Regional Anestesia

  • Published on
    07-Oct-2015

  • View
    6

  • Download
    0

DESCRIPTION

referat

Transcript

Regional Anestesia Dalam praktek anestesi, ada tiga jenis anestesia yang diberikan pada pasien yang akan menjalani pembedahan, yaitu anestesia umum, anestesia lokal, dan anestesia regional. Anestesia regional sendiri merupakan tindakan analgesia yang dilakukan dengan cara menyuntikan obat anestika lokal pada lokasi serat saraf yang menginervasi region terntentu, yang menyebabkan hambatan konduksi impuls aferen yang bersifat temporer. Adapun jenis-jenis anestesia regional yaitu: · Blok saraf · Blok fleksus brakhialis · Blok spinal sub arakhnoid · Blok spinal epidural · Blok regional intravena(udayana) Blok spinal subarachnoid Analgesi spinal sub arakhnoid adalah pemberian obat anestetik lokal ke dalam ruang subarachnoid. Teknik ini sederhana, cukup efektif dan mudah dikerjakan. Indikasi 1. Bedah ekstremitas bawah 2. Bedah panggul 3. Tindakan sekitar rektum-perineum 4. Bedah obstetri-ginekologi 5. Badah urologi 6. Bedah abdomen bawah(uipraktis) Kontra Indikasi Relatif 1. Infeksi sistemik (sepsis, bakteremi) 2. Infeksi sekitar tempat suntikan 3. Kelainan neurologis 4. Kelainan psikis 5. Bedah yang memakan waktu yang lama 6. Penyakit jantung 7. Hipovolemia ringan 8. Nyeri punggung kronis Kontra Indikasi Absolut 1. Pasien menolak 2. Infeksi pada tempat suntikan 3. Hipovolemia berat, syok 4. Koagulopati atau mendapat terapi antikoagulan 5. Tekanan intrakranial meninggi 6. Fasilitas resusitasi minim 7. Kurang pengalaman/ tanpa didampingi konsultan anestesia Persiapan anestesia spinal subaracknoid Sebelum dilakukan anestesi perlu dipersiapkan 1. peralatan monitor (tekanan darah, nadi, oksimetri denyut dan EKG) 2. peralatan resusitasi atau anestesia umum 3. jarum spinal (jarum tajam atau jarum pinsil) (praktis ui) 4. Obat anastetik lokal 5. Terpasang akses intravena untuk pemberian cairan dan obat-obatan 6. Sarung tangan dan masker steril 7. Perlengkapan desinfeksi, duk, dan kasa penutup steril (undip) Ada tiga posisi pasien yang memungkinkan dilakukannya insersi jarum yaitu: Tata laksana anestesi spinal subarakhnoid 1. Pasang peralatan monitor yang diperlukan 2. Atur posisi pasien, sesuai dengan indikasi 3. Sterilkan tempat tusukan dengan betadin atau alcohol 4. Beri anastetik lokal pada tempat tusukan, misalnya dengan lidokain 1-2% 2-3ml 5. Lakukan pungsi lumbal dengan jarum spinal pada celah interspinosum L2-3, L3-4 atau L4-5 sampai keluar cairan cerebrospinal. Sebagai panduan, perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua krista iliaka dengan tulang punggung ialah L4 atau L4-5. Tusukan pada L1-2 atau diatasnya beresiko trauma terhadap medulla spinalis. Cara tusukan median atau paramedian. Untuk jarum spinal besar 22G,23G atau 25G dapat langsung digunakan. Sedangkan utuk jarum kecil 27G atau 29G, dianjurkan menggunakan penuntun jarum (introducer) , yaitu jarum suntik biasa 10cc. Tusukan introducer sedalam kira-kira 2cm agak sedikit kea rah sefal, kemudian masukan jarum spinal ke lubang jarum tersebut. 