Press Release For Immediate Release - terakhir adalah bencana kelaparan di lima desa di Kabupaten Timor…

  • Published on
    30-Mar-2019

  • View
    213

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

<p>Press Release For Immediate Release </p> <p>Jl. Bangka VIII No 3B, Pela Mampang, Jakarta </p> <p>Selatan, 12720 Indonesia </p> <p>Ph. 021-7183185, 7183187, Fax. 021-7196131 </p> <p>www.kehati.or.id </p> <p>Pangan Lokal Sebagai Alternatif Penyelamat Di Kala Bencana : Refleksi dalam rangka World Population Day (11 Juli 2015) </p> <p> Tanggal 11 Juli adalah perayaan Hari Populasi Dunia. Saat ini bumi ini sudah dihuni lebih dari 7, 3 miliar manusia. Hasil proyeksi Biro Pusat Statistik menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia selama dua puluh lima tahun mendatang terus meningkat; dari 238,5 juta pada tahun 2010 menjadi 305,6 juta pada tahun 2035. Catatan Biro Pusat Statistik pada September 2014, dari populasi saat ini, ada sekitar 27, 7 juta jiwa yang masuk kategori miskin. Mereka rentan dalam memenuhi kebutuhan dasar utamanya yaitu pangan, di tengah Indonesia yang diberkahi dengan ketersediaan sumber daya pangan yang seakan tidak terbatas. Lahan pertanian subur yang menghasilkan bermacam-macam tanaman, ternak yang beragam, sungai yang dihuni oleh berbagai jenis ikan, dan laut luas yang menawarkan aneka sumber protein hewani, tersedia untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyat Indonesia. Sayangnya, tidak semua potensi itu tergarap menjadi pangan yang dibutuhkan oleh dan tersedia bagi semua orang. Perempuan khususnya Ibu sebagai pengelola rumah tanggalah adalah garda terdepan dalam menyediakan makanan pokok setiap hari. Mereka juga masih harus berjibaku tak hanya untuk urusan dapur, tapi juga merawat anak hingga orang tua. Akibatnya, menurut Direktur Eksekutif Badan Khusus PBB untuk Kependudukan (UNFPA), dr. Babatunde Osotimehin dalam pernyataan resminya di laman UNFPA, para perempuan ini menyampingkan kebutuhannya sendiri. Dampak lebih buruk terjadi pada para perempuan yang tinggal di daerah konflik, wilayah terdampak pengubahan iklim hingga kawasan ekstremis. Itulah mengapa, tahun ini tema dari World Population Day adalah Melindungi Penduduk Rentan Dalam Situasi Bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat terjadinya 1.559 bencana di Indonesia pada tahun 2014. Yang menyebabkan 490 jiwa menjadi korban dan mempengaruhi kehidupan dua juta orang lainnya. Ribuan orang mengungsi dan banyak dari mereka kehilangan keluarga, rumah, dan harta benda. Saat bencana, bantuan utama yang sangat dibutuhkan selain kesehatan adalah pangan. Yang biasanya berwujud mi instan maupun beras. Bantuan tersebut justru beresiko ketergantungan terhadap terigu dan beras. Dalam jangka panjang,solusi ini tidak menyelesaikan masalah. Lantaran di kawasan tertentu, bencana selalu datang tahunan. Kasus terakhir adalah bencana kelaparan di lima desa di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Juni 2015. Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah bantuan datang berupa beras 24 ton dan 800 kardus mi instan dari Menteri Sosial serta 50 ton dari pemerintah daerah Nusa Tenggara Timur. Bantuan tersebut menurut Ketua Komite II DPD Parlindungan Purba Kelaparan belum menyelesaikan masalah. Kelaparan terjadi karena sawah dan kebun milik warga tidak bisa ditanami akibat kekeringan yang panjang. </p> <p>Menilik peta rawan bencana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana, lebih dari separuh wilayah di </p> <p>Nusa Tenggara Timur berwarna merah. Yang menunjukkan risiko bencana tinggi, termasuk di dalamnya </p> <p>Press Release For Immediate Release </p> <p>Jl. Bangka VIII No 3B, Pela Mampang, Jakarta </p> <p>Selatan, 12720 Indonesia </p> <p>Ph. 021-7183185, 7183187, Fax. 021-7196131 </p> <p>www.kehati.or.id </p> <p>adalah kekeringan. Musim kering di Nusa Tenggara, berimplikasi langsung ke dalam ketersediaan pangan. </p> <p>Contohnya adalah isu kelaparan di wilayah kabupaten Timor Tengah Selatan . Hampir setiap tahun </p> <p>terjadi, tepatnya saat musim kemarau yang berakibat paceklik, kata Program Officer untuk Ekosistem </p> <p>Pertanian KEHATI, Puji Sumedi. