KREATIVITAS DAPAT DITINGKATKAN: Field Experiment pada anak-anak usia SD di desa Kayuuwi Minahasa 2006

Oleh Prof. DR. B.A.Lolowang-D, MPd. Nita Dien, SS Dra. Djajaty M. Lolowang, MKes. Bet Lagarense, MMTour

FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN (FIK) UNIVERSITAS NEGERI MANADO (UNIMA) Di TondanoTAHUN 2006

Disampaikan kepada Yth Panitia Simposium Nasional Pendidikan 2008 Jl.Jend. Sudirman Senayan, Ged.E.Lantai 19 Depdiknas Jakarta 12041

INCREASING INTELLIGENCE AND CREATIVITY THROUGH COCONUT SHELL GAME: The Field Experiment to Elementary School Students in Kayuuwi Village 2006byB.A.Lolowang-D, Nita Dien, Djajaty M Rakian-L Bet Lagarense. e-mail:ba.lolowang@gmail.com Mobile. 0431957991 HP:081-340260957 (Faculty of Sport Science, Manado State University, North Sulawesi, Indonesia )

ABSTRACT. One of the problems in the implementation of physical education & sports program in schools is the lack of sports equipment. The coconut shell game one of the traditional sports in North Sulawesi, (which also occurs in Malaysia called main gelek tempurung, Philippines kadang-kadang) can overcome this problem. However due to the fact that this game has not been played for a long period of time, it is inviting a lot of questions f.e., wether this game is acceptable in this modern time, and wether this game can increase ones intelligence and creativity? The equipment of the game is considered cheap, easily and locally available. Its rules are easily implemented by anyone in any range of ages., and can be performed either individually or in group. This game is considered educative, competitive and recreative. The research conducted with Elementary School children resulted with some promising statistics showed that intelligence and creativity can be increased by playing this game. As a potential tourist destination, North Sulawesi has an increasing number of tourists diving in Bunaken Sea Garden. The game is also considered as a traditional tourist attraction. The tourists show their enthusiastic & get involved in the game. It is recommended that in the attempt to increase a childs intelligence and creativity, the game be popularized. One of the attemps to make this a reality in the preparations being undertaken by the Minahasa Regency to include the game in the physical education curriculum in the Elementary Schools. Key words: cocoshellgame, intelligence, creativity

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Olahraga tradisional merupakan ciri suatu bangsa, dan hasil suatu peradaban. Bangsa mana yang tidak bangga pada olahraganya sendiri? Karenanya, melestarikan dan mengembangkan olahraga tradisional adalah suatu hal yang tidak dapat dihindari. Selain telah menjadi ciri suatu bangsa, olahraga tradisional adalah salah satu bagian terbesar dalam suatu kerangka yang lebih luas yaitu kebudayaan. Melestarikan olahraga tradisional, mau tidak mau, perlu melibatkan dan mengaitkannya dengan anak-anak. Generasi muda inilah yang nantinya akan merawat, mencintai dan mengembangkannya. Mengenal olahraga tradisional bermain tempurung di masa muda, akan mengantarkan mereka ke olahraga prestasi di masa mendatang. Tanpa mengenalnya di masa muda, sulit bagi anak-anak untuk menerima hal yang sama yang dahulu mereka mainkan bahkan yang pernah dimainkan pula oleh ayah, ibu, dan kakek-neneknya. Alat-alat bermain yang sederhana dan murah dapat pula bermanfaat bagi anakanak. Seyogianya tidak perlu alat-alat olahraga yang mewah dan mahal bahkan mengimport dari luar negeri. Kalau sejak kanak-kanak mulai ditanamkan kegemaran gerolahraga dengan menggunakan peralatan yang dibuat dari bahan yang mudah didapat maka akan dapat memancing kreativitas anak. Melalui bermain tempurung, anak didik bukan saja dididik bagaimana supaya dapat bermain dengan baik, tetapi diajarkan juga dari mana asal tempurung itu, bagaimana mendapatkannya, dan untuk apa kegunaannya. Selain itu, olahraga tradisional jika ditata baik, mungkin dapat dikembangkan untuk tujuan menarik arus wisatawan datang ke Indonesia yang berminat pada keaslian alam. Ada nilai ekonomis pemasukan devisa, akan menambah lapangan pekerjaan baru dan diharapkan dapat menambah penghasilan bagi masyarakat terutama masyarakat dipedesaan. Di Indonesia, DEPDIKBUD (Departemen Pendidikan dan Pengajaran) sejak 1985 telah menetapkan bahwa tujuan khusus pendidikan jasmani dan kesehatan di sekolah dasar adalah: (1) meningkatkan perkembangan dan aktivitas sistem peredaran darah, pencernaan, pernapasan dan syaraf, (2) meningkatkan pertumbuhan jasmani seperti bertambahnya tinggi dan berat badan, (3) menambah nilai-nilai disiplin, kerjasama,

sportivitas dan tenggang rasa, (4) meningkatkan keterampilan melakukan kegiatan olahraga, memiliki sikap positif terhadap kegiatan olahraga dan kesehatan, (5) meningkatkan kesegaran jasmani, (6) meningkatkan pengetahuan olahraga dan kesehatan, (7) menanamkan kegemaran berolahraga dan membiasakan hidup sehat sehari-hari.

