Pilot Project Analisa Situasi Fish Bone

  • Published on
    16-Jan-2016

  • View
    13

  • Download
    5

Embed Size (px)

DESCRIPTION

fish bone

Transcript

BAB 1. LATAR BELAKANG

1.1 Latar BelakangPenyakit demam berdarah (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue, yang terdiri dari empat tipe, yaitu DEN-1, DEN-2, DEN 3, DEN 4, dan ditularkan melalui gigitan nyamuk beina Aedes aegyti dan Aedes albopictus yang sebelumnya telah terinfeksi oleh virus dengue dari penderita DBD lainnya. Kejadian luar biasa (KLB) pertama penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Asia ditemukan di Manila pada tahun 1954 dan wabah demam berdarah masuk ke Indonesia pada tahun 1968 yaitu di Surabaya dan Jakarta. Pada pengamatan selama kurun waktu 20 sampai 25 tahun sejak awal ditemukannya kasus DBD, kejadian luar biasa penyakit ini diestimasikan terjadi setiap lima tahun dengan angka kematian terbanyak terjadi pada anak-anak.Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2011 jumlah kasus meninggal akibat penyakit demam berdarah di provinsi Jawa Timur sejumlah 62 orang. Selain itu dilaporkan juga bahwa pada tahun 2010, jumlah pasien demam berdarah dengue di Jawa Timur mencapai 26.059 orang dengan angka kesakitan (IR) sebesar 68,53/100.000 penduduk. Hal ini berarti bahwa terjadi peningkatan kasus dengan laporan dari kabupaten/kota di Jawa Timur yang telah melaporkan kasusnya menyatakan bahwa DBD tidak lagi hanya menyerang anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Wilayah Jember pada tahun 2011, insiden DBD sebesar 3,21 per 1000 penduduk dengan jumlah kasus sebesar 77. Insiden DBD mengalami penurunan dibandingkan pada tahun 2007 yang insidensinya sebesar 0,52 per 1000 penduduk dengan jumlah kasus sebesar 1.214 dan tahun 2008 yang insidensinya sebesar 0,34 per 1000 penduduk dengan jumlah kasus sebesar 780 (Depkes, tanpa tahun). Di Jember, wilayah endemik penyakit Demam Berdarah yang patut diwaspadai, menurut Dokter Burhan ada di lima kecamatan. Untuk wilayah kota ada di Kecamatan Sumbersari dan Kecamatan Kaliwates. Sedang tiga lainnya meliputi Kecamatan Wuluhan, Puger dan Kecamatan Balung. 1.2 Tujuana. Tujuan UmumMeningkatkan upaya program P2PL b. Tujuan Khusus1. Melakukan pembentukan dan pelatihan kader2. Membentuk Pos demam berdarah dengue

1.3 Manfaata. Untuk MahasiswaUntuk mengaplikasikan kompetensi keilmuan analisis manajemen layanan kesehatanb. Untuk masyarakat1. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat2. Memandirikan masyarakat c. Untuk pemerintah1. Membantu pemerintah melakukan strategi pemberdayaan masyarakat2. Membantu pemerintah untuk melakukan deteksi, pencatatan, dan pelaporan kasus demam berdarah dengue.

