Refarat DKA

  • View
    338

  • Download
    2

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Dermatitis Kontak allergi merupakan

Transcript

DERMATITIS KONTAK ALERGI

(A. Fatimah Muliasari, Magfirah, Ayu Rizkiawaty)A. PENDAHULUANKulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan merupakan pembatas dari lingkungan hidup manusia. Luas kulit orang dewasa kira-kira 1,5m2 dengan berat kurang lebih 15% berat badan. Keadaan tersebut menjadikan kulit menjadi organ yang esensial dan vital. Kulit juga sangat kompleks, elastis dan sensitif, bervariasi pada keadaan iklim, umur, seks, ras, dan juga bergantung pada lokasi tubuh.1,2Fungsi utama kulit adalah proteksi, absorbsi, eksresi, persepsi, pengaturan suhu tubuh (termoregulasi), pembentukan pigmen, pembentukan vitamin D, dan keratinisasi. Namun sama halnya dengan organ-organ tubuh manusia yang lain, kulit juga dapat terserang. 1,2Dermatitis adalah peradangan kulit (epidermis dan dermis) sebagai respon terhadap pengaruh faktor eksogen dan atau faktor endogen, menimbulkan kelainan klinis berupa efloresensi polimorfik (eritema, edema, papul, vesikel, skuama, likenifikasi) dan gatal. Tanda polimorfik tidak selalu timbul bersamaan, bahkan mungkin hanya beberapa (oligomorfik). Dermatitis cenderung residif dan menjadi kronis. 1,2Dermatitis kontak adalah dermatitis yang disebabkan oleh bahan/substansi yang menempel pada kulit. Dikenal dua macam dermatitis kontak yaitu, Dermatitis Kontak Iritan (DKI) dan Dermatitis Kontak Alergi (DKA); keduanya dapat bersifat akut maupun kronis. Dermatitis iritan merupakan reaksi peradangan kulit nonimunologik, jadi kerusakan kulit terjadi langsung tanpa didahului proses sensitisasi. Sebaliknya, dermatitis kontak alergi terjadi pada seseorang yang telah mengalami sensitisasi terhadap suatu allergen.2,3DKI lebih sering terjadi dibandingkan dengan DKA. DKI merupakan efek toksik yang lokal ketika kulit kontak dengan bahan iritan kimia seperti sabun, bahan pelarut, asam dan alkali. DKA merupakan reaksi hipersensitivitas tipe lambat yang didapat ketika kulit kontak dengan bahan kimia pada orang yang sebelumnya telah tersensitasi. Respon kulit terhadap DKA dan DKI tergantung pada bahan kimia, durasi dan sifat dasar dari kontak dan kelemahan individu. Bahan kimia yang menyebabkan dermatitis kontak ditemukan pada barang perhiasan, produk untuk perawatan diri, tanaman, pengobatan topikal ataupun sistemik. Gambaran klinik antara DKA dan DKI sulit dibedakan, dibutuhkan tes tempel untuk membantu mengidentifikasi alergen atau meniadakan alergen yang dicuriga. 2,3DKA dan DKI membutuhkan pemahaman dari proses perjalanan penyakit, kemampuan mengenali bagaimana mekanisme DKA dapat muncul, membutuhkan perhatian yang tajam dan ketepatan dalam menilai kemungkinan suatu alergen, seperti kemampuan tes tempel, dalam menginterpretasi dan edukasi pasien. 2,3B. DEFINISI

Dermatitis kontak alergi adalah suatu dermatitis (peradangan kulit) yang timbul setelah kontak dengan alergen melalui proses sensitisasi. DKA terjadi akibat pajanan ulang dengan bahan dari luar yang bersifat haptenik atau antigenik yang sama, atau mempunyai struktur kimia serupa pada kulit seseorang yang telah tersensitasi sebelumnya. Reaksi alergik yang terjadi adalah reaksi hipersensitivitas tipe lambat atau tipe IV menurut klasifikasi Coombs dan Gell dengan perantaraan sel limfosit T.3,4DKA merupakan reaksi ketika sebuah bahan kontak dengan kulit yang telah mengalami perubahan teraktivasi spesifik. Perubahan reaktivitas ini merupakan hasil dari paparan sebelumnya yang terjadi pada kulit yang didapat dari bahan material atau zat kimia lain yang terkait3,4C. EPIDEMIOLOGIBila dibandingkan dengan dermatitis kontak iritan, jumlah penderita dermatitis kontak alergi lebih sedikit karena hanya mengenai orang yang kulitnya sangat peka (hipersensitif). DKA dapat mengenai semua umur dan frekuensi secara umumnya sama pada pria dan wanita kecuali pada beberapa allergen spesifik.4,5Di negara amerika serikat organisasi kesihatan seperti The National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) memperkirakan prevalensi dermatitis kontak adalah sebanyak 13,6 kasus per 1000 penduduk, hasil ini di dapatkan dengan menggunakan pemeriksaan fisik oleh ahli dermatologi dengan populasi pasien sampel yang dipilih secara acak. Penelitian yang dilakukan di Swedia menemukan bahwa prevalensi dermatitis kontak alergi pada daerah tangan adalah 2,7 kasus per 1000 penduduk. Sebuah penelitian di Belanda menemukan bahwa prevalensi dermatitis kontak alergi pada tangan adalah 12 kasus per 1000 penduduk. 4,5Tidak ada predileksi ras ada untuk dermatitis kontak alergi. Dermatitis kontak alergi yang disebabkan nikel lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria di kebanyakan Negara di dunia. Dermatitis kontak alergi dapat juga terjadi pada neonatus. Pada orang tua, perjalanan dermatitis kontak alergi bersifat delayed, namun kondisinya lebih kronis. Hubungi alergi terhadap obat-obatan topikal lebih sering terjadi pada orang tua di sekitar umur 70 tahun. 4,5Diramalkan bahwa jumlah DKA maupun DKI makin bertambah seiring dengan bertambahnya jumlah produk yang mengandung bahan kimia yang dipakai masyarakat. Namun informasi mengenai prevalensi dan insidens DKA di masyarakat sangat sedikit, sehingga beberapa angka yang mendekati kebenaran belum didapat. Dahulu diperkirakan bahwa kejadian DKI akibat kerja sebanyak 80% dan DKA 20%, tetapi data baru dari Inggris dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa dermatitis kontak akibat kerja karena alergi ternyata cukup tinggi yaitu berkisar antara 50-60 %. Sedangkan dari satu penelitian ditemukan frekuensi DKA bukan akibat kerja tiga kali lebih sering daripada DKA akibat kerja4,5D. ETIOLOGIPenyebab DKA adalah bahan kimia sederhana dengan berat molekul umumnya rendah (