Preskes Combustion

  • View
    103

  • Download
    3

Embed Size (px)

Transcript

KASUS UJIAN BEDAH PLASTIK

SEORANG LAKI-LAKI 30 TAHUN DENGAN COMBUSTIO ELECTRICAL GRADE II 19 %

Oleh : Margareta Grace G9911112091

Periode: 29 Oktober 03 November 2012

Pembimbing: dr. Amru Sungkar, Sp.B. Sp.BP

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH SMF ILMU BEDAH FK UNS / RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA 2012

BAB I STATUS PASIEN A. ANAMNESA 1. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis Kelamin Status Agama Alamat No RM Masuk RS Pemeriksaan : Tn. R : 30 tahun : Laki-laki : Menikah : Islam : Andong, Boyolali :01158051 : 28 Oktober 2012 : 01 November 2012

Ruang perawatan : RGB/Bed 5

2. KELUHAN UTAMA Nyeri pada tangan dan selangkangan akibat tersengat listrik

3. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG 2 jam SMRS pasien memasang besi untuk tenda. Besi yang dipasang pasien menyentuh kabel listrik tegangan tinggi, sehingga pasien tersengat listrik. Setelah kejadian pasien sadar, pingsan (-), muntah (-). Pasien mengeluh nyeri pada kedua tangan dan selangkangan, oleh penolong pasien dibawa ke RSU Assalam, Gendong, Sragen dengan diagnosis luka bakar listrik. Karena keterbatasan sarana, pasien dirujuk ke RSDM.

4. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU Riwayat hipertensi Riwayat DM : disangkal : disangkal

Riwayat asma Riwayat alergi

: disangkal : disangkal

5. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA Riwayat hipertensi Riwayat DM Riwayat asma Riwayat alergi : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal

B. PEMERIKSAAN FISIK Keadaaan umum Primary Survey a. Airway b. Breathing c. Circulation d. Disability (3mm/3mm) e. Exposure Secondary survey : Suhu 36,0o C : : sadar, lemah : : Bebas : Thoracoabdominal dengan RR 22x/menit : Heart Rate 90x/menit, tensi 112/53 mmHg : GCS E4V5M6, reflek cahaya (+/+), pupil isokor

a. Kepala : jejas (-) b. Mata: konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-), pupil isokor (3mm/3mm), reflek cahaya (+/+) c. Hidung : simetris, deformitas (-), sekret (-), nafas cuping hidung (-/-) d. Telinga : sekret (-/-), darah (-/-) e. Mulut : gusi berdarah (-), lidah kotor (-), mukosa basah f. Leher : simetris, trakea di tengah, pembesaran KGB (-) g. Thorax : Normochest, simetris, retraksi (-) h. Jantung Inspeksi : : ictus cordis tidak tampak

Palpasi Perkusi Auskultasi i. Pulmo : Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi j. Abdomen Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi k. Ekstremitas

: ictus cordis tidak kuat angkat : batas jantung kesan tidak melebar : bunyi jantung I-II intensitas normal, regular, bising (-)

: Pengembangan dada kanan= kiri : Fremitus raba kanan=kiri : sonor/sonor : SDV (+/+), ST (-/-) : : Distensi (-) : Bising usus (+) normal : tympani : supel, nyeri tekan (-), defense muscular (-) :

Superior Dx : akral dingin (-), edema (-), jejas lihat status lokalis Superior Sn Inferior Dx Inferior Sn : akral dingin (-), edema (-), jejas lihat status lokalis : akral dingin (-), edema (-), jejas lihat status lokalis : akral dingin (-), edema (-), jejas lihat status lokalis