BAB 2. PENGKAJIAN

2.1 Gambaran umum dan perilaku penduduk1) Keadaan pendudukBerdasarkan hasil sensus penduduk pada tahun 2010, jumlah penduduk Indonesia sebesar 237.641.326 jiwa dengan presentase penduduk perkotaan sebesar 49,97% (118.320.256 jiwa) dan penduduk pedesaan sebesar 50,21% (119.321.070 jiwa). Selain itu, persebaran kependudukan di indonesia berdasarkan luas pulau-pulau besarnya, yaitu:1. Pulau Sumatera dengan luas 25,2% dari total luas wilayah Indonesia memiliki penduduk sebesar 21,3% dari total penduduk;2. Pulau Jawa dengan luas 6,8% dari total luas wilayah Indonesia memiliki penduduk sebesar 57,5% dari total penduduk;3. Pulau Kalimantan dengan luas 28,5% dari total luas wilayah Indonesia memiliki penduduk sebesar 7,3% dari total penduduk;4. Pulau Sulawesi dengan luas 9,9% dari total luas wilayah Indonesia memiliki penduduk sebesar 7,3% dari total penduduk;5. Pulau Maluku dengan luas 4,1% dari total luas wilayah Indonesia memiliki penduduk sebesar 1,1% dari total penduduk;6. Pulau Papua dengan luas 21,8% dari total luas wilayah Indonesia memiliki penduduk sebesar 1,5% dari total penduduk (BPS, 2010).Jumlah penduduk dari hasil proyeksi penduduk berdasarkan P4B yaitu sebesar 37.071.731 jiwa dengan pertumbuhan sebesar 2,39 persen, dengan kepadatan penduduk sebesar 798 jiwa setiap 1 km, dengan rasio rata-rata jiwa/kk adalah 4 jiwa, kepadatan penduduk di kota umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan kepadatan penduduk di kabupaten (Dinkes, 2006). Berdasarkan hasil sensus penduduk pada tahun 2010 menyebutkan bahwa jumlah penduduk di Jawa Timur sebesar 37.476.757 jiwa yang mencakup penduduk di daerah perkotaan sebesar 17.832.733 jiwa dan (BPS, 2010) Sedangkan hasil sensus penduduk menyebutkan bahwa kepadatan penduduk Kabupaten Jember pada tahun 2000 adalah 664 jiwa/km2 yang kemudian meningkat menjadi 707 jiwa/km pada tahun 2010 (BPS, 2010). Kecamatan dengan penduduk terjarang adalah Kecamatan Tempurejo dengan tingkat kepadatan 135 jiwa/km2 dan kecamatan terpadat penduduknya adalah Kecamatan Kaliwates yaitu mencapai 4480 jiwa/Km2. Bagi daerah daerah yang memiliki kepadatan jauh diatas ambang batas ideal, 700 jiwa/km2 akan rawan terhadap berbagai macam permasalahan seperti kesehatan, pengangguran, kesenjangan sosial, kriminalitas, dan sebagainya akibat dari terbatasnya daya tampung dan daya dukung daerah (BPS, 2010).Berdasarkan database kesehatan per kabupaten dari Kemenkes RI, Jember memiliki jumlah penduduk pada tahun 2007 dan 2008 sebesar 2.327.049 jiwa dengan kepadatan penduduk sebesar 707 jiwa/km2. Sedangkan pada tahun 2011 terjadi peningkatan jumlah penduduk sebesar 2.395.319 dengan kepadatan penduduk sebesar 727 jiwa/km2 (Depkes, tanpa tahun).

2) Keadaan ekonomiJumlah penduduk miskin di Indonesia pada September 2012 mencapai 28,59 juta orang (11,66 persen) dan jika dibandingkan dengan jumlah penduduk miskin pada Maret 2012 , maka selama enam bulan tersebut terjadi penurunan jumlah penduduk miskin sebesar 0,54 juta orang (BPS, 2013). Berdasarkan daerah tempat tinggal, pada periode Maret 2012September 2012, baik penduduk miskin di daerah perkotaan maupun perdesaan sama-sama mengalami penurunan, yaitu masing-masing turun sebesar 0,18 persen (0,14 juta orang) dan 0,42 persen (0,40 juta orang) (BPS, 2013). Pada periode Maret 2012September 2012, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan kenaikan sehingga mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung semakin menjauhi garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin melebar (BPS, 2013).Pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap kuat didukung dengan stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan yang terjaga yang ditandai dengan:a. Perekonomian Triwulan III-2011 tumbuh 6.5% didukung oleh konsumsi dan ekspor. b. Kondisi pasar keuangan domestik semakin membaik seiring dengan respon kebijakan Bank Indonesia dan Pemerintah dalam memitigasi rambatan gejolak ekonomi global. c. Nilai tukar relatif stabil, meskipun masih mengalami tekanan depresiasi. d. Tekanan inflasi terus menurun dan diprakirakan kedepan tetap terkendali (Kemenko, 2011).Menurut BPS Jatim (2013) menyebutkjan bahwa status perekonomian di Jawa Timur mengalami inflasi sebesar 0,97 persen pada Februari 2013. Meskipun terjadi inflasi perekonomian di Jawa Timur, tetapi tetap terjadi peningkatan pendapatan pada triwulan II tahun 2012 sebesar 7,24 persen dengan peningkatan terbesar pada sektor pengangkutan dankomunikasi (4,22%), sektor perdanganan, hotel, dan restoran (4,00%), dan sektor industri (2,67%) (BPS, 2013). Sedangkan penurunan perekonomian terjadi pada sektor pertanian dan sektopr air bersih, listrik dan gas.Sedangkan perekonomian pada Kabupaten Jember ditinjau dari besarnya jumlah penduduk (Depkes, tanpa tahun), rasio beban tanggungan penduduk Jember pada tahun 2007 sebesar 27,80 per 100 penduduk dan pada tahun 2008 terjadi peningkatan beban tanggungan sebesar 62,28 per 100 penduduk. Pada tahun 2011 terjadi penurunan rasio beban tanggungan menjadi 44,01 per 100 penduduk. Hal ini mengartikan bahwa seorang penduduk Jember harus menanggung ekonomi pada 2 hingga 3 orang keluarga sehingga dapat disimpulkan bahwa status ekonomi penduduk Jember masih dibawah rata-rata dan memiliki beban tanggungan yang cukup tinggi.

