Resume Serigala Terakhir

  • Published on
    19-Jun-2015

  • View
    1.140

  • Download
    15

Embed Size (px)

Transcript

Resume Film SERIGALA TERAKHIR

Mata Kuliah Penyutradaraan Film

M Fadhly Alfarisi 076020036

Prodi Fotografi dan Film Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Universitas Pasundan Bandung 2010

PrologFilm Serigala Terakhir sendiri dirilis pada 5 November 2009 lalu. Film drama action produksi PT Investama Film Indonesia (IFI) ini menampilkan akting Vino G Bastian, Fanny Fabriana, Fathir Muchtar, Ali Syakieb, Dallas Pratama, serta aktor senior George Rudy, Ully Artha, dan Agus Melasz. Film Serigala Terakhir juga merupakan film action pertama yang dibuat Upi Avianto. Di sini Upi berperan sebagai penulis cerita, penulis skenario, sekaligus sebagai sutradara. Sebelumnya Upi telah lebih dulu terkenal lewat karya filmnya 30 Hari Mencari Cinta (2004, Rexcinema) serta Realita, Cinta dan Rock N Roll (2006, Virgo Putra Film). Upi mengaku merasa tertantang untuk membuat film Serigala Terakhir. Tantangan pertama terletak pada kerelaannya untuk harus menunggu selama sebulan lebih hingga skenario film Serigala Terakhir yang dibuatnya disetujui IFI. Bikin film itu susah, apalagi ini film action pertama saya. Walau saya udah berpengalaman membuat film, dari awal ngasih naskah pun saya juga harus sabar menunggu keputusan produser, bersedia nggak membuat film yang saya tulis. Untuk film Serigala Terakhir inipun saya harus nunggu lama, sekitar sebulan lah, jadi gak langsung disetujui IFI untuk dibuat, tapi ya itu emang salah satu tantangannya, sabar menunggu, jadi gak masalah aku nunggu, yang penting aku bisa menjawab tantangan untuk diriku sendiri, ujar Upi. Tantangan ke-2 yang harus dihadapi Upi terletak pada biaya pembuatan film Serigala Terakhir. Anggaran (budget) yang disediakan IFI untuk pembuatan film tersebut awalnya hanya 8 Milyar Rupiah, namun penggunaan efek-efek khusus film action membuat anggaran tersebut membengkak hingga 10 Milyar Rupiah. Biaya itu sebenarnya juga membengkak untuk promosi, tapi beberapa adegan memang butuh dana lebih, misalnya adegan yang kita buat di sebuah hotel kosong yang udah gak dipakai selama 15 tahun dengan listrik dan lampu yang udah mati semua, nah itu kita harus memasang lagi semua lampunya, menyalakannya, jadi ya butuh biaya lebih, papar Upi. Untuk mencegah anggaran di atas lebih membengkak lagi, Upi harus kembali bersabar hati untuk merubah beberapa skenario yang telah ditulisnya. Mau gak mau saya terpaksa mengubah beberapa skenario, padahal saya yakin bahwa skenario saya udah baik dan gak perlu diutak-atik lagi, tapi apa boleh buat daripada anggaran semakin membengkak dan film ini malah gak selesai, ujarnya. Tantangan ke-3 yang harus dihadapi Upi terletak pada tehnik-tehnik efek khusus untuk membuat berbagai adegan laga dalam Serigala Terakhir. Upi, yang sebelumnya hanya membuat film drama dan komedi, harus sanggup berpikir cepat dan akurat untuk menangani pembuatan berbagai adegan laga yang membutuhkan koreografi fighting (perkelahian), tehnik senjata, pukulan, tusukan, tembakan, kejar-kejaran mobil, hingga make up artis.

