Presentasi Kasus Dengan Persiapan

  • Published on
    30-Sep-2015

  • View
    216

  • Download
    4

Embed Size (px)

DESCRIPTION

PKP

Transcript

<p>Presentasi Kasus dengan Persiapan </p> <p>Presentasi Kasus dengan Persiapan</p> <p>Presentan:Muhammad Hanifi (1106010641)Ika Aulia Kirana (1106007243)</p> <p>Narasumber:dr. Rena M, Sp. KJ / dr. Ika SN, Sp. KJMODUL PRAKTIK KLINIK ILMU KESEHATAN JIWAFAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA2015IdentitasNama: Nn. LHUsia: 22 tahunAlamat: Ps. MingguJenis kelamin: PerempuanStatus pernikahan: Belum MenikahSuku: BetawiAgama: IslamPendidikan: SMKPekerjaan: Mahasiswa, pengajar privatAnamnesis : Autoanamnesis (9 April 2015)Keluhan UtamaPasien datang untuk kontrol setelah 15 bulan yang lalu merasa murung, sedih, tidak bergairah, dan mendengar suara almarhum ayah.Riwayat Penyakit SekarangPada Desember 2013, pasien datang ke RS Fatmawati bersama keluarga dengan keluhan sering murung, sedih, dan tidak bergairah melakukan aktivitas sejak satu bulan sebelumnya. Menurut pasien, kondisi tersebut muncul karena pasien memikirkan almarhum ayahnya yang meninggal tiga bulan sebelum pasien datang berobat.Sebelum gejala muncul, pasien merasa baik-baik saja. </p> <p>Riwayat Penyakit Sekarang (2)Pasien mengeluh nafsu makan menurun, sulit tidur, sulit konsentrasi, kepercayaan diri berkurang, dan merasa pesimis.Pasien juga mengurung diri di kamarnya hingga tidak mengikuti kuliah.Pasien tidak memiliki ide bunuh diri.Riwayat Penyakit Sekarang (3)Selama pasien merasa sedih dan murung, pasien beberapa kali (tidak setiap hari) mendengar suara alm. ayahnya.Suara didengar jelas oleh pasien, berupa perintah untuk mengambilkan beberapa barang.Namun, pasien menyadari bahwa ayahnya sudah meninggal sehingga pasien tidak menuruti perintah tersebut. Pasien merasa cukup terganggu dengan suara alm. Ayah yang didengarnya.Riwayat Penyakit Sekarang (4)Setelah diperiksa, pasien mengonsumsi obat dari dokter berupa Cipralex (escitalopram oksalat) dan Abilify (aripiprazol) masing-masing satu kali sehari secara rutin, dan kontrol setiap bulan ke RS Fatmawati. Pada awal mengonsumsi obat, pasien merasakan mual dan sakit kepala, tetapi membaik setelah diberi obat mual dan sakit kepala oleh dokter. Setelah mengonsumsi obat, pasien merasa keadaannya lebih baik, ditambah dengan dukungan dari keluarga dan semangat pribadi untuk sembuh.Riwayat Penyakit Sekarang (5)Saat ini, pasien merasa sudah jauh lebih baik daripada dahulu. Pasien sudah tidak merasa murung dan sedih, serta tidak pernah mendengar suara alm. Ayah kembali.Pasien sudah bergairah dalam melakukan aktivitas dan sekarang kembali melanjutkan kuliahnya.Riwayat Penyakit DahuluRiwayat cedera kepala, kejang, atau pingsan disangkal.Riwayat dirawat di rumah sakit disangkalRiwayat merokok, minum-minuman beralkohol, atau mengonsumsi narkoba disangkal.Riwayat Penyakit KeluargaRiwayat gangguan psikiatri pada keluarga disangkalRiwayat penyakit jantung pada ayah</p> <p>Genogram(pasien)Riwayat Kehidupan PribadiRiwayat kehamilan ibu: ibu sehatRiwayat kelahiran: lahir spontan pada usia kehamilan 9 bulan, di bidan, langsung menangisRiwayat masa kanak awal: seperti anak normalRiwayat masa kanak pertengahan : seperti anak normalRiwayat masa remaja: pendiam, tetapi masih dapat bergaulRiwayat dewasa muda: pendiam, tetapi masih dapat bergaulRiwayat pendidikan: pendidikan terakhir SMK, saat ini sedang kuliah jurusan pendidikan Bahasa Inggris </p> <p>Riwayat Kehidupan Pribadi (2)Riwayat pekerjaan: megajar privatRiwayat pernikahan: belum menikahRiwayat kehidupan beragama: rajin beribadahRiwayat psikoseksual: pasien tertarik kepada lawan jenis, saat ini tidak memiliki kekasih, dan ada rencana menikah di masa depanRiwayat pelanggaran hukum : pasien mengaku belum pernah melakukan pelanggaran hukum</p> <p>Persepsi Pasien tentang Diri dan