PERSETUJUAN PEMBIMBING - /Tinjauan...Indonesia”. Penulisan hukum ini terlaksana atas bantuan, arahan,…

  • Published on
    04-Apr-2019

  • View
    212

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

<p>i </p> <p>PERSETUJUAN PEMBIMBING </p> <p>Penulisan Hukum (Skripsi) </p> <p>TINJAUAN TENTANG ASAS KOORDINASI ANTARA PENYIDIK </p> <p>PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN PEYIDIK KEPOLISIAN </p> <p>REPUBLIK INDONESIA </p> <p>Disusun Oleh : </p> <p>DHAYU WIJANARKO </p> <p>NIM : E. 1103051 </p> <p>Disetujui untuk Dipertahankan </p> <p>Dosen Pembimbing </p> <p>KRISTIYADI, SH, M.HUM </p> <p>NIP. 1958 1225198601 1001 </p> <p>ii </p> <p>PENGESAHAN PENGUJI </p> <p>Penulisan Hukum (Skripsi) </p> <p>TINJAUAN TENTANG ASAS KOORDINASI ANTARA PENYIDIK </p> <p>PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN PEYIDIK KEPOLISIAN </p> <p>REPUBLIK INDONESIA </p> <p>Disusun Oleh : </p> <p>DHAYU WIJANARKO </p> <p>NIM : E. 1103051 </p> <p>Telah diterima dan disahkan oleh Tim Penguji Penulisan Hukum (Skripsi) </p> <p>Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta </p> <p>Pada : </p> <p>Hari : </p> <p>Tanggal : </p> <p>TIM PENGUJI </p> <p>1. Edy Herdyanto, SH, MH ( ) </p> <p>NIP. 19570629 198503 1 002 </p> <p>2. Bambang Santoso, SH, M.Hum ( ) </p> <p>NIP. 19620209 198903 1 001 </p> <p>3. Kristiyadi, SH, M.Hum ( ) </p> <p>NIP. 1958 1225198601 1001 </p> <p>Mengetahui </p> <p>Dekan </p> <p>Moh. Jamin SH, M. HUM </p> <p>NIP. 1961 0930 1986011001 </p> <p>iii </p> <p>MOTTO </p> <p>Barang siapa berhati-hati, </p> <p>Ia akan mendapatkan apa yang diinginkan. </p> <p>Dalam kehati-hatian terdapat keselamatan, </p> <p>dan dalam ketergesa-gesaan terdapat penyesalan </p> <p>(Al Muraqqish). </p> <p>PERSEMBAHAN </p> <p>Skripsi ini penulis persembahkan kepada : </p> <p>1. Ayah dan Ibu terhormat yang selalu </p> <p>memberikan doa untuk keberhasilan studiku </p> <p>2. Kakak-kakakku yang selalu memberkan </p> <p>dukungan dan motivasi dalam penulisan </p> <p>skripsi ini. </p> <p>3. Teman-teman seperkuliahan yang selalu </p> <p>membantu dan memberi semangat dalam </p> <p>pembuatan skripsi ini. </p> <p>iv </p> <p>KATA PENGANTAR </p> <p>Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat </p> <p>dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan hukum ini </p> <p>dalam bentuk SKRIPSI dengan judul Tinjauan Tentang Asas Koordinasi </p> <p>Antara Penyidik Pegawai Negeri Sipil Dengan Penyidik Kepolisian Republik </p> <p>Indonesia. </p> <p>Penulisan hukum ini terlaksana atas bantuan, arahan, serta bimbingan dari </p> <p>berbagai pihak, maka dalam kesempatan kali ini penulis ucapkan terima kasih </p> <p>kepada para pihak berikut ini : </p> <p>1. Bapak Moh. Jamin, SH, M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas </p> <p>Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan ijin untuk penulisan hukum </p> <p>ini. </p> <p>2. Bapak Edy Herdyanto, SH, MH, selaku Ketua Bagian Hukum Acara Fakultas </p> <p>Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memfasilitasi penulis </p> <p>untuk melakukan penulisan hukum dalam bentuk skripsi dibidang hukum </p> <p>acara khususnya Hukum Acara Pidana. </p> <p>3. Bapak Bambang Santoso, SH, M.Hum, yang telah membantu penulis dengan </p> <p>memberikan pinjaman berupa buku-buku serta literatur lainnya yang </p> <p>memperlancar penulisan hukum ini. </p> <p>4. Bapak Kristiyadi, SH, M.Hum, selaku Pembimbing dalam penulisan hukum </p> <p>ini yang telah memberikan arahan serta bimbingan dengan penuh kesabaran. </p> <p>5. Bapak-bapak serta Ibu-ibu Dosen Hukum Acara Fakultas Hukum Universitas </p> <p>Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan ilmu kepada penulis sehingga </p> <p>dapat penulis jadikan bekal dalam mengarungi kehidupan ini. </p> <p>6. Papa dan Mama yang penulis hormati serta banggakan yang penuh kasih </p> <p>sayangnya dengan tiada henti-hentinya mengasuh, membimbing penulis dalam </p> <p>mengejar cita-cita demi masa depan penulis. </p> <p>7. Buat Kakak-Ku tercinta terima kasih atas dukungan dan semangatnya selama </p> <p>ini. </p> <p>v </p> <p>8. Teman-teman kuliah penulis dan khususnya angkatan 2003 yang telah </p> <p>memberikan semangat serta dorongan untuk menyelesaikan penulisan hukum </p> <p>ini. </p> <p>9. Para pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu atas segala budi </p> <p>baik dan bantuannya untuk terselesaikannya penulisan hukum ini. </p> <p>Semoga penulisan hukum dalam bentuk skripsi ini dapat memberikan </p> <p>manfaat bagi para pihak yang membutuhkannya. </p> <p> Surakarta, 1 Desember 2009 </p> <p> Penulis </p> <p>vi </p> <p>DAFTAR ISI </p> <p>HALAMAN JUDUL </p> <p>HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ...................................... i </p> <p>HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI ................................................ ii </p> <p>HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN...................................... iii </p> <p>KATA PENGANTAR ........................................................................... iv </p> <p>DAFTAR ISI ......................................................................................... vi </p> <p>ABSTRAK ............................................................................................ viii </p> <p>BAB I PENDAHULUAN </p> <p>A. Latar Belakang Masalah ............................................... 1 </p> <p>B. Rumusan Masalah......................................................... 3 </p> <p>C. Tujuan Penelitian.......................................................... 4 </p> <p>D. Manfaat Penelitian........................................................ 4 </p> <p>E. Metode Penelitian ......................................................... 4 </p> <p>F. Sistematika Penulisan ................................................... 7 </p> <p>BAB II TINJAUAN PUSTAKA </p> <p>A. Kerangka Teoritis ......................................................... 8 </p> <p>1. Pengertian Prinsip Koordinasi ................................. 8 </p> <p>2. Penyelidikan dan Penyelidik ................................... 8 </p> <p>3. Kewajiban dan Wewenang Penyelidik..................... 9 </p> <p>4. Pengertian Penyidik ................................................ 10 </p> <p>5. Pengertian Penyidikan............................................. 10 </p> <p>6. Wewenang Penyidik Kepolisian Republik Indonesia 11 </p> <p>7. Wewenang Penyidik Pegawai Negeri Sipil .............. 16 </p> <p>B. Kerangka Pemikiran ..................................................... 19 </p> <p>BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN </p> <p>A. Hasil Penelitian ........................................................... 20 </p> <p>1. Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan ................... 20 </p> <p>2. Permintaan Bantuan Penangkapan........................... 21 </p> <p>3. Permintaan Bantuan Penahanan............................... 21 </p> <p>vii </p> <p>4. Berita Acara Penyerahan Penyidikan....................... 21 </p> <p>5. Permintaan Izin Penyitaan....................................... 22 </p> <p>6. Penyusunan Berkas Perkara .................................... 23 </p> <p>7. Penghentian Penyidikan .......................................... 23 </p> <p>B. Pembahasan................................................................. 37 </p> <p>BAB IV PENUTUP </p> <p>A. Simpulan ...................................................................... 45 </p> <p>B. Saran ............................................................................ 