Lebih lanjut dikemukakan bahwa tujuan khusus tersebut akan dapat dicapai dengan memberikan jenis kegiatan yang meliputi kegiatan pokok berupa pengembangan kemampuan jasmani, atletik, senam, permainan, dan kesehatan, serta kegiatan pilihan seperti pencak silat, renang, bulutangkis, tenis meja, sepak takraw dan permainan tradisional. Dalam Undang Undang Republik Indonesia No. 3 Thn. 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional dijelaskan bahwa:Olahraga rekreasi merupakan kegiatan olahraga waktu luang yang dilakukan secara sukarela oleh perseorangan, kelompok, dan/atau masyarakat seperti olahraga masyarakat, olahraga tradisional, olahraga kesehatan, dan olahraga petualangan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Pembinaan dan pengembangan olahraga rekreasi yang bersifat tradisional dilakukan dengan menggali, mengembangkan, melestarikan, dan memanfaatkan olahraga tradisional yang ada dalam masyarakat; dilaksanakan berbasis masyarakat dengan memperhatikan prinsip mudah, murah, menarik, manfaat, dan massal. Pembinaan dan pengembangan olahraga rekreasi dilkasanakan sebagai upaya menumbuhkembangkan sangar-sanggar dan mengaktifkan perkumpulan olahraga dalam masyarakat, serta menyelenggarakan festival olahraga rekreasi yang berjenjang dan berkelanjutan pada tingkat daerah, nasional, dan internasional. (Redaksi Sinar Grafika,2006).

Olahraga tradisional permainan tempurung yang alat bermainnya memakai tempurung kelapa, selain mengandung unsur 5-M (mudah diperoleh di bumi Indonesia, murah harganya, menarik, dan meriah/massal karena dapat dimainkan banyak orang; juga sifatnya edukatif, kompetitif dan rekreatif (Tikoalu, 1979). Hal-hal positif ini perlu kita bangkitkan dan kembangkan. B. Identifikasi masalah Permasalahan yang dihadapi dalam hal ini adalah bagaimana upaya untuk menghidupkan kembali, melestarikan dan mengembangkan olahraga tradisional permainan tempurung di tengah arus modernidasi/globalisasi yang diasumsikan masyarakat sudah terpikat bahkan sudah lengket dengan olahraga import? Bagaimana sikap masyarakat terhadap olahraga tradisional ini? Apakah masyarakat masih ada minat? Bagaimana upaya agar permainan ini tidak akan layu sebelum

berkembang? Apakah dalam permainan tempurung ini ada unsur-unsur gerak dasar (lokomotor, non-lokomotor dan manipulatif), kesegaran jasmani, inteligensi dan kreativitas? Aspek-aspek inteligensi manakah yang terkandung dalam bermain tempurung? Bagaimana hubungan bermain tempurung dengan inteligensi (yang berasal dari otak manusia), dan kreativitas? Sehingga apabila seseorang aktif berlatih bermain tempurung selain memancing kreativitas juga akan mengaktifkan proses intern, daya nalar, yang pada gilirannya akan meningkatkan inteligensi pelakunya. C. Perumusan masalah. 1. Apakah dengan melakukan kegiatan bermain tempurung, dapat meningkatkan inteligensi pelakunya? 2. Apakah dengan melakukan kegiatan bermain tempurung, kreativitas pelakunya dapat ditumbuh kembangkan? D. Hakikat penelitian: Diberi pengalaman bermain tempurung Obyek, Diukur inteligensi dan kreativitas (sebelum/sesudah diberi pengalaman bermain tepurung)

Obyek, Anak-anak SD yang Belum kenal permainan Tempurung

Sambil menyerap pengalaman bermain tempurung merangsang proses internal yang pada gilirannya meningkatkan inteligensi dan kreativitas pelakunya

BAB II. LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS A. Deskripsi teori Kegiatan keilmuan sebagai sebuah proses harus melewati suatu siklus yang menyusuri dunia rasional dan dunia empiris. Dalam penelitian ilmiah, salah satu mata rantai yang harus dilakukan adalah pengkajian mengenai variabel-variabel yang diteliti serta persoalan-persoalan pokok yang erat hubungannya dengan variabel-variabel tersebut. Tanpa kajian teori, penelitian tidak dapat dikatakan sebuah karya ilmiah melainkan hanya berada dalam suatu makna empiris. Khasanah ilmu merupakan suatu obyek kajian untuk dapat menurunkan ramalanramalan atau hipotesis. Untuk menurunkan hipotesis itu, digunakan cara berpikir deduktif. Hipotesis yang diajukan selanjutnya harus diuji kebenarannya dengan menggunakan metode penelitian keilmuan. Fakta-fakta harus diperoleh untuk pengujian hipotesis. Dari fakta-fakta itu, dapat diambil kesimpulan-kesimpulan dengan cara berpikir induktif. Selanjutnya, hipotesis yang teruji kebenarannya akan memasuki khasanah ilmu, demikian Jujun S. Suriasumantri (1995:28-35.). Penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti ini mengikuti alur-alur berpikir seperti yang dikemukakan oleh Jujun S. Suriasumantri tersebut di atas. 1. Pendidikan jasmani di sekolah dasar. Dalam pendidikan jasmani, Verducci (1980) melengkapi teori tiga ranah Bloom (1977) dengan ranah sosial (social domain). Menurutnya, ranah kognitif meliputi:

(intellectual ability), dan keterampilan motorik (skill). Dijelaskannya, bahwa dalam pendidikan jasmani, penggarapan terhadap ranah-ranah memiliki tujuan yang khusus yakni: - Ranah afektif mengarah pada pembentukan