Presentasi Seminar 26 Juli 10

  • Published on
    23-Nov-2015

  • View
    29

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Knowledge Management

Transcript

<ul><li><p>Rancang Bangun Model Strategi Manajemen Pengetahuan dan Kodifikasi Pengetahuan untuk Pengembangan Agroindustri Barang Jadi Lateks di Jawa Barat dan BantenDedy SugiartoF 361020051Komisi Pembimbing :Prof. Dr. Ir. M. Syamsul Maarif, M.EngProf. Dr. Ir. Marimin, M.ScDr. Ir. Illah Sailah, MDr. Ir. Sukardi, MMDr. Ir. Suharto Honggokusumo, M.Sc</p></li><li><p>Latar Belakang (1)</p><p>Pengembangan Agroindustri ~ Pergeseran Landasan Utama Keunggulan KomparatifKeunggulan KompetitifNatural Resources, un-skilled laborsKnowledge, skilled laborsKnowledge based viewMANUSIA YANG MEMPUNYAI KNOWLEDGE MERUPAKAN MODAL YANG JAUH LEBIH PENTING DI BANDING MODAL APAPUN YANG KITA MILIKI (Sharkie R, 2003; Zack M, 1999)Manajemen Pengetahuan</p></li><li><p>Latar Belakang (2)Keunggulan KompetitifManajemen PengetahuanRBVMBV/ISVRelationalBVKlaster IndustriKBV</p></li><li><p>Latar Belakang (3)Fokus Pembangunan Industri : Klaster Industri Karet dan Barang Karet (Karet Padat dan Barang Jadi Lateks)Barang jadi lateks : barang celup (sarung tangan, balon, komponen tensi meter, kondom, kateter), karet busa (bantal lateks, kasur lateks), benang karet, perekatPropinsi prioritas Klaster karet : Sumut, Sumsel, Jabar</p><p>Permasalahan skala UKM di Jabar dan Banten :Kurangnya pengetahuan dan keahlian dalam teknologi, peralatan dan jejaring pemasaran.Model Manajemen Pengetahuan pada Klaster Agroindustri Barang Jadi Lateks Skala Kecil dan MenengahPermasalahan secara umum :Konsumsi karet alam dalam negerirendah, terlebih lagi untuk lateksPeningkatan modal manusia(Inisiatif pendidikan dan pelatihan)</p></li><li><p>Tujuan PenelitianMenentukan area pengetahuan kunci yang paling penting untuk dikelola guna pengembangan klasterMenentukan strategi manajemen pengetahuanMelakukan kodifikasi dari pengetahuan yang terkait. </p></li><li><p>ManfaatSecara akademik hasil penelitian ini berguna bagi peneliti dan peminat ilmu strategi terutama keterkaitan antara strategi dengan manajemen pengetahuan; Model manajemen pengetahuan yang akan dikembangkan diharapkan pula dapat bermanfaat bagi agroindustri barang jadi lateks yang menggunakan pengetahuan sebagai dasar keunggulan bersaing secara berkelanjutan;.</p></li><li><p>Manfaat (3) Metodologi dan pemodelan yang digunakan serta hasil penelitian diharapkan akan menjadi referensi bagi peneliti lain dalam mengembangkan model-model manajemen pengetahuan agroindustri barang jadi lateks; (4) Perangkat lunak sebagai salah satu output dari hasil penelitian ini dapat digunakan oleh berbagai kalangan di dalam proses pengambilan keputusan formulasi strategi manajemen pengetahuan serta pengembangan produk dan proses di agroindustri barang jadi lateks. </p></li><li><p>Ruang LingkupRuang lingkup agroindustri yang dicakup dalam penelitian ini adalah agroindustri barang celup lateks skala kecil dan menengah di Jawa Barat dan Banten Komponen-komponen sistem yang dikaji adalah pemilihan area pengetahuan kunci, pemilihan strategi manajemen pengetahuan serta kodifikasi pengetahuan.Kodifikasi pengetahuan menggunakan tipe media kodifikasi yaitu peta pengetahuan, QFD, FMEA dan sistem