LingkungannyaPasien menyadari bahwa dirinya pernah sakit dan kini sudah sehat kembali setelah mengonsumsi obat secara rutin. Pasien mengetahui bahwa keluarga sangat mendukung kesembuhannya dan pasien tidak ingin membebani keluarga dengan penyakitnya.Riwayat Perjalanan PenyakitAyah meninggal dunia(September 2013)Sedih, murung, tidak bergairah, kepercayaan diri berkurang.Halusinasi auditorik(November 2013)Berobat ke RSF(Desember 2013)Kontrol pertama:Perasaan membaik,Halusinasi auditorik (-)(Januari 2014))Saat ini:Tidak ada keluhanTidak ada gangguan mood, afek, atau persepsi(April 2015)Pemeriksaan FisikKeadaan umum: Tampak sehatKesadaran: Kompos mentisTekanan darah: 110/70 mmHgNadi: 84x/menitSuhu: tidak diperiksaPernapasan: 20x/menitBerat badan: 72 kgTinggi badan: 165 cmPemeriksaan NeurologisGejala ekstrapiramidalReaksi distonia: tidak adaAkatisia: tidak adaTremor: tidak adaAkinesia: tidak adaBradikinesia: tidak adaTardive diskenia : tidak adaKekakuan Otot: tidak diperiksaKeseimbangan: kesan tidak ada gangguan keseimbanganStatus MentalPenampilan: tampak sehat, sesuai usia, rapi, perawatan diri baikPerilaku: kooperatifPsikomotor: tidak ada gerakan-gerakan abnormalMood: eutimAfek: luas, serasiPembicaraan: spontan, volume suara cukup, intonasi jelas, dapat dimengertiPersepsi: riwayat halusinasi auditorik 15 bulan laluProses pikir: koherenIsi pikir: tidak ada gangguanKognitif: ingatan jangka pendek dan panjang baik, daya abstraksi baik, kemampuan membaca dan menulis baikTilikan: derajat 6</p> <p>Ikhtisar Penemuan BermaknaSeorang wanita, berusia 22 tahun, tampak sesuai usia, berpenampilan rapi, datang untuk kontrol rutin. </p> <p>Saat ini tidak ada keluhan yang dirasakan oleh pasien.</p> <p>Perasaan pasien baik, mood eutimia, afek luas serasi, pembicaraan spontan, koheren, serta tidak ada gangguan isi pikir, persepsi, maupun kognitif.Ikhtisar Penemuan Bermakna (2)15 bulan lalu, pasien memiliki riwayat depresi berat selama sekitar satu bulan disertai beberapa kali halusinasi auditorik yang tidak menetap. </p> <p>Pasien rutin mengonsumsi Cipralex (escitalopram oksalat) dan Abilify (aripiprazol) masing-masing satu kali sehari secara rutin, dan kontrol setiap bulan ke RS Fatmawati. </p> <p>Pasien merasa lebih baik setelah mengonsumsi obat.</p> <p>Saat ini pada pasien tidak ada keluhan, perasaan sudah baik dan tidak pernah mengalami halusinasi auditorik kembali.</p> <p>Daftar MasalahBiologisTidak adaPsikologisRiwayat depresi beratRiwayat halusinasi auditorikSosialTidak adaFormulasi DiagnosisAksis IF0 disangkal karena tidak ada riwayat cedera kepala F1 disangkal karena tidak ada riwayat penggunaan narkoba maupun zat psikoaktif lainnyaF2 saat ini pasien tidak memiliki gangguan persepsi, proses pikir, maupun isi pikir. Terdapat riwayat adanya halusinasi auditorik 15 bulan yang lalu. Namun saat ini gejala sudah tidak pernah muncul lagiF3 saat ini pasien tidak memiliki gangguan mood dan afek. Pada pasien pernah terdapat riwayat depresi berat sekitar 15 bulan yang lalu. Namun dalam beberapa bulan ini, gejala sudah tidak muncul lagi.</p> <p>DIAGNOSIS BANDING AKSIS I: Gangguan Afektif Bipolar, Kini dalam Remisi perlu dicari riwayat hipomanik.</p> <p>Formulasi Diagnosis (2)Aksis IITidak ditemukanAksis IIITidak ditemukanAksis IVTidak ditemukanAksis VGAF current 91-100</p> <p>Diagnosis MultiaksialAksis IF32.3 Episode depresif berat dengan gejala psikotik, kini dalam remisiDdF31.5 Gangguan afektif bipolar episode kini depresif berat dengan gejala psikotik (dd 15 bulan lalu)F31.7 Gangguan afektif bipolar kini dalam remisi (dd saat ini)</p> <p>Diagnosis Multiaksial (2)Aksis IITidak ditemukanAksis IIITidak ditemukanAksis IVTidak ditemukanAksis VGAF current 91-100</p> <p>Tatalaksana FarmakoterapiSertralin 1x25 mgAripiprazol 1x5 mg</p> <p>PsikoterapiPsikoterapi suportif</p> <p>PrognosisAd vitam: BonamAd