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah menyiapkan masyarakat </p> <p>dalam menghadapi bencana sehingga mampu mengurangi risikonya (mitigasi) untuk beradaptasi. KEHATI </p> <p>mendorong pelestarian sumber pangan lokal sesuai dengan potensi setempat atau diversifikasi pangan. </p> <p>Model yang bisa dipakai antara lain memanfaatkan kembali lumbung pangan lokal. Baik yang ada di </p> <p>keluarga maupun di tingkat desa. Terakhir, adalah mengubah pola pikir masyarakat untuk kembali </p> <p>mengkonsumsi pangan lokal. </p> <p>Sejak 2013, KEHATI menggandeng mitra-mitra lokal di Nusa Tenggara Timur untuk membangun </p> <p>kedaulatan pangan berbasis sumber pangan lokal. Mulai dari Kabupaten Timor Tengah Selatan, Sumba </p> <p>Timur dan Pulau Flores, warga diajak untuk membudidayakan kembali jagung lokal, ragam sorgum, umbi-</p> <p>umbian dan jewawut. Beberapa kelompok masyarakat di Nusa Tenggara Timur sudah kembali </p> <p>mengkonsumsi bahan pangan lokal dan menghidupkan lumbung pangan. Selain itu KEHATI juga </p> <p>mendampingi masyarakat untuk dapat mengelola paska panen yang benar, mengolah sorgum menjadi </p> <p>makanan enak dan sehat untuk keluarga, terutama anak anak. </p> <p>Gerakan konsumsi diversifikasi pangan sebenarnya sudah bergerak di beberapa daerah. Contohnya adalah kepopuleran sagu yang ditemukan KEHATI di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Sangihe memiliki dua jenis sagu, yaitu sagu duri dan sagu baruk. Sagu duri tumbuh di dataran rendah dan sagu baru di dataran yang lebih tinggi. Beras sebagai pangan pokok di Kepulauan Sangihe, justru menempati urutan nomor 3. Akhir-akhir ini ada kecenderungan masyarakat untuk beralih pangan pokok dari sagu ke beras. Mencermati hal ini, Pemerintah Daerah Sangihe bersama Yayasan KEHATI mendorong masyarakat kembali ke pangan pokok tradisional sagu berlauk ikan. KEHATI meyakini bahwa penyediaan pangan bagi masyarakat Indonesia di masa datang tidak semata mata tergantung pada jumlah beras yang dapat disediakan. Namun juga ragam pangan dan gizi yang dikembangkan secara mandiri dari sumber yang tumbuh secara alami di setiap wilayah negeri ini. Keanekaragaman pangan di tiap daerah dapat menjadi cadangan pangan, termasuk saat bencana terjadi. Pada dasarnya, model diversifikasi pangan yang dilakukan KEHATI sejalan dengan mandat UU Pangan no. 18 Tahun 2012 dan Peraturan Pemerintah no 17 tahun 2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi. Tinggal pemerintah dan masyarakat yang berkomitmen agar pangan lokal terintegrasi dengan kebijakan daerah, kata Puji. Karena, ia melanjutkan, yang sulit adalah mengubah pola pikir beras sebagai makanan pokok dan menaikkan derajat pangan local sebagai sumber pangan kaya gizi, aman serta menggugah selera. Lewat kebijakan daerah, kebiasaan bisa perlahan diubah. </p> <p>M.S. Sembiring, Direktur Eksekutif, Yayasan KEHATI, menyampaikan, untuk membangun kedaulatan pangan tingkat nasional dengan mengawalinya dari lingkungan terkecil yaitu keluarga. Rumah tangga diharapkan mulai mengembangkan ragam pangan olahan. Konsumsi sumber pangan lokal yang terus-menerus bisa menjaga kelestarian tanaman pangan lokal. Karena petani akan mulai membudidayakan </p> <p>Press Release For Immediate Release </p> <p>Jl. Bangka VIII No 3B, Pela Mampang, Jakarta </p> <p>Selatan, 12720 Indonesia </p> <p>Ph. 021-7183185, 7183187, Fax. 021-7196131 </p> <p>www.kehati.or.id </p> <p>sumber tanaman lokal seiring peningkatan kebutuhan konsumsi. Yang berujung terjaganya sumber keanekaragaman hayati tanaman lokal. Ke depan, mungkin bantuan sosial dalam bentuk pangan perlu diubah dari beras menjadi sumber pangan lain, agar masyarakat yang aslinya tidak makan beras, bisa beralih ke sumber pangan lokal yang dikonsumsi oleh nenek moyangnya. </p> <p> Tentang Yayasan KEHATI </p> <p> Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) berdiri sejak 12 januari 1994. Yayasan KEHATI menghimpun dan mengelola sumberdaya yang selanjutnya disalurkan dalam bentuk dana hibah guna menunjang berbagai program pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara adil dan berkelanjutan. </p> <p>Narahubung: </p> <p>Puji Sumedi, Program Officer untuk Ekosistem Pertanian (+628121077883 email : puji@kehati.or.id) </p> <p>Dianing Sari, Communications Officer (+685717005830 email: dianing.sari@kehati.or.id) </p> <p>mailto:puji@kehati.or.idmailto:dianing.sari@kehati.or.id</p>

Recommended

View more >