pakar. </p></li><li><p>Kebaruan PenelitianModel strategi pengetahuan yang dirancang terkait dengan inisiatif klaster yang paling penting untuk dilakukan dalam rangka pengembangan klasterPemetaan pengetahuan proses dengan menggunakan teknik fuzzy quality function deploymentSistem pakar penanggulan kegagalan proses pada pembuatan barang celup lateks</p></li><li><p>Definisi Manajemen PengetahuanTiwana (2000) :Manajemen pengetahuan adalah pengelolaan dari pengetahuan organisasi untuk menciptakan nilai bisnis dan membangkitkan keunggulan bersaingTurban (2001) :Manajemen pengetahuan adalah proses mendapatkan, transformasi, dan penyebaran pengetahuan secara menyeluruh di dalam organisasi sehingga pengetahuan tersebut dapat dibagikan dan digunakan</p></li><li><p>Tinjauan Pustaka Model Manajemen PengetahuanModel SECI dari Nonaka dan Teknologinya (Tiwana 2000) SocializationTacit Tacit Face-to-face Communications Video Conferencing Tools Web cams Virtual Reality Tools </p><p>IIIExternalizationTacit Explicit Process capture tools Traceability Reflective Peer-to-Peer networks Expert Systems </p><p>InternalizationExplicit Tacit Collective Knowledge Networks Notes Data/ Org Memory Pattern Recognition Neural Networks</p><p>CombinationExplicit Explicit Systemic Knowledge Tools Collaborative Computing Tools Discussion Lists Web Forums Best Practice Databases </p><p>IIIGGGCCGIC : Companys knowledge G : Group or Team Knowledge I : Individual Employeess knowledge</p></li><li><p>Tinjauan Pustaka Model Manajemen PengetahuanModel SECI dari Nonaka dan Teknologinya (Tiwana 2000) SocializationTacit Tacit Face-to-face Communications Video Conferencing Tools Web cams Virtual Reality Tools </p><p>IIIExternalizationTacit Explicit Process capture tools Traceability Reflective Peer-to-Peer networks Expert Systems </p><p>InternalizationExplicit Tacit Collective Knowledge Networks Notes Data/ Org Memory Pattern Recognition Neural Networks</p><p>CombinationExplicit Explicit Systemic Knowledge Tools Collaborative Computing Tools Discussion Lists Web Forums Best Practice Databases </p><p>IIIGGGCCGIC : Companys knowledge G : Group or Team Knowledge I : Individual Employeess knowledge</p></li><li><p>Model Strategi Pengetahuan (Zack, 1999)What firm must knowWhat firm knowsWhat firm can doWhat firm must doKnowledge GapStrategicGap</p></li><li><p>Contoh Implementasi Model Strategi Pengetahuan (Liebowitz J, 1999)Customer knowledgeCustomer intimacy- based strategiesCustomer knowledgeProduct knowledgeProduct innovation strategiesProcess knowledgeBest practice knowledgeOperational excellence strategies</p></li><li><p>Klaster IndustriPorter (1998) : Klaster adalah konsentrasi geografis dari perusahaan-perusahaan yang saling terhubungkan, pemasok-pemasok, penyedia jasa, perusahaan-perusahaan dalam industri terkait serta institusi lain (perguruan tinggi, badan standarisasi, asosiasi dagang) dalam suatu lapangan usaha tertentu yang saling bersaing tetapi juga bekerja sama.</p></li><li><p>Tinjauan PustakaSix Main Segments of Cluster Initiative Tinjauan PustakaSix Main Segments of Cluster Initiative </p></li><li><p>Manfaat Klaster Industri (Porter 1998)Meningkatkan produktivitas dan efisiensiAkses yang efisien terhadap input khusus, pekerja, informasi, lembaga-lembaga seperti program pelatihan.Mudah berkoordinasi antar perusahaan.Difusi yang cepat dari best practise.Perbandingan kinerja dengan pesaing.Merangsang munculnya inovasiHadirnya berbagai pemasok dan lembaga yang dapat membantu terciptanya pengetahuan.Kemudahan dalam bereksperimen dari tersedianya sumber daya lokal.