3) Keadaan pendidikanBerdasarkan database kesehatan per kabupaten dari Kemenkes RI, Jember memiliki jumlah penduduk yang melek huruf pada tahun 2011 sebesar 13,80 persen dengan penduduk laki-laki yang melek huruf sebesar 14,27 persen dan penduduk perempuan yang melek huruf sebesar 13,36 persen (Depkes, tanpa tahun) .

4) Keadaan kesehatan lingkunganKabupaten Jember merupakan salah satu daerah yang pertumbuhan penduduknya cukup pesat di Jawa Timur dan menempati peringkat ketiga pada tahun 2009 dengan jumlah penduduk mencapai 2.179.829 jiwa (Mediawati, 2011). Tingkat pertumbuhan penduduk yang cukup pesat ini tidak diimbangi oleh pembangunan infrastruktur yang mendukung kualitas kesehatan masyarakat serta pengelolaan lingkungan seperti air bersih, sanitasi, drainase dan persampahan (Badan Perencanaan Pembangunan Kabupaten Jember, 2009 dalam Mediawati, 2011). Arahan pengembangan prasarana dasar di Kabupaten Jember adalah pengembangan sistem setempat secara komunal untuk limbah rumah tangga, perbaikan dan peningkatan jumlah sarana sanitasi dan program penyuluhan mengenai sanitasi (Dhokhikah, 2007 dalam Mediawati, 2011). Oleh karena itu, pemerintah Kabupaten Jember berupaya untuk mengatasi masalah kesehatan lingkungan melalui program pemerintah dalam bidang pengelolaan lingkungan seperti pengelolaan sampah, perbaikan saluran drainase dan pembangunan fasilitas MCK umum.

5) Keadaan perilaku masyarakatKabupaten jember merupakan daerah endemis penyakit demam berdarah. Dari catatan medis jumlah penderita demam berdarah dengue di wilayah kerja Puskesmas Sumbersari pada tahun 2009 dari bulan Januari Desember dengan jumlah total kasus sebanyak 110 orang, penderita tersebut menyebar di 5 kelurahan yaitu kelurahan Sumbersari 78 orang, Tegalgede 23 orang, Wirolegi 6 orang, Karangrejo 3 orang, Antirogo 0. Dan meningkat pada tahun 2010 dari bulan Januari sampai Desember dengan total jumlah kasus 164 orang, penderita menyebar yaitu kelurahan Sumbersari 126 orang, Tegalgede 20 orang, Wirolegi 9 orang, Karangrejo 5 orang, Antirogo 4 orang. Dan untuk tahun 2011 terhitung mulai Januari sampai Mei penderita berjumlah 8 orang, penderita tersebut menyebar di wilayah Kelurahan Sumbersari 6 orang, Tegalgede 0, Wirolegi 1 orang, Karangrejo 0, Antirogo 1 orang. Dari kelima wilayah kerja puskesmas Sumbersari, Kelurahan Sumbersari merupakan jumlah kasus terbanyak penderita DBD. (Data Puskesmas Sumbersari Mei 2011. Kabupaten Jember)Banyak faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit demam berdarah dengue di kabupaten Jember hal ini dikarenakan perilaku masyarakat yang masih membuang sampah di pinggir sungai, kurangnya pengetahuan masyarakat tentang penyakit demam berdarah, kurangnya perilaku masyarakat terhadap pembersihan sarang nyamuk, dan pembangunan pemukiman perumahan yang masih padat penduduk.

2.2 Situasi derajat kesehatan1) MortalitasPada tahun 2007 jumlah kasus demam berdarah dengue adalah sebnyak 158.115 kasusu dengan jumlah kematian 1.559 kasus kematian penduduk Indonesia dengan nilai prosentase Jawa Timur adalah 1,43%. Case Fatality Rate (CFR) pada tahun 2007 sebessar 1,01%. CFR DBD pada tahun 2003 berfluktuasi, namun dalam dua tahun terakhr cenderung menurun.(depkes.co.id).Pada tahun 2011 menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia jumlah kasus meninggal akibat penyakit demam berdarah di provinsi Jawa Timur sejumlah 62 orang dari total kasus 5.372.

