PERTUMBUHAN WAJAH

  • View
    48

  • Download
    1

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Pertumbuhan wajah

Transcript

PERTUMBUHAN WAJAH

Batas Wajah1. NASION (perbatasan tulang nasal & frontal)2. GNATHION atau MENTON (batas anterior bawah). Pogonion bagian paling menonjol3. PORION lubang telinga (batas posterior atas)4. GONION sudut gonial (batas posterior bawah, pertemuan ramus horisontal dan ramus ascenden)5. Pertumbuhan Wajah sebagai satu unitNasion ke atas dan depanSpina nasalis anterior ke bawah dan depanDagu ke bawah dan depanGonion ke bawah dan belakangFisura pterygomaxilaris & spina nasalis posterior lurus ke bawahAtap hidung & palatum durum sejajar dengan posisi sebelumnyaBidang oklusal & tepi bawah mandibula ke bawah hampir sejajar dengan sebelumnya

Pembagian arah wajah menurut Brodie: Area nasal Area alveolar dan gigi rahang atas Area gigi dan rahang bawah

SISTEM STOMAGTONASI

Komponen sistem stomatognasi meliputi gigi-geligi beserta jaringan pendukungnya, otot, persyarafan maupun persendian antara maksila dan mandibula. Stomatognasi dalam praktek kedokteran gigi merupakan ilmu yang mempertimbangkan hubungan antara gigi geligi, rahang, persendian temporomandibula, kraniofasial dan oklusi gigi (Andriyani, 2001).

Termasuk dalam fungsi stomatognasi adalah pengunyahan makanan, penelanan, pernafasan, dan berbicara. Masing-masing fungsi ini erat hubungannya dan kadang-kadang dua atau lebih fungsi ini dapat dilakukan secara bersama-sama. Fungsi stomatognasi yang akan dibahas di sini adalah pengunyahan dan penelanan makanan (Andriyani, 2001).

Selama proses pengunyahan, komponen-komponen yang terlibat adalah tulang, otot-otot, ligament dan gigi (Andriyani, 2001).

Pada sistem stomatognasi, proses pengunyahan dan penelanan merupakan suatu proses yang kompleks, melibatkan otot-otot, persendian temporomandibula, gigi dan persyarafan. Koordinasi pergerakan mandibula dan gigi yang berfungsi optimal, akan menghasilkan makanan yang berubah menjadi konsistensi relatif halus yang disebut dengan bolus (Andriyani, 2001).

Proses penelanan dibagi menjadi tiga tahap yaitu tahap bukal, tahap faringeal dan tahap esophageal. Aktivitas otot penelanan dimulai dengan kerja secara volunter dan akan berubah menjadi refleks involunter. Refleks lain yang dapat terjadi pada aktivitas penelanan adalah batuk, muntah dan menghisap, diakibatkan rangsangan-rangsangan sensorik (Andriyani, 2001).

SISTEM STOMAGTONASISystem stomatognasi meliputi gigi geligi beserta jaringan pendukungnya, ototi, persyarafan maunpun persendirian antara maksila dan mandibula. Stomatognasi dalam praktek kedokteran gigi merupakan ilmu yang mempertimbangkan hubungan antara gigi geligi, rahang, persendian temporomandibula, kraniofasial dan oklusi gigi. Termasuk dalam fungsi smatognasi adalah pengunyahan makanan, penelanan, pernapasan, dan berbicara. Masing masing fungssi ini erat hubungannya dan kadang kadang dua atau lebih fungsi ini dapat dilakukan secara bersama - sama . fungsi stomatognasi yang akan dibahas disini adalah pengunyahan dan penelanan (Andriani, 2001).Sistem mastikasi terdiri dari mandibula dan maksila, otot-otot mastikasi, sendi temporomandibula dan ligament yang berhubungan dengannya, gigi-geligi dan jaringan pendukung gigi atau jaringan periodontal. System ini perlu dilihat sebagai suatu unit fungsional dimana bagian-bagian tersebut saling berhubungan satu terhadap yang lain. Kerusakan gigi geligi dapat mempengaruhi komponen system mastikasi yang lain : perubahan aktivitas fungsional dari otot mastikasi atau sendi temporomandibula dapat mempengaruhi jaringan gigi. Seperti semua jaringan yang vital lainnya, jaringan system mastikasi berada pada aktivitas yang konstan. Sel-sel bermetabolisme, bereproduksi, mati dan diganti baru: komponen non-seluler seperti misalnya substansi kolagen dan substansi dasar tersintesa, mengalami kerusakan dan diganti yang baru. Aktivitas ini dipengaruhi oleh usia, nutrisional, dan status hormonal, dan juga dipengaruhi oleh kebutuhan fungsional.Selain itu juga dipengaruhi oleh penyakit ini (Andriani, 2001).Selama proses pengunyahan, komponen componen yang terlibat adalah tulang , otot otot, ligament dan gigi. Otot otot pengunyahan utama adalah muskulus masseter, muskulus temporalis, muskulus pterygoideus lateralis dan muskulus pterygoideus medialis. Peranan otot otot ini selama pergerakan membuka dan menutup mulut penting sekali dalam mengkoordinasikan pergerakan mandibula sehingga gigi dapat berfungsi optimal. Gigi sudah dirancang dengan tepat untuk mengunyah seperti gigi insisivus untuk kerja memotong dan gigi molar untuk kerja menggiling. Otot otot pengunyahan dapat bekerja sama untuk mengatupkan gigi geligi dengan kekuatan sebesar 55 pound pada insisivus dan 200 pound pada molar (Foster, 1999).mengunyah makanan penting untuk pencernaan, terutama untuk buah dan sayur sayuran mentah. Dengan menggiling makanan hingga menjadi partikel dengan konsisitensi yang relative halus, akan mencegah ekskorfasi traktus gastrointestinal dan meningkatkan kemudahan pengosongan makanan dari lambung ke dalam usus halus dan kemudian ke semua segmen usus berikutnya (Foster, 1999).Proses penelanan merupakan suatu proses fisiologis yang dilakukan oleh semua orang. Straub (1998) telah mengemukakan bahwa rata rata seseorang menelan 1 x permenit pada waktu tidur 2 x permenit pada waktu tidak tidur, sehingga total kira kira 2000 x dalam 24 jam. Menelan kelihatannya merupakan tindakan tau aktivitas yang sederhana saja, tetapi sbenarnya merupakan tindakan atau aktifitas yang sederhana saja , tetapi sebenarnya merupakan suatu proses yang kompleks, melibatkan beberapa organ tubuh misalnya otot, rahang lidah, gigi, dan juga melibatkn koordinasi antara otot dengan otot dan otot dengan rahang . garlier mengajukan suatu konsep keseimbangan antar 3 grup otot utama pada proses penelanan yaitu otot otot lidah , muskulus masseter dan muskulus buksinator serta muskulus orbikularis oris yang bekerja secara volunteer. Konsep ini disebut ( TRIANGULAR FORCEE CONCEPT) (Foster, 1999).