sanationam: Dubia ad bonamAd functionam: Bonam</p> <p>PembahasanPenegakan DiagnosisKriteria diagnosis episode depresif berat dengan gejala psikotik (F3.2.3):Gejala utama:Afek depresifKehilangan minat dan kegembiraanMudah lelahPenegakan Diagnosis (2)Gejala lainnya:Konsentrasi dan perhatian berkurangHarga diri dan kepercayaan diri berkurangGagasan tentang rasa bersalah dan tidak bergunaPandangan tentang masa depan yang suram dan pesimistisGagasan perbuatan yang membahayakanSulit tidurMakan tergangguGejala tambahan: disertai waham atau halusinasi</p> <p>Depresi vs Depresi dengan Gejala PsikotikAdanya gejala psikotik pada pasien depresi menimbulkan hendaya fungsional dan sosial yang jauh lebih tinggi dibanding pasien depresi pada umumnya:Pola disfungsi neurofisiologi pasien depresi dengan gejala psikotik lebih mirip dengan pola pasien skizofrenia daripada pola pasien depresi.Hill SK, Keshvan MS, Thase ME, Sweeney JA. Neurophysiological Dysfunction in Antipsychotic-Nave First-Episode Unipolar Psychotic Depression. Am J Psychiatry 161;2004: 996-1003TatalaksanaPemberian kombinasi antidepresan dengan antipsikotik memberikan luaran terapi yang lebih baik daripada monoterapi antidepresan atau antipsikotik.</p> <p>Karena itu pasien diberikan kombinasi aripiprazol dan sertralinLeadholm AK, Rothschild AJ, Nolen WA, Bech P, Jrgensen PM, stergaard SD. The treatment of psychotic depression: Is there consensus among guidelines and psychiatrists?. Journal of Affective Disorders. 145 ; 2013: 214220</p> <p>Wijkstra J, Lijmer J, Balk FJ, Geddes JR, Nolen W. Pharmacological treatment for unipolar psychotic depression: systematic review andmeta-analysis. British Journal Of Psychiatry. 188; 2006:, 410-415.PrognosisBerdasarkan Tohen M, et. al (2012), dalam dua tahun sejak ditegakkan diagnosis:41 % terdapat diagnosis tambahan berupa gangguan bipolar atau skizoafektif28 % akan mengalami episode depresi baru42 % tetap simtomatikTohen M, Khalsa HK, Salvatore P, Vieta E, Ravichandran C, Baldessarini RJ. Two-year outcomaes in first-episodes psychotic deppresion The McLean-Harvard first-episodes project. Journal of Affective Disorders. 136. 2012: 1-8.ReferensiDepartemen Kesehatan RI. Pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa di Indonesia. Jakarta: Direktorat Jenderal Pelayanan Publik; 1993.Leadholm AK, Rothschild AJ, Nolen WA, Bech P, Jrgensen PM, stergaard SD. The treatment of psychotic depression: Is there consensus among guidelines and psychiatrists?. Journal of Affective Disorders. 145 ; 2013: 214220Wijkstra J, Lijmer J, Balk FJ, Geddes JR, Nolen W. Pharmacological treatment for unipolar psychotic depression: systematic review andmeta-analysis. British Journal Of Psychiatry. 188; 2006:, 410-415.Tohen M, Khalsa HK, Salvatore P, Vieta E, Ravichandran C, Baldessarini RJ. Two-year outcomaes in first-episodes psychotic deppresion The McLean-Harvard first-episodes project. Journal of Affective Disorders. 136. 2012: 1-8.Hill SK, Keshvan MS, Thase ME, Sweeney JA. Neurophysiological Dysfunction in Antipsychotic-Nave First-Episode Unipolar Psychotic Depression. Am J Psychiatry 161;2004: 996-1003</p> <p>DiskusiApril: DD bipolar episode depresif, apakah sudah ditanya episode mania? Kematian ayah apakah termasuk aksis IV? pada awal diagnosis, kematian ayah dapat menjadi diagnosis pada aksis IV. Tapi pada saat ini coping mechanism pada pasien sudah baik sehingga tidak mempengaruhi kondisi pasien saat ini atau prognosis ke depannya. Contoh aksis IV: keluarga yang tidak suportif. Namun, jika keluarga sudah suportif, tidak lagi dimasukkan ke aksis IV.</p> <p>Feedback: aksis IV: masalah psikososial yang mempengaruhi kondisi saat ini/ Diagnosis multiaksial berkaitan dengan tatalaksana.</p> <p>Adil: Psikoterapi pada pasien depresi bagaimana? Psikoterapi dimulai dari empati. Edukasi sebaiknya tidak diberikan di awal</p>