2) MorbiditasIndonesia masih memiliki peningkatan transisi epidemiologi yang menyebabkan beban ganda (double burden) yang dihadapkan pada penyakit infeksi (baik re-emerging maupun new emerging) dan gizi kurang, serta meningkatnya penyakit non infeksi dan degeneratif. Apabila morbiditas terjadi pada kelompok usia produktif, maka akan mempengaruhi produktivitas dan pendapatan keluarga yang dapat mempengaruhi status ekonomi dan peningkatan kemiskinan.Angka kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) dapat diperoleh dari laporan pada sarana pelayanan kesehatan, baik di rumah sakit maupun di puskesmas melalui pencatatan dan pelaporan maupun dari community based data dari hasil pengamatan (surveilance). Berdasarkan pengamatan penyakit brpotensial KLB dan penyakit tidak menular yang diamati di Puskesmas dan Rumah Sakit sentinel yang merupakan gardu pandang suatu pola dan trend penyakit didapatkan 10 besar kunjungan kasus sebagai berikut (Dinkes, 2010)

Tabel 1. Penyakit terbanyak di Rumah Sakit Sentineldi Provinsi Jawa Timur 2008-2011NoTahun 2008Tahun 2009Tahun 2010

Penyakit%Penyakit%Penyakit%

1.Diare33,06Diare21,58Diare19,76

2.DBD23,75DBD14,15DBD18,75

3.Demam dengue8,38Kecelakaan lalu lintas11,57Kecelakaan lalu lintas9,60

4.Pneumonia6,70TBC paru BTA (+)5,43Demam dengue6,04

5.TBC paru BTA (+)6,47Pneumonia5,05Hipertensi esensial4,89

6.Tifus perut klinis5,45Hipertensi esensial4,20TBC paru BTA (+)4,21

7.Hepatitis klinis3,06Demam dengue4,12Pneumonia4,04

8.Tersangka TBC paru2,69DM YTT3,93DM YTT3,11

9.Tetanus1,99Tifus perut klinis3,36Tifus perut widal (-)2,999

10.Influenza 0,82Tifus perut widal (-)3,35DM tak bergantung insulin2,81

Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2010

Berdasartkan data diatas, dapat disimpulkan bahwa DBD masih tetap menempati urutan ke-2 berturut-turut pada kasus terbanyak dalam kurun waktu 3 tahun (2008-2010). Hal ini mengartikan bahwa kondisi lingkungan masyarakat Jawa Timur masih belum memenuhi kriteria standar sehat.Selain itu, telah dilaporkan juga bahwa pada tahun 2010, jumlah pasien demam berdarah dengue di Jawa Timur mencapai 26.059 orang dengan angka kesakitan (IR) sebesar 68,53/100.000 penduduk. Hal ini berarti bahwa terjadi peningkatan kasus dengan laporan dari kabupaten/kota di Jawa Timur yang telah melaporkan kasusnya menyatakan bahwa DBD tidak lagi hanya menyerang anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Data yang diambil pada tahun 2010 membuktikan bahwa rasio insiden (incident rate) kasus DBD di Jember sebesar 63,9 per 100.000 penduduk telah menempati di bawah rata-rata incident rate Jawa Timur, yaitu sebesar 69,5 per 100.000 penduduk.Pada tahun 2011, insiden DBD di jember sebesar 3,21 per 1000 penduduk dengan jumlah kasus sebesar 77. Insiden DBD mengalami penurunan dibandingkan pada tahun 2007 yang insidensinya sebesar 0,52 per 1000 penduduk dengan jumlah kasus sebesar 1.214 dan tahun 2008 yang insidensinya sebesar 0,34 per 1000 penduduk dengan jumlah kasus sebesar 780 (Depkes, tanpa tahun).

3) Dampak kesehatan akibat penyakitDampak kesehatan akibat penyakit demam berdarah dengue di daerah Jember bisa mengakibatkan kematian jika tidak segera mendapatkan penanganan dari petugas kesehatan.

2.3 Situasi upaya kesehatan1) Pelayanan kesehatan dasarPelayanan kesehatan dasar di kabupaten Jember yaitu meliputi Puskesmas dengan jumlah 49 buah, Puskesmas Pembantu 131 buah, Puskesmas Keliling 28 buah, dan Posyandu 2.755 buah.2) Pelayanan kesehatan rujukanSalah satu rumah sakit yang menjadi rujukan penyakit demam berdarah di Jember adalah RSUD Dr. Soebandi Kabupaten Jember yang merupakan rumah sakit kelas B Non Pendidikan yang ditetapkan sesuai Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 1162/Menkes/SK/IX/1992. RSUD Dr. Soebandi ditetapkan me...

Recommended

View more >