Sering kita jumpai atau merasakan sendiri kelainan system stomatognasi yang menggangu aktivitas pengunyahan, seperti bruksim, dan selama proses penelan misalnya penelan abnormal yang sering disebut disfagia. Bila dijumpai perlu diwaspadai karena akan mempengaruhi fungsi otot otot dalam fungsi dalam pengunyahan. Otot karena itu perlu dilakukan diagnose biar tepat mengenai keadaan seperti ini agar dapat di peroleh hasil perawatan yang sempurna tanpa merusak otot otot yang berperan selama proses penelanan (Foster, 1999).

GANGGUAN SISTEM STOMAGTONASI2.4.1 Disfagia

Penelanan abnormal atau yang sering disebut disfagia yaitu keadaan dimana pasien mengalami kesulitan dalam menelan makanan. Kesulitan menelan ada dua tahap, pertama, yaitu melewatkan bolus ke bagian belakang tenggorokan dan kedua, tahap mengawali refleks menelan makanan. Disfagia yang terjadi setelah tahap mengawali refleks menelan biasanya disebabkan oleh kelainan neuromuskular dan jarang terjadi, hal ini karena adanya lesi di dalam laringofaring dan esophagus (Andriyani, 2001).

Beberapa penyebab lain terjadinya disfagia antara lain pernah dilaporkan oleh Gankroger (1993), yaitu disfagia karena trauma akut benda asing yang masuk ke dalam faring dan laring, disertai rasa sakit yang hebat sehingga penderita mengalami kesulitan menelan makanan (Andriyani, 2001).

Schlie-phake dkk (1998) juga melaporkan bahwa pasien yang mengalami operasi pengambilan karsinoma sel skuamosa di dasar mulut, akan mengalami kesulitan dalam menggerakkan lidah Karen aperubahan bentuk otot-otot lidah, selain itu juga akan mengalami perubahan kualitas suara yaitu suara menjadi terdengar lebih besar dan lebih berat (Andriyani, 2001).

Gejala khas disfagia pada pasien seperti gejala sukar menelan makanan atau penyakit lain perlu diwaspadai karena dalam perkembangannya akan merusak fungsi otot-otot yang berperan dalam peristiwa menelan. Oleh karena itu perlu dilakukan diagnosis yang tepat penyebab keadaan ini agar diperoleh hasil perawatan yang sempurna tanpa merusak otot-otot yang berperan dalam proses ini (Andriyani, 2001).

Disfagia pada karsinoma esophagus yang tidak dapat dioperasi sering dapat dibantu dengan memasukkan sebuah pipa metal atau plastic dengan bantuan sebuah endoskopi. Endoskopi yang sering dipakai adalah endoskop fibreoptik, karena resiko untuk menimbulkan kerusakan mukosa esophagus lebih rendah disbanding dengan endoskop tradisional yang besar dan kaku (Andriyani, 2001).Disfagia adalah keadaan terganggunya peristiwa deglutasi (menelan). Keluhan ini akan timbul bila terdapat gangguan gerakan otot-otot menelan dan gangguan transportasi makanan dari rongga mulut ke lambung. Disfagia umumnya merupakan gejala dari kelainan atau penyakit di orofaring dan esophagus (Andriyani, 2001).

Manifestasi klinik yang sering ditemukan ialah sensasi makanan yang tersangkut di daerah leher atau dada ketika menelan. Lokasi rasa sumbatan di daerah dada dapat menunjukkan kelainan di esofagus bagian torakal. Tetapi bila sumbatan berada di leher, kelainannya terletak di faring atau esofagus bagian servikal (Andriyani, 2001).

Pembagian gejala dapat menjadi dua macam yaitu disfagia orofaring dan disfagia esophagus. Gejala disfagia orofaringeal adalah kesulitan mencoba menelan, tersedak atau menghirup air liur ke dalam paru-paru saat menelan, batuk saat menelan, muntah cairan melalui hidung, bernapas saat menelan makanan, suara lemah, dan berat badan menurun. Sedangkan gejala disfagia esofagus adalah sensasi tekanan dalam dada tengah, sensasi makanan yang menempel di tenggorokan atau dada, nyeri dada, nyeri menelan, rasa terbakar di dada yang berlangsung kronis, belching, dan sakit tenggorokan (Andriyani, 2001).

Disfagia juga dapat disertai dengan keluhan lainnya, seperti rasa mual, muntah, regurgitasi, hematemesis, melena, anoreksia, hipersalivasi, batuk, dan berat badan yang cepat berkurang (