Penanganan semua tehnik itu kan tidak ada sebelumnya dalam film drama dan komedi yang saya tangani, jadi pada awalnya memang sulit, benar-benar jungkir balik menanganinya, tapi syukurlah semua bisa tertangani dengan baik, katanya. Tantangan ke-4 yang harus dihadapi Upi terletak pada penggunaan aktor dan aktris utama yang sebelumnya memang belum pernah bermain dalam film action maupun punya latar belakang pendidikan bela diri. Satu-satunya aktor laga dalam Serigala Terakhir hanya George Rudy, namun George di situ juga hanya berperan sebagai aktor pendukung, bukan sebagai aktor utama seperti Vino G Bastian dan kawan-kawannya. Upi bersyukur karena Vino dan para pemain lainnya akhirnya berhasil menyelesaikan semua latihan koreografi fighting yang harus mereka jalani dan menerapkannya dalam Serigala Terakhir dengan baik. Pada awalnya memang kesulitan menangani mereka. Sempat terbersit pikiran ragu dalam hati aku, aduh, bisa gak ya mereka memainkan tiap adegan laga dengan baik, tapi syukurlah, mereka memang aktor dan aktris yang luar biasa, sehingga mereka bisa memainkan tiap adegan laga dengan baik, papar Upi. Setelah semua kesulitan alias darah yang harus ia alami itu, apakah Upi kapok membuat film action lagi? Tidak, aku justru ingin membuat film action yang seperti Serigala Terakhir ini lagi, tandas Upi semangat.

Story

Serigala Terakhir yang bercerita tentang persahabatan yang tumbuh antara Ale (Fathir Muchtar), Jarot (Vino G Bastian), Lukman (Dion Wiyoko), Jago (Dallas Pratama) dan Sadat (Ali Syakieb). Tinggal di daerah marjinal yang kumuh membuat hidup mereka tak seperti kehidupan remaja kota besar. Hampir seluruh hidup mereka habiskan untuk berbuat onar, berkelahi dengan siapapun orang yang tidak mereka sukai hingga memeras pedagang. Berbekal jiwa kepemimpinan yang lebih di antara temannya membuat Ale menjadi ketua dalam kelompok ini. Ale tinggal bersama Ibunya (Ully Arta) beserta dua orang adiknya bernama Aisyah (Fanny Fabriana) dan Bara (Agung Surya Putra). Di tempat mereka tinggal, ada seorang remaja bisu yang selalu menemani neneknya berdagang di pasar. Pria bisu itu bernama Fathir (Reza Pahlevi). Sejak kecil, Fathir selalu menjadi bahan ejekan orang-orang termasuk kelompok Ale, kecuali Jarot yang kerap kali berempati di belakang teman-temannya. Fathir sebenarnya ingin bergabung bersama kelompok Ale. Namun karena cacat yang dimilikinya membuat orang memandang sebelah mata. Apalagi, Ale sepertinya tidak butuh tambahan anggota. Perkelahian demi perkelahian tetap mereka menangkan, meski harus dengan tetesan darah. Sampai suatu hari, mereka terlibat perkelahian sengit dengan kelompok lain. Ale yang terdesak dengan tusukan pisau lawannya berhasil diselamatkan oleh Jarot yang memukul kepala musuh dengan batu besar hingga tewas. Akibat perbuatannya itu Jarot ditangkap polisi. Hal ini membuat empat sahabat mereka, termasuk Fathir terpukul. Belum lagi dengan orang tua Jarot dan adik Jarot bernama Yani (Zaneta Georgina). Live must go on. Ale dan kelompoknya terus berjalan meski tanpa Jarot. Mereka mulai mendapat gangguan dari kelompok Naga Hitam, sebuah kelompok mafia yang bergerak di bisnis narkoba. Merasa kalah dalam jumlah anggota dengan Naga Hitam, Ale memutuskan untuk menjaga kampung mereka dari bisnis narkoba. Ale sebenarnya sangat butuh orang yang memiliki kemampuan setara dengan Jarot. Tiba-tiba Fathir mengajukan diri untuk bergabung melawan Naga Hitam. Lagi-lagi Fathir hanya jadi bahan ejekan. Saat pulang ke rumah, Fathir mendapati neneknya meninggal dunia. Fathir begitu terpukul dan diapun memutuskan pergi.