C. STATUS LOKALIS R. Humerus (D) Inspeksi : luka (+) dengan jejas subkutis grade II 4,5%

R. Humerus (S) Inspeksi : luka (+) dengan jejas subkutis grade II 4,5%

R. Femur anterior (D) Inspeksi : luka (+) dengan jejas subkutis grade II 4,5%

R. Femur anterior (S) Inspeksi R. Genitalia : luka (+) dengan jejas subkutis grade II 4,5%

Inspeksi

: luka (+) dengan jejas subkutis grade II 1%

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Hasil Pemeriksaan Laboratorium tanggal 28 Oktober 2012 Laboratorium Hb (g/dL) Hct (%) AE (106/uL) AL (103/uL) AT (103/uL Gol. Darah PT (detik) APTT (detik) Na (mmol/L) K (mmol/L) Cl (mmol/L) Hasil 15,8 46 5,01 19,1 238 O 12,0 25,8 136 2,8 101 10,0-15,0 20,0-40,0 136-145 3,3-5,1 98-106 Harga Rujukan 13,5-17,5 33-45 4,50-5,90 4,5-11,0 150-450

2.

Pemeriksaan Radiologi Rontgen toraks PA 28 Oktober 2012

Toraks PA: Cor: besar dan bentuk kesan normal Pulmo: tidak terdapat peningkatan corakan bronkovaskuler Trachea ditengah Sistema tulang baik Sudut costophrenikus kanan kiri tajam

Kesan : Cor dan pulmo tak tampak kelainan

E. ASSESMENT Combustio electrical grade II 19%%

F. PLANNING DIAGNOSTIK O2 2lpm Infus: RL: NaCl: D5: Aminofel= 1: 2: 1: 1/24 jam Injeksi: cefriakson 1g/12 jam Injeksi: metamizole 1g/8 jam Injeksi: ranitidine 50mg/12 jam Rawat luka dengan bulle + kassa lembab + kassa kering Evaluasi KU/VS/Balance cairan Monitoring EKG

G. PROGNOSIS a. Ad vitam b. Ad sanam c. Ad fungsionam : dubia : dubia : dubia

BAB II JAWABAN UJIAN 1. ANAMNESIS Luka bakar merupakan kerusakan kulit tubuh yang dapat menyertakan jaringan dibawah kulit. Luka bakar elektrik dapat dibagi menjadi luka bakar elektrik tegangan tinggi dan tegangan rendah. Tegangan tinggi bisa disebabkan sengatan listrik dengan tegangan lebih dari 1000 Volts (Sudjatmiko, 2011; N Blackwell and J Hayllar, 2002; S. Homa et al, 1990). Pada pasien ini, anamnesis dilakukan secara autoanamnesis dan

alloanamnesis: a. Siapakah nama pasien, umur, dan pekerjaan? b. Apa yang membuat pasien dibawa ke rumah sakit? c. Apa yang menyebabkan pasien merasakan keluhan nyeri pada kedua tangan dan selangkangan? Bagaimanakah sifat nyeri nya? d. Kapan terjadinya peristiwa tersebut? e. Bagaimana kronologis peristiwa tersebut? f. Bagaimana mekanisme terjadinya luka bakar yang menimpa pasien? Disebabkan oleh listrik, api, air panas, bahan kimia, atau lainnya? g. Bagian tubuh mana saja yang pertama kali terbakar? h. Bagian tubuh mana saja yang terkena? i. Pakaian berbahan apa yang dikenakan pasien saat kejadian? j. Bagaimana kondisi awal pasien saat sesudah kejadian? Apakah pasien sadar atau pingsan? k. Apa yang dirasakan oleh pasien selain keluhan utama? Adakah mual, muntah, pusing, kejang? l. Sebelum dibawa ke RSDM, tindakan apa saja yang sudah dilakukan penolong untuk pasien? m. Apakah sebelum di bawa ke RSDM sudah diberi obat? Apakah keluhan membaik setelah diberi obat?

n. Pemeriksaan apa saja yang sudah dilakukan pada pasien sebelum dirujuk ke RSDM? o. Apakah diagnosis awal pasien dari RS pertama kali pasien dibawa ke sana? p. Apakah pasien memiliki riwayat penyakit tertentu? Riwayat sakit serupa? Riwayat DM? Hipertensi? Alergi? Asma? q. Apakah keluarga pasien memiliki riwayat penyakit tertentu? Riwayat DM? Hipertensi? Alergi? Asma?