6. Setelah resistensi menghilang, mandarin jarum spinal dicabut dan keluar likuor, pasang semprit berisi obat anastetik lokal dan obat dimasukan pelan-pelan (0,5 ml/detik) diselingi aspirasi sedikit, hanya untuk meyakinkan posisi jarum tetap baik. 7. Tutup luka tusukan dengan kasa steril 8. Atur posisi pasien sedemikian rupa agar posisi kepala sedemikian rupa agar posisi kepala dan tungkai lebih tinggi dari badan 9. Nilai ketinggian blok dengan skor “bromage” 10. Segera pantau tekanan darah dan denyut nadi (uipraktis,udayana) Terapi Cairan Tubuh manusia terdiri dari zat padat (40%) dan zat cair (60% dari berat badan). Zat cair terdiri dari cairan intrasel (40%) dan cairan ekstrasel (20% berat badan). Cairan ekstrasel terdiri dari cairan intravascular (5%) dan cairan interstisial (15% dari berat badan) Dalam cairan tubuh terlarut elektrolit dalam intrasel dan ekstrasel . dalam intrasel yang terpenting K+ dan PO4-, sedangkan dalam ekstrasel yang terpenting adalah Na+ dan Cl- .Juga terlarut cairan non elektrolit yaitu glukosa (BM kecil), dan protein (BM besar). (undip) Terapi cairan dan elektrolit merupakan langkah “life saving” pada pasien yang menderita kehilangan cairan yang banyak. Tujuan terapi cairan yaitu untuk mengganti cairan yang hilang, mengganti kehilangan cairan yang sedang berlangsung, mencukupi kebutuhan per hari, mengatasi syok, dan mengoreksi dehidrasi. Jenis Cairan dan Indikasinya Cairan infus dapat digolongkan kedalam empat kelompok, yaitu: 1. Cairan pemeliharaan untuk mengganti kehilangan air tubuh lewat urin, feses, paru, dan keringat. Jumlah cairan yang hilang berbeda-beda sesuai dengan umur yaitu Dewasa 1,5-2 ml/kg/jam Anak-anak 2-4 ml/kg/jam Bayi 4-6 ml/kg/jam Neonatus 3 ml/kg/jam Karena cairan yang hilang sedikit sekali mengandung elektrolit maka cairan pengganti yang digunakan adalah hipotonis-isotonis dengan perhatian khusu untuk natrium yaitu D5NaCl 0,9, D5NaCl 0,45, D5NaCl 0,225, Dextrouse 5% dalam Ringer Laktat, Dextrose 5% dalam Ringer, dan Maltose 5% dalam ringer. Selain itu dapat juga digunakan cairan non elektrolit misalnya Dextrose 5% atau 10% dalam air, Maltose 5% atau 10%. 2. Cairan pengganti yang bertujuan untuk mengganti kehilangakan air tubuh yang disebabkan sekuestrasi atau proses patologi yang lain missal fistula,efusi pleura, asites, drainase lambung, dehidrasi dan perdarahan pada pembedahan atau cedera. Cairan yang digunakan adalah jenis kristaloud misalnya NaCl 0,9% dan Ringer laktat, koloiid misalnya Dextrans 40 dan 70. Expafusin, Albumin, dan plasma. 3. Cairan untuk tujuan khusus, yang digunakan adalah kristaloid misalnya natrium bikarbonat 7,5%, kalsium glukonas untuk koreksi khusu terhadap gangguan keseimbangan elektrolit. 4. Cairan nutrisi. Digunakan untuk nutrisi parenteral pada pasien yang tidak mau makan, tidak boleh makan, dan tidak bias makan peroral. Terapi cairan Perioperatif Terdapat tiga periode yang dialami oleh pasien apabila medapat tindakan pembedahan, yaitu: pra bedah, selama pembedahan dan pasca bedah. 1. Terapi cairan prabedah Tujuuannya adalah menggatikan cairan dan kalori yang dialami pasien prabedah akibat puasa, fasilitas vena terbuka bahkan untuk koreksi defisit akibat hipovolemik atau dehidrasi. 2. Terapi cairan selama operasi Tujuannya adalah koreksi kehilangan cairan melalui luka operasi, mengganti perdarahan dan mengganti cairan yang hilang melalui organ eksresi. 3. Terapi cairan pasca bedah Tujuannya adalah pemberian cairan pemeliharaan, nutrisi parenteral, koreksi terhadap kelainan akibat terapi yang lain.