45 </p> <p>DAFTAR PUSTAKA </p> <p>viii </p> <p>ABSTRAK </p> <p>DHAYU WIJANARKO, E. 1103051. Tinjauan Tentang Asas Koordinasi Antara Penyidik Pegawai Negeri Sipil Dengan Penyidik Kepolisian Republik Indonesia Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta. </p> <p> Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan asas koordinasi </p> <p>antara penyidik pegawai negeri sipil dengan penyidik kepolisian Republik Indonesia dalam peraturan perundang-undangan. </p> <p>Penelitian ini termasuk jenis penelitian normatif. Sifat penelitian ini adalah deskriptif. Jenis data yang dipergunakan sebagai kajian adalah data sekunder. Data sekunder dalam penelitian ini meliputi bahan hukum primer serta bahan hukum sekunder. Analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif. </p> <p>Hasil penelitian dapat dikemukakan, bahwa asas koordinasi antara Penyidik Pegawai Negeri Sipil dengan Penyidik Kepolisian Republik Indonesia pengaturannya selain terdapat dalam KUHAP juga diatur dalam juklak dan juknis tentang penyidik pegawai negeri sipil, koordinasi antara penyidik pegawai negeri sipil dengan penyidik kepolisian Republik Indonesia bersifat koordinatif, pengawasan, pembinaan kemampuan, serta pemberian petunjuk. </p> <p>Penyidik Pegawai Negeri Sipil dalam segala aktivitas operasional tugasnya tidak boleh lepas dari pengawasan maupun kontrol dari Penyidik kepolisian Republik Indonesia. Hal ini sebagai konsekuensi logis dari tujuan utama KUHAP yaitu tetap melindungi hak-hak tersangka atau terdakwa dalam segala tingkat pemeriksaan. Pada proses penyidikan tindakan penyidik sebagaimana telah dikemukakan telah menyentuh pada sendi-sendi perampasan hak-hak asasi manusia. Maka sudah sepantasnya dalam asas koordinasi antara Penyidik Pegawai Negeri Sipil dengan Penyidik Kepolisian Republik Indonesia dalam tatanan terakhir harus tetao bergerak di bawah naungan Penyidik Kepolisian Republik Indonesia. </p> <p>ix </p> <p>ABSTRACTS </p> <p>WIJANARKO, DHAYU, E.1103051. An Analysis on Coordination Principle between Public Officer Investigator and Indonesian Police Department Investigator Law Faculty of Sebelas Maret University of Surakarta. </p> <p>This research is aimed to know the presence of coordination principle between public officer investigator and Indonesian Police Department investigator in related regulation. </p> <p>This research is included normative research type. The nature of this research is descriptive. Data being used as the analysis is secondary data. Secondary data in this research includes primary and secondary law materials. Data analysis utilized in this research is qualitative analysis. </p> <p>Result of this research suggest that coordination principle between Public Officer Investigator and Indonesian Police Department Investigator, beside ruled out in Crime Code, it is also guided in Implementation Directives (Juklak) and Technical Directives (Juknis) about Public Officer Investigator, coordination between public oficer investigator and Indonesian Police Department Investigator which coordinative, supervisory, capability constructive and directive in nature. </p> <p>Public Officer Investigator in any of its operational activity shall not ignored from control and supervision from Indonesian Police Department Investigator. This is as logic consequence of the main objective of Crime Code, that is to protect the suspect or defendant rights in any of investigation level. In investigation process of investigator action as ebing suggested had related on human rights violation aspects. Then it shall be proper in coordination principle between Public Officer Investigator and Indonesian Police Department Investigator in the final order to keep operating under Indonesian Police Department Investigator supervision. </p> <p>viii </p> <p>x </p> <p>BAB I </p> <p>PENDAHULUAN </p> <p>A. Latar Belakang Masalah </p> <p>Berdasarkan ketentuan Pasal 1 ayat (3) Undang-undang Dasar 1945 </p> <p>hasil perubahan ketiga tahun 2001 ditetapkan Negara Indonesia adalah </p> <p>negara hukum. Berdasarkan ketentuan tersebut dapat diartikan bahwa </p> <p>dalam menjalankan segala tugasnya tindakan pemerintah dan rakyat harus </p> <p>berdasarkan hukum, tidak boleh sewenang-wenang atau menyimpang dari </p> <p>peraturan perundang-undangan yang berlaku. </p> <p>Di Indonesia pernah diadakan simposium mengenai negara hukum </p> <p>yang diadakan di Jakarta pada tahun 1966. simposium tersebut </p> <p>menghasilkan cita-cita negara hukum : Pengakuan dan perlindungan hak-</p> <p>hak asasi manusia yang mengandung persamaan dalam bidang politik, </p> <p>hukum, sosial, ekonomi