Di dalam penjara, Jarot harus berjibaku melawan tahanan lainnya. Dipukuli oleh teman sekamar hingga disodomi oleh kepala kamar. Tapi Jarot segera membalikan keadaan dengan membalas orang yang dulu menyakitinya di dalam tahanan. Jarot berubah menjadi tahanan yang ditakuti. Jarot akhirnya bebas dari penjara tanpa ada satupun orang yang menjenguknya di dalam sel. Ketika pertama kali menghirup udara bebas, betapa terkejutnya Jarot dengan orang yang menjemputnya. Orang itu adalah Fathir yang ternyata bergabung dengan kelompok Naga Hitam. Fathir mengajak Jarot bertemu bos besar Naga Hitam (George Rudy). Jarot setuju bergabung dengan Naga Hitam. Bersama Fathir, Jarot menjadi satu tim mengawal bisnis narkoba Naga Hitam. Dari sinilah konflik sesungguhnya dimulai. Jarot dan Fathir harus berhadapan dengan sahabat kecil mereka yaitu kelompok Ale. Belum lagi ditambah Jarot yang jatuh cinta adik Ale, Aisyah. Fathir berubah menjadi sosok yang dingin dan keras. Di balik sifat pendiamnya dulu, ternyata dia memiliki jiwa psikopat dan naluri pembunuh berdarah dingin. Tak mau peduli pernah berteman sejak kecil, Fathir membunuh Jago, Lukman dan Sadat. Bahkan Fathir pula yang membunuh Aisyah karena dianggap penghalang bagi Jarot. Ale mengira Jarotlah yang membunuh adiknya. Dengan tekanan yang luar biasa, Ale berjanji akan membunuh Jarot, sahabat yang pernah menyelamatkan nyawanya dulu. Melihat perseteruan yang tak kunjung usai, membuat Jarot tak sanggup lagi berjibaku dengan konflik. Apalagi konflik ini sudah mengorbankan orang yang disayanginya. Jarot akhirnya mengajak Ale bertemu untuk mengibarkan bendera putih. Ale terlanjur dendam terhadap Jarot. Kedua sahabat ini berkelahi hebat. Ale tertembak dengan pistol miliknya sendiri. Di ujung hidupnya, kedua sahabat ini saling berpeluk erat sambil meminta maaf. Tapi nyawa Ale tak terselamatkan dan tiba-tiba, Duar!! Jarot mendapat tembakan bertubi-tubi hingga akhirnya ikut tewas di samping jasad Ale. Film garapan Upi Avianto ini berdurasi sangat panjang, 135 menit. Dari jalan ceritanya kita tahu bahwa genre film ini adalah drama action. Perlahan tapi pasti film action memang sedang merangkak naik untuk bersanding dengan genre film lainnya. Konflik demi konflik dibuat begitu menegangkan dan mengharukan. Meski berdurasi panjang, penonton tidak bosan dengan jalinan cerita dalam film ini. Film ini mengocok emosi ditambah ceritanya yang mengharukan. Seperti kebanyakan film action yang banyak menggunakan efek audio visual, film ini juga menggunakan efek audio visual yang ikut mendukung adegan perkelahian atau ledakan. Kelemahannya, efek visual kadang terlihat kurang maksimal, khususnya

setiap kali adegan kebakaran. Akting para pemain di film ini juga patut diacungi jempol. Mereka berhasil membuat penonton ikut larut dalam konflik. Upi sang sutradara yang juga menjadi penulis sangat cerdas mengembangkan karakter tokoh di film ini. Buktinya adalah karakter Fathir yang sempat hilang sejenak, tapi dimunculkan kembali justru dengan karakter yang berbeda 180 derajat. Film yang menghabiskan dana hampir Rp 10 milliar ini juga berpotensi memiliki sekuel. Karena nasib kelompok Naga Hitam dan Fathir belum jelas. Di akhir cerita digambarkan Bara yang masih berusia belasan tahun dengan wajah dendam membawa pistol peninggalan Ale. Upi tampak ingin mengubah tradisi akhir cerita klise di mana pem