</p></li><li><p>Perbandingan ISV, RBV dan RV Sebagai Sumber Keunggulan KompetitifDyer JH, H Singh. 1998. The Relational View : Cooperative Strategy and Sources of Interorganizational Competitive Advantage. Academy of Management Review. Vol 23 No. 4 </p></li><li><p>Perbandingan ISV, RBV dan RV Sebagai Sumber Keunggulan Kompetitif</p></li><li><p>Posisi Penelitian</p><p>Shen dkk .2001. The implementation of QFD based on linguistic data</p><p>Sugiarto D, Marimin. 2005. Pemilihan Produk dengan Metode AHP, Fuzzy AHP </p><p>Sugiarto D, MS Maarif. 2004. Integrasi KM dengan BSC</p><p>Murtaza M .2003. Fuzzy-AHP Apllication to Country Risk Assestment</p><p>McKenzie J .2005. How to share knowledge between companies</p><p>Azmi N, Marimin. 2005. Kajian Pengembangan Agroindustri Berbasis Jagung</p><p>Clarke J, P Turner. 2004. Model of SMEs KM Strategies</p><p>Dyer JH, H Singh. 1998. The Relational View : Cooperative Strategy and Sources of Interorganizational Competitive Advantage</p><p>Rina F, Sugiarto D, Arfandi. 2005. Perancangan BSC untuk Pengukuran Kinerja </p><p>Haris U. 2006. Model Aliansi Strategis Agroindustri Crumb Rubber </p><p>Kwong C.K, H. Bai. 2002. A Fuzzy AHP in QFD</p><p>Lin M. 2004. Using fuzzy QFD for Design </p><p>Zack MH. 1999. Developing a Knowledge Strategy</p><p>Hendra S, Sugiarto D. 2005. Penerapan Fuzzy QFD untuk Pengembangan Produk </p><p>Famiola M. 2003. Pengembangan Kebijakan Wilayah Menggunakan Pendekatan Klaster Industri dengan AHP</p><p>Parise S.2001. Knowledge resource exchange in strategic alliance</p><p>Depret MH, Hamdouch H. 2000. Innovation Networks and Competitive Coalitions in The Pharmaceutical Industries</p><p>Mahfud H. 2003. Model Pengembangan Agroindustri Minyak Atsiri dengan Pendekatan Klaster</p><p>Carrion dkk 2004. Identifying key knowledge area in the professional service industry </p><p>Juzar A. 2006. Model Strategi Pengembangan Klaster Agroindustri Unggulan</p><p>RANCANG BANGUN MODEL MANAJEMEN PENGETAHUAN UNTUK PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI</p><p>Gunani dkk. 2006. Perancangan Sistem Pengukuran Kinerja Klaster Industri Hasil Laut</p><p>Sugiarto D. 2006. Perbandingan Beberapa Metode Fuzzy AHP dan AHP Tradisional</p><p>Achyar AA, EG Said. 2003. Peningkatan Kinerja Industri BJK melalui Pendekatan Klaster Industri</p></li><li><p>Pohon Industri Karet (Haris, 2006)</p><p>Pohon Karet Hevea</p><p>SIR 10, SIR 20</p><p>SIR 3 CV, SIR 3L, SIR 3WF</p><p>Pale Crepes</p><p>Ribbed SmokedSheets (RSS)</p><p>Lateks Dadih</p><p>Lateks Pekat</p><p>Koagulum Lapangan</p><p>Lateks</p><p>Karet busaSarung tangan medisKaret untuk peralatan medisSarung tangan untuk industriSarung tangan untuk rumah tanggaKondomBenang KaretBalondll</p><p>Ban dan ban dalamAlas kakiKomponen karet untuk otomotifKomponen karet untuk barang elektronikProduk karet untuk industriSelang dan pipa karetKaret Penggunaan umum</p><p>Flat Bark Crepes</p><p>Thick Blanket Crepes (Ambers)</p><p>Estate Brown Crepes (Compo)</p><p>Thin Brown Crepes (Remills)</p></li><li><p>Pohon Karet dan Lateks Kebun</p></li><li><p>CONC. LATEX</p></li><li><p>Proses Pembuatan Sarung Tangan</p></li><li><p>Latex Goods</p></li><li><p>Perbandingan Persentase Produksi Sarung Tangan Malaysia, Thailand dan Indonesia (IRGMA 2005) </p></li><li><p>Kerangka Pemikiran</p><p>Analisis Sistem</p><p>Strategi </p><p>Strategi Manajemen Pengetahuan (Fuzzy AHP)</p><p> Kodifikasi Pengetahuan</p><p>Strategi Pengetahuan (Fuzzy AHP)</p><p>Pendukung Keputusan dan Berbagi Pengetahuan</p><p>Portal Pengetahuan</p><p>SPK</p><p>Sistem Pakar</p><p>Pemetaan PengetahuanFuzzy QFD, Fuzzy FMEA</p><p>Analisis Kebutuhan, Formulasi Permasalahan, Identifikasi Sistem</p><p>Analisis Situasional Klaster Agroindustri BJL di Jawa Barat dan Banten </p></li><li><p>Konfigurasi Model SMA-KlasterKM</p></li><li><p>Konversi Crisp ke TFN </p></li><li><p>MODEL PEMETAAN PENGETAHUAN (FUZZY QFD)</p><p>Pemilihan Barang Jadi Lateks Unggulan</p><p>Perencanaan Produk</p><p>Perencanaan Produksi</p><p>Perencanaan Proses</p><p>Perumusan Faktor, Aktor, Tujuan, Strategi Pengembangan</p><p>Akuisisi dan Kodifikasi Pengetahuan Kunci</p><p>Analisis Kelayakan Finansial Barang Jadi Lateks Unggulan</p><p>Perumusan Strategi Berbagi Pengetahuan antar Perusahaan/Organisasi</p><p>Fuzzy AHP</p><p>Fuzzy AHP</p><p>Sistem Pakar</p><p>Identifikasi Area Pengetahuan yang Selaras dengan Strategi</p><p>Identifikasi Kinerja Kunci</p><p>Indikator Kinerja Kunci</p><p>Area Pengetahuan</p><p>Skor</p><p>MPE</p><p>Balanced scorecard</p><p>Sistem Pakar Fuzzy QFD</p><p>NPV, PBP, BC Ratio, IRR</p><p>Proses Strategi Pengetahuan</p><p>Kreasi Pengetahuan tahap Eksternalisasi</p><p>Berbagi Pengetahuan</p><p>Inovasi Produk dan Proses</p><p>Perencanaan Produk</p><p>Perencanaan Produksi</p><p>Perencanaan Proses</p><p>Inovasi Produk dan Proses</p></li><li><p>Pemetaan Klaster</p></li><li><p>Pemilihan Strategi Manajemen Pengetahuan</p><p>Strategi Kodifikasi (Berorientasi Sistem)</p><p>Kombinasi</p><p>Komunikasi</p><p>Strategi Personalisasi (Beroriensi Orang)</p><p>Budaya dan Orang</p><p>Insentif</p><p>Waktu</p><p>Dukungan Pemerintah</p><p>Biaya</p><p>Pemilihan Strategi Manajemen Pengetahuan</p><p>Fokus</p><p>Kriteria</p><p>Alternatif</p></li><li><p>Bobot Kriteria dan Alternatif</p></li><li><p>Peta Pengetahuan</p></li><li><p>KesimpulanAktor yang paling berperan dalam pengembangan klaster agroindusri barang jadi lateks di wilayah Jawa Barat dan Banten berturut-turut adalah Lembaga Pendukung, Pemerintah Daerah dan IndustriInisiatif pengembangan klaster yang paling penting dilakukan untuk mencapai tujuan strategis pengembangan klaster adalah inisiatif inovasi dan teknologi dengan area pengetahuan kunci yang terkait adalah pengetahuan produk dan proses produksiFaktor yang paling dipentingkan dalam rangka implementasi strategi manajemen pengetahuan adalah faktor budaya dan orang, dikuti oleh dukungan pemerintah, komunikasi, biaya dan waktu.Strategi manajemen pengetahuan yang perlu dilakukan adalah strategi kombinasi antara kodifikasi dan personalisasi.Produk Unggulan BJL adalah sarung tanganProses kunci yang paling penting untuk dikodifikasi pengetahuannya dengan menggunakan sistem pakar adalah proses penjaminan mutu atau pengendalian kualitas serta proses disain kompon</p></li><li><p>Terima Kasih</p></li></ul>