dan kebudayaan. Peradilan yang bebas dan tidak </p> <p>memihak serta tidak dipengaruhi oleh sesuatu kekuasaan atau kekuatan </p> <p>apapun juga. </p> <p>Adanya pembatasan kekuasaan, serta adanya asas legalitas dalam </p> <p>segala bentuknya. Sebagai negara hukum Indonesia tidak hanya </p> <p>memberikan pengakuan terhadap hak-hak asasi manusia, akan tetapi juga </p> <p>menerapkannya dalam berbagai aspek termasuk salah satu diantaranya </p> <p>adalah aspek hukum. Tentang hal ini dapat dicermati dalam bidang hukum </p> <p>acara pidana. Sebagaimana diketahui, bahwa Indonesia pada tahun 1981 </p> <p>telah mengundangkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang </p> <p>Hukum Acara Pidana. </p> <p>Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana </p> <p>dalam perkembangannya lebih dikenal dengan Kitab Undang-undang </p> <p>Hukum Acara Pidana atau disingkat KUHAP. Ciri utama KUHAP </p> <p>dibandingkan dengan ketentuan hukum acara pidana sebelumnya (diatur </p> <p>xi </p> <p>dalam Heirzlene Islands Reqlemenent (HIR), bahwa KUHAP lebih menitik </p> <p>beratkan pada perlindungan hak-hak asasi manusia bagi pihak-pihak yang </p> <p>tersangkut dalam perkara pidana. Perlindungan terhadap hak-hak asasi </p> <p>manusia ini dilakukan dengan cara menempatkan hak-hak pihak yang </p> <p>tersangkut perkara pidana dengan mendudukkan sesuai dengan harkat dan </p> <p>martabatnya. </p> <p>Hingga saat ini usia Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 </p> <p>(KUHAP) hampir dua puluh sembilan tahun, didalam praktek sering </p> <p>terdengar adanya kelemahan-kelemahan pengaturan dalam berbagai hal. </p> <p>Untuk mengatasi permasalahan ini oleh pemerintah telah ditetapkan </p> <p>berbagai suplemen dalam praktek, misalnya Pedoman Pelaksanaan </p> <p>KUHAP, Surat Edaran Mahkamah Agung, Peraturan Pemerintah, </p> <p>Keputusan Menteri Kehakiman serta Peraturan Menteri Kehakiman. </p> <p>Meskipun sebenarnya selaku hukum acara atau hukum formal KUHAP </p> <p>tidak tepat apabila memiliki berbagai pedoman, oleh karena selaku </p> <p>ketentuan yang mengatur hukum pidana formal KUHAP sudah merupakan </p> <p>pedoman (Hari Sasangko dan Lily Rosita : 2003 : 5). </p> <p>KUHAP dengan segala kekurangannya hingga saat ini masih </p> <p>dinyatakan berlaku sebelum dinyatakan sebaliknya, apabila oleh </p> <p>pemerintah telah diundangkan Undang-undang mengenai hukum acara </p> <p>pidana yang baru. Terlepas dari adanya kekurangan-kekurangan yang ada </p> <p>maupun kelemahan-kelemahan dalam praktek sebenarnya apabila ditelusuri </p> <p>dari asas-asas pembentukannya KUHAP disusun dengan berbagai asas </p> <p>yang cukup memadai untuk berlakunya suatu undang-undang. Sebagaimana </p> <p>diketahui bahwa asas-asas hukum adalah merupakan fondamen bagi </p> <p>pembentukan norma hukum. Fondamen yang kuat dari KUHAP yang berisi </p> <p>tentang berbagai asas hukum bagaimanapun juga harus diakui </p> <p>keberadaannya tetap mendukung tegak dan eksisnya KUHAP hingga saat </p> <p>ini. </p> <p>Berbagai macam asas yang mendukung keberadaan KUHAP antara </p> <p>lain : asas legalitas, asas opportunitas ; asas diferensiasi fungsional, asas </p> <p>xii </p> <p>praduga tidak bersalah, asas persamaan dimuka hukum, asas perlindungan </p> <p>hak asasi manusia serta asas koordinasi antara penegak hukum. Diantara </p> <p>berbagai asas tersebut adalah asas koordinasi antara penegak hukum, yang </p> <p>dimaksudkan asas koordinasi adalah hubungan kerja antara alat negara </p> <p>penegak hukum, yang meliputi kepolisian, kejaksaan serta pengadilan. </p> <p>Sebagaimana diketahui tugas kepolisian dalam penegakan hukum </p> <p>melakukan penyelidikan serta penyidikan terhadap tindak pidana. </p> <p>Dalam kehidupan tindak pidana yang terjadi meliputi berbagai </p> <p>bidang kehidupan. Bidang-bidang tertentu yang juga tidak luput dari objek </p> <p>kejahatan dalam penanganannya memerlukan pemahaman dari aparat yang </p> <p>menguasai bidang permasalahannya. Sesuai dengan hal ini, maka didalam </p> <p>KUHAP telah ditetapkan...</p>