2. PEMERIKSAAN FISIK Primary Survey A (airway): jalan napas. Penilaian adanya trauma inhalasi (awasi 24 jam) Mempertahankan patensi jalan nafas (intubasi dgn ET atau tracheostomi sedini mungkin) B (breathing): kemampuan bernapas. Menilai kemungkinan keracunan CO Melakukan eskarotomi bila terdapat eskar melingkar di dinding dada. Memberikan oksigen dan ventilasi C (circulation): status volume pembuluh darah. Akses vena yang adekuat Monitoring tanda-tanda vital Monitor produksi urin tiap jam Dewasa : 30-50 mL/jam Anak : 1.0 ml/kg/jam

D (disability): status neurologis pasien. E (Exposure): pengawasan suhu tubuh pasien (Hilton, 2001)

Secondary Survey 1) Pemeriksaan kepala dan leher Kepala dan rambut

Catat bentuk kepala, penyebaran rambut, perubahan warna rambut setalah terkena luka bakar, adanya lesi akibat luka bakar, grade dan luas luka bakar Mata Catat kesimetrisan dan kelengkapan, edema, kelopak mata, lesi adanya benda asing yang menyebabkan gangguan penglihatan serta bulu mata yang rontok kena air panas, bahan kimia akibat luka bakar Hidung Catat adanya perdarahan, mukosa kering, sekret, sumbatan dan bulu hidung yang rontok. Mulut Sianosis karena kurangnya supply darah ke otak, bibir kering karena intake cairan kurang Telinga Catat bentuk, gangguan pendengaran karena benda asing, perdarahan dan serumen Leher Catat posisi trakea, denyut nadi karotis mengalami peningkatan sebagai kompensasi untuk mengataasi kekurangan cairan 2) Pemeriksaan thorak / dada Inspeksi bentuk thorak, irama parnafasan, ireguler, ekspansi dada tidak maksimal, vokal fremitus kurang bergetar karena cairan yang masuk ke paru, auskultasi suara ucapan egoponi, suara nafas tambahan ronchi 3) Abdomen Inspeksi bentuk perut membuncit karena kembung, palpasi adanya nyeri pada area epigastrium yang mengidentifikasi adanya gastritis. 4) Urogenital Kaji kebersihan karena jika ada darah kotor / terdapat lesi merupakantempat pertumbuhan kuman yang paling nyaman, sehingga potensi sebagai sumber infeksi dan indikasi untuk pemasangan kateter.

5) Muskuloskletal Catat adanya atropi, amati kesimetrisan otot, bila terdapat luka baru pada muskuloskleletal, kekuatan oto menurun karen nyeri 6) Pemeriksaan neurologi Tingkat kesadaran secara kuantifikasi dinilai dengan GCS. Nilai bisa menurun bila supplay darah ke otak kurang (syok hipovolemik) dan nyeri yang hebat (syok neurogenik) 7) Pemeriksaan kulit Merupakan pemeriksaan pada darah yang mengalami luka bakar (luas dan kedalaman luka). Luas luka bakar dinyatakan dalam persen terhadap luas seluruh tubuh. Pada orang dewasa digunakan rumus Rule of 9 (rule of nine lund and Browder), yaitu luas kepala dan leher, dada, punggung, perut, pinggang dan bokong, ektremitas atas kanan, ekstremitas atas kiri, paha kanan, paha kiri, tungkai dan kaki kanan, serta tungkai dan kaki kiri masing-masing 9%, sisanya 1% adalah daerah genitalia. Rumus ini membantu untuk menaksir luasnya permukaan tubuh yang terbakar pada orang dewasa. Pada anak dan bayi digunakan rumus lain karena luas relatif permukaan kepala anak jauh lebih besar dan luas relatif permukaan kaki lebih kecil. Karena perbandingan luas permukaan bagian tubuh anak kecil berbeda. Selain dalam dan luasnya permukaan, prognosis dan penanganan ditentukan oleh letak daerah yang terbakar, usia, dan keadaan kesehatan penderita. Daerah perineum, ketiak, leher, dan tangan sulit perawatannya, antara lain karena mudah mengalami kontraktur. Karena bayi dan orang usia lanjut daya kompensasinya lebih rendah maka bila terbakar, digolongkan dalam golongan berat (Sjamsuhidajat,dkk. 2005).